Home / Fantasi / Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz / Bab 155. Lion King Menghadap Ra’s

Share

Bab 155. Lion King Menghadap Ra’s

last update Last Updated: 2026-01-24 03:11:45

Namun di balik keputusan itu, bayangan ancaman yang lebih besar perlahan mendekat… dan waktu terus berjalan, tanpa menunggu siapa pun.

Rabik menatap kedua gadis itu beberapa saat lebih lama, seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya benar-benar meresap ke dalam hati mereka.

“Kalian boleh bersaing satu sama lain, boleh cemburu, boleh merasa takut kehilangan,” ucapnya perlahan.

“Tapi mulai sekarang, jangan pernah lagi membiarkan emosi kalian mengalahkan akal sehat. Jika itu terjadi… maka k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 178. Pencarian Berlanjut

    Peluit panjang akhirnya mengakhiri pertandingan. Bukan sorak kemenangan yang langsung mengisi arena. Melainkan kelegaan yang pahit. Pemain-pemain BII A berjalan tertatih meninggalkan lapangan. Beberapa harus dipapah. Beberapa lainnya hanya menunduk, menahan rasa sakit yang belum sepenuhnya muncul. Skor akhir terpampang besar di layar. MIU A unggul jauh. Namun kemenangan itu terasa dingin. Tanpa selebrasi berlebihan. Tanpa pelukan euforia. Hanya langkah-langkah tenang menuju bench. Stuart berjalan paling depan. Handuk tersampir di lehernya, wajahnya datar, napasnya teratur. Seolah pertandingan barusan hanyalah sesi latihan yang sedikit lebih intens. Ia berhenti sejenak di tepi lapangan. Menoleh ke arah tribun VIP. Tatapannya singkat. Namun cukup. Nathan berdiri tanpa ekspresi. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum. Tidak ada provokasi. Hanya pengakuan diam-diam. Ini belum selesai. Stuart lalu berbalik dan pergi, menghilang ke lorong pemain bersama timnya. Sora

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 177. Permainan yang Mulai Melukai

    Peluit panjang menandai dimulainya kuarter kedua. Skor masih berpihak pada MIU A. Namun suasana di lapangan perlahan berubah. Jika pada kuarter pertama permainan MIU A terlihat rapi dan efisien, maka kini, keras. Bukan keras yang kasar secara terang-terangan, melainkan keras yang disamarkan oleh ritme cepat dan kontak wajar menurut aturan. Sikut yang “tak sengaja” terlambat ditarik. Bahunya yang “terlalu dekat” saat screen. Langkah yang sedikit menutup ruang pendaratan lawan. Tidak cukup jelas untuk disebut pelanggaran berat. Namun cukup untuk menyakiti. Nathan memperhatikan semuanya dari tribun. Satu pemain BII A terjatuh saat mencoba melakukan lay-up. Ia bangkit dengan meringis, memegangi pergelangan tangannya. Wasit hanya meniup peluit singkat, foul ringan. Permainan berlanjut. “Ini bukan kebetulan,” gumam Roger pelan. Nathan tidak menjawab. Matanya tertuju pada Stuart. Kapten MIU A itu tidak terlihat emosional. Tidak terprovokasi. Bahkan nyaris tidak berbicara. Ia h

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 176. Pencarian Sang Presiden Mahasiswa yang Menghilang Tiba-tiba

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Kompleks penyelenggara olimpiade masih ramai sejak subuh. Beberapa panitia terlihat mondar-mandir dengan wajah letih, sementara aparat keamanan kampus berdiri lebih banyak dari biasanya. Tidak ada pengumuman resmi, namun satu nama terus beredar pelan di antara bisikan. Virellia Astor. Presiden mahasiswa UNS. Masih belum ditemukan. Nathan berdiri di balkon penginapan atlet, menatap area lapangan latihan dari kejauhan. Tangannya bertumpu di pagar besi, wajahnya tenang, namun matanya dingin dan terfokus. Malam sebelumnya tidak menghasilkan apa pun selain satu kesimpulan... Virellia tidak dibawa secara paksa. Dan itu jauh lebih berbahaya. “Belum ada kabar?” tanya Roger dari belakang. Nathan menggeleng pelan. “Belum.” Billy datang menyusul, membawa tablet. “Semua titik yang kita periksa bersih. Tidak ada jejak perlawanan. Tidak ada rekaman baru.” Nathan mengangguk tipis. Itu berarti waktu sudah terbuang cukup banyak.

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 175. Tanda Terima Kasih yang Salah

    Langkah-langkah tergesa memenuhi lorong penginapan atlet. Roger, Billy, Richard, Reno, dan Seno sudah lebih dulu bergerak keluar kamar Rania. Para gadis berpencar cepat, membawa peralatan dan pesan ke titik-titik yang sudah ditentukan. Suasana berubah tegang, bukan lagi kepanikan, melainkan kesiagaan terlatih. Nathan baru saja hendak melangkah keluar ketika sebuah tangan menarik lengannya. Pelan, namun penuh urgensi. Nathan menoleh. ‘Elvira.’ Wajah gadis itu masih pucat. Handuk melilit tubuhnya, rambutnya masih sedikit lembap. Namun sorot matanya tajam, seolah ia baru saja mengambil sebuah keputusan besar. “Hati-hati,” ucapnya pelan. Nathan berhenti sepenuhnya. “Ada apa, Elvira?” Elvira menelan ludah. Jemarinya mencengkeram lengan Nathan sedikit lebih kuat. “Hati-hati dengan kapten tim MIU A,” katanya cepat. “Dia itu Stuart, sepupuku. Dia yang merancang rencana balas dendam ini, dan target utamanya adalah kau. Sepertinya… dendamnya padamu jauh lebih besar dari yang

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 174. Musuh yang Memberi Rasa Aman

    Pertarungan di jembatan itu belum sepenuhnya berakhir. Roger dan Richard bergerak tanpa suara berlebihan. Setiap pukulan tepat sasaran, setiap tendangan bersih dan efisien. Reno dan Seno menutup sisi jembatan, memastikan tak ada satu pun yang bisa kabur atau menyerang dari belakang. Billy berjaga di dekat Elvira, tubuhnya setengah menghalangi. Sementara itu, Nathan tetap berdiri dengan Elvira yang tidak sadarkan diri berada di pelukannya. Ia tidak bergerak banyak, tidak bicara, namun justru menjadi titik paling aman di tengah kekacauan. Satu per satu, lima sosok bertopeng tumbang. Ada yang terkapar tanpa bergerak. Ada yang masih mengerang pelan sebelum akhirnya benar-benar lumpuh. Hening kembali turun di atas jembatan. Roger menghela napas pendek. “Selesai.” Nathan mengangguk singkat. Tatapannya turun ke wajah Elvira. Tubuh gadis itu sudah tidak lagi sanggup menopang dirinya. Kepalanya terkulai, napasnya tipis dan tidak teratur. Tanpa ragu, Nathan meraih tubuhnya dan

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 173. Prasangka Buruk yang Keliru

    Dalam kesunyian... malam pun perlahan tiba. Di kawasan penginapan atlet. Lampu-lampu lorong menyala redup, cukup untuk menuntun langkah, tapi tidak cukup untuk memberi rasa aman. Elvira Colin baru saja keluar dari kamar mandi ketika nalurinya menegang. Ada yang salah. Udara terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara langkah penjaga. Tidak ada suara pintu kamar lain. Bahkan dengung AC terdengar terlalu jelas. Tangannya bergerak refleks, meraih ponsel di atas meja. Saat itulah pintu kamarnya terbuka paksa. Dua sosok berpakaian hitam menerobos masuk. Tanpa kata. Tanpa peringatan. Elvira mundur selangkah, jantungnya berdentum keras. “Siapa kalian?” Serangan pertama datang cepat. Terlalu cepat untuk orang biasa. Namun Elvira bukanlah orang biasa. Ia memutar tubuhnya, menangkis pergelangan tangan lawan pertama, lalu menghantam siku ke arah rahang. Bunyi benturan terdengar tumpul. Tubuh itu terlempar ke samping. Sosok kedua menyusul, mencoba mengunci dari belakang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status