Share

Bathin Yang Lembur

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-04-25 10:56:52

Dayat baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di bahunya. Segar rasanya setelah seharian bergelut dengan debu proyek. Ia langsung menyambar ponsel yang tergeletak di atas kasur, lalu mencari kontak Luki untuk meneleponnya.

​"Halo Luk..." sapa Dayat begitu sambungan tersambung.

​"Oii Yat, kenape?" tanya Luki dari seberang sana, suaranya terdengar sedang santai.

​"Sibuk gak?? Ngopi yokk!!" ajak Dayat penuh semangat. Setelah da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Pagi Berkeringat, Mandi Lagi

    Tepat saat suasana di kamar terasa makin gerah bagi Dayat, suara pintu kamar mandi terbuka dan Gita muncul dengan rambut yang masih basah terbungkus handuk. Ia tampak segar dan sama sekali tidak merasa aneh melihat Teh Yuni duduk di tepi ranjang "suaminya". "Teh! Makasih banyak ya Teh, pagi-pagi udah repot antar susu murni sama sarapan ke sini. Baik banget deh Teteh ini," ucap Gita sambil tersenyum lebar ke arah Teh Yuni. Teh Yuni berdiri dari tepi ranjang, merapikan dasternya yang sedikit tersingkap. "Atuh nggak apa-apa, Neng Gita. Biar kalian betah di sini, dan Mas Dayat-nya juga semangat kerjanya, nggak lemes," sahut Teh Yuni sambil melirik Dayat yang masih duduk mematung di balik selimut. Sebelum benar-benar melangkah keluar kamar, Teh Yuni sengaja mendekat ke arah Gita. Di depan mata Dayat yang masih setengah melongo, Teh Yuni membisikkan sesuatu ke telinga Gita, namun suaranya masih cukup jelas terdengar oleh Dayat.

  • Tukang Servis Spesialis   Malam Yang Membingungkan

    Dayat menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, mencoba mengusir bayangan godaan Teh Yuni maupun candaan "plus-plus" dari mulut Gita. Ia menepuk pelan puncak kepala Gita untuk menyudahi gurauan itu. "Udah, ah, jangan ngaco terus. Mending sekarang kamu buatin aku kopi hitam, gulanya dikit aja ya. Biar mata ini nggak langsung merem habis makan ubi," perintah Dayat. "Siap, Mas Suami! Laksanakan," sahut Gita dengan nada manja yang dibuat-buat, lalu beranjak menuju dapur kecil di sudut villa. Dayat kembali fokus pada perapian. Ia menggunakan penjepit kayu untuk membolak-balik ubi yang kulitnya sudah mulai menghitam dan mengeluarkan cairan gula yang karamel. Suasana villa seketika menjadi tenang, hanya diiringi suara gemericik air dari dapur dan denting sendok yang beradu dengan gelas saat Gita mengaduk kopi. Sambil menunggu, Dayat melamun menatap api yang menari-nari. Pikirannya melayang pada pekerjaannya besok, tent

  • Tukang Servis Spesialis   Kebaikan Terselubung

    Dayat menghela napas pendek, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sempat berpacu cepat. Ia turun perlahan dari tangga lipat agar bisa berbicara lebih fokus. "Aduh, Tante... itu sebenarnya gara-gara Luki," jawab Dayat dengan nada yang dibuat seolah-olah ia adalah korban keadaan. "Kemarin pas lagi kumpul, si Luki asal nyeletuk aja di depan dia kalau saya ada kerjaan di luar kota. Eh, nggak tahunya dia malah kepengin ikut beneran. Karena nggak enak, ya mau nggak mau saya ajak aja." Clara terdiam sejenak di seberang sana, lalu bertanya dengan nada menyelidik, "Tapi laporan yang masuk ke saya katanya itu istri kamu, Yat?" Dayat tertawa canggung, mencoba mencairkan suasana. "Bukan, Tante. Bukan istri kok, cuma teman aja. Itu cuma salah paham aja tadi malam pas sampai. Kang Udin langsung ngira dia istri saya, ya udah saya biarin aja lah Tante, capek kalau harus jelasin panjang lebar jam dua pagi." "Bener bukan pacar kamu

  • Tukang Servis Spesialis   Kabar Yang Cepat Menyebar

    Dayat berdeham pelan, mencoba mengalihkan pandangannya dari tatapan intens Teh Yuni. "Aduh, Teh... kayaknya nggak enak kalau saya mampir tapi Kang Udin-nya nggak ada. Takutnya malah jadi omongan warga sini kalau lihat laki-laki lain masuk rumah Teteh sendirian," jawab Dayat berusaha memberikan alasan yang masuk akal. Teh Yuni malah terkekeh kecil, tangannya mengibas santai seolah keberatan Dayat itu tidak ada artinya. "Atuh Mas Dayat mah jangan terlalu kaku begitu. Warga di sini juga sudah tahu kalau Teteh ini tukang pijat. Sudah biasa ada tamu datang buat urut, jadi nggak akan ada yang curiga macam-macam," sahutnya dengan nada yang sangat santai, namun matanya tetap mengunci pandangan Dayat. "Iya, Teh... ya udah nanti kapan-kapan ya kalau badan udah kerasa pegal banget," pungkas Dayat cepat agar pembicaraan itu berakhir. Tepat saat itu, langkah kaki Gita terdengar kian mendekat. "Ini piringnya, Mas! Sama aku bawa air botol yang besar

  • Tukang Servis Spesialis   Bisikan, Tawaran, Menggiurkan

    Sinar matahari pagi yang menembus celah ventilasi villa membangunkan Dayat. Ia meraba sisi ranjang, namun tempat yang semalam diisi Gita sudah terasa dingin. Dayat melangkah keluar kamar sambil sesekali mengucek matanya. Begitu sampai di ruang tamu, langkahnya terhenti. Ia melihat Gita sedang asyik mengobrol di meja makan dengan seorang wanita yang tampak asing namun menarik perhatian. Wanita itu terlihat berusia sekitar 35 tahunan, namun wajahnya sangat awet muda dengan kulit yang tampak terawat. Bentuk tubuhnya yang berisi dan kencang terbalut apik dalam setelan daster batik yang pas di badan. "Eh, Mas... udah bangun?" sapa Gita riang. Ia kemudian menunjuk wanita di sampingnya. "Mas, kenalin, ini Teh Yuni, istrinya Kang Udin yang tadi malam. Beliau baru aja antar sarapan buat kita." Dayat sedikit kikuk, ia merapikan kaosnya yang agak berantakan. "Oh... iya, Teh. Saya Dayat. Maaf ya baru bangun, masih agak capek bekas perjalanan semal

  • Tukang Servis Spesialis   Bermain Peran

    Gita melangkah ke kamar mandi, namun beberapa saat kemudian ia muncul lagi dengan wajah penuh semangat. "Mas! Lihat deh, kamar mandinya bagus banget! Ada bathtub besarnya, terus air panasnya juga berfungsi!" Dayat yang masih terkapar di sofa hanya menyahut malas, "Duh, Git... dingin banget sekarang. Besok pagi aja mandinya." "Justru itu, Mas! Ada air panasnya, pas banget buat berendam biar capek kamu habis nyetir jauh itu hilang," sahut Gita sambil mendekat dan mulai menarik-narik lengan Dayat dengan manja. "Ayo dong, Mas... mumpung masih hangat airnya." Dengan langkah gontai dan rasa malas yang luar biasa, Dayat akhirnya berdiri dan mengikuti tarikan tangan Gita menuju kamar mandi. Namun, begitu pintu dibuka dan mereka masuk ke dalam, rasa kantuk Dayat mendadak hilang seketika. Matanya terbelalak saat melihat Gita tanpa ragu mulai melepas pakaiannya satu per satu di depan matanya. Uap hangat dari kran air panas mulai memen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status