FAZER LOGINFeng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.
“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?” Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat. “Aku hanya menanam sedikit racun.” “Apa?!” Wajah Feng Sui berubah semakin buruk. Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus. “Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.” “Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?” “Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.” Feng Sui terdiam. Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh. Di luar ia memang tampak baik-aik saja, namun jauh di dalam tubuhnya tertanam benih Qi tipis yang dapat meledakkan jantungnya kapan saja. “Kenapa aku harus mempercayaimu?” “Tidak perlu.” Wan Xuan berbalik. “Aku akan pergi.” “Tunggu!” Feng Sui berusaha bangkit, tetapi rasa nyeri kembali menusuk dadanya. Ia terjatuh dengan satu lutut menghantam tanah. “Brak!” Wan Xuan berhenti. “Kalau kau ingin hidup, jangan paksa tubuhmu bergerak terlalu banyak.” Feng Sui menggertakkan gigi. Ia akhirnya sadar bahwa pemuda di hadapannya benar-benar tidak berniat membunuhnya. Jika Wan Xuan ingin membunuh, puluhan penjaga ini mungkin sudah menjadi mayat. Namun, sebelum ia sempat berkata apa pun, suara langkah kaki terdengar dari ujung gang. Tak lama kemudian, beberapa sosok muncul dari balik kegelapan. Xin Nian berjalan paling depan. Tatapannya segera menyapu keadaan di sekitar. Puluhan penjaga tergeletak di tanah, sementara Feng Sui berlutut sambil memegangi dadanya. Matanya kemudian berhenti pada Wan Xuan. “Wan Xuan.” Wan Xuan menoleh. “Aku sudah memperingatkanmu agar tidak membuat masalah di kota.” “Aku tidak membuat masalah.” “Lalu apa bagaimana kau menjelaskan semua ini?” Xin Nian menunjuk para penjaga yang terkapar. “Mereka menyerangku.” Jawaban Wan Xuan begitu tenang hingga Xin Nian tidak dapat langsung membalas. Ia menatap Feng Sui. “Wakil Komandan Feng, apa yang sebenarnya terjadi?” Feng Sui terdiam. Ia tahu jika mengatakan bahwa dirinya yang memulai semuanya, harga dirinya akan hancur. Namun, jika berbohong, Xin Nian pasti dapat melihatnya. Akhirnya ia berkata, “Kami... hanya ingin membawanya untuk diperiksa.” “Dan kalian menyerang seorang tersangka dengan seluruh pasukan?” Nada Xin Nian berubah dingin. Feng Sui menundukkan kepala. Wan Xuan tidak tertarik dengan percakapan mereka. Tatapannya justru tertuju pada langit biru di kejauhan. Pikiran Wan Xuan sebenarnya dipenuhi oleh berbagai emosi yang tak dapat di pahamai siapapun kecuali dirinya sendiri. Ia kemudian berbalik menatap Feng Sui dan berkata, "Hanya untuk kali ini, aku tak akan merepotkan kalian." Kata-katanya terdengar misterius, hanya Xin Nian yang memahami maksudnya. "Apa maksudmu?" tanya Feng Sui. "Kalian ingin menangkapku, kan? Lakukan lah." Semua orang tertegun sejenak. Heran dengan keputusan pria itu, seolah-olah ia berubah pikiran hanya dalam sekejap. Feng Sui mendengus pelan. "Bagus! Kau menanam racun dalam tubuhku. Itu saja sudah cukup membuktikan dirimu adalah seorang pembunuh." Wan Xuan bahkan tak repot-repot membalasnya. Ia menoleh ke arah Xin Nian dengan wajah datar khasnya. "Bawa aku ke markas kalian." Sementara itu Xin Nian sendiri sebetulnya agak bingung, ia baru saja tiba dan belum sepenuhnya memahami situasi. Tapi sebagai komandan ia etap harus menjalankan tugasnya dan menyeret Wan Xuan untuk di introgasi. "Ikat tangannya dan bawa dia ke markas pusat." perintah wanita itu dengan tegas.Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya
Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi
“Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li
“Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo
Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia
Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja







