Home / Fantasi / Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz / Bab 169. Retakan Kecil di Balik Kebencian

Share

Bab 169. Retakan Kecil di Balik Kebencian

last update Last Updated: 2026-01-31 06:29:54

Kuarter kedua dimulai tanpa jeda panjang. Sorak sorai belum juga turun, bahkan justru semakin menggila. CHU A kembali ke lapangan dengan wajah-wajah yang lebih bersemangat, lebih waspada.

Di area bench, Elvira Colin berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh penilaian.

"Jadi kau Nathan."

"Tidak lebih dari itu."

"Hanya seorang kapten yang dielu-elukan karena nama besar UNS."

Ia pernah melihat banyak tipe seperti itu. Pemain yang diangkat terlalu t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 174. Musuh yang Memberi Rasa Aman

    Pertarungan di jembatan itu belum sepenuhnya berakhir. Roger dan Richard bergerak tanpa suara berlebihan. Setiap pukulan tepat sasaran, setiap tendangan bersih dan efisien. Reno dan Seno menutup sisi jembatan, memastikan tak ada satu pun yang bisa kabur atau menyerang dari belakang. Billy berjaga di dekat Elvira, tubuhnya setengah menghalangi. Sementara itu, Nathan tetap berdiri dengan Elvira yang tidak sadarkan diri berada di pelukannya. Ia tidak bergerak banyak, tidak bicara, namun justru menjadi titik paling aman di tengah kekacauan. Satu per satu, lima sosok bertopeng tumbang. Ada yang terkapar tanpa bergerak. Ada yang masih mengerang pelan sebelum akhirnya benar-benar lumpuh. Hening kembali turun di atas jembatan. Roger menghela napas pendek. “Selesai.” Nathan mengangguk singkat. Tatapannya turun ke wajah Elvira. Tubuh gadis itu sudah tidak lagi sanggup menopang dirinya. Kepalanya terkulai, napasnya tipis dan tidak teratur. Tanpa ragu, Nathan meraih tubuhnya dan

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 173. Prasangka Buruk yang Keliru

    Dalam kesunyian... malam pun perlahan tiba. Di kawasan penginapan atlet. Lampu-lampu lorong menyala redup, cukup untuk menuntun langkah, tapi tidak cukup untuk memberi rasa aman. Elvira Colin baru saja keluar dari kamar mandi ketika nalurinya menegang. Ada yang salah. Udara terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara langkah penjaga. Tidak ada suara pintu kamar lain. Bahkan dengung AC terdengar terlalu jelas. Tangannya bergerak refleks, meraih ponsel di atas meja. Saat itulah pintu kamarnya terbuka paksa. Dua sosok berpakaian hitam menerobos masuk. Tanpa kata. Tanpa peringatan. Elvira mundur selangkah, jantungnya berdentum keras. “Siapa kalian?” Serangan pertama datang cepat. Terlalu cepat untuk orang biasa. Namun Elvira bukanlah orang biasa. Ia memutar tubuhnya, menangkis pergelangan tangan lawan pertama, lalu menghantam siku ke arah rahang. Bunyi benturan terdengar tumpul. Tubuh itu terlempar ke samping. Sosok kedua menyusul, mencoba mengunci dari belakang.

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 172. Rencana Jahat yang Mulai Berjalan

    Pagi datang dengan ritme yang berbeda. Arena yang semalam bergemuruh kini sunyi, hanya menyisakan bau lantai kayu yang masih lembap oleh keringat dan cairan pembersih. Petugas kebersihan bergerak perlahan, seolah sisa-sisa energi pertandingan belum sepenuhnya menghilang dari udara. Di ruang latihan UNS, Nathan sudah datang lebih dulu. Ia berdiri di tengah lapangan kecil, memantulkan bola pelan. Satu pantulan. Dua. Irama teratur yang membantu pikirannya tetap fokus. Semalam mereka menang. Namun kemenangan itu tidak memberinya rasa puas yang berlebihan. Justru sebaliknya. “Ada yang mengganggu?” suara Maggie terdengar dari sisi lapangan. Nathan menoleh. Maggie dan Chelyna baru masuk, membawa botol minum dan tas latihan. “Ada yang terasa… tidak beres,” jawab Nathan jujur. Chelyna mengangkat alis. “MIU?” “Bukan cuma mereka,” balas Nathan. “Ada sesuatu yang bergerak di balik layar.” Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Dan semalam, aku yakin, ada seseorang yang sengaja memperh

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 171. Riak Setelah Tepuk Tangan

    Sorak sorai perlahan mereda, berganti dengan dengung suara langkah kaki dan gesekan sepatu di lantai arena. Lampu-lampu masih menyala terang, tapi atmosfernya telah berubah. Ketegangan pertandingan telah ditinggalkan di lapangan, menyisakan kelelahan yang jujur di tubuh para pemain. UNS A berjalan menuju bench dengan ritme tenang. Tidak ada lompatan kegirangan. Tidak ada teriakan kemenangan. Hanya napas berat, botol air yang diteguk dalam-dalam, dan tepukan singkat di bahu satu sama lain. Nathan duduk, menunduk sejenak. Ia mengusap wajahnya, lalu menyandarkan punggung. Matanya terpejam beberapa detik, bukan untuk menikmati kemenangan, melainkan memastikan pikirannya tetap jernih. “Kerja bagus,” ujar Billy pelan sambil duduk di sampingnya. Nathan mengangguk. “Kalian juga.” Richard berdiri, menepuk tangannya sekali. “Kita pulang tanpa cedera. Itu yang terpenting.” Tidak ada yang membantah. Di sisi lain lapangan, CHU A juga tidak langsung meninggalkan arena. Kael Morvane duduk den

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 170. Kemenangan yang Didapatkan dengan Terhormat

    Kuarter ketiga dimulai dengan tempo yang lebih terkontrol. Tidak ada teriakan provokatif. Tidak ada gestur berlebihan. Kedua tim seolah sudah mencapai kesepakatan diam-diam, ini bukan lagi soal emosi, tapi soal siapa yang paling disiplin sampai akhir. UNS A unggul, tapi keunggulan itu rapuh. CHU A bukan tim yang mudah menyerah. Leonhardt Weiss mengusap wajahnya sebentar sebelum memberi aba-aba. Matanya menyapu lapangan, berhenti sejenak pada Nathan. “Jangan kejar highlight,” katanya pada rekan setimnya. “Mainkan yang paling bersih.” Bola kembali ke permainan. Nathan menerima operan dari Billy, lalu memperlambat tempo. Ia tidak langsung menyerang. Ia membaca. Menunggu satu detik terlalu lama bagi sebagian pemain, tapi satu detik itu cukup baginya untuk melihat celah kecil di sisi kanan. Ia mengoper. Tidak keras. Tidak mencolok. Tapi tepat. UNS A mencetak dua poin lagi. Tidak ada selebrasi. CHU A membalas lewat tembakan jarak menengah Kael Morvane. Bola masuk bersih.

  • Tuan Muda Tersembunyi Pulau Alcatraz   Bab 169. Retakan Kecil di Balik Kebencian

    Kuarter kedua dimulai tanpa jeda panjang. Sorak sorai belum juga turun, bahkan justru semakin menggila. CHU A kembali ke lapangan dengan wajah-wajah yang lebih bersemangat, lebih waspada. Di area bench, Elvira Colin berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh penilaian. "Jadi kau Nathan." "Tidak lebih dari itu." "Hanya seorang kapten yang dielu-elukan karena nama besar UNS." Ia pernah melihat banyak tipe seperti itu. Pemain yang diangkat terlalu tinggi oleh sorakan, lalu runtuh ketika ditekan sungguhan. Di lapangan, kapten CHU A, Leonhardt Weiss, memberi aba-aba singkat. "Formasi Delta. Kita tekan pusatnya." Nathan menerima bola. Dua pemain langsung menutup ruang geraknya. Elvira mengamati dengan ekspresi datar. 'Bagus. Buat dia panik.' 'Pemain seperti dia biasanya tidak tahan ditekan.' Namun yang terjadi justru sebaliknya. Nathan tidak memaksa. Tidak mencoba menerobos. Ia memutar badan, menarik dua penjaga, lalu melepask

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status