Share

3. Hidup Kembali

Author: Freyaa
last update Last Updated: 2026-02-03 23:15:53

Tiga bulan Erika terus menunggu di apartemen mewah milik Hvitserk tetapi pria yang baru saja menyatakan komitmen menjalani hubungan asmara dengannya itu seolah menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak bisa dihubungi juga tak pernah datang menghubunginya.

Erika pernah mendatangi kediaman Felix Salvatore berkali-kali, satu-satunya tempat yang ia ketahui dan harapkan Hvitserk berada di sana. Tetapi rumah itu sunyi, seolah ditinggalkan.

Kini pria asing ini berkata Hvitserk merindukannya? Sungguh, kebohongan yang epik!

Jika bibirnya tak perih dan tubuhnya juga tidak ngilu, Erika ingin terbahak besar mendengar perkataan Billy yang menyebut Hvitserk merindukannya. 

Melihat sorot skeptis di mata Erika, Billy berkata pelan, “Hvitserk sedang menjalankan misi untuk Mister Salvatore. Kami tak tahu keberadaannya. Ia tak bisa dihubungi …ataupun menghubungi kami.”

Ia berhenti sejenak.

“Dia meminta kami menjagamu …tapi ...”

“Aku mengerti!” Erika memotong perkataan Billy dan suaranya terdengar sangat tenang.  

Ia menoleh menatap Billy, “Pulanglah. Aku akan baik-baik saja. Sampaikan pada Hupits …aku tidak memiliki perjanjian apa pun dengannya. Tak perlu dijaga. Dan aku juga tidak sedang menunggunya.”

Billy tertegun sesaat, lalu mengangguk pelan, “Baik, Nona.”

Erika menutup matanya saat Billy melangkah keluar. Napasnya berhembus sesak, bukan karena luka di tubuhnya, melainkan karena satu nama yang kembali menyisakan kehampaan.

Erika teringat ketika Hvitserk menyematkan cincin di jemarinya, saat ia mengangguk setuju menjalin hubungan dengan lelaki itu. Tatapan lembut dan perhatiannya yang terlihat jujur membuatnya percaya.

Namun setelah itu, Hvitserk meninggalkannya di apartemen mewah miliknya. Tak pernah lagi kembali juga tak ada kabar, apalagi penjelasan. 

Jemari tangan Erika perlahan mengepal. Cincin berlian pemberian Hvitserk sudah tak lagi tersemat di sana, entah terlepas saat Magdalena menyiksanya, atau memang telah hilang bersama sisa kepercayaannya.

Aneh, ia tak merasa sedih.

Bukankah melepaskan jauh lebih baik daripada menggenggam dan menghabiskan waktu menunggu yang bukan miliknya? 

Erika sangat paham akan hal ini dan beginilah dirinya menjalani hidup. Dulu, sebelum Hvitserk hadir, ia baik-baik saja. Sekarang pun, tanpa pria itu, hidupnya akan tetap berjalan.

Kelopak mata Erika terasa berat, lalu terpejam rapat, seiring dengan itu dengung mesin di samping kepalanya terdengar semakin nyaring.

Billy berlari masuk. Tak lama kemudian, tim medis menyusul, langkah mereka tergesa memenuhi ruangan perawatan Erika.

Beberapa jam kemudian, Billy bersama dua staf medis berada di dalam jet pribadi milik Felix Salvatore, membawa Erika yang masih hidup, terbaring di atas brankar khusus. Pesawat itu melesat membelah langit, membawa mereka menuju kediaman Marcio Lamparska di Murcia.

**

Erika tak tahu berapa lama ia tertidur. Saat kesadarannya kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah, hangat. Bukan hangat yang menyengat, melainkan lembut dan menyelimuti.

Ruangan tempat Erika berada, sangat luas dan tenang. Tak ada aroma antiseptik rumah sakit, tak ada bunyi mesin, pun tak ada langkah kaki tergesa di balik dinding.

Perlahan, Erika membuka mata. Mengedipkan kelopak mata beberapa kali hingga cahaya lembut di sekelilingnya tak lagi menyilaukan. Erika mengedarkan pandangannya ke sekeliling bagian atas dan depannya, terlihat dinding putih bersih, seperti kamar tidur seseorang, bukan ruang perawatan.

Ia menoleh ke samping, sebuah jendela kaca besar terbuka sedikit. Tirainya bergoyang tertiup angin, membawa aroma laut yang asin, segar dan hidup.

“Ini …di mana?” gumamnya lirih.

Pemandangan lautan biru terbentang luas di luar jendela. Tenang dan tak berujung. Dan Erika tahu jelas, ini bukan di Amalfi.

Erika mengernyit pelan. Ia ingat dan sangat yakin, terakhir kali berada pada salah satu rumah sakit di Amalfi.

Mengingat rumah sakit, Erika sedikit mengernyitkan kening, ia tak merasakan nyeri atau ngilu pada tubuhnya sama sekali. Sebaliknya ia merasa lebih ringan dan segar, seolah ia baru bangun dari tidur panjang yang menenangkan.

Erika mengangkat lengannya. Ia pun terkejud dengan kedua mata membesar. Kulitnya mulus, bahkan sedikit bercahaya. Jemarinya juga utuh tak bengkok ataupun patah.

Ia menyentuh wajahnya sendiri, terasa halus juga tak ada perih. Bibirnya bisa ia basahi, ditekan perlahan masuk ke dalam, tanpa rasa sakit.

Seolah penyiksaan yang dilakukan Magdalena padanya, hanyalah mimpi buruk yang tak pernah terjadi.

“Apakah aku …sudah mati?” bisik Erika tercekat.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah tenang, wajahnya dihiasi senyum lembut.

“Anda sudah bangun,” sapanya hangat.

Erika mengerjapkan kelopak matanya, lalu bertanya pelan, "Ini ...ada dimana?" 

Wanita itu mendekat dan senyumnya tetap menenangkan yang membuat Erika sedikit nyaman, "Ini di Murcia, Nona." ucapnya lembut sambil menuangkan air hangat di bar mini dalam kamar, memberikannya pada Erika, "Selamat datang di kediaman Lamparska, Nona Erika.”

“Murcia? Lamparska?” Erika mengulang dan kedua bola matanya terbeliak karena terkejut.

Nama Lamparska sama sekali asing baginya. Namun Murcia, ia tahu adalah salah satu kota terindah di Spanyol.

“Tuan Hvitserk yang meminta Anda dibawa kemari,” tutur sang wanita, seolah membaca kebingungan Erika.,“Saya akan menyiapkan makan siang. Setelah itu, Nona bisa bertemu Tuan Hvitserk.”

Wanita itu berbalik hendak pergi.

“Tunggu,” pinta Erika tegas, “Apakah Hvitserk ada di sini?” tanya pelan dengan suara tertahan.

“Lalu …apa hubungannya dengan Lamparska?”

Wanita itu menoleh kembali, tetap tenang dan tersenyum tipis.

“Nanti Nona Erika akan mengetahui semuanya langsung dari Tuan Hvitserk. Jangan khawatir. Tempat ini aman.”

Ia memberi sedikit hormat menundukkan kepala pada Erika, lalu keluar dari kamar. Sebelum tiba di pantry, sang wanita menghubungi Felix Salvatore melalui ponselnya. 

Erika telah turun dari tempat pembaringannya, mencoba menjejakkan kedua kakinya ke lantai. Tak ada rasa nyeri. Tak ada lemah. Tubuhnya benar-benar telah pulih, seolah tak pernah disentuh penderitaan.

Tak lama kemudian, wanita paruh baya itu kembali memasuki ruangan, mendorong sebuah meja beroda yang dipenuhi piring berisi makanan dan minuman segar. Aroma hangatnya membuat tenggorokan Erika terasa kering tanpa ia sadari.

“Silakan dinikmati, Nona,” ucap sang wanita lembut, menyodorkan alat makan ke tangan Erika.

Erika mengangguk pelan, mengucapkan terima kasih lalu menerima alat makan tersebut. Sang wanita meminta izin dan meninggalkan Erika menikmati makanannya sendirian dalam ruangan.

Entah karena lapar atau karena rasa aman yang perlahan menyelimuti dirinya, Erika menghabiskan semua hidangan di hadapannya. Tak tersisa apa pun, hanya piring dan gelas kosong di atas meja.

Setelahnya, Erika berjalan mendekati jendela besar. Ia berdiri cukup lama, menatap lautan biru yang membentang tenang di kejauhan, seolah ingin memastikan bahwa pemandangan itu nyata.

Beberapa kali ia menguap. Rasa kantuk datang tiba-tiba.

Erika pun melangkah ke sofa panjang di dekat jendela, merebahkan tubuhnya dan tanpa sempat berpikir lebih jauh, ia tertidur.

Tidur yang terasa panjang.

Dalam samar kesadarannya, Erika seperti sedang berada dalam perjalanan. Tubuhnya terasa melayang, telinganya menangkap dengung turbin disertai tekanan udara yang membuat dadanya terasa sesak sesaat, lalu ringan kembali.

Kini, Erika membuka matanya perlahan dan ia tersentak hingga terduduk. Ia tidak lagi berada dalam ruangan luas dengan aroma laut dan cahaya lembut seperti sebelumnya. Melainkan langit-langit putih rumah sakit, bau antiseptik yang menusuk, serta bunyi mesin yang berdetak teratur di sekelilingnya.

Jantung Erika berdegup kencang. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. 

Di atas brankar di sebelahnya, terbaring seorang pria dengan wajah yang terlalu ia kenal. Wajah yang selama tiga bulan terakhir hanya hidup di ingatannya. 

Lelaki yang menghilang tanpa kabar dan ia kira telah memilih pergi. Kini terbaring diam, tak bergerak ditempeli alat penopang kehidupan.

“Hupits?!” Erika menghampiri Hvitserk, menyentuh punggung tangan lelaki itu perlahan, "Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   5. Sembuh

    Jauh di kedalaman alam pikiran, Hvitserk tenggelam dalam gelap. Bukan hitam melainkan sunyi.Tubuhnya terasa berat, seperti terkubur di bawah air, sementara telinganya masih menangkap gema dunia. Ada suara. Bukan suara Felix yang dikenalnya dengan jelas, melainkan isak tangis …rapuh, patah dan terasa terlalu dekat.Hvitserk mencoba bangkit. Tetapi gagal. Hvitserk seperti kembali terhempas ke alam sunyi. Dadanya sesak, ada dorongan kuat untuk bergerak, untuk menjawab, untuk menggenggam balik tangan seseorang yang menggenggamnya hangat. Semakin lama, Hvitserk semakin mengenali suara isak dan tangis itu. Erika ...bibirnya berusaha menyebut nama gadis tersebut. Tetapi suaranya teredam bagaikan ada dinding baja dingin yang menahan suaranya. Tak satu kata pun berhasil lolos.Pikiran Hvitserk dipenuhi oleh bayangan Erika. Di sisi lain team medis melihat lonjakan pada mesin penopang kehidupan Hvitserk berdetak semakin cepat dan stabil. Erika yang memanggilnya Hupits dengan senyum kecil dan

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   4. Keajaiban

    Erika menatap sosok di atas brankar itu tanpa berkedip. Dunia seolah berhenti bergerak.“Hupits …” bisik Erika lirih, nyaris tak bersuara.Tak ada jawaban.Wajah Hvitserk terlihat pucat dan sangat tenang. Rambut-rambut halus yang dahulu membingkai rahangnya kini dicukur bersih, membuat garis wajahnya terlihat lebih keras, sedikit terasa asing. Namun Erika sangat yakin, jika Lelaki di hadapannya ini adalah pria yang sama, yang memintanya menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu.Pria yang hangat dan memiliki senyum tulus sekaligus memiliki sorot mata tajam yang selalu terlihat lembut memandangnya.Erika semakin mengeratkan genggaman pada telapak tangan Hvitserk yang terasa dingin.“Ku pikir kau meninggalkanku …” isaknya tercekat.“Tapi sejak kapan kau di sini? Kenapa tak ada seorang pun yang memberitahuku?”Sekali lagi, pertanyaan Erika tak mendapatkan jawaban. Yang ada hanya suara mesin.Bip… bip… bip…Selang bening terpasang di hidung Hvitserk dan kabel-kabel menjalar dari tubuhnya men

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   3. Hidup Kembali

    Tiga bulan Erika terus menunggu di apartemen mewah milik Hvitserk tetapi pria yang baru saja menyatakan komitmen menjalani hubungan asmara dengannya itu seolah menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak bisa dihubungi juga tak pernah datang menghubunginya.Erika pernah mendatangi kediaman Felix Salvatore berkali-kali, satu-satunya tempat yang ia ketahui dan harapkan Hvitserk berada di sana. Tetapi rumah itu sunyi, seolah ditinggalkan.Kini pria asing ini berkata Hvitserk merindukannya? Sungguh, kebohongan yang epik!Jika bibirnya tak perih dan tubuhnya juga tidak ngilu, Erika ingin terbahak besar mendengar perkataan Billy yang menyebut Hvitserk merindukannya. Melihat sorot skeptis di mata Erika, Billy berkata pelan, “Hvitserk sedang menjalankan misi untuk Mister Salvatore. Kami tak tahu keberadaannya. Ia tak bisa dihubungi …ataupun menghubungi kami.”Ia berhenti sejenak.“Dia meminta kami menjagamu …tapi ...”“Aku mengerti!” Erika memotong perkataan Billy dan suaranya terdengar sangat ten

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   2. Hvitserk Drazen (Hupits)

    Di sebuah rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, udara terasa dingin dan steril. Cahaya lampu putih memantul di dinding logam, memantulkan bayangan dingin dari deretan mesin penopang kehidupan yang mengelilingi satu ranjang di tengah ruangan.Di sanalah Hvitserk Drazen terbaring, tak bergerakWajahnya tetap tampan meski pucat. Rahangnya tegas dan bulu mata panjangnya terkatup rapat, seolah ia hanya tertidur sangat dalam. Selang oksigen terpasang rapi di hidungnya, sementara dadanya naik turun pelan, mengikuti ritme mesin yang berdengung monoton.Hampir tiga bulan Hvitserk berada dalam keadaan koma.Dimitri Severe bersama tim dokter terbaiknya telah melakukan segalanya. Namun Hvitserk seakan telah merasa cukup dengan hidupnya, memilih untuk tidak kembali.Meski demikian, Dimitri tetap mempertahankan seluruh alat penopang kehidupan pada tubuh Hvitserk, salah satu bawahan terbaiknya, yang terluka parah saat melindungi Felix Salvatore.Seorang dokter senior, didampingi dua perawat, mem

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   1. Erika Marrins

    Langkah kaki Erika baru saja memasuki area depan butik milik Camille Desoutter yang terkenal dan pernah memintanya untuk menjadi model beberapa bulan silam, tetapi kartu nama sang designer cantik, baik hati dan kaya tersebut hilang pun juga ponsel yang menyimpan nomornya.Tiba-tiba dari arah belakang, rambut panjang Erika yang tergerai dijambak kuat dari belakang dan ia pun refleks berteriak, langkah kakinya terhuyung. "Aowww ...!""Oh, siapa ini yang kita temukan, Rudolf?" Magdalena berseru pura-pura terkejut di wajahnya, namun matanya menyiratkan kebencian, "Apa yang kau lakukan di sini? Mau membeli gaun?" Magdalena memperkuat cengkeramannya pada rambut Erika yang berusaha melepaskan tetapi kalah oleh tenaga Magdalena. Rudolf, lelaki gemulai yang pernah menjadi manager Erika, tertawa mengejek di sebelah Magdalena, "Memangnya kau punya uang untuk membeli gaun di butik ini, Erika Marrins?" ejeknya memajukan wajah menghina Erika yang sangat mereka tahu berasal dari kalangan bawah. "

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status