Teilen

Jangan Lupa

last update Veröffentlichungsdatum: 24.08.2026 15:02:00

​"Aku tidak pendek, Tuan," cicit Lily pelan, menolak menyerah karena gengsi.

​Dengan gigih, Lily kembali berjinjit sekuat tenaga, mengulurkan kedua tangannya tinggi-tinggi untuk menyelipkan buku tebal itu ke tempat semula. Namun, baru saja ujung buku menyentuh selipan rak, jemarinya yang kaku kehilangan cengkeraman. Buku tebal itu merosot turun, dan keseimbangan tubuh mungil Lily seketika hilang.

​"Ah!"

​Lily memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan dingin dan kerasnya lantai menghantam tubuhnya.

​Namun, sebelum tubuhnya tersungkur, sebuah lengan kokoh berotot menyapu pinggangnya dengan cepat, membanting arah jatuhnya dan menarik tubuh Lily merapat ke dada tegap yang hangat.

​BRUK!

​Buku tebal jatuh menghantam lantai, memecah keheningan kamar.

​Lily perlahan membuka mata, napasnya memburu berpacu dengan detak jantungnya yang melonjak hebat. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Manik mata hitam milik Gray menatap lurus ke dalam matanya, tajam dan pekat. Untuk pertama kalinya, Lily bisa merasakan embusan napas pria itu menerpa kulit wajahnya.

​"Auww..."

​Sebuah erangan halus lolos dari bibir Gray. Dahi pria itu berkerut menahan nyeri, dan cengkeramannya di pinggang Lily sedikit mengendur. Refleks menahan tubuh Lily yang tiba-tiba ternyata membuat otot bahunya tertarik, memicu rasa panas di sekitar luka tembaknya.

​Napas Lily tertahan saat melihat perubahan raut wajah Gray. "T-Tuan! Luka Anda... jahitannya tertarik lagi?" tanya Lily panik, langsung memegang kedua bahu Gray untuk menopang pria itu.

​"Sudah kubilang ambil kursi, bocah keras kepala," desis Gray rendah. Suaranya terdengar makin berat, bukan hanya karena menahan rasa sakit di bahunya, tapi juga karena menyadari betapa ringkih dan lembutnya tubuh gadis yang kini berada dalam pelukannya.

​Lily menunduk dalam-dalam, rasa bersalah langsung membakar dadanya. "M-maafkan saya, Tuan... Saya benar-benar tidak sengaja…”

​"Aku tidak butuh maafmu," desis Gray rendah, berusaha menetralkan rasa panas yang mendadak menyengat bahunya.

​Namun, gerakan refleksnya tadi ternyata berakibat fatal.

​"Aaww..." erangan halus kembali lolos dari bibir Gray. Wajah tegasnya meringis menahan nyeri yang menusuk saat cairan hangat mulai merembes tebal, menembus kain kaos yang baru saja dipakainya. Bahunya kembali mengeluarkan darah segar.

​Lily seketika panik setengah mati. Rasa bersalah membakar dadanya. Dengan cemas, ia menopang tubuh tegap Gray dan membantunya bergerak pelan untuk duduk kembali di tepi kasur.

​"T-Tuan... bertahanlah sebentar!"

​Tanpa membuang waktu, Lily berlari kecil menyambar kotak P3K di meja. Jemarinya yang gemetaran memburu, menyapu kapas dan alkohol dari dalam kotak.

​"Tuan, maafkan saya... sungguh, maafkan saya..." cicit Lily berulang kali dengan suara serak. Air mata menyesak di sudut matanya.

​Ia berlutut di hadapan Gray, telaten menekan kasa steril ke area luka untuk menahan pendarahan. Lily sungguh menyesal atas kecerobohannya. Jemari mungilnya terus mengusap darah yang keluar tanpa henti dari bahu pria itu dengan amat hati-hati.

​Gray menatap puncak kepala gadis di depannya. Mengetahui betapa paniknya Lily hanya karena goresan luka di tubuhnya, perlahan meredam erangan sakit di tenggorokannya. Tangannya yang tidak terluka terangkat pelan, menahan pergelangan tangan Lily yang bergetar.

​"Sudah, aku tidak apa-apa," kata Gray dingin, namun nadanya melunak.

​"Tapi gara-gara saya luka Anda terbuka lagi..." bisik Lily pelan, menatap Gray dengan mata berembun penuh rasa bersalah yang teramat sangat.

Mata Gray menyipit tajam, menatap lurus ke dalam iris mata Lily yang masih tergenang air mata. Keheningan mendadak menguasai kamar luas itu, menyisakan ketegangan baru yang tak kalah pekat.

​"Lalu... bagaimana caramu membayarnya?" tanya Gray dingin, suaranya berat dan mengintimidasi.

Lily membeku di tempatnya berlutut. Tangannya yang memegang kasa steril tertahan di udara. Jantungnya kembali berdegup kencang, diselimuti rasa takut kalau Gray akan mengajukan tuntutan yang aneh atau berbahaya sebagai ganti rugi atas kecerobohannya.

​"S-saya..." Lily menelan ludah dengan susah payah, bibirnya bergetar. "Saya tidak punya uang, Tuan... Tapi saya akan melakukan apa saja untuk menembus kesalahan saya. Asal... asal jangan..."

​"Jangan apa?" potong Gray cepat, menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka. "Jangan menyuruhmu melayani kebutuhan biologisku? Jangan mengurungmu lebih lama?"

​Lily menunduk dalam-dalam, tak sanggup menatap wajah Gray. "Saya cuma ingin membayar kesalahan saya dengan cara yang benar, Tuan."

​"Cara yang benar?" Gray tertawa sinis, sebelah tangannya tiba-tiba terangkat mencengkeram pelan dagu Lily, memaksa gadis itu mendongak menatapnya.

​"Jangan naif, Lily. Jangan lupa alasan kenapa kamu ada di mansion ini. Mantan kekasihmu itu menjualmu padaku, dan aku membelimu dengan harga yang sangat mahal, memang untuk memuaskan kebutuhan biologisku."

​Air mata yang sejak tadi ditahan Lily akhirnya lolos, membasahi jari Gray yang bertengger di dagunya. Ia menatap nanar pria itu dengan sorot keputusasaan yang pedih.

​"T-Tuan Gray... saya mohon... jangan..." pinta Lily dengan suara bergetar dan parau, nyaris seperti bisikan putus asa.

​Mata Gray menatap intens wajah gadis yang menangis di hadapannya. Hembusan napas Lily yang bergetar seolah menyapu sebagian dinding es di dalam dadanya. Ada sesuatu dalam keputusasaan gadis ini yang selalu berhasil menghentikan sisi iblisnya untuk bertindak lebih jauh.

​Gray menghela napas kasar, lalu melepaskan cengkeramannya dari dagu Lily. Ia bersandar kembali ke sandaran sofa, memalingkan wajahnya sejenak sebelum kembali menatap Lily dengan sorot yang sulit ditebak.

​"Baiklah," ucap Gray dingin, namun ada ketegasan di balik suaranya. "Aku tidak akan memaksamu."

​Lily tersentak, napasnya sedikit tercekat mendengar kelonggaran yang tak terduga itu.

​"Tapi jangan berpikir kamu bisa lolos begitu saja," sambung Gray pelan, suaranya kembali berat mengintimidasi. "Aku akan memberimu waktu... sampai kamu sendiri yang datang memohon untuk melayaniku."

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Jangan Lupa

    ​"Aku tidak pendek, Tuan," cicit Lily pelan, menolak menyerah karena gengsi. ​Dengan gigih, Lily kembali berjinjit sekuat tenaga, mengulurkan kedua tangannya tinggi-tinggi untuk menyelipkan buku tebal itu ke tempat semula. Namun, baru saja ujung buku menyentuh selipan rak, jemarinya yang kaku kehilangan cengkeraman. Buku tebal itu merosot turun, dan keseimbangan tubuh mungil Lily seketika hilang. ​"Ah!" ​Lily memejamkan mata erat-erat, bersiap merasakan dingin dan kerasnya lantai menghantam tubuhnya. ​Namun, sebelum tubuhnya tersungkur, sebuah lengan kokoh berotot menyapu pinggangnya dengan cepat, membanting arah jatuhnya dan menarik tubuh Lily merapat ke dada tegap yang hangat. ​BRUK! ​Buku tebal jatuh menghantam lantai, memecah keheningan kamar. ​Lily perlahan membuka mata, napasnya memburu berpacu dengan detak jantungnya yang melonjak hebat. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Manik mata hitam milik Gray menatap lurus ke dalam matanya, tajam dan pe

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Apa Yang Kamu Pikirkan Bocah!

    ​"Butuh diriku? Apakah malam ini dia benar-benar akan mengambil paksa segalanya dariku?"​Dengan tubuh gemetaran dan langkah yang terasa sangat berat, Lily berjalan mendekati sofa tempat Gray bersandar. Setiap jengkal jarak rasanya seperti langkah menuju kebinasaan. Ia berhenti tepat di hadapan Gray, menundukkan kepala rapat-rapat, tak berani menatap manik mata pria yang baru saja merenggut nyawa seseorang beberapa jam lalu.​"T-Tuan... saya mohon..." suara Lily terdengar serak, tercekik oleh rasa takut yang memuncak. Jari mungilnya yang gemetar perlahan terangkat ke dada, memegang kancing bajunya sendiri dengan pasrah. Air mata mulai merembes di sudut matanya.​Gray menyipitkan mata, mengamati tingkah gadis di depannya dengan dahi berkerut. "Apa yang kamu lakukan?"​"B-bukannya Tuan..." Lily memejamkan mata erat-erat, menahan tangisnya agar tidak pecah. "Bukannya Anda bilang... butuh saya?"​Hening sejenak melingkupi ruangan raksasa itu.​Gray membuang napas kasar lewat hidung. "Apa

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Takut

    Gerakan kecil dari Gray membuat Lily yang tertidur lelap seketika terbangun. Mata cantiknya berkedip menyesuaikan cahaya pagi sebelum ia menyadari posisinya.​"Tuan... Anda sudah bangun?" tanya Lily pelan, suaranya sedikit serak khas bangun tidur.​Dengan spontan, Lily mengambil handuk kecil dari dahi Gray lalu menggantikannya dengan menempelkan punggung tangannya di sana.​"Syukurlah, panasnya sudah reda, Tuan," kata Lily seraya mengulas senyum tipis, sebuah senyuman tulus yang memancarkan rasa lega.​Gray terpaku menatap wajah itu. Sebuah kata yang sangat asing mendadak tertahan di tenggorokannya, sebelum akhirnya lolos begitu saja dari bibirnya.​"Terima kasih."​Kata itu untuk pertama kalinya meluncur dari mulut Gray. Bagi pria dingin, angkuh, dan kejam seperti dirinya, kata itu bak mantra keramat yang tidak pernah sekali pun ia ucapkan kepada siapa pun sepanjang hidupnya.​Lily sedikit terkejut mendengar ucapan itu, namun ia segera mengangguk lembut. "Sama-sama, Tuan. M-maaf, kal

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Gadis Ini Merawatku?

    ​"Kalau kamu berani kabur sekali lagi," bisik Gray dengan suara berat penuh ancaman, "jangan salahkan aku kalau tubuhmu ini ku hancurkan!" ​Tanpa memberi kesempatan pada Lily untuk membela diri, Gray menyeret lengan gadis itu dan kembali mengurungnya di dalam kamar. ​BAM! ​Pintu terkunci rapat dari luar. Lily merosot di balik pintu, merengkuh kedua lututnya rapat-rapat. Tangisnya pecah memecah keheningan kamar raksasa itu. Harapannya hancur berkeping-keping. Cita-citanya untuk bisa lulus kuliah dan memiliki kehidupan normal kini terasa makin jauh dari jangkauan. ​Lelah menangis hingga kehabisan air mata, tawa sumbang perlahan lolos dari bibir Lily. Tawa frustrasi atas nasibnya yang malang. Ia kemudian bangkit dengan langkah gontai. Pikirannya melayang pasrah. Daripada terus meronta dan menyiksa diri sendiri, mungkin sudah saatnya ia menerima takdir ini. ​Hari-hari berikutnya, Lily benar-benar dikurung. Pintu kamar selalu terkunci, bahkan untuk urusan makan pun pelayan yang memba

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Kabur

    ​"Kamu sudah kubeli mahal! Kamu tidak punya hak untuk menolak!" geram Gray, hendak melancarkan aksinya kembali.​"T-Tuan, saya mohon... kasihanilah saya!" tangis Lily pecah, suaranya melengking pilu memenuhi seluruh ruangan. Kedua tangannya terangkat gemetaran, memohon di hadapan dada bidang Gray. "Saya cuma anak yatim piatu, Tuan... Saya hidup sendirian, berjuang sendiri hanya demi bertahan hidup dan bisa kuliah... Tolong jangan rusak saya..."​Kata-kata itu menghantam Gray tepat di dadanya.​Gerakan Gray seketika membeku. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi amarah murka mendadak meredup, tergantikan oleh kilatan bayangan masa lalu yang paling ingin ia lupakan.​Anak yatim piatu... Hidup sendirian...​Kalimat itu memicu ingatan kelam dalam kepalanya. Gray teringat pada dirinya sendiri di masa kecil—saat sang ibu tega pergi meninggalkannya begitu saja demi pria lain, meninggalkan ia dan sang ayah dalam kemelaratan hingga ayahnya jatuh stres parah lalu meninggal dunia. Gray tahu betul b

  • Tuan Perkasa, Aku Kecanduan    Dijual

    ​"Ini, Tuan, gadis virgin yang saya janjikan," kata Justin seraya sedikit mendorong tubuh Lily.​Rasa takut membakar dada Lily seketika. Dia enggan melepas genggamannya, justru semakin erat memeluk lengan Justin.​"Justin, aku takut! Kenapa kamu bawa aku ke sini?" bisik Lily.​"Duduk di sana bersama Tuan Muda Gray! Jangan bikin malu aku dengan sikap kamu," bisik Justin penuh penekanan sambil menahan geram.​Lily menggeleng kuat. "Ngapain duduk di sana, Justin? Ayo kita pulang! Ini sudah malam!"​Justin menghempaskan cengkeraman tangan Lily secara kasar, membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan. "Tuan Gray sudah menunggu. Jangan buat dia murka!"​"Aku nggak mau!" tolak Lily tegas.​Melihat penolakan itu, Justin berbalik menatap pria berjas mahal yang duduk di sofa mewah. Pria itu sibuk menyesap cerutunya dengan aura yang sangat mengintimidasi.​"Dia baru berusia dua puluh tahun, Tuan Gray. Masih kuliah semester empat dan sangat polos," ujar Justin dengan menyunggingkan senyum l

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status