LOGINDeru mesin mobil yang dikendarai Dayat membelah jalanan sore yang mulai padat oleh para pekerja yang pulang kantor. Sambil fokus menatap jalanan, perhatian Dayat teralih saat ponselnya yang diletakkan di dasbor tiba-tiba bergetar dan berdering. Layar ponselnya menampilkan nama "Mbak Putri"—tetangga rumah Luki yang beberapa waktu lalu mesin airnya sempat Dayat perbaiki. Dayat menekan tombol *speaker* pada layar ponselnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Halo, assalamualaikum, Mbak Putri?" "Waalaikumsalam. Sore, Mas Dayat... Lagi sibuk enggak?" terdengar suara manja Putri di seberang telepon, nadanya terdengar sedikit berbisik namun penuh intrik. "Ini lagi di jalan pulang kerja, Mbak. Kenapa ya?" tanya Dayat. Putri terkekeh pelan di seberang sana, suara tawa yang sengaja dibuat mendesah tipis. "Ini mumpung rumah lagi sepi banget, Mas. Anakku kebetulan lagi nginep di rumah neneknya sampai besok. Mas Dayat ke rumah ya malam ini... Aku kepengen diservis sama Mas Dayat nih
Selesai menyantap makan siang di rumah makan padang, Dayat dan Astrid tidak langsung kembali ke unit proyek. Mereka berjalan kaki menuju ke kantor pemasaran komplek perumahan untuk menemui Benny, sang manajer proyek. Begitu melangkah masuk ke dalam kantor pemasaran yang sejuk karena embusan AC, mereka langsung disambut oleh kesibukan para staf. Astrid segera menghampiri meja Benny yang berada di sudut ruangan. Keduanya langsung terlibat obrolan serius, membuka lembaran berkas dan laptop untuk membahas *report* serta *progress* pembangunan perumahan. Sementara itu, Dayat memilih duduk di sofa tunggu dekat lobi. Tak lama kemudian, Fitri—salah satu staf administrasi di sana—berjalan menghampiri Dayat sambil membawa secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. "Eh, Mas Dayat. Ini Mas, kopinya diminum dulu," ucap Fitri sambil meletakkan cangkir tersebut di atas meja kaca di depan Dayat. "Wah, repot-repot amat, Mbak. Makasih banyak ya," ujar Dayat sambil tersenyum ramah. Fitr
Matahari perlahan bergeser naik ke puncaknya, menandakan waktu sudah menjelang siang. Di salah satu unit perumahan yang sedang digarap, hawa gerah mulai terasa, namun Dayat masih tampak sibuk dengan pekerjaannya. Keringat mulai bercucuran membasahi kaos yang dikenakannya. Di sudut ruangan, beralaskan selembar kardus bekas yang digelar seadanya, Astrid duduk dengan anggun namun tetap terkesan tangguh. Sebuah laptop menyala di pangkuannya, jemarinya sesekali menari di atas keyboard untuk mengecek data dan laporan proyek. Sesekali di sela-sela kesibukan itu, mereka mengobrol ringan. Obrolan mereka mengalir santai, mulai dari urusan teknis lapangan hingga candaan kecil untuk mengusir rasa penat. Di tengah obrolan tersebut, Astrid sesekali menghentikan ketikannya. Pandangannya beralih, memperhatikan dengan saksama setiap gerak-gerik Dayat yang sedang bekerja. Ia melihat bagaimana cekatannya Dayat saat menarik kabel-kabel instalasi, kekuatan lengannya saat membobok dinding semen yang
Dayat perlahan mundur, wajahnya ikut berubah pucat seketika saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Hasrat yang tadinya membumbung tinggi mendadak surut, digantikan oleh rasa bersalah yang teramat sangat. "Maaf, Tan... Aku bener-bener enggak tahu dan lupa banget," ucap Dayat lirih, suaranya terdengar sangat menyesal. Clara menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Gurat kepanikan masih jelas tercermin di wajah cantiknya. "Aduh, Yat... masalahnya kemarin lusa aku baru aja bersih haid. Jadi sekarang ini aku lagi masuk masa subur, Yat... Takutnya nanti malah jadi isi," ujar Clara dengan nada cemas, membayangkan konsekuensi besar di depan mata mereka. Mendengar kata 'masa subur' dan 'jadi', nyali Dayat langsung menciut. Ia ikut kebingungan dan menatap Clara dengan pandangan kosong. "Aduh... terus gimana dong sekarang, Tan? Aku mesti gimana?" tanya Dayat panik, bingung harus berbuat apa untuk memutar balikkan keadaan. Melihat Dayat yang tampak sanga
Melihat reaksi Clara yang begitu menantang, Dayat sempat terdiam sejenak. Tangannya yang tadinya sudah siap mencengkeram pinggang Clara mendadak ragu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap sekeliling ruang tengah dengan bingung. "Bentar, Tan... kalau mau gaya baru, malah akunya yang bingung mau mulai dari mana. Di sofa apa di lantai? Terus gayanya gimana?" tanya Dayat polos sambil terkekeh pelan karena mendadak mati kutu. Melihat kepolosan Dayat yang malah kebingungan di saat situasi sudah memanas, Clara mendengus gemas. "Ah, kamu ini... giliran gini malah pakai bingung segala." Agar pahlawannya itu tidak perlu berpikir terlalu lama, Clara langsung bangkit berdiri dari sofa. Dengan gerakan yang sangat berani dan sensual, ia melangkah satu langkah ke depan, lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Dayat. Tanpa ragu, Clara menundukkan bagian atas tubuhnya dan menopang kedua tangannya di atas meja kaca tempat cangkir kopi mereka tadi. Dalam sekejap, ia langsung mengam
Clara melangkah turun ke ruang tengah diikuti oleh pria itu dari belakang. Suasana rumah terasa tenang saat Clara menyuguhkan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap wangi, lengkap dengan sepiring kue camilan di atas meja kaca. Mereka berdua kemudian duduk bersantai di sofa empuk ruang tengah. Sambil menyesap kopinya, obrolan ringan pun dimulai, yang perlahan mulai beralih membahas perkembangan pekerjaan di lapangan. "Gimana perkembangan proyek perumahan yang baru itu? Lancar semua kan di lapangan?" tanya Clara membuka pembicaraan serius setelah beberapa saat mereka mengobrol santai. Pria yang duduk di seberangnya mengambil sepotong kue, lalu mengangguk. "Sejauh ini aman, Tan. Pondasi buat unit-unit awal udah mulai kelar, material juga masuknya tepat waktu sesuai jadwal. Si Dayat bener-bener mantau terus di lokasi dari pagi sampai sore, makanya progresnya bisa lumayan cepat." Clara tersenyum puas mendengar laporan tersebut. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil melipat