Share

5. Sembuh

Author: Freyaa
last update Last Updated: 2026-02-04 19:17:06

Jauh di kedalaman alam pikiran, Hvitserk tenggelam dalam gelap. Bukan hitam melainkan sunyi.

Tubuhnya terasa berat, seperti terkubur di bawah air, sementara telinganya masih menangkap gema dunia. Ada suara. Bukan suara Felix yang dikenalnya dengan jelas, melainkan isak tangis …rapuh, patah dan terasa terlalu dekat.

Hvitserk mencoba bangkit. Tetapi gagal. 

Hvitserk seperti kembali terhempas ke alam sunyi. Dadanya sesak, ada dorongan kuat untuk bergerak, untuk menjawab, untuk menggenggam balik tangan seseorang yang menggenggamnya hangat. 

Semakin lama, Hvitserk semakin mengenali suara isak dan tangis itu. Erika ...bibirnya berusaha menyebut nama gadis tersebut. Tetapi suaranya teredam bagaikan ada dinding baja dingin yang menahan suaranya. Tak satu kata pun berhasil lolos.

Pikiran Hvitserk dipenuhi oleh bayangan Erika. Di sisi lain team medis melihat lonjakan pada mesin penopang kehidupan Hvitserk berdetak semakin cepat dan stabil. 

Erika yang memanggilnya Hupits dengan senyum kecil dan mata yang terlalu jujur untuk dunia sekejam ini.

"Bangun, Hupits! Kau berhutang penjelasan padaku!" Erika menggoyangkan pelan tangannya dan menggenggam sedikit lebih kuat. 

Tetapi tetap tidak ada reaksi dari Hvitserk. 

Jangan pergi…

Bibir Hvitserk bergerak, hampir tak terlihat ketika Erika melepaskan genggaman telapak tangannya.

Erika bangkit, membuka pintu ruangan dan berlari bingung akan arah mana yang hendak dia tuju, sehingga berteriak memanggil, "Dokter, dokter ...tolong, Hupits ...uhm Hvits-serk ...dokterrr ...!" 

Saat itu pula para staff medis keluar dari ruangan Dimitri Severe dan mereka berlari tergesa menghampiri Erika, kemudian bergegas masuk ke dalam ruangan perawatan Hvitserk. 

Dimitri meraih pundak Erika yang gemetar, "Mari masuk." bisiknya lembut seolah hendak mencium puncak kepala gadis itu yang telah membawa keajaiban pada Hvitserk, sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh ilmu.

 Team medis bergerak cepat membantu Hvitserk agar berjuang mengambil alih kehidupannya setelah melihat gerakan stabil pada monitor. 

Dimitri tetap merangkul pundak Erika, mengamati setiap perubahan ketika para dokter mulai menyingkirkan selang bening dari hidung Hvitserk, menyisakan kabel pemantau detak jantung.

Perlahan, Erika melangkah maju. Ia meraih telapak tangan Hvitserk dan menggenggamnya dengan hangat.

“Hupits …ini aku. Erika,” bisiknya di dekat telinga Hvitserk.

Semua mata tertuju pada Hvitserk.

“Eri …ka.” bibir Hvitserk terlihat bergetar namun ia berhasil menyebut nama Erika meskipun terbata dan kelopak matanya masih terpejam rapat. 

Bip!

Bip!

Biiiipppp!

Monitor berdengung panjang.

Jika ini mimpi, biarlah aku terjebak di sini lebih lama. Tapi jika ini hidup …tunggu aku, Erika.

Erika meraung dan tangisnya pecah meledak tanpa peduli airmatanya membanjir juga cairan hidungnya meleleh.

“Tidak! Tidak! Kau tidak boleh pergi! Kau tak boleh meninggalkanku seperti ini!” pekik Erika sengau dan dadanya seperti hendak meledak karena emosi. 

Dimitri yang berdiri di belakang Erika, memperhatikan sebelumnya, bergerak cepat memompa dada Hvitserk. 

“Kembali, Hvits!” bisik Dimitri tajam di depan wajah Hvitserk yang terlihat tenang, seolah ada seulas senyum terpatri di sana.

Lalu, dengan suara sengaja dikeraskan, Dimitri berkata, “Felix akan menikahi Erika kalau kau tidak bangun!”

Erika yang menggenggam telapak tangan Hvitserk, tersentak, “A-apa ...?!” pekiknya tersendat dalam rongga dada.

“Atau aku yang menikahinya!” tambah Dimitri dingin.

Bola mata Erika terbeliak terkejut mendengar perkataan Dimitri, tetapi di saat itu pula jemari Hvitserk yang ia genggam balas menggenggamnya, perlahan, lemah kemudian lebih kuat. 

“Anda sudah tua, Kak Dimi.”

Suara itu serak, namun hidup, lalu kelopak mata Hvitserk terbuka perlahan.

Dimitri berhenti memompa. Tawanya meledak. Ia menangkup wajah Hvitserk dan menempelkan keningnya.

“Aku benar-benar akan mencabut semua kabel ini kalau kau tak bangun setelah kami membawa istrimu ke sini.”

Bibir Hvitserk bergerak kaku, lalu tersenyum samar.

“Anda tak akan pernah melakukannya.”

“Kau yakin?” Dimitri terkekeh sambil bangkit berdiri dan merogoh ponsel dalam kantung celananya, langsung menghubungi Felix, mengabarkan tentang Hvitserk. 

“Karena aku tahu,” Hvitserk mengalihkan pandangan ke Erika yang masih terisak di tepi ranjang, “Kak Dimi selalu mencintaiku.”

Hvitserk berusaha mengangkat lengannya, tetapi gagal. Para dokter melihatnya dan bergerak membantu sehingga kini telapak tangan Hvitserk mendarat di atas kepala Erika.

Hvitserk mengusap pelan rambut Erika. 

“Maaf,” bisiknya.

Erika mengangkat wajah memandang Hvitserk. Air mata membasahi pipinya.

Seorang dokter membantu menggerakkan tangan Hvitserk yang turun membelai wajah Erika.

“Apakah kau sudah sarapan?” tanyanya lirih.

Dalam benak Hvitserk, ia masih ingat meninggalkan Erika di malam hari dan mengira saat ini pagi baru saja tiba. Ia tak tahu bahwa tiga bulan telah berlalu dan dunia hampir kehilangan mereka berdua.

Erika hendak menjawab, namun pandangannya beradu dengan Dimitri yang mengedipkan sebelah mata padanya, lalu berkata santai,

“Ya, sekarang sudah jam sepuluh pagi." ucap Dimitri seraya melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya, "Kau tadi belum menghabiskan sarapanmu, Erika.”

Erika menoleh pada Hvitserk, “Aku ingin menemanimu dulu. Nanti aku pergi makan,” tuturnya ke depan Hvitserk yang mengulum senyum kecil. 

Genggaman tangan Erika menguat di telapak tangan Hvitserk dan lelakinya itu membalasnya, perlahan, sesekali meremas lembut seolah memastikan gadis di depannya benar-benar nyata adalah Erika.

Tak lama kemudian dua orang perawat masuk membawa meja beroda dengan piring-piring makanan hangat.

“Makanlah …” bisik Hvitserk. Suaranya serak, namun lembut dan entah kenapa terdengar seperti permintaan yang tak bisa Erika tolak.

Para dokter masih berada di dalam ruangan, merapikan peralatan. Dimitri sendiri menekan beberapa titik di tubuh Hvitserk, memastikan aliran darahnya kembali lancar.

“Jadi,” ujar Dimitri santai sambil memijat ringan kepala hingga bahu Hvitserk, “kapan kalian berencana menikah?”

“Uhuk ...uhuk!”

Erika refleks terbatuk dan makanan di mulutnya hampir saja tersembur ke arah selimut yang menutupi tubuh Hvitserk sampai sebatas pinggang.

Hvitserk mendongak, menatap Dimitri dengan sorot mata mendelik, sementara Dimitri terkekeh rendah, jelas menikmati pemandangan itu, bahagia melihat pemuda yang ia cintai sebagai keluarga kini kembali hidup.

Berkat Dimitri yang telah memberikan totokan memperlancar peredaran darah, kini lengan Hvitserk sudah bisa terulur. Ia membersihkan remah di sudut bibir Erika dengan ibu jarinya.

“Makanlah pelan-pelan,” ucapnya lembut. Lalu, dengan nada yang lebih tenang namun pasti, ia menambahkan, “Kak Dimi tidak bercanda. Kapan kau siap kunikahi?”

Erika buru-buru meraih gelas, meneguknya untuk menenangkan diri. Kata menikah terasa terlalu besar, terlalu dekat dan terlalu tiba-tiba, terutama setelah semua yang baru saja terjadi.

“Baiklah,” Dimitri berkata sambil melangkah mundur, “kami tinggalkan kalian berdua.”

Ia memberi isyarat pada tim medis, dan satu per satu mereka pun keluar setelah menyemangati Hvitserk.

Erika menunduk. Sendok di tangannya berhenti bergerak, hanya berputar pelan di atas piring.

Hvitserk, yang kini sudah mampu menggerakkan lengannya dengan lebih leluasa, mengulurkan tangan dan menjepit lembut dagu Erika, memaksanya menatap.

“Kau tidak ingin menikah denganku?” tanyanya pelan. Tidak mendesak tapi menuntut kejujuran.

“Hm ...?” Erika baru sempat bersuara ketika Hvitserk mendekat. Bibir lelaki itu sudah lebih dulu menyentuh bibirnya, hanya menempel pelan dan hati-hati.

“Aku merindukanmu, Erika …” bisik Hvitserk, membelai jejak airmata yang telah kering di wajah cantik Erika. 

Belum sempat Erika menjawab, tengkuknya sudah direngkuh. Kali ini ciuman Hvitserk lebih dalam, lebih masuk dan yakin, namun tetap lembut membuai seperti dahulu mereka berciuman.

“Menikahlah denganku,” ucap Hvitserk lirih di sela napas mereka, “karena aku tidak pernah bisa cukup… jika hanya berciuman denganmu.”

“T-tapi …kau belum sepenuhnya semb ...” kalimat Erika teredam ketika Hvitserk kembali mencium bibirnya.

“Aku sudah sembuh, Erika …” bisik Hvitserk, hangat menerpa wajah Erika begitu tautan bibir mereka terlepas.

Erika tak sadar kapan Hvitserk menariknya hingga kini ia duduk di tepian brankar. Saat Erika berusaha menyeimbangkan tubuh, telapak tangannya justru mendarat di atas selimut, tepat pada bagian paling purba dari diri lelaki itu, yang terasa nyata, keras dan tak terbantahkan.

Napas Erika tercekat, memalingkan wajah memerahnya ke arah lain.

Hvitserk mengulum senyum tipis dan matanya meredup lembut, sementara jemarinya menyusuri pinggang Erika, menahannya agar tak menjauh.

“Apakah itu yang kau khawatirkan, My Lady?” bisiknya dekat telinga Erika, suaranya membuat bulu kuduk meremang.

“Sepertinya dia …pulih lebih dulu.”

"Ta-tapi ...aku belum mengenalmu dan ..." Erika mencoba mencari alasan, karena semua ini terlalu tiba-tiba baginya. 

"Perkenalan seperti apa yang kau inginkan? Apakah ...kau mau menaikiku lebih dulu?" 

Refleks tangan Erika memukul gemas pundak Hvitserk yang entah pikirannya saja, tetapi lelakinya itu tidak terlihat seperti baru saja bangun dari koma. 

Hvitserk tergelak, lengannya mengencang di pinggang Erika, menarik gadisnya itu benar-benar mendudukinya di atas brankar. 


Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   5. Sembuh

    Jauh di kedalaman alam pikiran, Hvitserk tenggelam dalam gelap. Bukan hitam melainkan sunyi.Tubuhnya terasa berat, seperti terkubur di bawah air, sementara telinganya masih menangkap gema dunia. Ada suara. Bukan suara Felix yang dikenalnya dengan jelas, melainkan isak tangis …rapuh, patah dan terasa terlalu dekat.Hvitserk mencoba bangkit. Tetapi gagal. Hvitserk seperti kembali terhempas ke alam sunyi. Dadanya sesak, ada dorongan kuat untuk bergerak, untuk menjawab, untuk menggenggam balik tangan seseorang yang menggenggamnya hangat. Semakin lama, Hvitserk semakin mengenali suara isak dan tangis itu. Erika ...bibirnya berusaha menyebut nama gadis tersebut. Tetapi suaranya teredam bagaikan ada dinding baja dingin yang menahan suaranya. Tak satu kata pun berhasil lolos.Pikiran Hvitserk dipenuhi oleh bayangan Erika. Di sisi lain team medis melihat lonjakan pada mesin penopang kehidupan Hvitserk berdetak semakin cepat dan stabil. Erika yang memanggilnya Hupits dengan senyum kecil dan

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   4. Keajaiban

    Erika menatap sosok di atas brankar itu tanpa berkedip. Dunia seolah berhenti bergerak.“Hupits …” bisik Erika lirih, nyaris tak bersuara.Tak ada jawaban.Wajah Hvitserk terlihat pucat dan sangat tenang. Rambut-rambut halus yang dahulu membingkai rahangnya kini dicukur bersih, membuat garis wajahnya terlihat lebih keras, sedikit terasa asing. Namun Erika sangat yakin, jika Lelaki di hadapannya ini adalah pria yang sama, yang memintanya menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu.Pria yang hangat dan memiliki senyum tulus sekaligus memiliki sorot mata tajam yang selalu terlihat lembut memandangnya.Erika semakin mengeratkan genggaman pada telapak tangan Hvitserk yang terasa dingin.“Ku pikir kau meninggalkanku …” isaknya tercekat.“Tapi sejak kapan kau di sini? Kenapa tak ada seorang pun yang memberitahuku?”Sekali lagi, pertanyaan Erika tak mendapatkan jawaban. Yang ada hanya suara mesin.Bip… bip… bip…Selang bening terpasang di hidung Hvitserk dan kabel-kabel menjalar dari tubuhnya men

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   3. Hidup Kembali

    Tiga bulan Erika terus menunggu di apartemen mewah milik Hvitserk tetapi pria yang baru saja menyatakan komitmen menjalani hubungan asmara dengannya itu seolah menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak bisa dihubungi juga tak pernah datang menghubunginya.Erika pernah mendatangi kediaman Felix Salvatore berkali-kali, satu-satunya tempat yang ia ketahui dan harapkan Hvitserk berada di sana. Tetapi rumah itu sunyi, seolah ditinggalkan.Kini pria asing ini berkata Hvitserk merindukannya? Sungguh, kebohongan yang epik!Jika bibirnya tak perih dan tubuhnya juga tidak ngilu, Erika ingin terbahak besar mendengar perkataan Billy yang menyebut Hvitserk merindukannya. Melihat sorot skeptis di mata Erika, Billy berkata pelan, “Hvitserk sedang menjalankan misi untuk Mister Salvatore. Kami tak tahu keberadaannya. Ia tak bisa dihubungi …ataupun menghubungi kami.”Ia berhenti sejenak.“Dia meminta kami menjagamu …tapi ...”“Aku mengerti!” Erika memotong perkataan Billy dan suaranya terdengar sangat ten

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   2. Hvitserk Drazen (Hupits)

    Di sebuah rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, udara terasa dingin dan steril. Cahaya lampu putih memantul di dinding logam, memantulkan bayangan dingin dari deretan mesin penopang kehidupan yang mengelilingi satu ranjang di tengah ruangan.Di sanalah Hvitserk Drazen terbaring, tak bergerakWajahnya tetap tampan meski pucat. Rahangnya tegas dan bulu mata panjangnya terkatup rapat, seolah ia hanya tertidur sangat dalam. Selang oksigen terpasang rapi di hidungnya, sementara dadanya naik turun pelan, mengikuti ritme mesin yang berdengung monoton.Hampir tiga bulan Hvitserk berada dalam keadaan koma.Dimitri Severe bersama tim dokter terbaiknya telah melakukan segalanya. Namun Hvitserk seakan telah merasa cukup dengan hidupnya, memilih untuk tidak kembali.Meski demikian, Dimitri tetap mempertahankan seluruh alat penopang kehidupan pada tubuh Hvitserk, salah satu bawahan terbaiknya, yang terluka parah saat melindungi Felix Salvatore.Seorang dokter senior, didampingi dua perawat, mem

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   1. Erika Marrins

    Langkah kaki Erika baru saja memasuki area depan butik milik Camille Desoutter yang terkenal dan pernah memintanya untuk menjadi model beberapa bulan silam, tetapi kartu nama sang designer cantik, baik hati dan kaya tersebut hilang pun juga ponsel yang menyimpan nomornya.Tiba-tiba dari arah belakang, rambut panjang Erika yang tergerai dijambak kuat dari belakang dan ia pun refleks berteriak, langkah kakinya terhuyung. "Aowww ...!""Oh, siapa ini yang kita temukan, Rudolf?" Magdalena berseru pura-pura terkejut di wajahnya, namun matanya menyiratkan kebencian, "Apa yang kau lakukan di sini? Mau membeli gaun?" Magdalena memperkuat cengkeramannya pada rambut Erika yang berusaha melepaskan tetapi kalah oleh tenaga Magdalena. Rudolf, lelaki gemulai yang pernah menjadi manager Erika, tertawa mengejek di sebelah Magdalena, "Memangnya kau punya uang untuk membeli gaun di butik ini, Erika Marrins?" ejeknya memajukan wajah menghina Erika yang sangat mereka tahu berasal dari kalangan bawah. "

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status