MasukSasha segera pulang ke rumahnya. Jarak restoran ke rumahnya tidak terlalu jauh. Jadi, Sasha memutuskan untuk berjalan kaki kesana.Ia sudah berharap sisa malamnya akan berjalan damai. Tapi, harapannya langsung pupus begitu ia memasuki kompleks perumahannya.“Kalian tahu Sasha Briar yang tinggal di rumah Katie? Katanya dia sekarang kerja di rumah bordil! Makanya tidak pulang akhir-akhir ini.”Sasha terdiam mendengar suara itu. Langkah kakinya nyaris saja terhenti seketika.Di kompleks perumahan kecil ini, tidak heran jika kabar kecil langsung menyebar luas seperti kobaran api. Ibu-ibu sedang berkumpul di depan halaman sambil bergosip.“Rumah bordil? Yang benar, Bu? Padahal dia terlihat seperti anak baik-baik. Sayang sekali!”“Ah, anak zaman sekarang memang begitu. Mereka selalu mencari cara instan untuk dapat uang! Apalagi, gadis malang itu punya banyak hutang, kan?”“Benar! Kudengar ayahnya meninggal karena sakit-sakitan setelah bangkrut, lalu malah mewarisi hutang ke anaknya.”Suara
Sasha mengerjapkan matanya bingung. Ia tidak menduga ucapan itu. Sasha kira, Ludwig membawanya ke sini karena pria itu ingin dilayani sekarang. Tapi, dia malah menanyakan hal itu?“Jawab saya, Sasha,” desis Ludwig sambil mendekatkan wajahnya ke Sasha. Membuat jantung gadis itu melompat pelan.Posisi ini membuat Sasha teringat lagi dengan kejadian semalam. Teringat dengan tubuh kokohnya yang menghimpit Sasha semalam dan ‘barang’ pria itu yang hampir masuk ke dalam miliknya.Sasha buru-buru menepiskan pikiran itu. Apalagi, tatapan Ludwig semakin tajam sekarang. Ia menarik napas sejenak.“N-Nona Isabel meminta saya untuk menjadi asistennya,” balas Sasha tergagap.Ludwig mengerutkan alis, “Asisten?”Melihatnya, Sasha ikut merasa heran. Apa Thomas belum memberitahukannya pada CEO mereka ini?“Iya. Pak Thomas juga sudah menyetujuinya tadi,” tambah Sasha, “Beliau bilang akan memberitahukannya ke Bapak.”Wajah Ludwig menggelap. Ekspresinya lebih tidak ramah dari sebelumnya. Sasha seketika me
“Terima kasih, Thomas,” Isabel mengulas senyum manis. Wanita itu lalu mengalihkan pandangan ke Sasha, “Tolong bawakan berkas-berkas kasus penipuan di mejaku ke ruangan meeting. Sebentar lagi aku ada meeting dengan klien.” “Baik, Nona.” Sasha segera berlalu dari sana. Sebelum menuju meja Isabel, ia mengambil buku catatannya sejenak di atas mejanya. “Kamu menjadi asisten Nona Isabel?” bisik Annelise tiba-tiba yang dibalas anggukan cepat Sasha. Gadis itu seketika menatap takjub. “Kamu benar-benar beruntung!” seru Annelise tertahan, “Kamu tahu kan, siapa Isabella Baldethiva itu? Dia putri tunggal salah satu keluarga paling berpengaruh di negara ini,” Annelise melanjutkan, “Kudengar mereka punya perusahaan estate, tapi Isabella sendiri lebih memilih punya karir sendiri.” Sasha menelan ludah. Keluarga kaya raya? Itu kabar buruk baginya. Kalau Isabel
“Apa kalian tadi lihat? Ada seorang wanita cantik berjalan bersama Tuan Campbell di lobi!”“Benarkah? Siapa wanita itu? Kenapa dia bisa bersama Tuan Campbell?”“Entahlah. Tapi dia benar-benar cantik, mereka terlihat cocok sekali ketika berjalan bersama. Apa itu tunangannya, ya?”Dengungan suara itu memenuhi kantor Sasha. Membuat Sasha yang sedari tadi berusaha fokus bekerja, semakin tergoyahkan.Di sebelahnya, Annelise mendesah pelan. Ia juga sudah tidak fokus karena gosip rekan-rekan mereka.“Orang-orang heboh sekali. Aku juga jadi penasaran ingin melihatnya,” gerutu Annelise. Ia kemudian menoleh ke Sasha yan
Besar. Itulah yang Sasha pikirkan begitu melihatnya. Tidak, bahkan sangat besar. Dan itu membuat Sasha panik.“P-Pak, saya rasa itu tidak akan muat! Saya tidak yakin bisa!”Ludwig mendengus pelan. “Begitukah?”Pria itu kembali mengungkung tubuh Sasha di atas kasur, menggeram pelan saat menindih gadis itu, miliknya yang tegang berkontak dengan bagian inti Sasha yang terlapisi kain tipis dalamannya.“Saya akan memasukannya sekarang,” bisik Ludwig rendah.Dengan satu gerakan cepat, Ludwig menurunkan celana dalam Sasha. Kemudian, ia membuka lebar kaki gadis itu, dan mulai mendorong masuk.“Ngh! Ah!”Tubuh Sasha menegang hebat, rintihan tak terkendali keluar dari mulutnya. Ia langsung panik berusaha berpegangan pada bahu kokoh Ludwig, saat merasakan sebagian milik pria itu telah terbenam ke dalam celah tubuhnya.Ludwig membiarkannya. Napas pria itu memburu, seperti predator kelaparan. Ia menarik kembali pinggulnya, lalu dengan dorongan yang sama, menyentak masuk kembali.“Ahh …” rintih gad
Sasha menelan ludah. Merasa ngeri melihat sorot tajam Ludwig. Namun kengerian itu hanya sejenak karena pria itu kembali mencium rahang Sasha, membuatnya mengerang pelan.“A-ah …” desah Sasha pelan. Tubuhnya gemetar merasakan ciuman intens Ludwig terus menjelajahi rahangnya, lalu turun ke lehernya.Ia tersentak saat lidah hangat Ludwig menjilat lehernya.“A-ah! P-Pak …” erang Sasha. Matanya terpejam erat dan tubuhnya menggeliat pelan karena sensasi itu.“Geli?” bisik Ludwig membuat Sasha menggigil. Pria itu menyeringai lalu naik kembali mendekati telinganya.“Ternyata tubuhmu cukup sensitif, Sasha.”Sasha mengerang kembali saat lidah Ludwig kini memainkan telinganya. Tubuhnya menggelinjang karena sensasi yang semakin tidak tertahankan.Setiap sentuhan membuat Sasha seolah meleleh di atas kasur. Membuatnya bertanya-tanya seberapa sering Ludwig melakukan hal ini hingga membuatnya begitu ahli sekarang.Ia makin hila
Tubuh Sasha seketika menegang. Apa dia baru saja menyindirnya, dan kontrak mereka barusan? Apa pria itu melakukannya untuk mengintimidasi dirinya?Padahal tanpa melakukan itu, Sasha sudah sangat tertekan sekarang. Tak lama, Ludwig mematikan panggilannya. Ia kini menatap Sasha seutuhnya yang masih
Sasha menelan ludah. Ia meremas ujung blusnya erat-erat. “A-apa saya boleh meminta waktu untuk memikirkannya dulu?” tanya Sasha masih dengan nada yang takut.“Baiklah,” ucap Ludwig pendek membuat Sasha tersentak. Dia tidak salah dengar kan barusan? Ludwig membolehkannya untuk berpikir dulu? Sasha
“Keluarlah, Zen.”Suara dingin dan dalam itu menggema di ruangan itu.“Baik, Pak.”Sasha hampir menahan Zen pergi. Tapi, dia masih menahan diri. Sasha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya bergetar, merasa terintimidasi dengan hawa di ruangan ini. Benaknya sontak mengingat-ingat.Ludwig … Lu
‘Aku berhasil!’ batin Sasha dengan jantung yang berdebar kencang. Ia berdiri sejenak menatap gedung yang menjulang tinggi di depannya. Sasha sama sekali tak menyangka ia berhasil kabur malam itu juga. Begitu ia keluar dari hotel, ia diam-diam pulang ke rumah bibinya. Untungnya, Katie sudah tidur s







