LOGIN
Langkah kaki Erika baru saja memasuki area depan butik milik Camille Desoutter yang terkenal dan pernah memintanya untuk menjadi model beberapa bulan silam, tetapi kartu nama sang designer cantik, baik hati dan kaya tersebut hilang pun juga ponsel yang menyimpan nomornya.
Tiba-tiba dari arah belakang, rambut panjang Erika yang tergerai dijambak kuat dari belakang dan ia pun refleks berteriak, langkah kakinya terhuyung.
"Aowww ...!"
"Oh, siapa ini yang kita temukan, Rudolf?" Magdalena berseru pura-pura terkejut di wajahnya, namun matanya menyiratkan kebencian, "Apa yang kau lakukan di sini? Mau membeli gaun?" Magdalena memperkuat cengkeramannya pada rambut Erika yang berusaha melepaskan tetapi kalah oleh tenaga Magdalena.
Rudolf, lelaki gemulai yang pernah menjadi manager Erika, tertawa mengejek di sebelah Magdalena, "Memangnya kau punya uang untuk membeli gaun di butik ini, Erika Marrins?" ejeknya memajukan wajah menghina Erika yang sangat mereka tahu berasal dari kalangan bawah.
"Jika waktu itu pria Salvatore berhasil melindungimu, tapi tidak kali ini!" Magdalena berkata sinis, "Salvatore sudah muak dengan model pembohong sepertimu, bukan? Buktinya kau di sini, berpenampilan lusuh seperti benda usang yang dibuang!" pungkasnya sambil memperhatikan penampilan Erika.
Erika hanya mengenakan celana jeans dan baju kaos tidak ketat membungkus tubuhnya agar tidak terlalu menggoda siapa pun. Rambutnya juga sengaja ia gerai alami dan tas sandang rajut yang sebenarnya hadiah dari Hvitserk untuknya. Tas rajut yang tentu saja tak ada duanya di dunia dan harganya tidak main-main mahalnya.
"Lepaskan aku ..." Erika berusaha melepaskan jari jemari tangan Magdalena yang membuat kulit kepalanya perih dan sakit.
"Melepaskanmu?" Magdanela mengutip dan tertawa terbahak-bahak, tanpa diduga menghempaskan Erika yang berdiri kepayahan tak seimbang ke atas tanah.
"Ao!" Erika terpekik, tubuhnya terhempas sangat keras ke tanah bebatuan berpasir.
Tubuh Erika semakin gemetar ketika sepatu hak tinggi Magdalena menekan punggung tangannya lebih dalam. Nyeri merambat hingga ke syaraf tulang-tulang kecilnya.
Erika mengerang pelan, napasnya patah-patah. Ia tak berani mengangkat wajah, beberapa orang datang berkumpul seakan tertarik pada keributan yang diciptakan oleh Magdalena dan Rudolf.
"Lihat, sekarang kau berpura-pura lemah dan kesakitan! Tapi sebelumnya kau sangat berani mengganggu kekasihku, tertawa puas seolah dunia milikmu, huh!" Magdalena berkata lantang, memfitnah Erika agar menarik perhatian orang-orang yang mengelilingi mereka.
Beberapa mengeluarkan ponsel, ada yang berpaling pura-pura tak melihat tapi sebenarnya menyimak kejadian. Di Amalfi, gosip beredar lebih cepat dari angin laut. Dan hari ini, gosip menemukan Erika.
"A-aku tidak per-pernah mengganggu kekasihmu ...!" Erika membantah terbata-bata, memuntahkan cairan darah bercampur tanah dan pasir dari dalam mulutnya.
Magdalena berjongkok ke depan wajah Erika, menepuk pipi gadis itu seolah iba, lalu melirik ke arah Rudolf yang akhirnya menganggukkan kepala.
"Dia adalah model di Mussolini Entertainment. Tapi sejak agency Mussolini tutup, ia kehilangan pekerjaan. Namun siapa sangka, wajah cantiknya dia gunakan untuk menggoda kekasih dari sahabatku ini." ucap Rudolf ditanggapi reaksi Magdalena pura-pura mengusap sudut matanya seolah ada airmata kesedihan di sana.
"Kau ...berbohong!" geram Erika berusaha bangkit berdiri.
Tapi, baru saja Erika hendak berdiri, Magdalena memberikan tamparan keras ke pipi dan mendorong tubuhnya hingga terbang dan terjatuh beberapa langkah ke belakang.
Di saat bersamaan, Felix Salvatore, sahabat sekaligus majikan Hvitserk sudah tiga bulan melakukan pencarian terhadap Erika. Segala cara telah dilakukan oleh Felix demi menemukan Erika, tetapi semuanya nihil.
Felix berpikir, kehadiran Erika mungkin bisa menyelamatkan nyawa Hvitserk yang terbaring koma di rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, karena menyelamatkan dirinya dari tembakan anak buah Alfred Mussolini tiga bulan lalu.
Hari ini, Freyaa, keponakan kesayangan Felix mengajak jalan-jalan keluar, tanpa sengaja mereka mendengar suara pekikan kesakitan dari tengah kerumunan orang yang berkumpul di depan butik mewah, disusul tawa wanita dan gelengan kepala orang yang melihatnya berbisik-bisik samar.
Felix gegas meraih pinggang Freyaa untuk menggendong keponakannya itu, lalu berjalan dengan langkah besar menerobos kerumunan.
"Berhenti!" Felix berteriak lantang.
Netra Felix langsung tertumbuk pada tubuh wanita yang terbaring tertelungkup di atas tanah, wajahnya tak terlihat, rambutnya berantakan dan pakaiannya robek dimana-mana, sepertinya tertarik oleh kuku tajam. Bertolak belakang dengan wanita yang berdiri di sebelah sang wanita yang jatuh, terlihat tumit runcing sepatunya menginjak punggung tangan wanita yang tertelungkup di tanah.
"Tu-tu-tuaaan ..." sang wanita yang berdiri berkata tergagap begitu melihat kedatangan Felix menggendong Freyaa, berjalan semakin dekat ke arahnya.
Refleks Magdalena mengangkat kaki dari menginjak punggung tangan Erika yang belum puas ia lampiaskan kebenciannya.
Tentu saja, karena Magdalena sangat tahu pria tampan yang sekarang menatap dingin menghunjam ke arahnya tersebut.
Felix menurunkan Freyaa dari gendongan. Kemudian ia berjongkok, hendak menyibak rambut di depan wajah wanita yang berada di atas tanah, sangat ia yakini adalah Erika, kekasih dari sahabatnya.
"Maaf, ini urusan keluarga. Wanita ini adalah ..." Rudolf, pria yang berpenampilan wanita berjalan maju, berkata gemulai sambil menghalangi tangan Felix dari menyibak rambut Erika agar tak mengenali sang wanita di atas tanah yang sudah tak bergerak.
"Mundur!" Freyaa berkata dingin, mendorong tubuh bagian depan Rudolf yang berperut besar sedikit maju, namun sebenarnya gadis kecil itu baru saja menusukkan jarum di sela-sela jemarinya, tepat ke area kantung kemih.
Freyaa memang sudah sangat mahir memainkan jarum akupuntur dan menusuk titik pada tubuh manusia sesuai dengan suasana hatinya.
"Jorok! Sudah besar bukannya buang air pada tempatnya, malah di depan banyak orang seperti ini!" Freyaa berseru kencang sambil tertawa mengejek ke arah Rudolf yang kini bagian bawah tubuhnya telah basah dan berbau pesing.
Semua orang yang mengelilingi menggosok hidung masing-masing, perlahan membubarkan diri.
"Erika ..." panggil Felix pelan ke depan wajah wanita yang tertelungkup di tanah, sudah ia sibakkan rambutnya.
Bibir Erika pecah, wajahnya lebam dan rambut panjangnya terlihat berantakan seakan ada yang tercerabut dari kulit kepalanya.
Felix menempelkan telunjuk ke depan hidung Erika yang masih bernapas.
Tanpa menunggu lama, Felix gegas meraih tubuh Erika untuk ia bopong dan Freyaa juga gesit membantu pamannya itu, mengumpulkan isi tas sandang yang berserakan tak jauh dari Erika tadi tertelungkup.
Felix menoleh ke belakang, memanggil keponakannya, "Freyaa ..."
"Aku datang ..." Freyaa bangkit membawa tas Erika yang kini telah ia kembalikan isinya, berlari mengejar Felix.
"Awasi dua orang itu, biarkan nanti Hvitserk yang memberikan balasan ke mereka!" titah Felix pada Jose, anak buahnya yang juga bersahabat dengan Hvitserk.
Langkah kaki Magdalena terhuyung, bibirnya terkatup rapat begitu Felix mengangkat dan membopong tubuh Erika.
Firasatnya mengatakan, ia telah melakukan kesalahan. Kesalahan besar. Keluarga Salvatore bukan jenis orang yang bisa disinggung seperti angin lalu.
"Eh, Lena ...tunggu aku!" Rudolf berteriak memanggil Magdalena yang sudah buru-buru menjauh pergi.
Jauh di kedalaman alam pikiran, Hvitserk tenggelam dalam gelap. Bukan hitam melainkan sunyi.Tubuhnya terasa berat, seperti terkubur di bawah air, sementara telinganya masih menangkap gema dunia. Ada suara. Bukan suara Felix yang dikenalnya dengan jelas, melainkan isak tangis …rapuh, patah dan terasa terlalu dekat.Hvitserk mencoba bangkit. Tetapi gagal. Hvitserk seperti kembali terhempas ke alam sunyi. Dadanya sesak, ada dorongan kuat untuk bergerak, untuk menjawab, untuk menggenggam balik tangan seseorang yang menggenggamnya hangat. Semakin lama, Hvitserk semakin mengenali suara isak dan tangis itu. Erika ...bibirnya berusaha menyebut nama gadis tersebut. Tetapi suaranya teredam bagaikan ada dinding baja dingin yang menahan suaranya. Tak satu kata pun berhasil lolos.Pikiran Hvitserk dipenuhi oleh bayangan Erika. Di sisi lain team medis melihat lonjakan pada mesin penopang kehidupan Hvitserk berdetak semakin cepat dan stabil. Erika yang memanggilnya Hupits dengan senyum kecil dan
Erika menatap sosok di atas brankar itu tanpa berkedip. Dunia seolah berhenti bergerak.“Hupits …” bisik Erika lirih, nyaris tak bersuara.Tak ada jawaban.Wajah Hvitserk terlihat pucat dan sangat tenang. Rambut-rambut halus yang dahulu membingkai rahangnya kini dicukur bersih, membuat garis wajahnya terlihat lebih keras, sedikit terasa asing. Namun Erika sangat yakin, jika Lelaki di hadapannya ini adalah pria yang sama, yang memintanya menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu.Pria yang hangat dan memiliki senyum tulus sekaligus memiliki sorot mata tajam yang selalu terlihat lembut memandangnya.Erika semakin mengeratkan genggaman pada telapak tangan Hvitserk yang terasa dingin.“Ku pikir kau meninggalkanku …” isaknya tercekat.“Tapi sejak kapan kau di sini? Kenapa tak ada seorang pun yang memberitahuku?”Sekali lagi, pertanyaan Erika tak mendapatkan jawaban. Yang ada hanya suara mesin.Bip… bip… bip…Selang bening terpasang di hidung Hvitserk dan kabel-kabel menjalar dari tubuhnya men
Tiga bulan Erika terus menunggu di apartemen mewah milik Hvitserk tetapi pria yang baru saja menyatakan komitmen menjalani hubungan asmara dengannya itu seolah menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak bisa dihubungi juga tak pernah datang menghubunginya.Erika pernah mendatangi kediaman Felix Salvatore berkali-kali, satu-satunya tempat yang ia ketahui dan harapkan Hvitserk berada di sana. Tetapi rumah itu sunyi, seolah ditinggalkan.Kini pria asing ini berkata Hvitserk merindukannya? Sungguh, kebohongan yang epik!Jika bibirnya tak perih dan tubuhnya juga tidak ngilu, Erika ingin terbahak besar mendengar perkataan Billy yang menyebut Hvitserk merindukannya. Melihat sorot skeptis di mata Erika, Billy berkata pelan, “Hvitserk sedang menjalankan misi untuk Mister Salvatore. Kami tak tahu keberadaannya. Ia tak bisa dihubungi …ataupun menghubungi kami.”Ia berhenti sejenak.“Dia meminta kami menjagamu …tapi ...”“Aku mengerti!” Erika memotong perkataan Billy dan suaranya terdengar sangat ten
Di sebuah rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, udara terasa dingin dan steril. Cahaya lampu putih memantul di dinding logam, memantulkan bayangan dingin dari deretan mesin penopang kehidupan yang mengelilingi satu ranjang di tengah ruangan.Di sanalah Hvitserk Drazen terbaring, tak bergerakWajahnya tetap tampan meski pucat. Rahangnya tegas dan bulu mata panjangnya terkatup rapat, seolah ia hanya tertidur sangat dalam. Selang oksigen terpasang rapi di hidungnya, sementara dadanya naik turun pelan, mengikuti ritme mesin yang berdengung monoton.Hampir tiga bulan Hvitserk berada dalam keadaan koma.Dimitri Severe bersama tim dokter terbaiknya telah melakukan segalanya. Namun Hvitserk seakan telah merasa cukup dengan hidupnya, memilih untuk tidak kembali.Meski demikian, Dimitri tetap mempertahankan seluruh alat penopang kehidupan pada tubuh Hvitserk, salah satu bawahan terbaiknya, yang terluka parah saat melindungi Felix Salvatore.Seorang dokter senior, didampingi dua perawat, mem
Langkah kaki Erika baru saja memasuki area depan butik milik Camille Desoutter yang terkenal dan pernah memintanya untuk menjadi model beberapa bulan silam, tetapi kartu nama sang designer cantik, baik hati dan kaya tersebut hilang pun juga ponsel yang menyimpan nomornya.Tiba-tiba dari arah belakang, rambut panjang Erika yang tergerai dijambak kuat dari belakang dan ia pun refleks berteriak, langkah kakinya terhuyung. "Aowww ...!""Oh, siapa ini yang kita temukan, Rudolf?" Magdalena berseru pura-pura terkejut di wajahnya, namun matanya menyiratkan kebencian, "Apa yang kau lakukan di sini? Mau membeli gaun?" Magdalena memperkuat cengkeramannya pada rambut Erika yang berusaha melepaskan tetapi kalah oleh tenaga Magdalena. Rudolf, lelaki gemulai yang pernah menjadi manager Erika, tertawa mengejek di sebelah Magdalena, "Memangnya kau punya uang untuk membeli gaun di butik ini, Erika Marrins?" ejeknya memajukan wajah menghina Erika yang sangat mereka tahu berasal dari kalangan bawah. "







