Share

4. Keajaiban

Author: Freyaa
last update Last Updated: 2026-02-04 12:22:06

Erika menatap sosok di atas brankar itu tanpa berkedip. Dunia seolah berhenti bergerak.

“Hupits …” bisik Erika lirih, nyaris tak bersuara.

Tak ada jawaban.

Wajah Hvitserk terlihat pucat dan sangat tenang. Rambut-rambut halus yang dahulu membingkai rahangnya kini dicukur bersih, membuat garis wajahnya terlihat lebih keras, sedikit terasa asing. Namun Erika sangat yakin, jika Lelaki di hadapannya ini adalah pria yang sama, yang memintanya menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu.

Pria yang hangat dan memiliki senyum tulus sekaligus memiliki sorot mata tajam yang selalu terlihat lembut memandangnya.

Erika semakin mengeratkan genggaman pada telapak tangan Hvitserk yang terasa dingin.

“Ku pikir kau meninggalkanku …” isaknya tercekat.

“Tapi sejak kapan kau di sini? Kenapa tak ada seorang pun yang memberitahuku?”

Sekali lagi, pertanyaan Erika tak mendapatkan jawaban. Yang ada hanya suara mesin.

Bip… bip… bip…

Selang bening terpasang di hidung Hvitserk dan kabel-kabel menjalar dari tubuhnya menuju mesin yang berdetak pelan namun kejam, seolah setiap bunyinya mengingatkan bahwa hidup lelaki itu kini bergantung pada sesuatu selain dirinya sendiri.

Dada Erika semakin terasa sesak. Napasnya pendek dan kelopak matanya panas.

“Bangun, Hupits …katakan aku bermimpi …” desisnya sambil mengangkat punggung tangan Hvitserk ke bibirnya.

“Kau berjanji akan kembali malam itu …tapi kenapa ...” suara Erika pecah.

Ketika seseorang hadir dengan begitu baik di dunia yang kejam, kepercayaan bisa tumbuh tanpa sadar. Itulah yang terjadi pada Erika.

Erika percaya, hingga akhirnya setuju menjalin hubungan dengan Hvitserk, tanpa tahu bahwa lelaki itu adalah salah satu tangan kanan kelompok mafia. Lalu kepercayaan itu runtuh, bersamaan dengan menghilangnya Hvitserk tanpa kabar.

Wajar jika kini Erika merasa hancur ketika melihat lelaki yang ia kira meninggalkannya tersebut …justru hidupnya ditopang mesin.

Air mata Erika jatuh tanpa izin. Kepalanya dipenuhi serpihan waktu tentang kemarahan, kesalahpahaman, keputusannya untuk pergi dan malam-malam panjang ketika ia meyakinkan diri bahwa melupakan Hvitserk adalah satu-satunya cara bertahan.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dari luar.

Seorang pria berambut abu-abu dengan wajah tegas namun tenang melangkah masuk dan bibirnya langsung tersenyum tipis begitu beradu tatap dengan netra Erika yang bangkit berdiri di samping brankar Hvitserk. 

Pria yang tampak kharismatik dan mengenakan jas dokter tersebut berhenti beberapa langkah dari Erika. 

“Erika Marrins,” sapa sang pria pelan seraya mengulurkan tangan ke depan Erika, “Aku, Dimitri Severe. Dokter yang menangani Hvitserk.”

Kelopak mata Erika mengerjap cepat, “Kenapa dia seperti ini, Dokter Dimitri?” tanyanya nyaris memohon, “Kenapa semua orang berbohong dan membawaku kemari seperti ini?”

Dimitri menarik napas dalam sebelum menjawab, "Maaf, kami membuatmu kelelahan." ucapnya lembut seperti seorang Ayah kepada putrinya sendiri, "Kami mencarimu kemana-mana ketika dia dibawa kemari, tapi kami tak menemukanmu." 

Erika ingat, jika nomor ponselnya yang pernah diminta oleh Felix, dibuang oleh Hvitserk sebelum memberinya ponsel baru yang hanya ada nomor pria itu tersimpan. 

"Hvitserk terluka parah tiga bulan lalu. Ia terkena tembakan saat melindungi Felix Salvatore yang mengakibatkan tubuhnya jatuh ke kondisi koma."

Kata-kata itu jatuh satu per satu dari bibir Dimitri yang kini membimbing pundak Erika untuk ia bawa duduk pada sofa dalam ruangan. 

Bendungan airmata Erika kembali pecah dan wajahnya yang sudah mulus, cantik mempesona itu kini membanjir. Dimitri meraih kotak tisu, mengambil beberapa helai dan menyelipkannya ke telapak tangan Erika. 

"Bagiku, bagi kami ...Hvitserk lebih dari sekedar bawahan. Dia pria hebat dan kami semua mencintainya." tutur Dimitri dengan suara berat. 

"Felix bahkan hampir gila mencarimu di Amalfi, menghancurkan Mussolini Entertainment hanya agar kau bisa ditemukan ..." 

Dimitri tidak berbohong, Felix memang menghancurkan Mussolini Entertainment, agency tempat Erika bekerja sebagai model sebelumnya, tetapi alasan Felix bukan itu satu-satunya tetapi juga karena pemilik agency dan putranya telah melakukan perbuatan tercela pada dua orang keponakan perempuannya. 

"A-aku ..." Erika terbata, tenggorokannya benar-benar terasa menyempit dan pundaknya bergetar karena isak. 

Perlahan, lengan Dimitri merengkuh pundak Erika yang ia bawa bersandar ke bahunya, "Maukah kau memaafkan kami? Kami sungguh tak punya cara lain agar bisa membawamu secepatnya ke sini." 

Pertahanan Erika runtuh, oleh kenyataan dan sikap lembut kebapakan Dimitri yang memeluknya hangat tanpa melanggar batas kesopanan meskipun mereka baru pertama kali bertemu. 

Erika menutup mulutnya dengan kedua tangan dan bahunya semakin bergetar hebat. Tangisnya meledak dan isaknya tak lagi bisa ia tahan. 

Dimitri menepuk pelan pundak Erika, membiarkan gadis itu meluahkan emosi meski jas dokternya di bagian bahu dan dada telah basah oleh airmata Erika. 

“Aku membencinya …” ucap Erika terbata-bata di sela tangis, “Aku berpikir dia meninggalkanku. Aku berkata …aku tak akan menunggunya.”

Dimitri tidak berbicara tetapi ujung jemarinya tetap memberikan tepukan lembut ke pundak Erika seolah memberitahu jika gadis itu tak sendirian.

Sebagai dokter hebat yang diberi gelar Dokter Tangan Tuhan di dunia medis, Dimitri sangat paham sisi psikologis Erika yang merasa ditinggalkan Hvitserk, menghilang begitu saja tanpa kata. 

“Aku salah paham …” lirih Erika hancur, “Aku hampir melupakannya …tapi aku tak bisa lupa.”

“Hvitserk tak pernah melupakanmu." ucap Dimitri tenang, "Ketika kemarin kau disakiti, lalu Felix menemukanmu, tubuhnya di sini bereaksi. Detak jantungnya melonjak tanpa sebab medis. Seperti …ia tahu dan merasakan penderitaanmu.”

Erika terisak semakin keras. Ia bangkit dari duduk di sofa dan pelukan Dimitri, melompat bersujud di samping brangkar Hvitserk. 

"Maaf, maafkan aku ..." bisik Erika berulang kali, menggenggam jemari Hvitserk seolah takut lelaki itu akan menghilang atau detak pada mesin penopang kehidupannya berhenti berbunyi. 

“Maafkan aku, Hupits …jangan tinggalkan aku seperti ini …bukankah kau sudah berjanji akan kembali lagi padaku?”

Di balik kelopak mata yang terpejam, ada lonjakan darah memompa dalam tubuh Hvitserk yang membuat mesin di samping kepalanya berdetak sedikit lebih cepat.

Bukan kebetulan!

Dimitri Severe melihatnya namum memilih tetap diam, terus memperhatikan. Ia meraih sofa untuk Erika duduk di samping brankar dan melingkupi pundak gadis itu dengan jas dokternya.

Dimitri meninggalkan Erika sendiri di dalam ruangan yang masih menangis menciumi punggung tangan Hvitserk, meluahkan semua emosi yang selama ini terkurung dalam rongga dadanya.

Dimitri berjalan cepat menuju ruangan kerjanya yang masih satu lantai dengan tempat perawatan Hvitserk. Ia memanggil staff medisnya yang khusus menangani Hvitserk, "Siapkan semua alat terapi yang aman dan nyaman untuk Hvits!" 

"Apakah ...Hvits sudah bangun, kak Dimi?" tanya salah satu dokter yang sebelumnya melihat lonjakan detak jantung Hvitserk. 

"Segera!" sahut Dimitri dengan sorot mata dingin namun antusias. 

Baik Dimitri maupun Felix Salvatore, mereka tidak salah. Membawa Erika bertemu dengan Hvitserk bisa membuat lelaki itu termotivasi untuk kembali hidup. 

Dan hal tersebut benar-benar terjadi seperti keajaiban, Erika yang tertidur menempelkan samping wajah ke tepi brankar, merasakan telapak tangannya digelitik lembut, jemari Hvitserk bergerak dan mencari-cari pegangan. 

"Hupits ...?!" pekik Erika terkejut, menggenggam erat telapak tangan Hvitserk yang kembali diam, seolah mencoba merasakan kehangatan dari telapak tangan orang yang menggengamnya. 

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   5. Sembuh

    Jauh di kedalaman alam pikiran, Hvitserk tenggelam dalam gelap. Bukan hitam melainkan sunyi.Tubuhnya terasa berat, seperti terkubur di bawah air, sementara telinganya masih menangkap gema dunia. Ada suara. Bukan suara Felix yang dikenalnya dengan jelas, melainkan isak tangis …rapuh, patah dan terasa terlalu dekat.Hvitserk mencoba bangkit. Tetapi gagal. Hvitserk seperti kembali terhempas ke alam sunyi. Dadanya sesak, ada dorongan kuat untuk bergerak, untuk menjawab, untuk menggenggam balik tangan seseorang yang menggenggamnya hangat. Semakin lama, Hvitserk semakin mengenali suara isak dan tangis itu. Erika ...bibirnya berusaha menyebut nama gadis tersebut. Tetapi suaranya teredam bagaikan ada dinding baja dingin yang menahan suaranya. Tak satu kata pun berhasil lolos.Pikiran Hvitserk dipenuhi oleh bayangan Erika. Di sisi lain team medis melihat lonjakan pada mesin penopang kehidupan Hvitserk berdetak semakin cepat dan stabil. Erika yang memanggilnya Hupits dengan senyum kecil dan

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   4. Keajaiban

    Erika menatap sosok di atas brankar itu tanpa berkedip. Dunia seolah berhenti bergerak.“Hupits …” bisik Erika lirih, nyaris tak bersuara.Tak ada jawaban.Wajah Hvitserk terlihat pucat dan sangat tenang. Rambut-rambut halus yang dahulu membingkai rahangnya kini dicukur bersih, membuat garis wajahnya terlihat lebih keras, sedikit terasa asing. Namun Erika sangat yakin, jika Lelaki di hadapannya ini adalah pria yang sama, yang memintanya menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu.Pria yang hangat dan memiliki senyum tulus sekaligus memiliki sorot mata tajam yang selalu terlihat lembut memandangnya.Erika semakin mengeratkan genggaman pada telapak tangan Hvitserk yang terasa dingin.“Ku pikir kau meninggalkanku …” isaknya tercekat.“Tapi sejak kapan kau di sini? Kenapa tak ada seorang pun yang memberitahuku?”Sekali lagi, pertanyaan Erika tak mendapatkan jawaban. Yang ada hanya suara mesin.Bip… bip… bip…Selang bening terpasang di hidung Hvitserk dan kabel-kabel menjalar dari tubuhnya men

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   3. Hidup Kembali

    Tiga bulan Erika terus menunggu di apartemen mewah milik Hvitserk tetapi pria yang baru saja menyatakan komitmen menjalani hubungan asmara dengannya itu seolah menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak bisa dihubungi juga tak pernah datang menghubunginya.Erika pernah mendatangi kediaman Felix Salvatore berkali-kali, satu-satunya tempat yang ia ketahui dan harapkan Hvitserk berada di sana. Tetapi rumah itu sunyi, seolah ditinggalkan.Kini pria asing ini berkata Hvitserk merindukannya? Sungguh, kebohongan yang epik!Jika bibirnya tak perih dan tubuhnya juga tidak ngilu, Erika ingin terbahak besar mendengar perkataan Billy yang menyebut Hvitserk merindukannya. Melihat sorot skeptis di mata Erika, Billy berkata pelan, “Hvitserk sedang menjalankan misi untuk Mister Salvatore. Kami tak tahu keberadaannya. Ia tak bisa dihubungi …ataupun menghubungi kami.”Ia berhenti sejenak.“Dia meminta kami menjagamu …tapi ...”“Aku mengerti!” Erika memotong perkataan Billy dan suaranya terdengar sangat ten

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   2. Hvitserk Drazen (Hupits)

    Di sebuah rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, udara terasa dingin dan steril. Cahaya lampu putih memantul di dinding logam, memantulkan bayangan dingin dari deretan mesin penopang kehidupan yang mengelilingi satu ranjang di tengah ruangan.Di sanalah Hvitserk Drazen terbaring, tak bergerakWajahnya tetap tampan meski pucat. Rahangnya tegas dan bulu mata panjangnya terkatup rapat, seolah ia hanya tertidur sangat dalam. Selang oksigen terpasang rapi di hidungnya, sementara dadanya naik turun pelan, mengikuti ritme mesin yang berdengung monoton.Hampir tiga bulan Hvitserk berada dalam keadaan koma.Dimitri Severe bersama tim dokter terbaiknya telah melakukan segalanya. Namun Hvitserk seakan telah merasa cukup dengan hidupnya, memilih untuk tidak kembali.Meski demikian, Dimitri tetap mempertahankan seluruh alat penopang kehidupan pada tubuh Hvitserk, salah satu bawahan terbaiknya, yang terluka parah saat melindungi Felix Salvatore.Seorang dokter senior, didampingi dua perawat, mem

  • Tuan, Kau Sudah Berjanji Menjagaku   1. Erika Marrins

    Langkah kaki Erika baru saja memasuki area depan butik milik Camille Desoutter yang terkenal dan pernah memintanya untuk menjadi model beberapa bulan silam, tetapi kartu nama sang designer cantik, baik hati dan kaya tersebut hilang pun juga ponsel yang menyimpan nomornya.Tiba-tiba dari arah belakang, rambut panjang Erika yang tergerai dijambak kuat dari belakang dan ia pun refleks berteriak, langkah kakinya terhuyung. "Aowww ...!""Oh, siapa ini yang kita temukan, Rudolf?" Magdalena berseru pura-pura terkejut di wajahnya, namun matanya menyiratkan kebencian, "Apa yang kau lakukan di sini? Mau membeli gaun?" Magdalena memperkuat cengkeramannya pada rambut Erika yang berusaha melepaskan tetapi kalah oleh tenaga Magdalena. Rudolf, lelaki gemulai yang pernah menjadi manager Erika, tertawa mengejek di sebelah Magdalena, "Memangnya kau punya uang untuk membeli gaun di butik ini, Erika Marrins?" ejeknya memajukan wajah menghina Erika yang sangat mereka tahu berasal dari kalangan bawah. "

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status