Share

Tantangan Diterima

Penulis: NomNom69
last update Tanggal publikasi: 2026-06-29 10:17:24

"Nih, Mas, kopinya," ucap Dita sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas di atas lantai beralaskan tikar.

Setelah meletakkan cangkir, Dita tidak kembali ke dapur. Ia justru menggeser posisi duduknya, beringsut mendekat hingga lengannya menempel pada lengan Dayat yang sedang memegang sebatang rokok yang menyala.

Dayat menoleh, mengembuskan asap rokoknya ke arah atas agar tidak langsung mengenai wajah wanita di sampingnya. "Aku lagi merokok lho, Dit. Jangan dekat-de
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tukang Servis Spesialis   Tantangan Diterima

    "Nih, Mas, kopinya," ucap Dita sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap panas di atas lantai beralaskan tikar.Setelah meletakkan cangkir, Dita tidak kembali ke dapur. Ia justru menggeser posisi duduknya, beringsut mendekat hingga lengannya menempel pada lengan Dayat yang sedang memegang sebatang rokok yang menyala.Dayat menoleh, mengembuskan asap rokoknya ke arah atas agar tidak langsung mengenai wajah wanita di sampingnya. "Aku lagi merokok lho, Dit. Jangan dekat-dekat, nanti kamu batuk."Dita malah menyunggingkan senyum tipis, sama sekali tidak berniat menjauh. "Ahh, enggak apa-apa, Mas. Aku sudah biasa duduk dekat orang merokok. Lagian juga..." Dita sengaja mendekatkan wajahnya ke bahu Dayat, menghirup udara di sana sekilas. "...asap rokoknya kalah sama harum badanmu, Mas," goda Dita dengan nada suara yang mendayu.Dayat hanya tersenyum tipis, menggeleng-gelengkan kepala mendengar rayuan yang tak ada habisnya itu. Ia kembali menyesap rokoknya, lalu menga

  • Tukang Servis Spesialis   Basah Sebelum Waktunya

    Dayat menghentikan tangannya yang baru saja hendak menyusupkan kaos bersih melewati kepala. Ia melirik tajam ke arah dapur, mendapati Dita yang masih mematung dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun dari tubuhnya."Kenapa lihat-lihat? Nanti naksir lho," tanya Dayat sambil menyunggingkan senyum percaya diri, membiarkan kaos katunnya tetap tergantung di bahu.Dita tidak menunduk malu. Ia justru menyenggir lebar, meletakkan sendok kopinya begitu saja di atas meja semen, lalu melangkah luwes menghampiri Dayat yang berdiri di atas tikar pandan. Jarak di antara mereka terkikis hingga Dayat bisa mencium aroma sabun mandi yang segar dari kulit leher Dita."Mas... boleh pegang roti sobeknya enggak?" tanya Dita polos, namun sepasang matanya berbinar penuh kelicikan yang nakal.Dayat terkekeh rendah, melipat kedua lengannya di depan dada yang bidang, membuat otot-ototnya semakin tercetak jelas. "Emang kamu belum pernah lihat roti sobek apa, Dit?" tanya Dayat dengan nada bercanda, menant

  • Tukang Servis Spesialis   Segarnya!

    Dayat terdiam sejenak, menimbang-nimbang tas perkakas yang sudah rapi di tangannya. Otaknya berputar cepat memikirkan jadwal pekerjaan besok pagi di area proyek kota."Dit, dari perumahan sini kalau mau ke arah proyek utama yang di pusat kota itu... jauh enggak sih?" tanya Dayat, memastikan rute.Dita yang menyadari ada lampu hijau langsung menegakkan tubuhnya dengan mata berbinar. "Ealah, malah lebih dekat dari sini, Mas! Jalurnya lurus terus lewat jalan pintas di depan sana, enggak perlu muter kayak dari rumah lamaku."Dayat mangut-mangut, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. "Ya sudah, sebentar ya. Aku telepon Astrid dulu. Soalnya biasanya kalau ke proyek, aku sering barengan sekalian jemput dia."Dita mengangguk patuh, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menunggu dengan sabar.Dayat mencari nama Astrid di kontak ponselnya, lalu menekan tombol panggil. Hanya butuh beberapa nada sambung sebelum suara perempuan di seberang sana menjawab."Halo, Trid? Besok be

  • Tukang Servis Spesialis   Permintaan Aneh Lagi

    "Wah... berarti dari kemarin kamu belum mandi apa gimana, Dit?" tanya Dayat berbisik jenaka, menunjuk daster tipis yang melekat di tubuh Dita.Dita sama sekali tidak terlihat malu. Ia justru maju selangkah, menantang tatapan Dayat sambil mengibaskan rambut panjangnya yang sedikit acak-acakan. "Iya, memang belum mandi! Makanya dari tadi aku pakai daster pendek begini saja biar enggak gerah, Mas. Kan airnya belum nyala."Dita menyunggingkan senyum penuh arti, lalu menyenggol pelan pinggang Dayat dengan siku tangannya. "Lagian sengaja ditahan dulu mandinya... Sapa tahu nanti setelah sanyonya beres, Mas Dayat mau ikut mandi bareng?" godanya dengan nada suara yang sengaja diayun manja."Hush! Malah makin ngelunjak omongannya," sahut Dayat sambil terkekeh geli, meski tak bisa dipungkiri debaran di dadanya kembali bergejolak. Ia meletakkan kembali tas perkakasnya ke atas lantai. "Ya sudah, mana mesin sanyonya? Biar sekalian digarap sekarang, daripada kamu bau asem sampai besok.""Ih, wangi t

  • Tukang Servis Spesialis   Job di Siang Hari

    Dayat segera meneguk habis sisa kopi hitamnya, lalu beranjak berdiri untuk mengambil tas perkakas di dekat pintu. Ia mengeluarkan beberapa gulungan kabel, sakelar, stopkontak, dan tespen, lalu mulai meneliti jalur utama dari meteran PLN."Dit, ini jalur utamanya mau langsung ditarik ke ruang tengah dulu atau bagaimana?" tanya Dayat, suaranya agak menggema di dalam ruangan batako yang belum diplester itu.Dita ikut bangkit berdiri, melangkah mendekati Dayat hingga jarak mereka mengikis. "Iya, Mas. Tarik ke ruang tengah dulu, baru nanti dicabang ke kamar sama dapur," jawab Dita seraya menunjuk ke arah langit-langit. "Oh iya, Mas, khusus di ruang depan ini, aku minta dipasangin dua gantungan lampu ya. Biar kalau malam kelihatan estetik gitu rumahnya."Dayat menoleh, melirik Dita yang berdiri di sampingnya dengan daster pendek tanpa bra yang sesekali bergeser longgar saat wanita itu mendongak. Dayat berdeham kecil, menahan pandangannya agar tetap fokus pada plafon. "Estetik sih estetik, D

  • Tukang Servis Spesialis   Kembali Ke Kota

    Dayat buru-buru membungkuk, merogoh saku celana jinsnya yang tergeletak di atas lantai ubin berdebu. Layar ponselnya menyala terang di dalam keremangan, menampilkan nama "Dita" yang berkedip-kedip. Ia segera menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkannya ke telinga."Halo, Dit?" ucap Dayat dengan napas yang masih sedikit tidak beraturan, berusaha meredam debaran jantungnya."Halo, Mas Dayat. Kamu posisi sudah di mana? Nanti sampai rumahku kira-kira jam berapa, Mas?" tanya suara Dita di seberang telepon, terdengar agak bising oleh suara kendaraan yang lalu lalang.Dayat mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangan, memeriksa jam digitalnya. "Ini baru mau jalan dari desa, Dit. Kemungkinan sekitar jam satu atau jam dua siang aku baru sampai di depan rumahmu.""Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti kalau sudah hampir sampai atau sudah di depan rumah, kabari aku ya, Mas," sahut Dita."Siap, Dit. Nanti aku kabari."Pip. Sambungan telepon langsung terputus.Dayat mengembuskan napas panjang,

  • Tukang Servis Spesialis   Celetukan Sahabat

    Dayat memarkirkan motornya di depan toko material besar yang sudah menjadi langganannya. Dengan teliti, ia mengeluarkan catatan spesifikasi yang diberikan Natasya tadi. Satu per satu barang ia pesan, mulai dari kabel-kabel kualitas premium, sakelar model terbaru, hingga perlengkapan CCTV tambahan u

  • Tukang Servis Spesialis   Next Job!

    Dayat tetap memasang wajah tenang, meski dalam hati ia cukup terkejut dengan ketelitian Linda. Ia memperbaiki kerah kemejanya sambil menatap Linda santai. ​"Oalah, soal itu. Gita itu adiknya temenku, Lin. Kemarin temenku itu minta tolong banget buat jemput dia pagi-pagi," jawab Dayat dengan nada y

  • Tukang Servis Spesialis   Kehangatan Tanpa Hasrat

    Dayat menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, mencoba meredakan sisa-sisa denyut nikmat yang masih terasa. "Ya sudah, kalau gitu nanti Mas temenin sampai kamu tidur deh," ucap Dayat sambil mengusap kepala Gita. ​Gita langsung mendongak, matanya berkilat nakal mendengar jawaban itu. "Nemenin doang

  • Tukang Servis Spesialis   Gadis Yang Haus Dan Kesepian

    Motor Dayat terparkir rapi di halaman rumah Niken yang sudah sepi. Begitu ia mengetuk pintu, Gita langsung menyambutnya dengan senyum lebar, seolah rasa takutnya tadi hilang seketika saat melihat sosok Dayat. ​"Masuk, Mas," ajak Gita. ​Di dalam, suasana rumah terasa sangat lengang. "Mas mau ngopi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status