Mag-log inXin Nian duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap dokumen yang sudah bertumpuk rapi di atas meja tanpa benar-benar membacanya. Pikirannya masih dipenuhi kata-kata Wan Xuan yang terus berputar seperti gaung di dalam kepalanya—dalang pembunuhan itu berada di kediaman raja kota.
Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang mulai terasa dingin menembus bajunya. Memang benar, sebagai komandan, ia memegang otoritas besar dalam memerintah pasukan penjaga kota. Namun otoritas itu ada batasnya. Di atas dirinya, masih berdiri sosok yang jauh lebih berkuasa—seseorang yang perintahnya tak boleh dipertanyakan, apalagi ditentang secara terang-terangan. Ia mencoba percaya Wan Xuan tak berbohong. Entah kenapa, meski baru mengenalnya beberapa lama, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya yakin bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya bukanlah dusta belaka. Namun kepercayaan saja tak cukup untuk bergerak gegabah. “Apa aku harus menyelidikinya diam-diam?” gumamnya pelan, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja. “Mungkin secara perlahan... dan tanpa menimbulkan kecurigaan.” Ia tahu betul, satu langkah salah saja bisa membuatnya kehilangan segalanya—jabatan, kepercayaan pasukannya, bahkan mungkin nyawanya sendiri. ... Malam turun perlahan menyelimuti Kota Linmeng, membawa udara dingin yang menyusup ke setiap sudut kota. Namun di jantung kota, di dalam kediaman raja yang menjulang megah, cahaya lilin masih menyala terang di aula pribadi sang penguasa. Hanya siluet bayangan yang tampak duduk tenang di atas singgasana, wajahnya tersembunyi dalam remang cahaya yang sengaja diredupkan. Di hadapannya, berlutut seorang pria dengan pakaian gelap—Bao Sinqing, pemimpin Serikat Qianquicin. Organisasi bayangan yang selama ini menjalankan perintah kotor sang raja: memburu tumbal, mengumpulkan jantung dan bola mata manusia tanpa ampun. “Yang Mulia memanggil hamba,” kata Bao Sinqing, suaranya tenang namun juga di liputi ketakutan. “Aku sudah mendengar tentang kegagalan pertama kalian,” suara Meng Feiyun terdengar rendah, dingin, tanpa emosi berarti. “Seseorang yang tak dikenal berhasil menghabisi dua anak buahmu dengan mudah, bukan?” Bao Sinqing menunduk lebih dalam, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. “Hamba sudah memerintahkan penyelidikan, Yang Mulia. Kami akan segera menemukan pelakunya.” “Hmm... Bertindaklah dengan hati-hati,” lanjut Meng Feiyun, nada suaranya kini menajam seperti pisau. “Aku tak peduli seberapa besar pengorbanan yang harus kalian lakukan. Tapi jangan sampai rencana ini gagal hanya karena kecerobohan kalian sendiri.” “Hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba tak akan mengecewakan Anda lagi,” jawab Bao Sinqing, tak berani sedikit pun membantah atau mengangkat wajahnya. Siluet di atas singgasana itu tak berkata apa-apa lagi, hanya melambaikan tangan pelan sebagai isyarat untuk pergi. ... Jauh di bawah kediaman megah itu, tersembunyi sebuah ruangan yang tak banyak diketahui orang. Cahaya remang dari beberapa lampu minyak menari-nari di dinding batu yang dipenuhi ukiran-ukiran kuno—simbol-simbol asing yang tampak berdenyut pelan, seolah menyimpan kekuatan tersembunyi di dalamnya. Meng Feiyun berdiri sendirian di tengah ruangan itu, menatap lekat ukiran di hadapannya. Wajahnya yang biasa terlihat angkuh dan dingin, kini berubah rapuh—penuh kepiluan yang sulit disembunyikan. Ia berbalik perlahan, menatap ke arah jeruji besi gelap yang berdiri kokoh di sudut ruangan. Di baliknya, tersegel sesosok makhluk menyerupai manusia—seorang perempuan muda dengan wajah pucat pasi, matanya tertutup rapat seolah tertidur dalam kutukan panjang. “Xiang'er...” bisik Meng Feiyun lirih, tangannya terangkat perlahan menyentuh dinginnya jeruji besi itu. Air matanya nyaris menetes, namun ia buru-buru menahannya, mengeraskan rahangnya sendiri. “Ayah akan membawamu kembali,” gumamnya penuh tekad, meski suaranya bergetar menahan luka yang begitu dalam. “Apa pun caranya... apa pun harganya... ayah akan menyelamatkanmu.” Ukiran-ukiran di dinding seolah berdenyut semakin terang mendengar sumpah itu, seakan ikut menjadi saksi bisu atas tekad seorang ayah yang rela menempuh jalan gelap, demi seorang putri yang telah lama hilang dari dunia yang seharusnya ia tinggali.Xin Nian duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap dokumen yang sudah bertumpuk rapi di atas meja tanpa benar-benar membacanya. Pikirannya masih dipenuhi kata-kata Wan Xuan yang terus berputar seperti gaung di dalam kepalanya—dalang pembunuhan itu berada di kediaman raja kota.Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang mulai terasa dingin menembus bajunya.Memang benar, sebagai komandan, ia memegang otoritas besar dalam memerintah pasukan penjaga kota. Namun otoritas itu ada batasnya. Di atas dirinya, masih berdiri sosok yang jauh lebih berkuasa—seseorang yang perintahnya tak boleh dipertanyakan, apalagi ditentang secara terang-terangan.Ia mencoba percaya Wan Xuan tak berbohong. Entah kenapa, meski baru mengenalnya beberapa lama, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya yakin bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya bukanlah dusta belaka.Namun kepercayaan saja tak cukup untuk bergerak gegabah.“Apa aku harus menyelidikinya diam-diam?” gumamnya
Beberapa hari kemudian, masa penahanan Wan Xuan akhirnya berakhir dan ia diperbolehkan beraktivitas kembali dengan bebas. Walaupun begitu, tetap saja ada beberapa pasang mata yang diam-diam mengawasinya, meski hal itu tak begitu ia pedulikan.“Kenapa kau ingin tahu tentang kediaman raja kota?” tanya Xin Nian di dalam ruang kerjanya di markas pusat, menatap Wan Xuan dengan alis sedikit terangkat.“Kenapa tidak? Aku harus mengenal tempat yang kutinggali, agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari,” jawab Wan Xuan santai.Xin Nian menghela napas pelan. Ia tak sepenuhnya memahami apa yang sedang dipikirkan Wan Xuan, namun entah mengapa ia juga tak sanggup menolak permintaan itu begitu saja.Tak lama kemudian, ia mengeluarkan setumpuk dokumen setebal tiga inci dari dalam laci mejanya, lalu berkata pelan, “Ini hanya informasi umum tentang kediaman raja kota. Tapi terus terang, aku curiga kau menyimpan motif tersembunyi di balik semua ini.”Wan Xuan tersenyum simpul mendengarnya. Ia melan
“Haha, pagi-pagi kau sudah membuat keributan, bahkan sampai menggoda seorang wanita.”Tawa Sun Liang pecah saat ia tiba-tiba muncul di sisi ruangan. Wan Xuan menghiraukannya dan kembali duduk di kursi dekat jendela, tak sedikit pun menunjukkan minat pada kehadiran Sun Liang.“Ngomong-ngomong, semalam kau pergi ke mana?” tanya Sun Liang, mencoba mencairkan suasana.“Kenapa kau ingin tahu?” Wan Xuan balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi.Sun Liang menghela napas jengkel, tampak lelah menghadapi sikap dingin Wan Xuan yang tak kunjung berubah.“Sial, sikapnya dingin sekali saat berhadapan denganku, tapi tidak begitu dengan Komandan Xin itu,” batin Sun Liang kesal, membandingkan perlakuan yang begitu berbeda.“Aku tak sedang bercanda kali ini. Aku harus tahu apa yang kau lakukan. Atau setidaknya, dengarkan peringatan yang kukatakan—jangan membuat masalah,” ucapnya, kali ini nada suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.Wan Xuan memandang ke luar jendela, menyaksikan lanskap langi
Wan Xuan melepaskan tekanan Qi yang kuat dari tubuhnya. Gelombang energi itu menyapu ruangan dan menghantam para pengawal Feng Sui yang berusaha mendekat.“Ugh!”Beberapa pengawal langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka terangkat akibat tekanan Qi yang begitu kuat, lalu terpental ke belakang dan menghantam dinding di tepi ruangan dengan suara keras.Brak! Brak!Tubuh mereka jatuh ke lantai satu demi satu, mengerang kesakitan.Bahkan Feng Sui yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia segera menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh, lalu menatap Wan Xuan dengan wajah yang mulai berubah tegang.Ini bukan kali pertama Wan Xuan memperingatkannya dengan cara seperti itu. Namun, Feng Sui terlalu bodoh untuk mengingat peringatan terakhir yang hampir saja merenggut nyawanya.Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah penghinaan yang pernah dilontarkan Wan Xuan kepadanya. Rasa malu itu memenuhi hati dan pikirannya, sampai-sampai ia melupakan bet
Xin Nian berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, wajahnya memerah seperti tomat matang dan pikirannya kacau tak menentu.Saat wajahnya menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya, keanehan itu justru tertangkap jelas oleh beberapa penjaga yang kebetulan lewat, termasuk Feng Sui yang berada tak jauh dari sana.“Huh? Komandan Xin, kenapa ekspresinya seperti itu?” gumam Feng Sui pada dirinya sendiri, mengamati dengan alis terangkat.Ia sempat heran, namun tak lama kemudian sebuah kecurigaan tiba-tiba melintas di benaknya.“Tunggu... arah itu? ...Komandan baru saja meninggalkan tempat bajingan itu ditahan. Jangan-jangan sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya di sana.”Tak mau tinggal diam, Feng Sui segera bergegas menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Ekspresinya berubah serius, dipenuhi kecurigaan yang semakin membesar seiring langkahnya.“Entah apa yang bajingan itu lakukan pada Komandan Xin, sudah pasti sesuatu yang buruk... awas saja kau,” geramnya di sela-sela perjalana
Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama







