แชร์

Part 99 : Menolak Diakui

ผู้เขียน: Cloudberry
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-22 17:40:43

Suasana di ruang kerja Lachlan Vladimir semakin menyesakkan. Uap kemarahan dari Stewart dan Dashiell perlahan mendingin, berganti dengan ketegangan yang lebih berat saat Lachlan kembali bersuara dengan nada yang tak terbantahkan. Ia berdiri tegak, bayangannya jatuh memanjang di atas karpet Persia merah tua, memberikan kesan raksasa yang tak tergoyahkan.

​"Dengar baik-baik," ujar Lachlan, suaranya kini tenang namun mengandung ancaman. "Emilia tidak bersalah sedikit pun atas asal-usulnya. Dia t
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Velvet Bloodline   Part 108 : Terhasut

    Emilia melemparkan sebuah vas porselen mahal ke arah dinding marmer kamarnya. Suara pecahannya berdenting nyaring, namun itu tidak cukup untuk meredam amarah yang membakar dadanya. ​"Dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya!" teriak Emilia pada bayangannya di cermin. "Lachlan, kasih sayang para pengawal, bahkan burung-burung sialan milik Lachlan itu lebih suka menyebut namanya daripada namaku!" ​Eavi Li masuk ke kamar putrinya dengan langkah tenang, seolah suara pecahan porselen itu hanyalah musik latar yang biasa. Ia melihat Emilia yang napasnya tersengal-sengal. ​"Berhentilah bersikap seperti anak kecil, Emilia," ujar Eavi dingin. "Kemarahanmu hanya menunjukkan betapa lemahnya kau di depan Kesia." ​"Lemah?" Emilia menoleh dengan mata merah. "Mama, dia sekarang di Nusantara, mendekati keluarga Soertja! Dia mendekati Thomas Percy! Jika dia tahu bahwa Thomas adalah anak kandung Malacy yang dulu selamat dari kebakaran itu, dan jika dia berhasil mengambil hati Opa Mingzhe... pos

  • Velvet Bloodline   Part 107 : Perampok Bersayap

    Lachlan terdiam sejenak. Matanya melirik ke arah laci meja yang dimaksud Bara. Itu adalah benih biji labu yang sebenarnya ingin ditanam Lachlan di kebun rahasianya—sebuah hobi kecil yang ia lakukan untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Namun, setiap kali ia mencoba menanamnya, hasilnya selalu nihil. ​"Kau tidak boleh mengambilnya, Bara," keluh Lachlan, suaranya terdengar sangat lelah, hampir seperti rengekan seorang pria yang kehilangan otoritas di rumahnya sendiri. "Aku sudah mencoba menanam benih itu tiga kali bulan ini. Tapi apa hasilnya? Gagal total! Semuanya hilang sebelum sempat tumbuh." ​Kesia, yang mendengar percakapan itu lewat telepon, tidak tahan untuk tidak menyela. "Tunggu, Lachlan. Kau mencoba berkebun lagi? Bukankah terakhir kali tanaman tomatmu juga ludes?" ​"Ini lebih parah, Kesia," keluh Lachlan pada putrinya. "Setiap kali aku menaruh biji itu di tanah, atau bahkan baru saja membukanya di teras, Kaka atau Kiki pasti muncul dari langit. Mereka itu kakatua Maca

  • Velvet Bloodline   Part 106

    Kesia menyandarkan kepalanya di sofa beludru apartemennya di Plaza Imperium Puri. Dari ketinggian ini, kerlap-kerlip lampu Jakarta Barat terlihat seperti permata yang berserakan, kontras dengan kegelapan Waduk Jatiluhur yang baru saja ia tinggalkan. Di tangannya, sebuah gelas berisi teh hangat mengepulkan uap tipis. ​Ponselnya yang tergeletak di meja kopi bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat detak jantung Kesia sedikit melambat: Lachlan Vladimir. ​Kesia menggeser layar dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. ​"Kesia..." Suara berat dan serak itu terdengar di seberang sana. Ada nada kerinduan yang sangat dalam, tipe suara yang hanya dikeluarkan sang Iblis Rusia ketika ia berbicara dengan "putrinya". "Bagaimana keadaanmu di Nusantara? Aku baru saja melihat laporan cuaca di sana... sangat panas. Apa kau baik-baik saja?" ​"Aku baik, Otets (Ayah)," jawab Kesia lembut, matanya menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Jangan khawatir. Nusantara adalah rumahku, aku tahu

  • Velvet Bloodline   Part 105

    Kesia melangkah masuk ke dalam koridor, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer. Ia menangkap sisa-sisa percakapan telepon Theo yang baru saja terputus. Dengan gerakan santai, ia bersandar di pilar besar, melipat tangannya di dada, dan menatap Theo dengan tatapan yang sangat meremehkan. ​"Sudah selesai sesi pengaduannya, Theo?" suara Kesia memecah keheningan, membuat Theo tersentak dan nyaris menjatuhkan ponselnya. ​Kesia melangkah mendekat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang menusuk. "Kau menyebutku monster di depan Thom? Menarik. Sepertinya ingatanmu sangat pendek jika menyangkut dosamu sendiri." ​Theo mencoba membalas tatapannya, namun matanya bergetar. "Itu... itu berbeda. Aku melakukannya karena terpaksa!" ​"Terpaksa?" Kesia terkekeh dingin. "Baru sebulan yang lalu, Theo. Di Blenheim Palace. Ingat? Sebelum aku sempat tiba untuk mengamankan lokasi, kau sudah lebih dulu mengotori tanganmu. Berapa orang yang kau habisi di lorong belakang i

  • Velvet Bloodline   Part 104 : Bedanya Aku Tidak Munafik

    Theo mundur selangkah, lalu dua langkah, hingga punggungnya menabrak tiang ukir di teras tersebut. Napasnya memburu, matanya terbelalak menatap permukaan air waduk yang kini kembali tenang setelah "pesta" singkat para predator air itu berakhir. ​Bau amis darah yang samar tertiup angin sore membuatnya ingin muntah. Namun, yang lebih membuatnya mual adalah ekspresi Kesia—atau lebih tepatnya, ketiadaan ekspresi di wajah gadis itu. Kesia tetap berdiri tegak, tenang, seolah dia baru saja membuang sampah ke tempatnya, bukan mengirim manusia hidup-hidup ke rahang buaya. ​"Kesia..." suara Theo bergetar, nyaris berupa bisikan ketakutan. "Kau... kau benar-benar monster." ​Kesia memutar tubuhnya perlahan. Cahaya senja yang memudar menciptakan siluet tajam di wajahnya, membuat matanya tampak seperti obsidian yang tak tertembus. "Monster adalah kata yang digunakan orang-orang lemah untuk menyebut mereka yang berani melakukan apa yang perlu dilakukan, Theo." ​"Apa yang perlu dilakukan?! Kau

  • Velvet Bloodline   Part 103 : CQC

    Kesia menerjang. Ia tidak menggunakan senjata api, tapi setiap gerakannya adalah instrumen pembunuh. Dengan teknik CQC (Close Quarters Combat) tingkat tinggi, ia mematahkan pertahanan mereka satu per satu. Ia menghindari sabetan pisau dengan gerakan miring yang tipis, lalu menghantamkan sikunya ke ulu hati lawan, disusul dengan hantaman lutut yang menghancurkan tulang rusuk. ​Dalam kurang dari dua menit, lima pria terlatih itu terkapar di lantai ruang makan. Kesia berdiri di tengah kekacauan, kakinya menginjak leher sang pemimpin penyerang yang masih berusaha merangkak. ​"Siapa yang mengirimmu?" desis Kesia, matanya berkilat dengan aura mematikan yang biasa ia tunjukkan di Kremlin. ​Opa Mingzhe bangkit perlahan, tangannya mencengkeram pinggiran meja. Ia berjalan mendekat, menatap pria yang ia yakini sebagai bagian dari kelompok yang menghancurkan hidup anak dan menantunya 25 tahun lalu. ​"Kesia..." Opa Mingzhe memanggil, suaranya mengandung kekaguman sekaligus kengerian. "Kau.

  • Velvet Bloodline   Part 13 : Bunuh Diri

    Thom menarik napasnya pendek. Menatap kosong langkah sang ayah yang kian menjauh. Thom tak pernah menduga sebelumnya jika ia akan bertemu kembali dengan ayahnya di club petarung Makau, setelah ia beradu gulat dengan Lee dan menanggung kekalahan.Lima belas tahun.Lima belas tahun sudah mereka tidak

  • Velvet Bloodline   Part 12 : Vampire Blood

    Kesia tersenyum miring menyeringai dari dalam pesawat yang akan lepas landas. Melihat Alexander Brown Walikota Saint Petersburg tengah menangani kasus penembakan itu langsung. Berharap ia dapat lepas dari jerat kehancuran didepan mata. Kesia menarik window shade menutup jendela pesawat. Menga

  • Velvet Bloodline   Part 11 : Tidak bermoral?

    "AAAAAAAAAHHHHHHHHHHH_____" Jerit Emilia frustasi sekarang Tuan Lachlan tidak lagi mencintainya sama seperti dulu. Meskipun ia tahu Tuan Lachlan bukanlah ayah biologisnya. Tapi tetap saja Emilia sudah terbiasa dengan perlakuan istimewa dari Lachlan. Ayah tirinya itu bisa membelikannya apa saja y

  • Velvet Bloodline   Part 10 : Walikota Saint Petersburg II

    "Tapi bagaimana dengan Nona Berry, Tuan? Aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri__" Kesia menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan perkataannya. "Tahun ini kita belum tahu konglomerat mana yang akan ia jatuhkan?! Berita-beritanya masih seputar tragedi bencana alam, pembunuhan, dan kecelakaan biasa. B

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status