Home / Fantasi / Turun Gunung Memikul Takdir / 20. Mengulur Kematian

Share

20. Mengulur Kematian

Author: Murlox
last update publish date: 2026-09-21 02:14:52

Sosok bertopeng yang tersisa mengatupkan rahangnya keras-keras. Ia sadar betul bahwa kemampuan lawannya berada jauh di luar jangkauannya, bahkan mustahil untuk ditandingi.

Ia menggeretakkan gigi dengan kesal. Tak peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa pasrah sambil mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi terjepit ini.

“Kemampuan orang ini sulit dijelaskan dengan akal sehat. Bagaimana caraku menghabisinya? Atau setidaknya, bagaimana caraku bisa melarikan diri dari sini?” batin sosok bertopeng itu, dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.

Dalam jarak sekitar sepuluh meter, Wan Xuan menatapnya dalam diam. Ia bahkan tak lagi menghunus pedangnya—senjata itu justru kembali melekat tenang di balik punggungnya, seolah tak dianggap perlu.

“Kau... biarkan aku pergi. Jika kau bersikeras ingin membunuhku di sini, cepat atau lambat tuanku akan mencarimu dan membalaskan dendam ini,” kata sosok bertopeng itu, berusaha mengulur waktu sebisa mungkin.

“Setidaknya, jika kau membiarkanku pergi sekarang, kami akan melupakan seluruh masalah ini seolah tak pernah terjadi,” lanjutnya, berharap kata-katanya cukup meyakinkan.

Namun pria itu jelas salah perhitungan ketika mencoba mengalihkan perhatian Wan Xuan. Padahal sejak awal, Wan Xuan sudah menyadari apa yang sebenarnya coba dilakukan sosok itu.

Diam-diam, sosok bertopeng itu berusaha memulihkan tenaga dalamnya secara perlahan, mengira Wan Xuan tak menyadarinya sama sekali.

“Mati atau tidak, semua bergantung pada jawabanmu...”

Suara Wan Xuan menggema rendah, namun membawa bobot tekanan yang membuat siapa pun merinding mendengarnya—seolah ucapan itu telah menjadi vonis mutlak bagi sosok di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya kalian lakukan?” tanya Wan Xuan, sembari melirik tajam ke arah peti kayu yang masih tergenggam di tangan sosok itu.

“Dan... siapa dalang sesungguhnya di balik semua ini?”

Sosok bertopeng itu merasakan tekanan luar biasa dari pertanyaan tersebut. Ia sadar sepenuhnya bahwa satu kesalahan kecil dalam menjawab bisa berarti akhir dari nyawanya.

Namun jika ia mengatakan kebenaran sepenuhnya, situasi justru bisa menjadi jauh lebih kacau dari yang ia bayangkan.

Ia sendiri tak mengetahui identitas asli pemuda bertopeng musang di hadapannya. Ia hanya bisa menduga-duga, kemungkinan besar sosok ini adalah salah satu orang dari pihak penjaga kota.

Membocorkan informasi rahasia sama saja dengan bunuh diri perlahan. Namun dalam situasi sesulit ini, ia tak punya banyak pilihan lain.

“Kami... kami hanya menjalankan perintah dari sebuah organisasi dunia bawah,” ungkapnya akhirnya, suaranya bergetar meski berusaha keras menyembunyikan kegugupan.

Angin malam kembali berembus, membawa hawa dingin yang menyelimuti ketegangan yang semakin menebal di antara keduanya. Wan Xuan masih berdiri tegak tanpa berubah posisi. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya, namun dari balik topeng musangnya, tatapan matanya seolah mampu menembus celah sekecil apa pun dalam kebohongan.

“Aku tak tahu persis siapa dalang di balik semua perintah ini... mungkin rekanku yang satunya mengetahui sesuatu lebih banyak, tapi dia sudah mati sekarang...”

Sosok itu menunduk sejenak, seolah menyesali kata-kata yang baru saja terlontar dari mulutnya sendiri.

“Organisasi itu... mereka menyebut diri mereka sebagai Kelompok Lotus Merah. Aku hanya pembunuh bayaran rendahan yang menerima perintah, tak lebih.”

Wan Xuan menatapnya lekat, mencoba menilai kejujuran di balik setiap kata yang diucapkan sosok bertopeng itu.

“Untuk apa jantung dan mata itu dikumpulkan?”

Sosok itu terdiam sesaat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya di balik topeng.

“Aku... aku sungguh tak tahu untuk apa persisnya. Kami hanya diperintahkan mengumpulkan dan mengantarkannya ke tempat yang telah ditentukan.”

Wan Xuan menghela napas pelan. Ia sadar tak akan bisa menggali informasi lebih dalam lagi dari sosok bertopeng di hadapannya.

Ia tahu betul pria itu berusaha menutupi kebenaran dengan melontarkan informasi palsu, sekadar mengulur waktu hingga tenaga dalamnya benar-benar pulih.

“Baiklah, setidaknya gerak-gerikmu berkata jujur,” katanya dengan nada dingin, tanpa ekspresi berarti.

Sosok bertopeng itu tertegun sesaat. Ia sadar niatnya sudah terbaca sepenuhnya, dan tak ada gunanya lagi berpura-pura.

Sebelum Wan Xuan sempat bergerak, sosok bertopeng itu lebih dulu mengambil tindakan nekat.

Sebilah logam pucat muncul tiba-tiba dari balik lengan jubahnya. Ia mengayunkan tangan dengan kecepatan luar biasa, hingga nyaris mustahil ditangkap oleh mata biasa.

Tatapan matanya di balik topeng berkilat dingin, penuh tekad membunuh.

“Kalau sudah ketahuan... biarkan saja. Lagi pula, kau akan mati sekarang juga!” geramnya tajam, suaranya bercampur amarah dan keputusasaan.

Hanya dalam satu tarikan napas, bilah pisau sepanjang kurang dari setengah meter itu melesat hingga berhenti beberapa inci dari wajah Wan Xuan. Namun anehnya, Wan Xuan sama sekali tak menunjukkan sikap waspada—ia hanya berdiri diam, seolah tak terjadi apa pun.

Crak!

Topeng musang yang dikenakan Wan Xuan langsung retak dan terbelah menjadi dua bagian, jatuh berkeping ke tanah.

Sosok bertopeng itu tersenyum puas, wajahnya dipenuhi rasa kemenangan yang meluap-luap. Ia yakin telah berhasil mengenai targetnya, membuktikan bahwa tipu dayanya membuahkan hasil sempurna.

“Gahaha! Berani sekali kau meremehkanku? Tamat sudah riwayat—”

Namun kepuasan atas kemenangan itu hanya berlangsung sepersekian detik. Kata-katanya terpotong di tengah jalan, tak pernah sempat selesai.

Napasnya mendadak tercekat di tenggorokan, sebelum cairan merah kental menyembur deras dari mulutnya.

Wan Xuan—yang seharusnya sudah tewas dengan kepala terbelah dua—kini justru berdiri tenang di sebelah kiri pria bertopeng itu, seolah tak pernah berpindah dari tempatnya sedari awal.

Tatapannya tetap dingin, bahkan tanpa sedikit pun melirik ke arah lawannya. Sementara itu, pedang di tangannya baru saja melintas cepat sebelum akhirnya kembali tersarung dengan sempurna.

Kecepatan gerakan tubuhnya berhasil menciptakan ilusi sesaat yang sepenuhnya menipu penglihatan lawannya.

Topeng rubahnya terbelah menjadi dua, namun Wan Xuan sendiri sama sekali tak terluka. Bahkan sehelai rambutnya pun seolah tak pernah tersentuh ujung pisau itu.

Pedang di tangannya bergerak mengikuti irama tubuhnya dengan presisi sempurna. Hanya dalam sekejap mata, ia telah menghunus, menebas, lalu menyarungkannya kembali—semua dalam satu gerakan yang nyaris tak terlihat.

Hasilnya, kepala sosok bertopeng itu menggelinding di atas tanah dengan bunyi yang memilukan, terlepas begitu saja dari lehernya.

Darah segar menyembur deras dari leher yang terpotong rapi, berjatuhan bagai air mancur merah kental yang membasahi tanah di sekitarnya.

Angin malam kembali berembus, membawa hanyut ketegangan yang sempat menggantung di udara.

Tubuh tanpa kepala itu masih berdiri kaku sesaat, seolah belum menyadari bahwa nyawanya telah direnggut, sebelum akhirnya roboh perlahan ke tanah. Sementara kepalanya tergeletak diam, menggelinding pelan seperti buah kelapa yang baru saja jatuh dari pohonnya.

Wan Xuan melangkah mendekat, memungut topeng bekas milik sosok yang baru saja ia bunuh.

Miliknya sendiri sudah hancur tak berbentuk. Tak ada salahnya menggantinya dengan topeng milik orang yang kini telah tiada—toh, benda itu tak lagi berguna bagi pemilik aslinya.

Ia mengenakan topeng baru itu perlahan, menyesuaikan posisinya di wajah, sebelum menatap sekeliling untuk memastikan tak ada saksi lain yang mengintai dari kegelapan.

Sementara itu, peti kayu yang sempat terjatuh masih tergeletak di atas tanah, tak jauh dari genangan darah yang mulai mengering.

Wan Xuan melangkah mendekat, mengambil peti itu dengan hati-hati, lalu membawanya pergi menembus kegelapan—meninggalkan mayat tanpa nyawa di belakangnya, seolah tak pernah terjadi apa-apa di tempat itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   21. Sekedar Mengingatkan

    Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama

  • Turun Gunung Memikul Takdir   20. Mengulur Kematian

    Sosok bertopeng yang tersisa mengatupkan rahangnya keras-keras. Ia sadar betul bahwa kemampuan lawannya berada jauh di luar jangkauannya, bahkan mustahil untuk ditandingi.Ia menggeretakkan gigi dengan kesal. Tak peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya bisa pasrah sambil mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi terjepit ini.“Kemampuan orang ini sulit dijelaskan dengan akal sehat. Bagaimana caraku menghabisinya? Atau setidaknya, bagaimana caraku bisa melarikan diri dari sini?” batin sosok bertopeng itu, dipenuhi kepanikan yang berusaha ia sembunyikan.Dalam jarak sekitar sepuluh meter, Wan Xuan menatapnya dalam diam. Ia bahkan tak lagi menghunus pedangnya—senjata itu justru kembali melekat tenang di balik punggungnya, seolah tak dianggap perlu.“Kau... biarkan aku pergi. Jika kau bersikeras ingin membunuhku di sini, cepat atau lambat tuanku akan mencarimu dan membalaskan dendam ini,” kata sosok bertopeng itu, berusaha mengulur waktu sebisa mungkin.“Setidaknya, j

  • Turun Gunung Memikul Takdir   19.Pedang Itu Kembali Terhunus

    Matanya menatap tajam di balik topeng rubah, sementara posturnya tetap tegap tanpa kuda-kuda yang berlebihan.Wan Xuan memutar tangannya sedikit. Pedang di balik punggungnya pun ditarik, lalu ditebaskan lurus dari atas.Sosok itu hanya terkekeh getir melihat bagaimana Wan Xuan mengayunkan pedangnya bak seorang petarung pemula.Saat bilah pedang melesat dari sisi kiri dan membidik leher sosok itu, ia mengayunkan bilah pedang di tangannya yang diselimuti denyut tipis hingga menggetarkan ruang.Ding!Hanya dengan sekali tebas, sosok itu dapat membelokkan serangan bilah logam tersebut dengan gerakan sederhana, membuat pedang Wan Xuan bergetar dan berdenting nyaring.Wan Xuan tak terkejut. Ia justru menatap dengan ekspresi datar di balik topeng rubahnya.Ia sengaja membiarkan bilah pedangnya terpental dan memanfaatkan momentum tersebut untuk melompat maju dengan kecepatan kilat.Sosok bertopeng yang berada paling depan itu tertegun. Wan Xuan telah muncul tepat di hadapannya. Bahkan yang le

  • Turun Gunung Memikul Takdir   18. Para Pria Bertopeng

    Gerak-gerik kedua sosok itu terlalu terlatih untuk sekadar pengawal biasa. Langkah mereka ringan, nyaris tak menimbulkan suara sedikit pun, dan mereka bergerak dengan kewaspadaan tinggi—seolah terbiasa menghindari mata-mata yang mengintai.Firasat Wan Xuan langsung berbisik. Ada sesuatu yang tidak beres.Tanpa berpikir panjang, ia mengubah arah tujuannya. Kompleks megah di selatan kota bisa menunggu, kedua sosok ini tampak jauh lebih mencurigakan.Wan Xuan mulai mengikuti mereka dari kejauhan, menjaga jarak aman sambil tetap memastikan kedua sosok itu tak keluar dari jangkauan pandangannya.Mereka bergerak melintasi atap-atap rumah penduduk, menghindari jalur patroli penjaga kota dengan gerakan yang begitu terlatih hingga hampir mustahil terdeteksi oleh orang awam.Wan Xuan mengikuti dengan hati-hati, memastikan auranya tetap tersembunyi rapat.Semakin jauh mereka bergerak, semakin jelas arah tujuan kedua sosok itu—mereka menuju sisi timur Kota Linmeng, sebuah kawasan yang cukup sepi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   17. Bergerak dalam gelap

    Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   16. Peringatan & Keluhan

    Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status