LOGIN"Di sini banyak yang bisa dilihat." Tiba-tiba Bas terdengar seperti juru kunci.
Kepalaku mendongak. Sebelum hilang keberanian, aku menyembur. "Bas kayaknya ada yang salah sama koper—woah apa itu?" jeritku kaget dengan sesuatu yang bergerak di bawah kaki kami. Bas tangkas meraih pinggangku, setengah memeluk sebelum aku jatuh ambruk. Dia kaget. Kami masih di tangga, mungkin kalau jatuh kepalaku bisa benjol-benjol terkena bebatuan di sepanjang menggelinding. Mata Bas memindai ke arah di mana aku menunjuk-nunjuk heboh. "Ular?" "Shit!" desisnya. Dia mencengkeram tanganku erat, sementara hitam-hitam panjang licin itu lewat dengan entengnya di bawah tangga, lalu meliuk-liuk di pasir dan menghilang di antara bebatuan. Bulu kudukku meremang. Aku berseru geli. "Bas beneran kan, itu ular?" "Di sini memang rawan, aku sudah mewanti-wanti Noah untuk menggunakan tempat yang wajar"Bas!" Matanya kelihatan melebar terkejut ketika aku menyongsongnya dalam pelukan. Dia bergeming sementara aku merangkul lehernya, merasakan detak jantungnya yang menggila di dadaku. Selama beberapa saat dia tidak merespon, lalu kurasakan lengannya merangkul tubuhku erat, bibirnya menghirup ceruk leherku, bernapas berat di sana. "Kenapa kamu di sini?" Dia berkata bingung. Aku memang berlari duluan keluar dari mobil sementara Ghozali masih sibuk mencari tempat parkir. "Sama siapa kamu ke sini?" ulangnya, nada suaranya tajam. Namun dia menekan punggungku, hingga aku makin membusur, mendekapnya lebih erat, seakan kami belum cukup rapat, seakan dia belum cukup yakin aku berada bersamanya. "Marsha..." Astaga. Aku merindukannya! Aku merindukan suaranya yang memanggilku dengan manja. Aku rindu bagaimana caranya menyebutkan namaku seakan dia sangat memujaku. Aku rindu den
"Nggak mungkin kamu ke sana, kamu masih dalam proses pemulihan." Ghozali langsung menyanggah niatku.Terbiasa dibantah, diabaikan, aku justru semakin keras kepala. Lanjut berdiri, melipat selimut rumah sakit dengan rapi. Ghozali mendengkus pelan."Lagian Bas bukan anak kecil, dia tahu apa yang dia lakukan, dan dia tahu gimana caranya membela diri. Marsha..." Dia menyentuh lenganku karena aku memilih bungkam. "Tolong perhatiin diri kamu sendiri. Kondisi kamu lebih penting.""Aku harus kasih kesaksian, Goz.""Kamu nggak sadar.""Ya nggak pa-pa, aku pasti bermanfaat buat Bas di sana." Kulepas tangannya lembut. "Dia udah bantuin aku, nggak mungkin aku biarin dia sendirian. Bas nggak pantas ditahan, dia nggak salah. Harusnya polisi fokus ke penyelidikan kenapa Om Genta tahu aku ada di rumah itu dan apa motif kejahatannya.""Pasti." Ghozali mengangguk muram. "Polisi pasti akan sampai ke sana Marsha. Tapi sekarang masih dalam penyidikan
Sungguh mengejutkan yang muncul adalah Gumi, dia menghambur masuk ketika melihatku sudah duduk tegak."You awake?" serunya girang.Aku tersentak saat dia menyerbu. Dipeluk erat, baru menyadari kalau tubuh Gumi benar-benar seperti tulang belulang.Dia kurus sekali."Aku tahu kamu bloon, tapi ternyata kamu lebih bloon dari yang aku bayangin."Ghozali meringis. "Gum.""Yah, sorry my word." Ketika mengurai pelukan matanya memburam, dia mengusap pipinya secara kasar. "Kalau mau kabur dari rumah minimal ke tempat yang penjagaannya ketat, kamu itu masih nggak sadar kalau udah terkenal? Atau memang nggak mau peduli aja?"Kutelan ludah susah payah. "Kenapa jadi aku yang dimarahin?""Harus, mau marahin siapa lagi? Nggak ada yang akan bertanggung jawab sama diri kita selain diri kita sendiri, Sa. Kamu bikin semua orang kelabakan." Meski sok galak, tapi nadanya terdengar serak. Dia tidak bisa membendung air mata dan justru
Kesadaranku hilang timbul.Pertama kali membuka mata badanku sakit semua seperti remuk, lalu wajah seorang wanita kelihatan kabur. Dia berteriak memanggil-manggil namaku, tapi tidak ada reaksi yang bisa kuberikan.Wajahnya tampak asing tapi kilatan khawatir kelihatan jelas di matanya."Dia belum merespon." Itulah kata-katanya yang berhasil kudengar sebelum kembali tenggelam dalam kegelapan.Kedua kalinya tersadar, aku berusaha membuka mata, yang terlihat adalah wajah seorang laki-laki, rahang brewok, sudut tajam. Bisa kurasakan tekanan kuat tangannya yang menggenggam tanganku, lalu bibirnya yang berbisik lirih.Mataku mengerjap.Bas?"Aku di sini."Tidak, tapi semuanya terasa kabur, adegan-adegan itu seperti terpotong, dan ketika perlahan menjadi satu di ingatanku, tentang Om Genta, apa yang dia lakukan, malam tahun baru yang meriah.Aku langsung panik, napasku dengan cepat berubah pendek-pendek.
"Mama udah nggak tinggal di sini, Om."Om Genta menyugar kepala, dia tidak memiliki rambut, jadi ganti mengusap wajahnya. Penampilannya sekilas tampak sehat, bugar, dan baik-baik saja.Setelah menipu kami, mengambil seluruh uang tabungan Mama sekaligus mobil, bahkan biaya rumah sakit Gumi, jujur aku merasa ingin muntah saat melihatnya."Om harusnya hubungi Mama.""Yah itulah masalahnya." Beliau mendesah, kembali mengusap wajahnya kasar. "Om baru aja telepon Mama kamu...""Masalah kalian udah kelar?"Dia kelihatan tersiksa, mundur hingga beberapa langkah menjauhi pintu.Aku menelan ludah, oke ini bukan urusanku, tapi karena dia juga hidupku jadi merana, bahkan Mama memaksa aku untuk tidur dengan Bas!"Om benar-benar minta maaf, Sa. Belakangan ini, Om udah berusaha hubungi Mama kamu, membicarakan masalah saat di Malaysia. Untuk sekarang Om belum bisa mengganti semua uang yang Om bawa, tapi Om juga sedang berusaha
Bunda pastilah memberitahu Ghozali di mana aku berada. Sejujurnya aku tuh tidak ingin membuat khawatir, tapi karena mendadak menjadi gelandangan, wajar kalau aku sempat bingung, sebelum akhirnya memilih ke tempat ini. Aku tidak mungkin tinggal di kontrakan bersama Mama karena beliau pasti akan mencak-mencak tantrum dan di saat seperti ini omelan beliau adalah hal terakhir yang ingin kudengar. Ghozali membawa bulgogi, chicken, bahkan salad sayur untuk dinner. Kupikir dia akan membawa makanan khas Bunda seperti di lokasi syuting, ternyata tidak sebab dia takut aku merasa bosan. "Mana mungkin ada yang bisa bosan sama makanan enak, Goz." Saat itu aku langsung membantah. "Kecuali kalau disuruh bayar, pasti beda rasanya." Dia tertawa. "Ini gratis." "Makasih banyak." Aku agak terkejut saat dia ikut berdiri, membantu bebersih di westafal. Jaketnya sudah dilepas, menyisakan polo shirt. Mungkin karena







