Share

14. Tertipu

Author: Murlox
last update publish date: 2026-09-17 15:23:35

“Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”

Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.

Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.

Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.

“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.

“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.

Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.

“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.

Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendorongnya untuk memaksa masuk ke ruangan interogasi. Namun tepat sebelum kakinya melangkah, pintu ruangan terbuka dan seorang wanita keluar dari dalamnya.

“Wakil Komandan Feng?”

Xin Nian menatap Feng Sui dengan wajah bertanya-tanya.

“Mana pria itu? Dia harus bertanggung jawab sekarang.”

“Bertanggung jawab untuk apa?” tanya Xin Nian.

Feng Sui menarik napas pelan, berusaha menstabilkan dadanya yang berdebar karena kepanikan yang belum juga reda.

“Komandan, Anda harus tahu bahwa pria itu memang seorang pembunuh keji. Saking keji dan liciknya, dia bahkan menanamkan racun dalam tubuhku dan mengancamku dengannya,” jelasnya dengan suara tertahan.

Xin Nian mengernyitkan sebelah alisnya. Sebagai seorang seniman bela diri yang telah berlatih puluhan tahun, persepsi inderanya sudah sangat tajam, bahkan untuk menilai kondisi fisik seseorang. Kejanggalan sekecil apa pun tak akan luput dari pandangannya.

“Racun? Wajahmu memang agak pucat, dan napasmu tak stabil. Tapi aku sama sekali tak melihat jejak energi kotor darimu,” ujar Xin Nian tenang, matanya tak lepas mengamati Feng Sui.

Feng Sui tak mengerti maksud perkataan itu. Namun ia menolak membenarkan ucapan Komandan Xin, dan lebih memilih terus menyalahkan Wan Xuan sampai akhir.

“Tidak mungkin. Waktu itu dia memang menanamkan racun dalam tubuhku, sampai-sampai dadaku terasa ditusuk ribuan jarum. Lalu bagaimana mungkin racun itu bisa menghilang begitu saja jika ia tak pernah memberiku penawarnya?”

Xin Nian menghela napas pelan. Ia tahu lebih dari siapa pun bagaimana watak Feng Sui yang keras kepala dan sulit menerima kenyataan.

Tepat beberapa detik kemudian, Wan Xuan muncul dan melangkah keluar dari ruangan remang itu dengan tenang.

“Sialan! Kau akhirnya keluar juga, bajingan!”

Feng Sui tak tinggal diam. Ia langsung menunjuk Wan Xuan dan memakinya habis-habisan, seolah seluruh amarah dan kepanikan yang ia tahan sejak tadi tumpah begitu saja.

Wan Xuan hanya melirik sekilas ke arah Feng Sui, wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun rasa takut.

“Berisik,” gumamnya pelan.

Satu kata itu membuat Feng Sui semakin murka.

“Kau! Cepat berikan penawarnya sekarang juga, atau aku akan membuatmu menyesal!”

Xin Nian mengangkat tangan, mencoba menengahi sebelum keadaan semakin memanas.

“Wakil Komandan Feng, tenanglah dulu—”

“Bagaimana aku bisa tenang!” potong Feng Sui cepat. “Nyawaku dipertaruhkan, Komandan!”

Wan Xuan menghela napas pelan, seolah bosan dengan keributan itu.

“Racunnya sudah lama hilang,” katanya santai. “Sejak awal aku hanya menakutimu.”

Ucapan itu membuat Feng Sui membeku sesaat, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“A-apa maksudmu?”

“Aku tak pernah menanamkan racun apa pun,” lanjut Wan Xuan. “Hanya sedikit Qi untuk membuatmu berpikir dua kali sebelum bertindak ceroboh.”

Wajah Feng Sui berubah merah padam, antara malu dan marah yang bercampur menjadi satu.

Bagaimana ia begitu bodoh hingga tertipu seperti ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   17. Bergerak dalam gelap

    Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   16. Peringatan & Keluhan

    Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   15. Selamat Malam

    “Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li

  • Turun Gunung Memikul Takdir   14. Tertipu

    “Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo

  • Turun Gunung Memikul Takdir   13. Introgasi

    Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia

  • Turun Gunung Memikul Takdir   12. Berubah Pikiran

    Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status