Share

Lembur Kenikmatan

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-04-25 11:10:08

Suasana perumahan malam itu sudah sangat lengang. Dayat memarkirkan motornya dengan hati-hati agar suaranya tidak mengundang perhatian tetangga sekitar. Ia merogoh ponselnya sebentar, membaca pesan singkat dari Anggun yang menyuruhnya langsung masuk karena pintu tidak dikunci.

"​Udah siap aja nih anak," gumam batin Dayat sambil menarik napas panjang.

​Ia melangkah masuk dengan perlahan. Keadaan di dalam rumah benar-benar sunyi; ruang tamu, dapur, hingga area belakang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Segarnya!

    Dayat terdiam sejenak, menimbang-nimbang tas perkakas yang sudah rapi di tangannya. Otaknya berputar cepat memikirkan jadwal pekerjaan besok pagi di area proyek kota."Dit, dari perumahan sini kalau mau ke arah proyek utama yang di pusat kota itu... jauh enggak sih?" tanya Dayat, memastikan rute.Dita yang menyadari ada lampu hijau langsung menegakkan tubuhnya dengan mata berbinar. "Ealah, malah lebih dekat dari sini, Mas! Jalurnya lurus terus lewat jalan pintas di depan sana, enggak perlu muter kayak dari rumah lamaku."Dayat mangut-mangut, lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. "Ya sudah, sebentar ya. Aku telepon Astrid dulu. Soalnya biasanya kalau ke proyek, aku sering barengan sekalian jemput dia."Dita mengangguk patuh, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menunggu dengan sabar.Dayat mencari nama Astrid di kontak ponselnya, lalu menekan tombol panggil. Hanya butuh beberapa nada sambung sebelum suara perempuan di seberang sana menjawab."Halo, Trid? Besok be

  • Tukang Servis Spesialis   Permintaan Aneh Lagi

    "Wah... berarti dari kemarin kamu belum mandi apa gimana, Dit?" tanya Dayat berbisik jenaka, menunjuk daster tipis yang melekat di tubuh Dita.Dita sama sekali tidak terlihat malu. Ia justru maju selangkah, menantang tatapan Dayat sambil mengibaskan rambut panjangnya yang sedikit acak-acakan. "Iya, memang belum mandi! Makanya dari tadi aku pakai daster pendek begini saja biar enggak gerah, Mas. Kan airnya belum nyala."Dita menyunggingkan senyum penuh arti, lalu menyenggol pelan pinggang Dayat dengan siku tangannya. "Lagian sengaja ditahan dulu mandinya... Sapa tahu nanti setelah sanyonya beres, Mas Dayat mau ikut mandi bareng?" godanya dengan nada suara yang sengaja diayun manja."Hush! Malah makin ngelunjak omongannya," sahut Dayat sambil terkekeh geli, meski tak bisa dipungkiri debaran di dadanya kembali bergejolak. Ia meletakkan kembali tas perkakasnya ke atas lantai. "Ya sudah, mana mesin sanyonya? Biar sekalian digarap sekarang, daripada kamu bau asem sampai besok.""Ih, wangi t

  • Tukang Servis Spesialis   Job di Siang Hari

    Dayat segera meneguk habis sisa kopi hitamnya, lalu beranjak berdiri untuk mengambil tas perkakas di dekat pintu. Ia mengeluarkan beberapa gulungan kabel, sakelar, stopkontak, dan tespen, lalu mulai meneliti jalur utama dari meteran PLN."Dit, ini jalur utamanya mau langsung ditarik ke ruang tengah dulu atau bagaimana?" tanya Dayat, suaranya agak menggema di dalam ruangan batako yang belum diplester itu.Dita ikut bangkit berdiri, melangkah mendekati Dayat hingga jarak mereka mengikis. "Iya, Mas. Tarik ke ruang tengah dulu, baru nanti dicabang ke kamar sama dapur," jawab Dita seraya menunjuk ke arah langit-langit. "Oh iya, Mas, khusus di ruang depan ini, aku minta dipasangin dua gantungan lampu ya. Biar kalau malam kelihatan estetik gitu rumahnya."Dayat menoleh, melirik Dita yang berdiri di sampingnya dengan daster pendek tanpa bra yang sesekali bergeser longgar saat wanita itu mendongak. Dayat berdeham kecil, menahan pandangannya agar tetap fokus pada plafon. "Estetik sih estetik, D

  • Tukang Servis Spesialis   Kembali Ke Kota

    Dayat buru-buru membungkuk, merogoh saku celana jinsnya yang tergeletak di atas lantai ubin berdebu. Layar ponselnya menyala terang di dalam keremangan, menampilkan nama "Dita" yang berkedip-kedip. Ia segera menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkannya ke telinga."Halo, Dit?" ucap Dayat dengan napas yang masih sedikit tidak beraturan, berusaha meredam debaran jantungnya."Halo, Mas Dayat. Kamu posisi sudah di mana? Nanti sampai rumahku kira-kira jam berapa, Mas?" tanya suara Dita di seberang telepon, terdengar agak bising oleh suara kendaraan yang lalu lalang.Dayat mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangan, memeriksa jam digitalnya. "Ini baru mau jalan dari desa, Dit. Kemungkinan sekitar jam satu atau jam dua siang aku baru sampai di depan rumahmu.""Oh, ya sudah kalau begitu. Nanti kalau sudah hampir sampai atau sudah di depan rumah, kabari aku ya, Mas," sahut Dita."Siap, Dit. Nanti aku kabari."Pip. Sambungan telepon langsung terputus.Dayat mengembuskan napas panjang,

  • Tukang Servis Spesialis   Ruangan Kenikmatan

    "Sini masuk, Mas, kok malah diam di situ?" panggil Cici, suaranya mengalun rendah dari ambang pintu yang terbuka.Dayat menelan ludah yang terasa kesat. Langkah kakinya bergerak maju dengan ragu, matanya menyapu sekeliling ruangan. "Mb-Mbak... ini ruangan apa?"Kamar ini nampak bersih dan tertata rapi dengan pendar lampu neon berwarna merah muda yang menyala remang. Di tengah ruangan, sebuah ranjang kayu besar dilapisi seprai satin berwarna merah marun. Di sekeliling sudut atapnya, untaian lampu hias kecil kelap-kelip benderang, menciptakan atmosfer yang sangat sensual."Penasaran ya? Makanya, sini masuk," sahut Cici, senyumnya semakin melebar.Jemari Cici mendadak menyambar pergelangan tangan Dayat, menariknya masuk melewati ambang pintu. Begitu Dayat berada di dalam, Cici dengan gerakan kilat menutup pintu kayu itu dan menguncinya dari dalam. Klek.Cici berbalik, merapatkan tubuhnya ke dada bidang Dayat. Ia berjinjit sedikit dan berbisik tepat di telinga pria itu, "Ini tuh... namany

  • Tukang Servis Spesialis   Tumpangan

    "Bo-boleh, Mbak," sahut Dayat, menelan ludah yang tiba-tiba terasa kesat di tenggorokannya. Ia mengulurkan tangan ke kiri, menekan tombol untuk membuka pengunci pintu mobil otomatisnya."Makasih ya, Mas," ucap Cici dengan senyuman yang teramat manis.Ia menarik gagang pintu luar, lalu dengan gerakan luwes mendudukkan tubuh sintalnya di atas jok penumpang tepat di samping Dayat. Aroma wangi sabun dan minyak melati yang menyengat langsung memenuhi kabin mobil yang semula berbau pewangi jeruk. Daster batik yang dikenakannya sedikit tersingkap ke atas paha saat ia membetulkan posisi duduk, membuat Dayat hampir tidak kuasa menahan pandangannya agar tidak melirik kemolekan tubuh wanita itu dari dekat. Dayat menarik napas dalam-dalam, mencengkeram kemudi erat-erat, dan berusaha keras memfokuskan matanya ke hamparan jalan aspal di depan."Memangnya Mbak Cici mau ke mana?" tanya Dayat, mencoba mencairkan keheningan yang mendadak terasa begitu intim di dalam kabin.Cici memutar tubuhnya sedikit

  • Tukang Servis Spesialis   Ide Gila Sang Betina

    "Tan..." bisik Dayat dengan suara yang sudah serak parah. Gejolak di perut bawahnya benar-benar seperti lahar yang mau meledak, efek kopi spesial dari Clara benar-benar membuat kesadarannya menipis. Clara hanya tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Dayat yang sudah haus akan bel

  • Tukang Servis Spesialis   Efek Kopi Yang Tak Biasa

    Dayat berdehem pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mulai tidak karuan melihat wujud Clara dalam balutan daster transparan itu. "Ehemm... Tan, tanpa mengurangi rasa hormat dan mengacuhkan pemandangan yang indah ini, izinkan saya untuk fokus sejenak ke *project* ini," uc

  • Tukang Servis Spesialis   Godaan Satin Menerawang

    Dayat berdiri di depan cermin kontrakannya yang agak buram, kancing kemejanya dirapikan dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Setelah mengisi paket data di konter tadi, HP-nya langsung meledak dengan puluhan notifikasi masuk—hampir semuanya dari Tante Clara. ​"Duhh, perasaan g

  • Tukang Servis Spesialis   Tidak Aktif

    Keheningan malam yang hanya diiringi sisa rintik hujan membuat suasana di dalam kamar itu terasa sangat tenang. Gita menyandarkan kepalanya di dada bidang Dayat, membiarkan tubuh polosnya didekap hangat oleh pria yang baru saja membuatnya tak berdaya. "Aku gak nyangka ada cowok yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status