Viking Wolf: Odyssey of a hybrid Luna

Viking Wolf: Odyssey of a hybrid Luna

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-07-31
โดย:  R. S. Paradise จบแล้ว
ภาษา: English
goodnovel16goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
133บท
3.0Kviews
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Lyra is a weak Omega who has been forced into exile by her Alpha mate after her true identity of being a generational maid and courtesan (the fore-women/ancestors of her lineage were known to be maids) was put out. Unknown to her, she was already carrying the heirs of the Howl Valley Pack and sons of the wicked Alpha Maverick. Lyra finds shelter at an all rogue pack where she is constantly tormented by the leader of the group, Alerik. After having her twin sons, Arik, the ruthless rogue leader keeps forcing himself on her until she escaped with her pubs and into the arms of Alpha Viking, an old warrior with nothing left to his name after losing his only son and heir to a pegan war. Following the death of Alpha Viking, Lyra becomes the Viking Alpha, bestowing all powers into her. Years later, Alpha Maverick would come back seeking for Lyra after hearing rumors of her being a Viking Lord, and to claim his sons. But with his new interference in their lives, and the truth between reality and myth blurs, one thing is clear: a new future is uncertain.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Chapter 1

Kekaisaran Lycos—sebuah negeri agung yang berdiri kokoh di belahan tengah benua, terlindung di balik dekapan dua pegunungan raksasa. Selama ribuan tahun, negeri itu menikmati kedamaian. Asap tipis selalu mengepul dari cerobong rumah-rumah penduduk, pasar tak pernah sepi oleh tawa, dan senyum ramah menjadi pemandangan yang lumrah di setiap sudut kota.

Namun, fajar ketenangan itu mendadak padam.

Dari cakrawala utara, genderang kematian menggema.

Tanah Lycos bergetar. Debu membubung tinggi ketika gerombolan monster mengalir dari perbatasan, memenuhi daratan bak lautan hitam yang tak bertepi.

Goblin-goblin kurus berlari paling depan sambil mengacungkan senjata berlumuran darah. Di belakang mereka, Cyclops bertubuh raksasa melangkah perlahan. Setiap pijakannya meremukkan pepohonan hingga tumbang satu demi satu.

Saat mendongak, langit yang biasanya cerah tak lagi terlihat. Ribuan Wyvern bersama monster predator terbang lainnya mengepakkan sayap, menutupi cahaya matahari. Bayangan mereka menyelimuti seluruh wilayah kekaisaran.

Pemandangan semacam ini hanya pernah tercatat pada masa Perang Besar ratusan tahun silam.

Ini bukan sekadar penyerangan.

Ini adalah invasi Pasukan Kegelapan.

Bel darurat berdentang bertalu-talu. Warga berhamburan keluar rumah sambil menggendong anak-anak mereka. Di pelabuhan, ratusan kapal bergoyang hebat karena dipenuhi pengungsi yang saling berebut tempat. Teriakan, tangisan, dan aba-aba para prajurit bercampur menjadi satu.

Tak seorang pun mengetahui nasib ribuan pasukan garda depan yang dikirim beberapa jam sebelumnya.

Di atas singgasananya, Kaisar Juno duduk terpaku. Kerutan di dahinya semakin dalam.

Ia adalah Penyihir Tingkat Benua. Para jenderal yang berdiri di belakangnya pun memiliki tingkatan yang sama. Nama mereka selama ini cukup untuk membuat kerajaan lain berpikir dua kali sebelum mengangkat senjata.

Namun, di hadapan lautan monster yang tak berujung...

Kekuatan itu terasa begitu kecil.

Apakah ini akhirnya?

Apakah kekaisaran yang dijaga leluhur selama ribuan tahun harus runtuh di tanganku?

"Yang Mulia Kaisar, Anda tidak bisa terus berada di sini. Sebentar lagi gerbang depan akan jebol," ujar sang Perdana Menteri.

"Walau kita gagal mempertahankan tanah ini, setidaknya selamatkanlah garis keturunan takhta Lycos."

Kaisar Juno mengembuskan napas panjang sebelum bangkit dari singgasananya.

"Apa arti seorang Kaisar jika melarikan diri saat negerinya hancur?" ujarnya. "Mau kutaruh di mana mukaku ini saat berhadapan dengan para leluhur di keabadian nanti jika aku memilih menjadi pengecut?"

"Yang Mulia..."

Dengungan memenuhi ruang takhta.

Partikel-partikel cahaya keemasan bermunculan di sekitar tubuh sang Kaisar, berputar mengelilinginya sebelum berkumpul di telapak tangan. Cahaya itu memadat, memanjang, lalu menjelma menjadi sebilah pedang raksasa yang memancarkan aura suci.

"Pedang Suci Pahlawan..." gumam sang Perdana Menteri. "Senjata yang mampu memusnahkan inti kegelapan..."

Cahaya lain menyelimuti tubuh Kaisar Juno, membentuk zirah putih berlapis emas. Jubah kebesarannya berkibar pelan meski tak ada embusan angin.

"Ayo, para pejuang Lycos!"

Pedang sucinya terangkat tinggi.

"Hari ini kita pertahankan tanah kelahiran kita! Jangan biarkan sejengkal pun tanah ini jatuh ke tangan kegelapan! Tunjukkan bahwa anak-anak Lycos akan bertarung sampai napas terakhir!"

"Ayah!"

Sebuah teriakan mendadak memotong pidato megah sang Kaisar. Seluruh atensi di ruang takhta langsung teralih ke arah pintu besar.

Mata sang Kaisar yang semula dipenuhi kobaran api perang seketika melunak saat menatap kedua anaknya yang berlari mendekat. Wajah mereka dipenuhi kecemasan yang sangat. Terutama sang Putri, matanya sudah sembab dan berkaca-kaca seolah berusaha menahan tangis.

"Anak-anakku... mengapa kalian ke sini? Pergilah bersama ibu kalian menuju kapal evakuasi."

"Tidak!" seru sang Pangeran. "Aku akan bertarung di sisi Ayah!"

"I-iya, Ayah..." sahut sang Putri dengan suara bergetar. "Bukankah Ayah sendiri sudah melihat kemampuan sihir kami? Jika kita bertarung bersama, kita masih punya kesempatan."

Kaisar Juno berjalan turun dari altar takhta. Dia mendekati kedua buah hatinya, lalu meletakkan kedua tangannya di pundak mereka masing-masing.

"Justru karena kalian kuat... Ayah ingin kalian hidup." Tatapannya bergantian menatap kedua anaknya.

"Masa depan Lycos tidak lagi berada di tanah yang akan hancur ini. Masa depan itu ada di tangan kalian. Jika kalian mati di sini... nama Lycos benar-benar hanya akan tersisa dalam sejarah."

Air mata sang Putri akhirnya jatuh.

"T-tapi, Ayah..."

"Temani ibu kalian. Lindungi rakyat kita." Senyum tipis terukir di wajah Kaisar Juno. "Selama kalian masih bernapas... Lycos belum berakhir."

Sang Pangeran menggenggam tangan adiknya, lalu menariknya menjauh. Teriakan sang Putri memanggil ayahnya terus terdengar hingga menghilang di balik koridor.

"Yang Mulia..." bisik sang Perdana Menteri.

Kaisar Juno menarik napas panjang.

"Aku tidak apa-apa."

Ia menggenggam pedang sucinya lebih erat.

"Ayo. Maju."

Sang Kaisar melangkah memimpin di garda terdepan, diikuti oleh sisa prajuritnya yang paling setia. Setidaknya, jika takdir mengharuskan mereka gugur di tanah ini, pertempuran terakhir mereka harus bisa mengulur waktu sampai seluruh kapal evakuasi berlayar dengan aman.

Namun, tepat sebelum pasukan kekaisaran mencapai garis depan... sesuatu terjadi.

Sesuatu yang seharusnya mustahil menurut hukum sihir.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

ไม่มีความคิดเห็น
133
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status