MasukDayat menurunkan tangannya yang mulai terasa pegal setelah berkutat dengan kabel-kabel di langit-langit. Ia melangkah turun dari tangga aluminium, meletakkan tang potongnya ke dalam kotak perkakas dengan bunyi *klang* yang menggema di ruangan kosong itu. Langkah kakinya beralih menuju sudut ruangan, tempat Astrid duduk di atas peti palet. Tepat di samping peti itu, ada selembar kardus bekas pembungkus material yang terhampar pasrah di atas lantai plesteran berdebu. Tanpa ragu, Dayat langsung mendudukkan dirinya di sana, meluruskan kedua kakinya yang dibalut celana jins belel, lalu menyandarkan punggung lebarnya ke dinding beton yang masih kasar. Ia merogoh saku, mengambil sebatang rokok, dan memantik apinya. *Klik.* Seulas asap abu-abu mengepul, menari-nari di udara sebelum menghilang ditelan pengapnya ruangan. Dayat meraih handuk kecil yang melingkar di lehernya, lalu menyeka bulir-bulir keringat yang mengalir deras dari pelipis hingga ke dadanya yang bidang. "Panas banget ya, Mba
Dayat tidak langsung menjawab. Ia justru melempar senyum tipis, lalu menatap Astrid balik dengan tatapan yang sulit ditebak. "Mbak Astrid... kamu sendiri tahu kan, Bu Clara selama ini kayak gimana ke aku?" tanya Dayat memancing. Astrid menyimak dengan serius, lalu mengangguk perlahan. "Iya, Mas. Aku tahu beliau perhatian banget sama kamu." "Nah, terus menurutmu sendiri bagaimana?" tanya Dayat lagi, menguji sejauh mana insting wanita di depannya itu. Astrid terdiam, menatap lekat-lekat wajah Dayat selama beberapa detik seolah mencari kebohongan di sana. "Jujur sih, Mas... aku enggak bisa mastiin. Lagian aku juga enggak mau nge-judge kamu yang gimana-gimana, ya." "Yaa... dikira-kira menurutmu saja, Mbak. Bagaimana?" goda Dayat lagi sambil menaik-turunkan kedua alisnya, memancing reaksi Astrid. Astrid menggigit bibir bawahnya sejenak, lalu menunjuk Dayat dengan pulpennya. "Hmmm... menurutku sih, kamu ada 'main' deh sama Bu Clara. Ya kan? Ya kan?? Mengaku saja deh, Mas!" ucap
Astrid tidak langsung puas dengan jawaban itu. Ia justru melipat kedua tangannya di dada, matanya menyipit menatap Dayat yang masih sibuk mengelap meteran dengan gerak-gerik canggung. Atmosfer di dalam ruangan kosong itu mendadak terasa begitu pekat dan menekan."Mas, jangan bohong deh. Aku ini sudah lama ikut Bu Clara," ucap Astrid, nadanya dingin dan penuh penekanan. "Aku tahu betul bagaimana cara beliau berbisnis. Bu Clara itu orangnya sangat pemilih dan penuh perhitungan."Astrid melangkah satu tapak lagi, bayangannya kini menutupi tubuh Dayat yang masih berjongkok."Logikanya ya, Mas... Kamu itu di kantor termasuk teknisi borongan yang masih baru. Baru banget. Tapi anehnya, Bu Clara berani langsung menyerahkan proyek sebesar dan sepenting ini ke tangan kamu begitu saja. Tanpa ragu. Padahal masih banyak teknisi senior lain yang antre," cecar Astrid lagi, menembak langsung ke titik paling mencurigakan. "Kalau bukan karena ada 'sesuatu' di antara kalian, rasanya mustahil, Mas."Skak
Suasana di dalam unit rumah contoh Blok B terasa cukup sejuk meskipun matahari luar mulai terik. Dayat berdiri di atas tangga aluminium, bertelanjang dada dengan handuk kecil melingkar di lehernya. Tangannya yang cekatan sedang mengupas ujung kabel tembaga menggunakan tang potong, lalu menyelipkannya ke dalam pipa conduit di langit-langit.Di sudut ruangan, Astrid duduk santai di atas sebuah peti kayu palet yang dijadikan meja darurat. Di pangkuannya terdapat sebuah papan jalan dengan tumpukan kertas laporan progres lapangan yang sedang ia periksa satu per satu menggunakan pulpen.Sreeett... Klik."Mas Dayat, jalur utama yang ke arah dapur ini arusnya dipisah sendiri atau digabung sama ruang tengah?" tanya Astrid tanpa mendongak, jemarinya sibuk mencentang kolom laporan.Dayat menarik napas panjang, lalu memasukkan sakelar ke dalam mangkok tanam di dinding. "Dipisah, Mbak. Buat dapur dayanya sengaja dikasih jalur sendiri, takutan nanti kalau penghuninya pakai kulkas besar sama microwa
Dayat menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba bersikap sealami mungkin di depan Dita agar kecurigaannya tidak melebar."Enggak ada apa-apa, Dit. Cuma kan enggak enak saja didengarnya," jelas Dayat sembari merapikan cangkir kopinya. "Kita ini baru kenal, masa tiba-tiba mereka tahu aku tidur di tempatmu. Nanti apa kata mereka? Apalagi Astrid itu kan ibaratnya pengawas aku di lapangan tempat kantormu. Nanti kalau masalah ini dilaporkan ke Bu Clara, bagaimana? Bisa repot urusannya."Dita terdiam sejenak, mencerna penjelasan Dayat. Ia mangut-mangut perlahan, menyadari bahwa ucapan pria di hadapannya itu ada benarnya juga demi menjaga profesionalitas kerja mereka."Hmmm... Iya juga ya, Mas," ucap Dita, akhirnya setuju untuk merahasiakan kejadian semalam dari rekan-rekan kantornya.Melihat Dita sudah paham, Dayat melirik jam tangannya yang sudah hampir menunjukkan pukul tujuh tepat. Ia segera beranjak berdiri dari atas tikar sambil mengambil kunci mobil di atas meja."Ya sudah, kamu sana s
Dayat menoleh pelan, menatap Dita yang kini sudah terbalut kain jarit bermotif batik. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang menenangkan."Enggak apa-apa, Dit," jawab Dayat pendek dengan suara rendahnya.Ia menghisap puntung rokoknya untuk terakhir kali, lalu menekannya ke dalam asbak peniti di dekat sana hingga baranya padam sepenuhnya. Dayat membersihkan tangannya sekilas, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Dita.Tanpa banyak bicara lagi, Dayat mengulurkan lengan kekarnya, merangkul pundak Dita yang terbalut kain jarit dan menarik tubuh wanita itu dengan lembut ke dalam dekapannya."Yuk, tidur. Sudah malam banget ini, besok kita berdua harus bangun pagi," ajak Dayat sembari menunduk, menatap manik mata Dita dengan pandangan yang kini jauh lebih lembut.Dita tersenyum manja, melingkarkan satu tangannya di pinggang Dayat dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang pria itu. "Iya, Mas..."Sembari saling merangkul erat, keduanya berjalan beriringan den
Dayat langsung terduduk tegak di atas ranjang. Rasa kantuk dan lelahnya seketika hilang entah ke mana, berganti dengan rasa pusing yang mendadak menyerang kepalanya. Ia memijat pangkal hidungnya dengan gusar sambil menatap layar ponsel itu."Aduh, Ajeng... katanya kemarin enggak usah ngomong dulu s
“Hati-hati gimana?”Mendengar ucapan itu Dayat sempat terdiam, ia tahu betul sedikit kesalahan yang ia lakukan nanti atau hal yang membuat Istri dari Bos-nya tidak suka dapat memutus langsung jalur rezekinya.Dayat terkekeh sinis. "Lo tenang deh. Iman gue kuat. Tadi aja di rumah Mbak Niken, gue ham
"Aduh… M-Mbaakk!! Ati-ati dong!" seru Dayat panik. Ia langsung bergerak maju, berusaha meraih lengan Niken. Waktu seolah membeku. Dayat terpaku di tempatnya. Matanya yang tak sempat berpaling merekam dengan sangat jelas setiap inci kulit Niken yang tanpa sehelai benang pun. Dari dada yang berd
"Maaaass!! Udah belum!! Buruan masukin! Aku gerah!”Suara lengkingan itu memecah konsentrasi Dayat. Ia mengembuskan napas pendek, mencoba menahan gerutu yang hampir lolos dari bibirnya. Mbak Niken, pemilik rumah ini, adalah tipe pelanggan yang tidak punya kamus kata "sabar". Sejak Dayat menginjakk