LOGINSekian hari berlalu. Proyek pembangunan itu sedang berjalan.Setiap pagi atau sore, Adit dan Vera selalu datang ke tempat proyek itu, kadang sebentar, kadang sampai senja, berjalan mengelilingi ruangan-ruangan yang sedang dikupas dan dibentuk ulang. Para pekerja sudah hafal dengan kehadiran mereka; beberapa menyapa singkat, sebagian besar melanjutkan pekerjaan tanpa banyak interaksi. Kontraktornya, seorang pria pendiam bernama Pak Yusuf, selalu menyambut mereka dengan laporan harian yang ringkas dan langsung ke intinya, cara yang Adit hargai lebih dari basa-basi panjang.Progres bergerak dengan ritme yang konsisten. Dinding-dinding lama sudah dibersihkan, rangka lantai dua dan tiga sedang diperkuat, dan di area yang akan menjadi café, tanda-tanda ruang mulai terbentuk dari garis-garis kapur di lantai beton.Dua minggu berlalu tanpa terasa, seperti waktu yang bergerak lebih cepat ketika ada sesuatu yang sedang dibangun.***Di luar jam memantau renovasi, hari-hari Adit berjalan dalam r
Mobil meluncur meninggalkan kawasan itu, menembus siang yang mulai condong ke sore, dan bayangan bangunan terbengkalai di balik pagar berkarat itu masih duduk di kepala Adit ketika Renata memecah keheningan."Tidak perlu berpikir lama."Adit menoleh ke arahnya."Bangunan itu terbengkalai dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengannya." Renata berbicara dengan nada seseorang yang sedang membahas sesuatu yang sudah lama tidak ia pikirkan dan tidak merasa perlu untuk mulai memikirkannya. "Jadi pakai saja. Balik nama ke notaris. Selesai."Adit menarik napas kecil. "Kak Ren, konsepku itu, aku beli lahan, lalu mendirikan tempat usaha dari uangku sendiri…""Ya sudah, kamu beli saja kalau begitu." Renata mengangkat satu alis dengan ekspresi seseorang yang tidak mengerti di mana letak masalahnya. "Sama saja kan? Kamu beli dari orang lain dan beli dariku, tetap ada namanya kesepakatan, ke notaris, balik nama, dan lain-lain. Prosesnya tidak berbeda."Adit diam sebentar. Logikanya tidak salah."B
Uap air yang tersisa di ruangan itu perlahan menipis, menyisakan keheningan yang nyaman setelah badai gairah yang baru saja mereda. Adit, dengan sisa-sisa napas yang mulai teratur, menunjukkan sisi lembutnya. Ia meraih handuk putih tebal dan dengan telaten mengeringkan tubuh Renata yang masih bergetar kecil karena sisa-sisa stimulasi tadi.Lalu mereka keluar dari kamar mandi. Adit menggendong Renata dan memberdirikannya di depan cermin. Mereka berdua sama-sama menatap pantulan itu; dua sosok yang masih telanjang.“Dit… itumu masih berdiri… sumpah aku udah nggak kuat… jangan minta lagi ya. Ini masih pagi…” kata Renata.“Hehehe. Nggak kok. Tadi udah cukup. Aku bantu kamu pakai baju…”Renata benar-benar seperti boneka kain; ia membiarkan Adit memandu lengannya masuk ke dalam pakaian, bahkan untuk mengancingkan pakaiannya pun ia tak lagi memiliki tenaga. Sentuhan Adit kini murni penuh perhatian, tanpa ada lagi sisa-sisa manipulasi energi yang mengintimidasi.Setelah memastikan dirinya sen
Renata mendongakkan kepala, menyandarkannya di bahu Adit yang basah. Matanya terpejam rapat, mencoba menghalau arus listrik yang dikirimkan Adit melalui permukaan kulitnya. "Kamu... curang, Dit. Pakai kekuatan unikmu itu," bisiknya dengan suara yang nyaris hilang ditelan suara air.Adit terkekeh rendah, sebuah getaran maskulin yang terasa langsung di punggung Renata. "Dalam perang dan cinta, tidak ada aturan, Kak. Bukannya kamu sendiri yang bilang mau memastikan semuanya 'bersih'?"Tangan Adit yang tadinya hanya memberikan sentuhan halus, kini mulai memberikan tekanan yang lebih tegas. Energi gaib yang ia salurkan perlahan berubah frekuensinya, dari getaran lembut menjadi sensasi hangat yang menjalar secara konsisten, mengunci kesadaran Renata hanya pada titik-titik sentuhannya.Namun, Renata bukanlah tipe yang mudah menyerah. Meski lututnya terasa lemas, ia menemukan celah. Saat tangan Adit sedikit melonggar untuk berpindah posisi, Renata dengan cepat membalikkan badannya di dalam ku
Setelah puas beradu peluh dan ciuman di bawah guyuran air, gerakan mereka perlahan melambat, berganti menjadi ritme yang lebih seduktif. Adit meraih botol sabun cair, menuangkannya ke telapak tangan hingga busa putih mulai melimpah. Dengan sisa-sisa napas yang masih pendek, mereka mulai saling menyabuni, membiarkan jemari masing-masing menari di atas kulit yang licin dan basah.Namun, fokus Renata mulai teralihkan. Tangannya yang semula berada di dada Adit, perlahan merosot turun melewati perut yang keras, hingga jemarinya menemukan apa yang ia cari. Ia menggenggam "tongkat sakti" Adit yang kini telah bangun sepenuhnya, menegang kaku dan berdenyut hangat di tengah dinginnya air shower.Renata tidak hanya menyabuninya. Ia mulai memainkannya dengan gerakan-gerakan kecil yang menggoda, sesekali menekannya dengan lembut, lalu mengelusnya dengan ibu jari dengan ritme yang sengaja dibuat lambat."Kak Ren... ah, jangan sekarang. Aku bisa selesai duluan kalau kamu begitu," protes Adit sambil
Pintu kamar Renata tidak sepenuhnya rapat, menyisakan celah kecil yang seolah mengundang siapa saja untuk mengintip. Tanpa mengetuk, Adit mendorong pintu itu dan melangkah masuk dengan gerak-gerik yang terlampau santai. Renata, yang sedang duduk di tepi ranjang, langsung menoleh. Sepasang matanya terpaku pada Adit, mengisyaratkan tanda tanya besar yang tak terucap.“Ada apa?” tanya Renata pendek. Suaranya datar, namun ada nada waspada di sana.Adit tak lekas menjawab. Alih-alih bicara, ia berbalik dan menutup pintu itu perlahan. Klik. Ia memutar kunci, memastikan privasi mereka utuh. Dengan langkah yang ringan, ia mendekati ranjang dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di samping Renata. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit dengan posisi tangan menyangga kepala, seolah kamar itu adalah miliknya sendiri.“Kok Kak Ren nggak memarahi aku?” celetuk Adit sambil melirik dari sudut matanya.Renata tetap pada posisinya, tidak beranjak. “Marah untuk?”“Entahlah. Siapa tahu kamu marah.
Lima menit berlalu; Lima menit yang terasa seperti berjam-jam bagi semua orang yang menonton dari dalam bus.Clara menatap keluar jendela dengan wajah pucat; tangannya gemetar memegang ponsel. Dia melihat Adit bergerak dengan kecepatan yang melampaui manusia normal, melumpuhkan satu demi satu peram
Kembali ke ruang tunggu, mereka duduk di kursi yang sama seperti tadi. Kali ini suasananya jauh lebih tenang. Ayunda sudah tidak menangis lagi, wajahnya terlihat jauh lebih damai.Adit menemani Ayunda sampai jam satu pagi; mengobrol sesekali, tapi lebih banyak duduk dalam keheningan yang nyaman. Ay
Lalu Adit melepaskan pelukan sedikit, cukup untuk bisa menatap wajah Larasati. Tangannya terangkat, mengusap pipi wanita itu dengan lembut, ibu jarinya menghapus air mata yang mulai menetes."Aku mencintaimu," bisiknya dengan suara yang sangat lembut tapi penuh keyakinan.Larasati tersenyum di anta
Clara berdiri di tengah ruang tamu, membuka naskahnya ke halaman yang sudah ia tandai dengan sticky note merah. Matanya menyapu teks dengan cermat, lalu ia menatap Adit dengan senyum yang profesional, tapi ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang lebih dari sekadar niat latihan biasa."Ok







