Share

Pengakuan Yuda

last update Tanggal publikasi: 2022-06-21 13:43:33

"Ngapain lo masih di sini aja. Bukannya lo mau pergi cari Amanda. Kita juga bukan suami-istri lagi jadi nggak perlu sok-sokan perhatian sama gue," amuk Fara saat Yuda masih juga memperhatikannya selama dia dirawat di rumah sakit.

"Kamu udah makan, Ra? Kalau belum ... kebetulan aku bawain bubur ayam kesukaan kamu." Yuda melengos dan meletakkan dua kotak bubur ayam ke atas meja di samping berangkat rumah sakit

"Keluar lo dari sini!" Fara memalingkan wajahnya dan enggan menatap wajah Yuda. Dia su
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tumbal Pernikahan   (Bukan) Hari Baik

    Embun masih menggantung di dedaunan. Udara pagi menembus sela jendela, membawa kesejukan yang samar-samar menyinggahi ruang tamu tua itu. Angga masih duduk di kursi dekat jendela, gitar di pangkuan. Di meja, ponselnya tergeletak, layar hitamnya memantulkan wajah yang letih tetapi tenang.Ia baru saja melewati malam yang panjang, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, tak ada sesak yang membangunkannya di tengah tidur. Di luar, suara langkah mendekat. Pintu berderit pelan. Althan masuk, kali ini tanpa suara keras atau teguran. Ia hanya berdiri sejenak, menatap adiknya dalam diam, lalu berkata,“Gue kira lo masih tidur.”Angga tersenyum kecil. “Udah nggak bisa, Bang. Pagi ini rasanya beda.”Althan mengangguk, lalu berjalan ke arah dapur, menuang dua cangkir kopi. Aroma pahit itu memenuhi udara. Ia menyerahkan satu ke Angga.“Beda gimana?” tanyanya.Angga menatap kopi itu, lalu berkata lirih,“Tadi malam Shadam nelpon. Pertama kalinya dia manggil aku ‘papi’ tanpa ragu.” Ia te

  • Tumbal Pernikahan   Luka yang Tersisa

    Cahaya matahari menembus tirai lusuh, menyorot debu yang menari di udara.Angga duduk di ruang tamu, masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam. Di depannya, secangkir kopi hitam dingin, dan foto lama Amanda di meja yang tak juga ia singkirkan.Angga masih berada di rumah Rania, dia seolah begitu enggan meninggalkan rumah itu. Pintu depan terbuka. Suara langkah kaki terdengar tergesa di ruang tamu.“Ga?” suara berat itu milik Althan. Tak lama, sosoknya muncul bersama Seffina yang berdiri di belakang dengan ekspresi tegang dan dingin.Angga menoleh sekilas, lalu kembali menatap lantai. “Pagi, Bang.”“Udah pagi, tapi lo belum tidur juga,” sahut Althan pelan, matanya menyapu ruangan. “Masih sama seperti dulu, ya. Rumah ini.”Seffina memeluk diri sendiri, menahan perasaan tak nyaman. “Kenapa kamu ke sini lagi, Ga? Rumah ini cuma bakal ngebuka luka lama. Kamu tahu kan gimana dulu Amanda pergi dari tempat ini?” katanya dingin.Nada suaranya menampar lebih keras dari amarah mana pun.

  • Tumbal Pernikahan   Harga Sebuah Penyesalan

    Cahaya lampu hanya setengah hidup. Bau alkohol memenuhi ruangan, bercampur aroma rokok yang terbakar setengah. Angga duduk di lantai, punggungnya bersandar di sofa, mata merah dan wajah kusut. Botol kosong berserakan di sekelilingnya.Dari dapur, Seffina menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras.“Dia lagi mabuk?” suaranya dingin, menusuk. Rasanya ingin sekali dia mengirim Angga bertugas lagi supaya acara mabuk seperti ini tak terulang lagiAlthan yang baru keluar dari kamar, hanya diam sebentar lalu mengangguk pelan. “Iya, Sayang. Dia lagi nggak baik-baik aja.”“Dia kan emang nggak pernah baik-baik aja, Mas,” jawab Seffina tajam. “Dan aku nggak tahu sampai kapan kamu mau terus biarin dia tinggal di sini.”Althan menatap istrinya dengan nada lembut. “Dia adik aku.”“Tapi dia juga orang yang bikin Amanda hampir mati waktu itu!” potong Seffina dengan suara bergetar menahan emosi. Matanya mulai berkaca. “Kamu nggak tahu, Mas. Kamu nggak tahu semuanya. Waktu Amanda nangis di rumah sa

  • Tumbal Pernikahan   Antara Cinta dan Rasa Takut

    Malam di Rumah Sakit – Ruang Istirahat DokterLampu ruangan remang, hanya suara mesin pendingin dan detak jam dinding yang terdengar.Dae-jung duduk di kursi, masih mengenakan jas dokternya yang sedikit kusut. Di tangannya, selembar foto yang sudah nyaris lusuh foto Amanda dan Angga yang sedang tersenyum di tepi pantai. Dia tak tahu sejak kapan sudah menatap foto itu begitu lama. Hanya ada satu yang ia tahu, rasa perih aneh itu tak mau hilang.Pintu diketuk pelan.“Masuk aja,” ucap Dae-jung tanpa menoleh. Dia segera menyimpan foto lama tersebut ke dalam laci dan mulai fokus dengan pintu yang barusaja diketukLangkah kaki berat terdengar, dan suara yang familiar menyusul dari belakang.“Masih di rumah sakit jam segini?”Dae-jung tersenyum samar. “Kamu tahu sendiri, Angga. Hidup dokter itu nggak pernah punya jam pulang.”Angga tertawa pelan, duduk di kursi seberang tanpa diundang.“Ya, tapi kukira dokter bedah sehebat kamu juga butuh istirahat.”Ada jeda hening di antara mereka. Keduany

  • Tumbal Pernikahan   Konflik Batin

    Langkah Amanda terasa berat begitu ia meninggalkan kafe itu. Setiap langkah seperti menapaki masa lalu yang enggan benar-benar pergi. Begitu pintu mobil tertutup, ia membiarkan dirinya terdiam lama, tangan menggenggam kuat setir hingga buku jarinya memutih.Matanya terasa panas, tapi ia tahan air mata itu.“Kenapa harus sekarang,” bisiknya lirih, suaranya pecah di ruang sunyi.Ingatan demi ingatan menyerbu, malam ketika ia sendirian di rumah sakit, menggigil di ranjang bersalin tanpa siapa pun di sampingnya. Ia masih ingat jelas suara dokter yang berkata lembut tapi tajam bahwa “Satu bayinya nggak selamat.”Kala itu, dunia Amanda runtuh.Ia menatap bayi kecil yang tak sempat bernapas lama, menggenggam jemari mungilnya yang sudah dingin, lalu mencium keningnya dengan air mata yang tak berhenti mengalir.“Alsava,” bisik Amanda, nama itu keluar dengan napas berat.Satu nama yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun. Nama yang bahkan tak pernah ia sebut di depan Shadam.Semenjak hari itu,

  • Tumbal Pernikahan   Penyesalan Terbesar

    Malam itu Angga duduk sendirian di dalam apartemennya. Lampu temaram, meja berantakan dengan botol minum setengah kosong. Ia menatap kosong ke luar jendela, pikiran melayang jauh ke masa lalu."Amanda, seandainya waktu bisa diputar kembali."Angga menutup wajah dengan kedua tangannya. Ingatannya kembali ke hari-hari ketika Nessa jatuh sakit parah. Nessa ... adik angkat Amanda yang dulu begitu ia cintai yang mendadak kembali ke hidupnya dalam keadaan rapuh, tubuh lemah digerogoti penyakit mematikan.Saat itu, tanpa berpikir panjang, Angga meninggalkan segalanya. Ia fokus hanya pada Nessa. Hari-harinya penuh dengan jadwal rumah sakit, pengobatan, dan doa-doa yang ia bisikkan di sisi gadis itu.Di tengah semua itu, Amanda, perempuan yang selalu ada di sisinya, mulai meredup. Senyumnya tak lagi terlihat. Matanya semakin kosong. Angga terlalu buta untuk melihat."Aku sibuk jadi pahlawan buat orang lain tapi gagal jadi pelindungmu, Yang," suaranya pecah di ruangan sepi itu.Angga menelan se

  • Tumbal Pernikahan   Rahasia Amanda Terbongkar

    "Aku bener-bener minta maaf sama kamu, aku hampir aja bongkar rahasia itu."Althan menghentikan langkahnya tepat di bibir pintu saat mendengar kalimat ambigu yang keluar dari mulut Seffina. Wanita itu sedang berbicang dengan seseorang yang Althan tidak tahu itu siapa, Seffina terlihat begitu serius d

  • Tumbal Pernikahan   Masih Belum Melupakan Amanda

    Tatapannya nanar menatap benda bulat berwarna keemasan di atas meja. Dia menghela napasnya dengan berat dan lagi-lagi tertampar oleh kenyataan bahwa si empunya barang itu sudah lama pergi dan tak lagi peduli dengan benda tersebut. Dia ambil benda itu dan memegangnya dengan jari teluk dan ibu jari, l

  • Tumbal Pernikahan   Masa Lalu Buarlah Berlalu

    Malam yang panjang telah keduanya nikmati seolah tidak akan ada lagi malam berikutnya. Keduanya sama-sama mencari kepuasan dunia yang selama satu bulan lebih tak mereka dapatkan. Ungkapan cinta terus terucap dari bibir Fara dan jawaban Yuda seolah tidak nyambung. Pria itu masih sedikit malu walau ha

  • Tumbal Pernikahan   Part 24 - Amanda Frisela dan Abimanyu

    "Sudah, sana! Kamu ngapain masih di situ?" "Tunggu kamu masuk, baru aku pergi." "Mas," tegur gadis cantik kepada kekasihnya yang masih menunggunya di depan kafe. "Iya, Sayang. Mau ambil cuti hari ini?" tanyanya dengan binar bahagia. "Cepat berangkat! Kamu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status