LOGINBeberapa hari kemudian, masa penahanan Wan Xuan akhirnya berakhir dan ia diperbolehkan beraktivitas kembali dengan bebas. Walaupun begitu, tetap saja ada beberapa pasang mata yang diam-diam mengawasinya, meski hal itu tak begitu ia pedulikan.
“Kenapa kau ingin tahu tentang kediaman raja kota?” tanya Xin Nian di dalam ruang kerjanya di markas pusat, menatap Wan Xuan dengan alis sedikit terangkat. “Kenapa tidak? Aku harus mengenal tempat yang kutinggali, agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari,” jawab Wan Xuan santai. Xin Nian menghela napas pelan. Ia tak sepenuhnya memahami apa yang sedang dipikirkan Wan Xuan, namun entah mengapa ia juga tak sanggup menolak permintaan itu begitu saja. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan setumpuk dokumen setebal tiga inci dari dalam laci mejanya, lalu berkata pelan, “Ini hanya informasi umum tentang kediaman raja kota. Tapi terus terang, aku curiga kau menyimpan motif tersembunyi di balik semua ini.” Wan Xuan tersenyum simpul mendengarnya. Ia melangkah mendekati Xin Nian, perlahan menutup jarak di antara mereka hingga tersisa beberapa jengkal saja. Xin Nian refleks mundur selangkah. Ia tak sepenuhnya mengerti alasannya, namun tindakan Wan Xuan yang tiba-tiba itu kembali membuat jantungnya berdebar gugup. “A-apa yang—” Xin Nian tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Wan Xuan lebih dulu menaruh telunjuknya tepat di depan bibir gadis itu, membuatnya terdiam seketika. “Aku akan memberimu informasi sebagai gantinya,” ucap Wan Xuan tenang. Sekali lagi, Xin Nian dibuat tertegun dan gugup bukan main. Kali ini bukan kata-katanya yang membuat Xin Nian terkejut, melainkan keberanian tindakan pria itu yang begitu tiba-tiba. Sepanjang hidupnya, Xin Nian tak pernah dibuat segugup ini oleh pria mana pun. Namun entah mengapa, kehadiran Wan Xuan selalu terasa berbeda baginya—sulit dijelaskan, namun begitu terasa. Xin Nian akhirnya tersadar dari lamunannya, lalu bertanya dengan nada masih sedikit gugup, “In-informasi apa maksudmu?” Wan Xuan menarik telunjuknya perlahan dari bibir Xin Nian. Ia tersenyum tipis sesaat, sebelum ekspresinya berubah serius sepenuhnya. “Dalang di balik semua pembunuhan itu berada di kediaman raja kota.” Seketika, atmosfer dalam ruangan itu berubah dingin dan terasa berat, seolah udara sendiri ikut menegang mendengar pernyataan tersebut. Xin Nian tersentak kaget. “A-apa maksudmu? Bagaimana kau bisa berani menuduh kediaman raja kota terlibat dalam kasus pembunuhan?” Wan Xuan tak berusaha menyangkalnya sedikit pun. Justru sikap diamnya yang dingin itu seolah menjadi konfirmasi tegas bahwa informasi tersebut sudah mutlak kebenarannya. “Entah raja kota sendiri atau siapa pun yang bersembunyi di baliknya, dalang di balik seluruh pembunuhan di kota ini pasti berada di sana,” kata Wan Xuan tegas. Awalnya Xin Nian merasa ragu, hampir mustahil rasanya untuk langsung memercayai tuduhan seberat itu. Namun ia cukup cerdas dan tanggap untuk tidak langsung menolak mentah-mentah. “Kau yakin dengan ucapanmu ini?” tanya Xin Nian, mencoba menahan gejolak dalam dadanya. Wan Xuan mengangguk pelan, lalu menjelaskan dengan nada tenang, “Sejauh ini, jejak pembunuh itu tak pernah mengarah jelas ke satu tempat—seolah ia menyatu sempurna dengan kota ini. Membunuh, lalu menghilang tanpa jejak. Mengabaikan penjagaan kota yang begitu ketat. Menurutmu, bagaimana mungkin mereka bisa bertindak sebebas itu tanpa perlindungan dari pihak yang berkuasa?” Pernyataan itu membuat Xin Nian terkejut sekaligus merinding hebat. Sebagai komandan penjaga kota, sejauh ini ia bahkan tak pernah menerima satu pun informasi yang benar-benar berguna, apalagi sampai menduga bahwa dalang pembunuhan itu justru berasal dari dalam lingkaran kekuasaan Linmeng sendiri. “Mu-mustahil,” gumamnya, masih dilanda keterkejutan yang mendalam. “Kalau itu benar, berarti selama ini penyelidikan penjaga kota hanya berputar-putar tanpa arah yang jelas,” lanjutnya lirih, tangannya mengepal erat di atas meja kerja. Wan Xuan menatapnya dalam diam, membiarkan Xin Nian mencerna sendiri beratnya kebenaran yang baru saja ia dengar. “Aku tak meminta kau langsung memercayai semua ucapanku begitu saja,” kata Wan Xuan akhirnya. “Tapi setidaknya, mulai perhatikan pola pergerakan di sekitar kediaman raja kota. Jawabannya mungkin akan muncul dengan sendirinya.” Xin Nian menatap dokumen tebal yang masih tergeletak di atas mejanya, pikirannya kini dipenuhi kekacauan antara tugas, kesetiaan, dan kebenaran yang mulai terasa begitu rapuh. “Kalau memang benar begitu... aku harus berhati-hati dalam mengambil keputusan,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menoleh sekali lagi ke arah Wan Xuan, mencoba mencari secercah petunjuk dari wajah datar pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan tenang yang menyimpan begitu banyak rahasia.Xin Nian duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap dokumen yang sudah bertumpuk rapi di atas meja tanpa benar-benar membacanya. Pikirannya masih dipenuhi kata-kata Wan Xuan yang terus berputar seperti gaung di dalam kepalanya—dalang pembunuhan itu berada di kediaman raja kota.Ia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang mulai terasa dingin menembus bajunya.Memang benar, sebagai komandan, ia memegang otoritas besar dalam memerintah pasukan penjaga kota. Namun otoritas itu ada batasnya. Di atas dirinya, masih berdiri sosok yang jauh lebih berkuasa—seseorang yang perintahnya tak boleh dipertanyakan, apalagi ditentang secara terang-terangan.Ia mencoba percaya Wan Xuan tak berbohong. Entah kenapa, meski baru mengenalnya beberapa lama, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuatnya yakin bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya bukanlah dusta belaka.Namun kepercayaan saja tak cukup untuk bergerak gegabah.“Apa aku harus menyelidikinya diam-diam?” gumamnya
Beberapa hari kemudian, masa penahanan Wan Xuan akhirnya berakhir dan ia diperbolehkan beraktivitas kembali dengan bebas. Walaupun begitu, tetap saja ada beberapa pasang mata yang diam-diam mengawasinya, meski hal itu tak begitu ia pedulikan.“Kenapa kau ingin tahu tentang kediaman raja kota?” tanya Xin Nian di dalam ruang kerjanya di markas pusat, menatap Wan Xuan dengan alis sedikit terangkat.“Kenapa tidak? Aku harus mengenal tempat yang kutinggali, agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari,” jawab Wan Xuan santai.Xin Nian menghela napas pelan. Ia tak sepenuhnya memahami apa yang sedang dipikirkan Wan Xuan, namun entah mengapa ia juga tak sanggup menolak permintaan itu begitu saja.Tak lama kemudian, ia mengeluarkan setumpuk dokumen setebal tiga inci dari dalam laci mejanya, lalu berkata pelan, “Ini hanya informasi umum tentang kediaman raja kota. Tapi terus terang, aku curiga kau menyimpan motif tersembunyi di balik semua ini.”Wan Xuan tersenyum simpul mendengarnya. Ia melan
“Haha, pagi-pagi kau sudah membuat keributan, bahkan sampai menggoda seorang wanita.”Tawa Sun Liang pecah saat ia tiba-tiba muncul di sisi ruangan. Wan Xuan menghiraukannya dan kembali duduk di kursi dekat jendela, tak sedikit pun menunjukkan minat pada kehadiran Sun Liang.“Ngomong-ngomong, semalam kau pergi ke mana?” tanya Sun Liang, mencoba mencairkan suasana.“Kenapa kau ingin tahu?” Wan Xuan balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi.Sun Liang menghela napas jengkel, tampak lelah menghadapi sikap dingin Wan Xuan yang tak kunjung berubah.“Sial, sikapnya dingin sekali saat berhadapan denganku, tapi tidak begitu dengan Komandan Xin itu,” batin Sun Liang kesal, membandingkan perlakuan yang begitu berbeda.“Aku tak sedang bercanda kali ini. Aku harus tahu apa yang kau lakukan. Atau setidaknya, dengarkan peringatan yang kukatakan—jangan membuat masalah,” ucapnya, kali ini nada suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.Wan Xuan memandang ke luar jendela, menyaksikan lanskap langi
Wan Xuan melepaskan tekanan Qi yang kuat dari tubuhnya. Gelombang energi itu menyapu ruangan dan menghantam para pengawal Feng Sui yang berusaha mendekat.“Ugh!”Beberapa pengawal langsung kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka terangkat akibat tekanan Qi yang begitu kuat, lalu terpental ke belakang dan menghantam dinding di tepi ruangan dengan suara keras.Brak! Brak!Tubuh mereka jatuh ke lantai satu demi satu, mengerang kesakitan.Bahkan Feng Sui yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia segera menahan tubuhnya agar tidak ikut terjatuh, lalu menatap Wan Xuan dengan wajah yang mulai berubah tegang.Ini bukan kali pertama Wan Xuan memperingatkannya dengan cara seperti itu. Namun, Feng Sui terlalu bodoh untuk mengingat peringatan terakhir yang hampir saja merenggut nyawanya.Yang terus terngiang di kepalanya hanyalah penghinaan yang pernah dilontarkan Wan Xuan kepadanya. Rasa malu itu memenuhi hati dan pikirannya, sampai-sampai ia melupakan bet
Xin Nian berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, wajahnya memerah seperti tomat matang dan pikirannya kacau tak menentu.Saat wajahnya menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya, keanehan itu justru tertangkap jelas oleh beberapa penjaga yang kebetulan lewat, termasuk Feng Sui yang berada tak jauh dari sana.“Huh? Komandan Xin, kenapa ekspresinya seperti itu?” gumam Feng Sui pada dirinya sendiri, mengamati dengan alis terangkat.Ia sempat heran, namun tak lama kemudian sebuah kecurigaan tiba-tiba melintas di benaknya.“Tunggu... arah itu? ...Komandan baru saja meninggalkan tempat bajingan itu ditahan. Jangan-jangan sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya di sana.”Tak mau tinggal diam, Feng Sui segera bergegas menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Ekspresinya berubah serius, dipenuhi kecurigaan yang semakin membesar seiring langkahnya.“Entah apa yang bajingan itu lakukan pada Komandan Xin, sudah pasti sesuatu yang buruk... awas saja kau,” geramnya di sela-sela perjalana
Matahari menyingsing dari arah timur, menerangi Kota Linmeng dengan kilau keemasan yang penuh kehangatan.Embun beku akibat dinginnya malam perlahan mencair, menciptakan kilau indah dari pantulan sinar matahari pada rerumputan dan helai-helai dedaunan.Markas pusat penjaga kota kembali disibukkan oleh penyelidikan kasus pembunuhan. Beberapa prajurit penyidik sudah dikerahkan untuk menyisir setiap sudut kota.Hanya saja, Komandan Xin Nian tak tampak senang. Ekspresi wajahnya agak cemberut, menyimpan sedikit... kecurigaan yang enggan ia ungkapkan.“Huh... ke mana orang itu pergi? Wan Xuan seharusnya sadar dirinya berada dalam kondisi yang tak menguntungkan sekarang, tapi dia justru menghilang begitu saja,” gumamnya kesal.Xin Nian berjalan tergesa menuju kediaman tempat penahanan Wan Xuan. Mendengar kabar bahwa Wan Xuan menghilang dari tempatnya sudah cukup membuat jantungnya berdebar tak menentu.“Untung saja Feng Sui belum mengetahui apa pun. Kalau tidak, dia pasti jadi orang pertama







