MasukRuang makan yang semula hangat kini berubah menjadi ruang strategi yang dingin. Setelah perdebatan singkat, Renata akhirnya melunak. Ia duduk kembali, meski gurat kecemasan masih membekas di wajahnya. Ia tahu Adit memiliki determinasi yang sulit dipatahkan, dan Vera bukanlah tipe wanita yang bisa dikurung dalam sangkar emas saat badai datang."Baik," ucap Renata akhirnya, suaranya parau namun tegas. "Pergilah. Tapi ingat, ini bukan sekadar perkelahian jalanan. Jaga nyawa kalian."Bayu segera mengambil kendali. Sebagai komandan lapangan, ia tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun. Ia memanggil Joko."Bro, kita bagi tugas aja ya. Dan tugasmu bisa dibilang berat malam ini," ujar Bayu sambil menepuk bahu pria itu. "Aku pasrahkan keamanan markas dan Bu Renata sepenuhnya padamu. Jangan lengah. Siapkan dua puluh orang terbaik untuk berjaga di setiap sudut rumah."Bayu merendahkan suaranya, hanya bisa didengar oleh Joko. "Aku khawatir serangan di Kota Lama ini hanyalah sebuah jebakan untuk
Sesungguhnya, sejak awal, kabar kecelakaan Adit waktu itu menjadi kabar paling buruk bagi Clara. Di balik sikapnya yang terlihat tenang di mata banyak orang, tersimpan kecemasan yang nyaris meledak. Clara tidak bodoh; ia langsung tahu bahwa kecelakaan itu bukan sekadar nasib buruk di jalan raya. Seseorang telah merancang maut untuk Adit, dan di dalam benaknya yang kalut, satu nama muncul seperti bayangan hitam yang panjang: Raymond.Pikiran bahwa calon suaminya sendiri tega melakukan hal sekeji itu untuk menyingkirkan rival asmara membuat Clara menggigil. Ia bahkan sampai menemui Adrian, kakaknya, demi mencari kepastian. Namun, Adrian hanya menanggapi dengan ketenangan yang dingin. "Terlalu dini bagi Raymond untuk mengotori tangannya tanpa alasan yang absolut, Clara," tukas Adrian tenang. Kata-kata itu sedikit meredakan badai di kepalanya, meski benih kecurigaan itu tetap berakar.Semenjak itu, Clara bergerak di bawah bayang-bayang. Ia bukan sekadar pengamat yang pasif. Adit dan Vera
Seminggu di kediaman Renata terasa seperti satu dekade bagi Vera. Rumah mewah itu, yang bagi orang lain mungkin tampak seperti surga, bagi Vera tak lebih dari sebuah sangkar emas yang penuh dengan gema dosa.Selama tujuh hari itu, Vera harus berjuang mempertahankan kewarasannya. Ada tiga momen yang tak akan pernah bisa ia hapus dari ingatannya; tiga malam di mana dinding-dinding rumah itu seolah ikut bergetar oleh suara-suara yang mengerikan.Suara Adit dan Renata yang bercinta tanpa beban, suara yang mengoyak keheningan malam dan memaksa Vera menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal, berusaha menyumbat pendengarannya hingga telinganya sakit. Baginya, itu bukan sekadar suara kenikmatan, melainkan pengingat betapa liarnya dunia yang sedang ia pijak sekarang.Setiap kali Renata mengajaknya pergi, entah itu untuk sekadar belanja atau kembali ke Spa, Vera selalu punya sejuta alasan."Maaf, Bu Renata, saya harus berkoordinasi dengan tim di kantor. Ada banyak laporan yang menumpuk karena jad
Adit tidak bisa tenang. Rasa penasaran itu seperti duri yang tersangkut di tenggorokannya. Ia sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."Nggak ada apa-apa, Dit. Kak Renata cuma... ya kamu tahu sendiri dia sedang suka bercanda yang keterlaluan," ucap Vera tanpa menoleh."Bercanda?" Adit melangkah mendekat, memaksanya untuk berhadapan. "Tadi dia bilang kamu 'terkejut dengan hal-hal baru'. Ver, jujur sama aku... tadi siang di spa, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Kak Renata melakukan sesuatu padamu? Ya, dia itu memang kadang keterlaluan dan... suka jadi racun."Vera mematung. Bayangan tangan-tangan terapis pria di bawah perintah tatapan Renata kembali melintas di benaknya. Aroma minyak esensial dan tawa rendah Renata seolah masih terngiang di telinganya, membuatnya merasa gerah seketika."Dia... dia cuma ingin aku relaks," jawab Vera terbata-bata."Relaks sampai kamu menyembunyikannya begitu? Ver, aku kenal Kak Renata..." Adit memegang bahu Vera, suaranya merendah penuh selidik. "A
Suasana ruang makan yang tegang itu pecah saat Renata menyandarkan punggungnya, menyesap sisa air putih di gelasnya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia melirik Adit, lalu beralih ke Vera yang masih menunduk, seolah-olah sedang menghitung butiran nasi di piringnya."Adit, ikut aku ke belakang sebentar. Ada yang mau aku tunjukkan," ucap Renata datar, namun nada bicaranya tidak menerima penolakan.Vera hanya bisa menelan ludah saat melihat keduanya beranjak. Ia merasa seperti ditinggalkan di tengah medan perang yang baru saja diledakkan.Di teras belakang yang menghadap kolam renang dengan pencahayaan temaram, Renata menyalakan sebatang rokok unik yang tak dijual di toko. Renata sangat jarang sekali merokok. Dulu iya. Tapi belakangan hanya sesekali saja dan itu pun saat ia sedang sendirian.Rokoknya kali ini adalah rokok pemberian dari rekan bisnisnya. Rokok entahlah yang aromanya membuat orang di sekitarnya pun merasa nyaman, meski jika dia adalah seorang yang anti asap rokok.Aroma t
Pukul enam sore, Mercedes-Benz hitam milik Renata membelah senja yang mulai temaram, bannya menggilas kerikil pelataran rumah dengan suara yang mantap. Begitu mesin mati, Renata turun dengan keanggunan seorang pemangsa. Tidak ada sisa kelelahan di wajahnya setelah pertemuan bisnis dengan beberapa orang; yang ada hanyalah aura dominasi yang kental.Ia melangkah masuk ke dalam rumah, melewati ruang tengah, meninggalkan aroma parfum oud yang kuat dan mahal yang tertinggal di udara saat ia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.Di dalam kamarnya yang luas, Renata melepas pakaian formalnya satu per satu. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap tubuhnya yang masih tampak kencang dan penuh kuasa. Pikirannya melayang kembali ke ruang spa tadi siang. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat membayangkan betapa gemetarnya Vera saat melihatnya menikmati sentuhan para terapis.Baginya, melihat Vera kehilangan kendali diri adalah sebuah hiburan yang jauh lebih menarik daripada sekadar k
Apapun itu, di pertandingan ilegal, pemenangnya adalah Maria. Yang dihitung adalah apa yang ada di dalam arena. Vera telah kalah telah, terlempar keluar dan tak bangun lagi.Pak Liam tak terlihat senang. Bukan karena kalah taruhan. Tadi ia hanya bertaruh kecil. 2 milyar. Yang membuat dia tak senang
“Dih, kenapa tuh batuk-batuk? Modus ya!” goda Larasati.Adit tertawa kecil, wajahnya sedikit memerah. "Ya udah sono mandi. Handuk ada di lemari. Ambil aja. Yang warna biru itu baru, bersih.""Siap!" Larasati mengambil handuk dan baju Adit, lalu melangkah ke kamar mandi, membawa baju pinjaman itu. P
Di parkiran, Laras menyerahkan kunci mobilnya kepada Adit. Sudah lama Adit tak melihat sedan mewah itu. Ia membukakan pintu untuk Larasati. Lalu ia sendiri segera masuk dan duduk di kursi kemudi.Mobil berjalan pelan meninggalkan parkiran, menuju ke apartemen."Dit..." Larasati memecah keheningan.
Kini Adit memasuki tempat itu lagi, arena tersembunyi yang mengular di bawah tanah, tempat para orang kaya mencari hiburan dengan cara yang gelap: bertaruh pada pertarungan manusia. Rasanya seolah baru kemarin ia terakhir berada di sini, namun sebenarnya sudah cukup lama. Sejak mendiang bosnya, Pak







