LOGINErika menatap sosok di atas brankar itu tanpa berkedip. Dunia seolah berhenti bergerak.
“Hupits …” bisik Erika lirih, nyaris tak bersuara.
Tak ada jawaban.
Wajah Hvitserk terlihat pucat dan sangat tenang. Rambut-rambut halus yang dahulu membingkai rahangnya kini dicukur bersih, membuat garis wajahnya terlihat lebih keras, sedikit terasa asing. Namun Erika sangat yakin, jika Lelaki di hadapannya ini adalah pria yang sama, yang memintanya menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu.
Pria yang hangat dan memiliki senyum tulus sekaligus memiliki sorot mata tajam yang selalu terlihat lembut memandangnya.
Erika semakin mengeratkan genggaman pada telapak tangan Hvitserk yang terasa dingin.
Sekali lagi, pertanyaan Erika tak mendapatkan jawaban. Yang ada hanya suara mesin.
Bip… bip… bip…
Selang bening terpasang di hidung Hvitserk dan kabel-kabel menjalar dari tubuhnya menuju mesin yang berdetak pelan namun kejam, seolah setiap bunyinya mengingatkan bahwa hidup lelaki itu kini bergantung pada sesuatu selain dirinya sendiri.
Dada Erika semakin terasa sesak. Napasnya pendek dan kelopak matanya panas.
“Bangun, Hupits …katakan aku bermimpi …” desisnya sambil mengangkat punggung tangan Hvitserk ke bibirnya.
Ketika seseorang hadir dengan begitu baik di dunia yang kejam, kepercayaan bisa tumbuh tanpa sadar. Itulah yang terjadi pada Erika.
Erika percaya, hingga akhirnya setuju menjalin hubungan dengan Hvitserk, tanpa tahu bahwa lelaki itu adalah salah satu tangan kanan kelompok mafia. Lalu kepercayaan itu runtuh, bersamaan dengan menghilangnya Hvitserk tanpa kabar.
Wajar jika kini Erika merasa hancur ketika melihat lelaki yang ia kira meninggalkannya tersebut …justru hidupnya ditopang mesin.
Air mata Erika jatuh tanpa izin. Kepalanya dipenuhi serpihan waktu tentang kemarahan, kesalahpahaman, keputusannya untuk pergi dan malam-malam panjang ketika ia meyakinkan diri bahwa melupakan Hvitserk adalah satu-satunya cara bertahan.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dari luar.
Seorang pria berambut abu-abu dengan wajah tegas namun tenang melangkah masuk dan bibirnya langsung tersenyum tipis begitu beradu tatap dengan netra Erika yang bangkit berdiri di samping brankar Hvitserk.
Jauh di kedalaman alam pikiran, Hvitserk tenggelam dalam gelap. Bukan hitam melainkan sunyi.Tubuhnya terasa berat, seperti terkubur di bawah air, sementara telinganya masih menangkap gema dunia. Ada suara. Bukan suara Felix yang dikenalnya dengan jelas, melainkan isak tangis …rapuh, patah dan terasa terlalu dekat.Hvitserk mencoba bangkit. Tetapi gagal. Hvitserk seperti kembali terhempas ke alam sunyi. Dadanya sesak, ada dorongan kuat untuk bergerak, untuk menjawab, untuk menggenggam balik tangan seseorang yang menggenggamnya hangat. Semakin lama, Hvitserk semakin mengenali suara isak dan tangis itu. Erika ...bibirnya berusaha menyebut nama gadis tersebut. Tetapi suaranya teredam bagaikan ada dinding baja dingin yang menahan suaranya. Tak satu kata pun berhasil lolos.Pikiran Hvitserk dipenuhi oleh bayangan Erika. Di sisi lain team medis melihat lonjakan pada mesin penopang kehidupan Hvitserk berdetak semakin cepat dan stabil. Erika yang memanggilnya Hupits dengan senyum kecil dan
Erika menatap sosok di atas brankar itu tanpa berkedip. Dunia seolah berhenti bergerak.“Hupits …” bisik Erika lirih, nyaris tak bersuara.Tak ada jawaban.Wajah Hvitserk terlihat pucat dan sangat tenang. Rambut-rambut halus yang dahulu membingkai rahangnya kini dicukur bersih, membuat garis wajahnya terlihat lebih keras, sedikit terasa asing. Namun Erika sangat yakin, jika Lelaki di hadapannya ini adalah pria yang sama, yang memintanya menjadi kekasihnya beberapa bulan lalu.Pria yang hangat dan memiliki senyum tulus sekaligus memiliki sorot mata tajam yang selalu terlihat lembut memandangnya.Erika semakin mengeratkan genggaman pada telapak tangan Hvitserk yang terasa dingin.“Ku pikir kau meninggalkanku …” isaknya tercekat.“Tapi sejak kapan kau di sini? Kenapa tak ada seorang pun yang memberitahuku?”Sekali lagi, pertanyaan Erika tak mendapatkan jawaban. Yang ada hanya suara mesin.Bip… bip… bip…Selang bening terpasang di hidung Hvitserk dan kabel-kabel menjalar dari tubuhnya men
Tiga bulan Erika terus menunggu di apartemen mewah milik Hvitserk tetapi pria yang baru saja menyatakan komitmen menjalani hubungan asmara dengannya itu seolah menghilang bagaikan ditelan bumi. Tak bisa dihubungi juga tak pernah datang menghubunginya.Erika pernah mendatangi kediaman Felix Salvatore berkali-kali, satu-satunya tempat yang ia ketahui dan harapkan Hvitserk berada di sana. Tetapi rumah itu sunyi, seolah ditinggalkan.Kini pria asing ini berkata Hvitserk merindukannya? Sungguh, kebohongan yang epik!Jika bibirnya tak perih dan tubuhnya juga tidak ngilu, Erika ingin terbahak besar mendengar perkataan Billy yang menyebut Hvitserk merindukannya. Melihat sorot skeptis di mata Erika, Billy berkata pelan, “Hvitserk sedang menjalankan misi untuk Mister Salvatore. Kami tak tahu keberadaannya. Ia tak bisa dihubungi …ataupun menghubungi kami.”Ia berhenti sejenak.“Dia meminta kami menjagamu …tapi ...”“Aku mengerti!” Erika memotong perkataan Billy dan suaranya terdengar sangat ten
Di sebuah rumah sakit pribadi di Nyaksimvol, Rusia, udara terasa dingin dan steril. Cahaya lampu putih memantul di dinding logam, memantulkan bayangan dingin dari deretan mesin penopang kehidupan yang mengelilingi satu ranjang di tengah ruangan.Di sanalah Hvitserk Drazen terbaring, tak bergerakWajahnya tetap tampan meski pucat. Rahangnya tegas dan bulu mata panjangnya terkatup rapat, seolah ia hanya tertidur sangat dalam. Selang oksigen terpasang rapi di hidungnya, sementara dadanya naik turun pelan, mengikuti ritme mesin yang berdengung monoton.Hampir tiga bulan Hvitserk berada dalam keadaan koma.Dimitri Severe bersama tim dokter terbaiknya telah melakukan segalanya. Namun Hvitserk seakan telah merasa cukup dengan hidupnya, memilih untuk tidak kembali.Meski demikian, Dimitri tetap mempertahankan seluruh alat penopang kehidupan pada tubuh Hvitserk, salah satu bawahan terbaiknya, yang terluka parah saat melindungi Felix Salvatore.Seorang dokter senior, didampingi dua perawat, mem
Langkah kaki Erika baru saja memasuki area depan butik milik Camille Desoutter yang terkenal dan pernah memintanya untuk menjadi model beberapa bulan silam, tetapi kartu nama sang designer cantik, baik hati dan kaya tersebut hilang pun juga ponsel yang menyimpan nomornya.Tiba-tiba dari arah belakang, rambut panjang Erika yang tergerai dijambak kuat dari belakang dan ia pun refleks berteriak, langkah kakinya terhuyung. "Aowww ...!""Oh, siapa ini yang kita temukan, Rudolf?" Magdalena berseru pura-pura terkejut di wajahnya, namun matanya menyiratkan kebencian, "Apa yang kau lakukan di sini? Mau membeli gaun?" Magdalena memperkuat cengkeramannya pada rambut Erika yang berusaha melepaskan tetapi kalah oleh tenaga Magdalena. Rudolf, lelaki gemulai yang pernah menjadi manager Erika, tertawa mengejek di sebelah Magdalena, "Memangnya kau punya uang untuk membeli gaun di butik ini, Erika Marrins?" ejeknya memajukan wajah menghina Erika yang sangat mereka tahu berasal dari kalangan bawah. "







