LOGIN“Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”
“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.” Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya. “Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.” Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan. Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan. “Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?” “Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.” Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri. ... Malam itu, langit Kota Linmeng tampak cerah. Purnama bulat menggantung tinggi, cahayanya menembus jendela kecil di sel tempat Wan Xuan ditahan sementara. Wan Xuan duduk bersila di sudut ruangan, matanya terpejam, namun pikirannya jauh dari tenang. Rencana yang telah ia susun sejak awal mulai bergerak sesuai perhitungan. Menyusup ke markas penjaga bukanlah tujuan akhir—ini hanyalah langkah pertama dari sesuatu yang jauh lebih besar. Ia teringat kembali pada alasan sebenarnya mengapa ia rela membiarkan dirinya ditangkap. Bukan karena tak mampu melawan, melainkan karena informasi yang ia kumpulkan selama perjalanan menuju Linmeng mengarah pada satu titik: markas pusat ini menyembunyikan sebuah artefak kuno yang telah lama ia cari. Cahaya bulan menyusup lewat celah jeruji, menerangi separuh wajahnya yang tenang namun penuh perhitungan. Di luar sel, langkah kaki terdengar mendekat. Wan Xuan membuka mata sepenuhnya, seolah sudah menduga kedatangan itu. Pintu sel terbuka pelan. Xin Nian berdiri di ambang pintu, membawa sebuah nampan berisi makanan sederhana. “Kau belum makan sejak siang,” katanya, meletakkan nampan itu di lantai. Wan Xuan menatapnya sejenak, sedikit terkejut dengan tindakan tak terduga itu. “Bukankah aku tahanan?” “Tahanan pun butuh makan,” jawab Xin Nian singkat, lalu bersandar di dinding, menyilangkan tangan di dada. “Lagipula, aku masih punya beberapa pertanyaan untukmu.” “Silakan.” “Kenapa kau membiarkan dirimu ditangkap? Kekuatanmu jelas jauh di atas kami semua.” Wan Xuan tersenyum tipis, pandangannya beralih ke arah bulan yang bersinar di luar jeruji. “Karena ada sesuatu yang lebih penting daripada kebebasan sesaat.” Jawaban ambigu itu membuat Xin Nian mengernyit. “Maksudmu?” “Kau akan tahu pada waktunya,” jawab Wan Xuan, nada suaranya tenang namun penuh misteri. “Untuk sekarang, anggap saja aku sedang menikmati... pemandangan.” Xin Nian menatapnya lekat, mencoba membaca maksud tersembunyi di balik kalimat itu, namun wajah Wan Xuan tetap tenang tak terbaca. Angin malam berembus pelan melalui jeruji, membawa aroma bunga malam dari taman di luar markas. Sinar bulan yang jatuh di lantai sel menciptakan bayangan lembut, seolah menjadi saksi bisu atas rencana besar yang sedang disusun diam-diam oleh pemuda misterius itu. “Selamat malam, Komandan Xin,” ucap Wan Xuan akhirnya, menutup mata kembali seolah mengakhiri percakapan. Xin Nian menatapnya sejenak sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan sel, meninggalkan pertanyaan yang semakin menumpuk di benaknya... Suasana kembali sunyi, hanya terdengar deru angin malam yang berembus di luar ruangan penahanan. Alih-alih terlihat seperti penjara berjeruji, ruangan itu justru lebih mirip penginapan berkualitas sedang. Wan Xuan membaringkan tubuhnya di atas lantai beralaskan seberkas kasur tipis. Matanya perlahan terpejam, namun ia tak benar-benar tertidur. Ia justru berkata pada udara kosong, “Apa yang kau tunggu, hanya diam di sana?”Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya
Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi
“Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li
“Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo
Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia
Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja







