로그인Jarum jam dinding di ruang tengah tepat menunjuk ke angka tujuh malam ketika Dayat meraih kunci mobilnya di atas meja. Ia sudah berganti pakaian dengan kemeja flanel gelap yang rapi dan menyemprotkan sedikit parfum.Gita masih duduk di sofa dengan kedua kaki yang ditekuk ke dada. Matanya tertuju pada layar televisi, namun jemarinya berulang kali meremas ujung bantal sofa dengan kesal. Ia sama sekali tidak menoleh saat Dayat melangkah mendekat.Dayat berjongkok di samping sofa, menyeimbangkan tubuhnya agar matanya sejajar dengan Gita. Ia meraih jemari wanita itu perlahan. "Aku berangkat dulu ya, Git. Cuma sebentar kok, enggak usah dikunci pintu depannya."Gita menarik napas dalam, memalingkan wajahnya sedikit menjauh dengan bibir yang masih maju beberapa senti. "Iya," sahutnya pendek, ketus, dan tanpa minat."Masih cemberut saja ini," goda Dayat sambil mencolek dagu Gita pelan. "Kan tadi sudah janji, sebelum jam sepuluh juga aku sudah sampai rumah lagi. Makanan dari Nenek juga belum ku
Lampu merah di pertigaan jalan raya itu masih menyala mantap, memantulkan rona kemerahan di atas dasbor mobil. Dayat menatap layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan sebaris pesan dari Gita. Ibu jarinya sempat menggantung di atas papan ketik digital selama beberapa detik. Namun, embusan napas berat akhirnya keluar dari hidungnya. Ia memutuskan tidak menyentuh layar itu, membiarkan gelembung pesan tersebut tetap tak berbalas. Begitu lampu berganti hijau, Dayat langsung menginjak pedal gas. Fokusnya dialihkan sepenuhnya pada aspal jalanan yang mulai temaram diselimuti pekatnya magrib. Tangannya lincah memutar kemudi, membelah kepadatan lalu lintas kota hingga akhirnya mobil hitam itu berbelok masuk ke pekarangan rumahnya. Suasana dalam rumah begitu sepi saat Dayat melangkah masuk. Ia melempar tas perkakasnya ke sudut dekat meja, lalu mengempaskan tubuh kekarnya ke atas sofa ruang tengah yang empuk. Rasa lelah yang menumpuk sejak pagi seketika terasa tumpah. Sambil menyandarka
Bunyi derit tangga aluminium yang bergeser menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di dalam unit nomor 14. Dayat menapakkan kaki kirinya ke anak tangga ketiga, mencoba mengabaikan debaran aneh di dadanya setelah mendengar pertanyaan Astrid yang terlampau berani.Pria itu menoleh perlahan, membiarkan tubuhnya bersandar pada tiang tangga. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum asimetris untuk menyembunyikan keterkejutannya. "Bisa saja sih, Mbak. Nanti kalau pas jadwalnya longgar, aku coba ajakin Bu Clara ngopi di luar. Biar suasananya lebih santai."Astrid yang sejak tadi bersandar di pilar semen langsung menegakkan tubuhnya. Papan jalan di pelukannya ia turunkan sejenak, digenggam erat dengan kedua tangan. Sepasang matanya berbinar, memancarkan keseriusan yang tidak ditutupi lagi. "Nah, iya! Aku mau banget ikut, Mas. Sekalian... ya siapa tahu aku bisa makin dekat juga sama Bu Clara. Biar di kantor enggak tegang terus kalau papasan."Dayat mengangguk-angguk kecil, jemarin
Astrid meletakkan sendok dan garpunya di atas piring yang kini sudah bersih tanpa sisa. Ia mengambil tisu, menyeka bibirnya perlahan, lalu bersandar pada sandaran kursi plastik sambil mengembuskan napas kenyang. "Kalau jadwal minggu ini sih, kita masih ada sekitar tiga puluhan unit lagi di Blok C yang harus diselesaikan jalur instalasinya," jawab Astrid menanggapi pertanyaan Beni tadi. Ia menoleh ke arah Dayat yang baru saja membasuh tangannya di mangkuk kobokan. "Jadi ya... kita masih bisa agak santai-santai sedikit kerjainnya. Enggak perlu buru-buru sampai lembur banget. Ya kan, Yat?" Dayat terkekeh sambil mengeringkan tangannya dengan tisu. "Iya, Mbak. Yang penting konstan tiap hari dapat target unitnya. Daripada dipaksa cepat tapi nanti ada kabel yang korslet atau salah jalur, malah bongkar lagi dari awal. Kerjaan dua kali itu namanya." Beni mangut-mangut kagum, lalu menyulut sebatang rokok setelah mendapat izin lewat isyarat mata dari Astrid dan Dita. "Tapi salut gua sama lu,
Suasana Rumah Makan Padang "Sinar Jaya" siang itu sangat ramai. Aroma gulai tikungan yang gurih dan harumnya ayam pop menyeruak di udara, berpadu dengan suara dentingan piring dan riuh rendah obrolan para pekerja proyek yang melepas penat. Dayat dan Astrid beruntung mendapatkan satu meja kosong di sudut dekat kipas angin dinding. Di atas meja kayu itu, dua piring nasi padang dengan lauk rendang, sayur nangka, dan guyuran kuah kental yang melimpah sudah tersaji, lengkap dengan dua gelas es teh manis yang berembun. "Wah, parah sih ini, Mbak. Sambal hijaunya menggoda banget," ujar Dayat, matanya berbinar menatap piringnya. Ia langsung menyingsingkan lengan bajunya dan mulai mengaduk nasi dengan tangan telanjang. Astrid terkekeh, memotong sedikit daging rendangnya menggunakan sendok. "Kan, dibilang juga apa. Di sekitaran proyek, cuma warung ini yang bumbunya paling berani. Gimana? Enggak rugi kan traktir aku di sini?" "Enggak rugi sama sekali, Mbak. Malah kalau begini ceritanya, t
Dayat menurunkan tangannya yang mulai terasa pegal setelah berkutat dengan kabel-kabel di langit-langit. Ia melangkah turun dari tangga aluminium, meletakkan tang potongnya ke dalam kotak perkakas dengan bunyi *klang* yang menggema di ruangan kosong itu. Langkah kakinya beralih menuju sudut ruangan, tempat Astrid duduk di atas peti palet. Tepat di samping peti itu, ada selembar kardus bekas pembungkus material yang terhampar pasrah di atas lantai plesteran berdebu. Tanpa ragu, Dayat langsung mendudukkan dirinya di sana, meluruskan kedua kakinya yang dibalut celana jins belel, lalu menyandarkan punggung lebarnya ke dinding beton yang masih kasar. Ia merogoh saku, mengambil sebatang rokok, dan memantik apinya. *Klik.* Seulas asap abu-abu mengepul, menari-nari di udara sebelum menghilang ditelan pengapnya ruangan. Dayat meraih handuk kecil yang melingkar di lehernya, lalu menyeka bulir-bulir keringat yang mengalir deras dari pelipis hingga ke dadanya yang bidang. "Panas banget ya, Mba
"Oh, iya, Mas Dayat. Sini, Mas, masuk. Mesin sanyonya ada di halaman belakang," ucap wanita itu sambil buru-buru merapikan daster bagian atasnya setelah menyadari arah pandangan Dayat. Ia meletakkan sapu lidi yang dipegangnya ke pojokan dinding teras dengan gerakan yang agak canggung, mencoba bersi
"Mas Dayat? Ngapain di hotel jam segini? Jam sepuluh malam lho ini, lagi ada kerjaan servis mendadak ya?" tanya Anggun. Matanya menyipit, memindai penampilan Dayat yang tidak membawa tas perkakas andalannya.Dayat berdeham, mencoba mengatur raut wajahnya agar tetap terlihat tenang dan profesional.
"Sudah lama, Lin?" tanya Dayat sambil turun dari motor dan melepas helmnya.Linda tersentak kecil, lalu berdiri sambil merapikan pakaiannya. "Lumayan, Mas. Hampir setengah jam. Aku kira Mas Dayat nggak balik ke sini hari ini."Dayat merogoh kunci dari sakunya, lalu memutar anak kunci pada pintu
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden villa, mengenai tepat di wajah Dayat yang masih terlelap. Tidurnya terasa sangat berat, mungkin karena staminanya terkuras habis oleh sesi "servis" rahasia bersama Teh Yuni semalam. "Mas! Bangun, Mas! Kok pintunya nggak dikunci sih?!" Su







