LOGINDi sebuah rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, udara terasa dingin dan steril. Cahaya lampu putih memantul di dinding logam, memantulkan bayangan dingin dari deretan mesin penopang kehidupan yang mengelilingi satu ranjang di tengah ruangan.
Di sanalah Hvitserk Drazen terbaring, tak bergerak
Wajahnya tetap tampan meski pucat. Rahangnya tegas dan bulu mata panjangnya terkatup rapat, seolah ia hanya tertidur sangat dalam. Selang oksigen terpasang rapi di hidungnya, sementara dadanya naik turun pelan, mengikuti ritme mesin yang berdengung monoton.
Hampir tiga bulan Hvitserk berada dalam keadaan koma.
Dimitri Severe bersama tim dokter terbaiknya telah melakukan segalanya. Namun Hvitserk seakan telah merasa cukup dengan hidupnya, memilih untuk tidak kembali.
Meski demikian, Dimitri tetap mempertahankan seluruh alat penopang kehidupan pada tubuh Hvitserk, salah satu bawahan terbaiknya, yang terluka parah saat melindungi Felix Salvatore.
Seorang dokter senior, didampingi dua perawat, memasuki ruangan untuk pemeriksaan rutin. Seperti perintah Dimitri sebelumnya, sang dokter kembali menyelipkan sepotong clay ke bawah tangan Hvitserk.
“Kak Dimi mencemaskan Anda,” bisik sang dokter pelan di dekat telinga Hvitserk, “Cepatlah bangun, Hvitserk.”
Sang dokter terus memeriksa kontur kulit, lubang telinga, refleks mata, sementara para perawat membersihkan tubuh Hvitserk dengan air hangat, gerakan mereka hati-hati, hampir penuh hormat. Karena Hvitserk bukanlah orang sembarangan.
Tiba-tiba ...
Monitor jantung yang sebelumnya stabil mendadak bergetar. Grafiknya melonjak tajam, lalu turun naik tak beraturan.
Bip… bip… bip!
Kedua perawat terkejut melihat alis Hvitserk berkerut samar.
“Dokter ...!” seru salah satu perawat panik.
Sang dokter sudah meraih ponsel, menghubungi Dimitri Severe, sementara matanya terpaku pada layar monitor.
Jari-jari Hvitserk bergerak sedikit, hampir tak kasat mata. Namun clay di bawah telapak tangannya tergenggam, diremas perlahan, seolah tubuhnya merespons sesuatu yang sangat jauh …sedang terjadi.
“Ini seperti respon saraf,” gumam sang dokter pelan, lebih pada dirinya sendiri, “Seperti …rangsangan emosional.”
“Hubungi Mister Felix!” pinta sang dokter pada kedua perawatnya.
Tak lama kemudian Dimitri berlari memasuki ruangan, napasnya memburu. Telinganya mendengar perkataan sang dokter dan ia pun langsung menghubungi Felix Salvatore menggunakan ponsel pribadinya.
“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Dimitri cepat, “Apakah kau terluka?”
Semua orang tahu betapa dekatnya Felix dan Hvitserk. Dimitri tak bisa menepis kemungkinan bahwa respon pada tubuh Hvitserk ini terjadi karena sesuatu menimpa Felix.
“Aku baik-baik saja,” sahutan Felix terdengar, “Kami baru saja menemukan Erika. Sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit.”
Dimitri menghembuskan napas lega, sesaat ...namun wajahnya kembali kuatir, “Apakah dia selamat?”
“Seseorang menyiksanya. Dia terluka …dan syok.”
“Selamatkan dia, Fells …Erika harus selamat!” suara Dimitri melemah dan tangannya mengepal menggenggam ponsel kuat, sementara matanya kembali menatap Hvitserk di atas ranjang hidroulik, monitor telah kembali stabil. Hidup, namun tak bereaksi.
“Beberapa detik lalu, tubuh Hvits merespons,” lanjut Dimitri lirih, “Detak jantungnya melonjak hebat.” ucapnya bercerita pada Felix yang turut menghembuskan napas.
“Aku akan membawa Erika ke Murcia begitu keadaannya memungkinkan.” ujar Felix, “Anne sudah memberi izin menggunakan pengobatan langka di kediaman Lampaska. Untuk memulihkan tubuh dan penampilannya.”
“Terima kasih, Fells …”
“Jangan ucapkan itu, Dokter Dimi,” potong Felix, “Itu justru membuatku semakin merasa bersalah.”
Dimitri tertawa pendek. Ia memahami ikatan Felix dan Hvitserk jauh melebihi hubungan saudara. Hvitserk yang dipinta Dimitri untuk 'menjaga' Felix ketika pria itu terguncang setelah kematian Marcella karena Felix hanya bisa terbuka pada Hvitserk.
Bagi manusia biasa, mungkin sulit dipahami. Namun Dimitri percaya, ketika dua orang terhubung begitu dalam, penderitaan salah satunya akan dirasakan yang lain entah sebagai emosi …atau sebagai respon saraf.
**
Jose mengemudikan mobil dengan fokus penuh, sementara Erika terkulai di kursi penumpang. Mobil mereka mengikuti kendaraan Felix yang melaju cepat membelah jalanan Amalfi menuju rumah sakit.
Begitu roda berhenti di halaman rumah sakit, tim dokter telah menunggu. Billy, asisten pribadi Felix, berdiri di antara mereka.
“Tidak peduli bagaimana caranya,” ucap Felix dingin namun tegas, “selamatkan dia!”
Salah satu dokter mengangguk hormat dan brankar Erika segera didorong masuk, melewati pintu otomatis menuju ruang perawatan khusus. Tim medis bergerak cepat, bekerja dalam diam yang terlatih, menyelamatkan gadis muda yang tubuhnya penuh jejak kekerasan.
“Jika kondisi Erika memungkinkan,” Felix berkata kepada Billy, “bawa dia ke Nyaksimvol. Temui Dokter Dimi. Beri aku laporan setiap perkembangan, sekecil apa pun!”
Billy mengangguk cepat, “Bagaimana dengan orang-orang yang menyiksanya?” tanyanya pelan.
“Anak buah Armando yang mengawasi mereka,” jawab Felix singkat, sudut matanya menyiratkan sesuatu yang berbahaya, “Untuk sementara, kau jaga Erika!”
Felix baru melangkah beberapa meter ketika ponselnya berdering nyaring. Ia mengangkatnya, berbicara singkat, lalu terlihat berbicara kembali dengan seseorang dan tak lama kemudian berbalik menghampiri Billy.
“Ubah rencana,” ucap Felix sembari menarik napas,“Antar Erika ke Murcia lebih dulu. Keluarga Lamparska punya metode pengobatan alternatif. Lebih cepat menyembuhkan dan mengembalikan penampilannya seperti semula.”
Billy terdiam sesaat, lalu mengangguk. Ia paham dan tak bertanya lebih jauh.
Beberapa waktu kemudian, kini Billy duduk di samping ranjang hidraulik Erika. Wajah gadis itu lebam dan sedikit membengkak, bibirnya pecah, pun napasnya pendek-pendek seolah setiap tarikan udara sangat menyakitkan baginya.
Billy menghela napas panjang. Dadanya terasa panas menahan emosi. Melihat wanita yang dicintai Hvitserk terbaring seperti ini membuat darahnya turut mendidih.
Beberapa jemari Erika tampak tak wajar, dibalut perban darurat. Rambut panjangnya masih kusut. Billy merapikannya perlahan, lalu rahangnya mengeras ketika menemukan gumpalan rambut yang tercerabut dari kulit kepala.
“Bertahanlah, Nona,” gumam Billy lirih, “Kau harus hidup … agar bisa memberikan balasan balik pada orang yang menyiksamu ini."
Billy sangat mengenal Hvitserk Drazen, orang yang selalu 'mengurus semua urusan dan keperluan' Felix Salvatore. Hvitserk adalah pria yang murah senyum, ramah juga selalu terlihat tenang. Namun bila orang yang dicintainya disakiti, Hvitserk bisa membunuh sambil tersenyum.
Kelopak mata Erika bergetar dan bibirnya mengerang pelan. Ia membuka mata sedikit, menutupnya kembali, lalu membukanya lebih lebar.
Pandangan Erika menyapu langit-langit tinggi di atasnya sebelum menoleh ke samping.
“Si …siapa …kamu?” suaranya nyaris tak terdengar.
“Saya Billy, rekan Hvitserk. Kau sudah aman sekarang.” jawab Billy seraya tersenyum tipis.
Erika menelan ludah. Wajahnya meringis ketika rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.
“Hvit …serk…” napasnya tersengal, “Di mana … dia? Hupits?”
Hupits adalah panggilan spesial dari Erika untuk Hvitserk yang sebelumnya lidahnya kesulitan menyebut nama lelaki itu.
“Hvitserk tidak berada di Amalfi saat ini,” sahut Billy tenang, “Tapi dia selalu merindukanmu.”
Sudut bibir Erika terangkat tipis dan ia kembali meringis perih karena bibirnya pecah juga membengkak. Sudah tiga bulan Hvitserk menghilang tanpa kabar dan ponselnya selalu ia jaga agar tidak kehabisan daya agar sewaktu-waktu Hvitserk menghubunginya, mereka bisa tersambung.
Jauh di kedalaman alam pikiran, Hvitserk tenggelam dalam gelap. Bukan hitam melainkan sunyi.Tubuhnya terasa berat, seperti terkubur di bawah air, sementara telinganya masih menangkap gema dunia. Ada suara. Bukan suara Felix yang dikenalnya dengan jelas, melainkan isak tangis …rapuh, patah dan terasa terlalu dekat.Hvitserk mencoba bangkit. Tetapi gagal. Hvitserk seperti kembali terhempas ke alam sunyi. Dadanya sesak, ada dorongan kuat untuk bergerak, untuk menjawab, untuk menggenggam balik tangan seseorang yang menggenggamnya hangat. Semakin lama, Hvitserk semakin mengenali suara isak dan tangis itu. Erika ...bibirnya berusaha menyebut nama gadis tersebut. Tetapi suaranya teredam bagaikan ada dinding baja dingin yang menahan suaranya. Tak satu kata pun berhasil lolos.Pikiran Hvitserk dipenuhi oleh bayangan Erika. Di sisi lain team medis melihat lonjakan pada mesin penopang kehidupan Hvitserk berdetak semakin cepat dan stabil. Erika yang memanggilnya Hupits dengan senyum kecil dan
Erika menatap sosok di atas brankar itu tanpa berkedip. Dunia seolah berhenti bergerak.“Hupits …” bisik Erika lirih, nyaris tak bersuara.Tak ada jawaban.Wajah Hvitserk terlihat pucat dan sangat tenang. Rambut-rambut halus yang dahulu membingkai rahangnya kini dicukur bersih, membuat garis wajahnya terlihat lebih keras, sedikit terasa asing. Namun Erika sangat yakin, jika Lelaki di hadapannya ini adalah pria yang sama, yang memintanya menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu.Pria yang hangat dan memiliki senyum tulus sekaligus memiliki sorot mata tajam yang selalu terlihat lembut memandangnya.Erika semakin mengeratkan genggaman pada telapak tangan Hvitserk yang terasa dingin.“Ku pikir kau meninggalkanku …” isaknya tercekat.“Tapi sejak kapan kau di sini? Kenapa tak ada seorang pun yang memberitahuku?”Sekali lagi, pertanyaan Erika tak mendapatkan jawaban. Yang ada hanya suara mesin.Bip… bip… bip…Selang bening terpasang di hidung Hvitserk dan kabel-kabel menjalar dari tubuhnya men
Tiga bulan Erika terus menunggu di apartemen mewah milik Hvitserk tetapi pria yang baru saja menyatakan komitmen menjalani hubungan asmara dengannya itu seolah menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak bisa dihubungi juga tak pernah datang menghubunginya.Erika pernah mendatangi kediaman Felix Salvatore berkali-kali, satu-satunya tempat yang ia ketahui dan harapkan Hvitserk berada di sana. Tetapi rumah itu sunyi, seolah ditinggalkan.Kini pria asing ini berkata Hvitserk merindukannya? Sungguh, kebohongan yang epik!Jika bibirnya tak perih dan tubuhnya juga tidak ngilu, Erika ingin terbahak besar mendengar perkataan Billy yang menyebut Hvitserk merindukannya. Melihat sorot skeptis di mata Erika, Billy berkata pelan, “Hvitserk sedang menjalankan misi untuk Mister Salvatore. Kami tak tahu keberadaannya. Ia tak bisa dihubungi …ataupun menghubungi kami.”Ia berhenti sejenak.“Dia meminta kami menjagamu …tapi ...”“Aku mengerti!” Erika memotong perkataan Billy dan suaranya terdengar sangat ten
Di sebuah rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, udara terasa dingin dan steril. Cahaya lampu putih memantul di dinding logam, memantulkan bayangan dingin dari deretan mesin penopang kehidupan yang mengelilingi satu ranjang di tengah ruangan.Di sanalah Hvitserk Drazen terbaring, tak bergerakWajahnya tetap tampan meski pucat. Rahangnya tegas dan bulu mata panjangnya terkatup rapat, seolah ia hanya tertidur sangat dalam. Selang oksigen terpasang rapi di hidungnya, sementara dadanya naik turun pelan, mengikuti ritme mesin yang berdengung monoton.Hampir tiga bulan Hvitserk berada dalam keadaan koma.Dimitri Severe bersama tim dokter terbaiknya telah melakukan segalanya. Namun Hvitserk seakan telah merasa cukup dengan hidupnya, memilih untuk tidak kembali.Meski demikian, Dimitri tetap mempertahankan seluruh alat penopang kehidupan pada tubuh Hvitserk, salah satu bawahan terbaiknya, yang terluka parah saat melindungi Felix Salvatore.Seorang dokter senior, didampingi dua perawat, mem
Langkah kaki Erika baru saja memasuki area depan butik milik Camille Desoutter yang terkenal dan pernah memintanya untuk menjadi model beberapa bulan silam, tetapi kartu nama sang designer cantik, baik hati dan kaya tersebut hilang pun juga ponsel yang menyimpan nomornya.Tiba-tiba dari arah belakang, rambut panjang Erika yang tergerai dijambak kuat dari belakang dan ia pun refleks berteriak, langkah kakinya terhuyung. "Aowww ...!""Oh, siapa ini yang kita temukan, Rudolf?" Magdalena berseru pura-pura terkejut di wajahnya, namun matanya menyiratkan kebencian, "Apa yang kau lakukan di sini? Mau membeli gaun?" Magdalena memperkuat cengkeramannya pada rambut Erika yang berusaha melepaskan tetapi kalah oleh tenaga Magdalena. Rudolf, lelaki gemulai yang pernah menjadi manager Erika, tertawa mengejek di sebelah Magdalena, "Memangnya kau punya uang untuk membeli gaun di butik ini, Erika Marrins?" ejeknya memajukan wajah menghina Erika yang sangat mereka tahu berasal dari kalangan bawah. "







