FAZER LOGINTia membeku."Aku ini perempuan sundal tukang selingkuh."Ibunya tiba-tiba tertawa kecil, tetapi suara itu terdengar getir dan tidak wajar."Aku juga pembunuh!""Ibu..." panggil Tia khawatir. Ia tidak pernah melihat ibunya seperti ini."Tapi aku begini karena suamiku mengabaikanku!" Ibunya tiba-tiba menepuk dadanya keras."Aku berusaha mencari perhatiannya sampai mabuk-mabukan. Tapi apa yang dia lakukan? Dia malah mengutus adiknya untuk mengurusku."Ibunya kini menangis tersedu-dulu. "Akibatnya apa? Aku hamil!" Ibunya menjerit keras."Dan dia malah makin membenciku." Kini ibunya menangis meraung-raung. Tangisan ibunya membuat Clara, Desy dan Rima berlari turun. "Kamu mau apa? Menghinaku? Tau apa kamu soal penderitaanku?" Ibunya kini menjambaki rambutnya sendiri.Rima yang melihat tingkah aneh ibunya, ketakutan. Ia mengigiti kukunya sendiri dengan tangan gemetaran. Tia memberi isyarat agar Clara dan Desy, agar kembali membawa Rima masuk. Sikap ibunya tampak aneh. Tanpa perlu disuru
Tia berlari turun dari mobil bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti di rumah Clara. Kerumunan orang di depan rumah membuatnya jantungan. Belum masuk ke dalam rumah saja suara teriakan Bulik Rina yang memaki-maki ibunya terdengar sangat jelas."Dasar lonte! Bisa-bisanya kamu selingkuh dengan Mas Usman. Sampai punya anak lagi. Moralmu di mana, Mbak?!"Tia mempercepat langkah. Namun, sebelum mencapai pagar, kecemasannya berubah menjadi kepanikan.Beberapa mobil stasiun televisi terparkir di sisi jalan. Kamera-kamera besar terlihat di tangan sejumlah pewarta infotainment. Bahkan ada beberapa orang yang sibuk merekam dengan ponsel.Tia mengumpat dalam hati. Nama baik keluarga Rahmadsyah memang sudah buruk belakangan ini. Kalau keributan ini diberitakan, sedikit nama baik yang tersisa akan hancur. Infotainment pasti akan menggorengnya habis-habisan. Judulnya akan dibuat seprovokatif mungkin demi menaikkan rating.Tia menarik napas panjang, lalu menerobos kerumunan. Begitu sampai
Tia membuka mulutnya. Ia ingin sekali menyanggah kata-kata Riffat. Sayangnya ia tidak bisa menemukan alasan yang tepat. Akhirnya ia menutup mulutnya kembali."Apa saya sudah bisa melanjutkan memotong rambutnya, Mbak?" tanya Adel ragu-ragu."Lanjutkan saja, Del. Kamu bisa menunggu sampai sore kalau terus menunggunya," dengkus Riffat. Ia dongkol dengan kekeraskepalaan Tia. Gadis ini batu sekali hingga ke pembuluh darahnya. Tia pun memutuskan untuk mengakhiri pertikaian. Energinya habis jika harus bertengkar subuh-subuh begini.Setelah keributan mereka mereda, pintu ruangan berayun beberapa kali. Beberapa orang anak buah Riffat masuk ke ruangan dengan rambut separuh terbakar. Saat itulah Tia baru menyadari sesuatu. Rupanya bukan hanya Pak Khalid dan Riffat yang masuk ke dalam rumahnya. Tetapi anak-anak buah mereka juga. Saat ini mereka duduk berjajar menunggu giliran untuk merapikan rambut-rambut mereka.Tia yang sudah selesai berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Ia baru tahu kalau ke
Setelah menjalani pemeriksaan, dokter akhirnya memberikan kabar bahwa kondisi Tia dan Riffat cukup baik.Keduanya tidak mengalami luka serius dan diperbolehkan pulang. Berbeda dengan Pak Khalid. Luka bakar pada kedua tangannya membuat dokter menyarankan agar ia menjalani perawatan di rumah sakit."Sebaiknya Bapak rawat inap dulu. Luka bakarnya perlu dipantau. Takutnya akan menjadi infeksi," ujar dokter.Pak Khalid menggeleng."Saya pulang saja.""Pak, saya sarankan—""Di rumah saya ada fasilitas kesehatan," terang Pak Khalid.Dokter terdiam. Pak Khalid melanjutkan dengan tenang."Termasuk dokter pribadi dan perawat. Saya akan dirawat dengan baik di sana."Melihat Pak Khalid benar-benar tidak berniat mengubah keputusan, dokter jaga akhirnya setuju."Baik. Tapi kalau ada keluhan atau kondisi Bapak memburuk, segera kembali ke rumah sakit."Pak Khalid mengangguk."Baik, Dokter. Terima kasih."Tak lama kemudian, mereka meninggalkan rumah sakit. Di depan lobi, sebuah mobil sudah menunggu.A
"Baik. Semua keterangan kalian ini akan kami catat. Dugaan awal kebakaran ini disengaja. Kami akan melakukan penyisiran dan mengumpulkan barang bukti dulu."Polisi itu kemudian mencatat sesuatu."Keterangan saat ini sudah cukup. Nanti kami akan meminta keterangan lebih lengkap setelah kondisi kalian semua memungkinkan."Seorang petugas medis kemudian menghampiri mereka."Pak, Mbak, kami minta semuanya segera naik ambulans. Yang mengalami luka bakar harus diperiksa, begitu juga yang menghirup banyak asap."Tia langsung menggeleng."Saya tidak apa-apa. Cuma sedikit sesak tadi. Sekarang sudah lebih baik."Pak Khalid yang sejak tadi diam tiba-tiba bersuara."Bawa kami semua. Dia juga harus diperiksa."Tia menoleh pada Pak Khalid."Saya benar-benar tidak apa-apa."Pak Khalid tidak menjawab Tia. Ia justru menatap petugas medis."Di dalam sana dia menghirup asap hitam cukup banyak. Kamarnya sudah penuh asap ketika kami menemukannya."Petugas medis langsung mengangguk."Kalau begitu memang ha
Sirene mobil pemadam kebakaran meraung memenuhi malam. Beberapa petugas masih sibuk menyemprotkan air ke bangunan yang sebagian besar sudah dilalap api. Asap hitam membubung tinggi, sementara warga berkerumun di sekitar lokasi dan polisi memasang garis pembatas.Di halaman, Tia masih terduduk dengan tubuh menggigil. Wajahnya menghitam penuh jelaga. Bau asap menguar dari rambut dan pakaiannya."Syukurlah kamu selamat, Tia!"Bu Astri langsung berlari menghampirinya. Rima menyusul dari belakang dan langsung memeluk kakaknya erat-erat."Kak Tia, Rima takut sekali tadi!" Tia yang masih lemas dan batuk-batuk hebat hanya mampu mengangkat kedua tangannya untuk memeluk Rima. "Kamu nggak apa-apa?” tanya Bu Astri dengan suara bergetar."Aku nggak apa-apa, Bu," jawab Tia diselingi batuk-batuk.Petugas medis segera datang memeriksa kondisinya dengan teliti. Terutama pernafasannya. "Syukurlah, Mbak baik-baik saja. Istirahat sebentar di sini ya. Saya akan memeriksa yang lain."Tia mengangguk. Dir







