Home / Fantasi / Turun Gunung Memikul Takdir / 16. Peringatan & Keluhan

Share

16. Peringatan & Keluhan

Author: Murlox
last update publish date: 2026-09-17 16:02:20

Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.

“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”

Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.

Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.

“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”

Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.

“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.

“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”

Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wibawa.

“Aku di sini hanya untuk mengawasimu, agar kau tak bertindak ceroboh dan membuat keributan besar,” cetusnya sok berwibawa.

Wan Xuan menatapnya tanpa perubahan ekspresi sedikit pun. Namun sebenarnya ia penasaran dengan apa yang diinginkan Sun Liang darinya. Seseorang yang tiba-tiba datang untuk mengawasi bukanlah suatu kebetulan. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.

“Apa kau pikir aku bodoh?” ucap Wan Xuan tenang. “Lagi pula, apa kaitannya urusanku denganmu?”

Angin malam kembali berembus pelan. Sun Liang mengepalkan tangannya di balik punggung, sementara wajahnya tegang dan berkedut, seolah mencoba menahan kekesalan yang membuncah.

“Bajingan sialan! Aku di sini atas perintah Sen Tian. Kalau bukan karena itu, mana mungkin aku mau repot-repot berada di tempat seperti ini!”

Sun Liang berteriak hingga urat di dahi dan lehernya menonjol, namun teriakan itu hanya bergema di dalam benaknya sendiri.

Sun Liang tak bisa mengatakan kebenaran yang sesungguhnya—setidaknya, tidak untuk sekarang.

Ia menghela napas pelan, berusaha menenangkan diri. Untuk menghadapi Wan Xuan yang menurutnya berkepribadian aneh dan sulit ditebak, ia harus membiasakan diri bersikap dengan kepala dingin.

“Aku tak akan mengatakan alasannya. Kau sendiri akan tahu saat waktunya tiba. Dan... jangan membuat keributan apa pun.”

Tak ada yang lebih membosankan bagi Wan Xuan selain mendengar peringatan semacam itu. Ia kembali memejamkan mata, mengabaikan sepenuhnya kata-kata Sun Liang seolah angin lalu.

“Kuh! Pekerjaan macam apa ini,” gumam Sun Liang dengan wajah masam, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.

Ia melirik sekali lagi ke arah Wan Xuan yang tampak tenang, lalu mendengus pelan. Entah kenapa, semakin lama ia mengawasi pemuda itu, semakin ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar tersembunyi di balik sikap dingin dan misteriusnya.

Bayangan bulan yang jatuh melalui celah jendela menerangi separuh wajah Sun Liang, memperlihatkan raut penasaran yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

“Baiklah,” gumamnya lirih pada dirinya sendiri, “akan kulihat sampai kapan kau bisa bertahan dengan rencana anehmu itu.”

...

Beberapa hari berlalu sementara Wan Xuan berdiam diri dalam kediaman penahanannya. Ia tak melakukan aktivitas apa pun, hanya berbaring dengan mata terpejam sepanjang waktu.

Alasan mengapa ia tetap bertahan di markas penjaga kota selama beberapa hari ini adalah untuk melalui proses penyelidikan yang berlaku.

Walaupun sebenarnya ia tak bersalah, Wan Xuan tak bisa terus-menerus menolak pemeriksaan dari pihak penjaga kota.

Apalagi dengan situasi Kota Linmeng yang belakangan ini kerap diguncang kasus pembunuhan. Yang membuat semua kasus itu terasa aneh adalah pelakunya selalu meninggalkan mayat dalam keadaan kehilangan jantung dan bola mata.

“Pembunuhan terus terjadi, bahkan ketika kota ini dijaga ketat,” gumamnya dalam hati.

Wan Xuan punya firasat tersendiri mengenai hal ini. Ia sudah cukup banyak mengumpulkan informasi selama beberapa hari terakhir. Mungkin saja hal ini juga dapat membantunya menemukan dalang di balik pembunuhan gurunya.

...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   17. Bergerak dalam gelap

    Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   16. Peringatan & Keluhan

    Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   15. Selamat Malam

    “Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li

  • Turun Gunung Memikul Takdir   14. Tertipu

    “Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo

  • Turun Gunung Memikul Takdir   13. Introgasi

    Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia

  • Turun Gunung Memikul Takdir   12. Berubah Pikiran

    Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status