Share

Vonis Terakhir untuk Cinta Kita
Vonis Terakhir untuk Cinta Kita
Author: Potato

Bab 1

Author: Potato
"Bu Layla, ada penelepon yang tersambung!"

Yessy, sang produser, membuyarkan rasa gundahku dan memberiku isyarat mendesak.

Aku menarik napas panjang, lalu dengan hati-hati memasukkan laporan pemeriksaan kehamilan itu ke dalam tas. Kemudian, aku menggeser tombol fader mikrofon ke atas.

Terdengar suara seorang gadis yang ceria, dengan sedikit nada bangga yang sama sekali tidak dapat disembunyikan.

"Selamat malam, Bu Layla! Aku jatuh cinta pada seorang profesor di universitasku yang sudah beristri. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan ketujuhnya. Tapi begitu aku kirim pesan yang berisi tanganku terluka saat memotong buah, dia langsung meninggalkan istrinya dan menerjang badai salju demi datang ke tempatku."

Entah kenapa, wajah Arden tiba-tiba terlintas di benakku. Jantungku terasa seakan berhenti sejenak.

"Dik, meski kamu merasa menang, pakai luka ringan untuk menguji sifat manusia dan menghancurkan rumah tangga orang lain sama saja dengan memuaskan dahaga dengan racun."

"Tapi, aku menang telak! Dia pria yang dikenal sangat kaku dan lurus, tapi ... dia perlakukan aku dengan istimewa."

Suamiku juga seperti itu. Di mata orang lain, dia adalah sosok yang dingin dan sulit didekati. Namun, dia mencurahkan semua kesabaran dan kasih sayangnya hanya untukku.

Gadis itu tertawa dan berujar, "Bu Layla, tahu nggak? Baru saja, istrinya menelepon tiga kali berturut-turut untuk tanyakan kabarnya. Coba tebak apa yang terjadi? Dia menolak semua panggilan itu di hadapanku tanpa ragu sedikit pun."

Aku merasa bagaikan disambar petir dan pikiranku mendadak kosong. Tiga panggilan dan semuanya ditolak.

Sebelum aku sempat bereaksi, sambungan telepon sudah terputus. Dengan tubuh gemetar, aku mendongak dan mencoba menelepon balik, tetapi ponselnya sudah tidak aktif.

Tiba-tiba, layar ponselku menyala. Sebuah video berdurasi sepuluh detik tiba-tiba dikirim oleh nomor tak dikenal. Video itu direkam di sebuah restoran privat eksklusif.

Arden adalah pria yang dipandang semua orang sebagai sosok yang menjunjung tinggi moral dan hukum. Namun, dalam video itu, dia duduk dengan pandangan tertunduk dan meletakkan potongan ikan yang sudah dibuang durinya ke piring gadis di sampingnya.

Sementara itu, sebuah mantel hitam tersampir di bahu si gadis. Itu adalah mantel yang dikenakan Arden saat meninggalkan rumah pagi ini.

Di bawah video itu terdapat sebuah pesan.

[ Bu Layla, lihat saja. Dia sudah berhenti mencintaimu sejak lama. ]

Aku telah mengenal Arden selama tujuh tahun. Dia adalah seorang ahli hukum yang sangat mengutamakan efisiensi dalam segala hal. Bahkan saat makan, aku ingat dia pernah mengernyit dan berkata padaku, "Waktu yang terbuang untuk buang duri ikan terlalu banyak. Lebih baik nggak usah makan."

Sekarang, dia justru membuang duri ikan dengan sempurna dan memberikannya kepada gadis lain.

Pemanas ruangan di studio siaran disetel tinggi, tetapi aku justru merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku mencengkeram laporan pemeriksaan kehamilan di dalam tasku begitu erat hingga kertasnya kusut. Tepiannya yang tajam nyaris menggores telapak tanganku.

Aku tidak menelepon balik ataupun mengamuk histeris. Aku hanya mendorong pintu kaca gedung, lalu melangkah keluar dan menyongsong butiran salju pertama ibu kota yang melayang di udara. Saat kepingan salju yang dingin itu menyentuh wajahku, pikiranku tanpa sadar melayang kembali ke tujuh tahun yang lalu.

Tujuh tahun lalu, pada salju pertama, kami bertemu dan jatuh cinta. Saat itu, aku hanyalah penyiar pemula yang baru merintis karier, sedangkan Arden sudah menjadi lektor kepala termuda di universitas hukum dan politik. Dia diundang ke stasiun penyiaran sebagai pakar tamu untuk memberikan edukasi hukum.

Hari itu salju juga turun dengan lebat. Setelah seorang atasan memarahiku habis-habisan karena salah membacakan naskah penting, aku bersembunyi sendirian di tangga darurat di luar studio sambil diam-diam menyeka air mata. Arden-lah yang menyodorkan tisu kepadaku.

Setelah kejadian itu, Arden mulai sering hadir dalam hidupku. Saat aku demam tinggi, dia menjagaku sepanjang malam di apartemen sewaanku, bahkan sambil membawa buku tebal Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Saat aku menjadi sasaran perundungan siber yang brutal, Arden menggunakan keahliannya untuk menyusun surat somasi pengacara bagiku.

Pada hari Arden melamarku, tidak ada bunga mawar ataupun makan malam romantis. Dia hanya mengeluarkan surat perjanjian pranikah yang disusunnya sendiri, lengkap dengan daftar seluruh aset atas namanya.

Arden menatap lekat-lekat ke mataku dan berkata kata demi kata, "Layla, hukum adalah standar moralitas paling dasar, tapi kesetiaan dan cintaku padamu akan jadi prinsip tertinggi dalam hidupku. Maukah kamu biarkan aku jalankan kewajiban untuk merawat dan menafkahimu seumur hidup?"

Aku memercayainya. Aku merasa pria yang menjunjung tinggi aturan dan pengendalian diri itu sedang menawarkan cinta paling eksklusif dan tak tergoyahkan di dunia ini. Namun, apa yang disebutnya sebagai "prinsip tertinggi" itu ternyata tak lebih dari sekadar secarik kertas tak berguna yang siap disobek kapan saja.

Pukul 11.30 malam, aku mendengar suara pintu dibuka. Arden sudah pulang. Dia melepas mantelnya, lalu menggantungnya di dekat pintu masuk. Selain aroma cemara khasnya, aku juga menangkap aroma samar parfum buah yang biasanya dipakai wanita muda pada pakaian itu.

Mengira aku sudah tertidur, Arden tidak menyalakan lampu ruang tamu. Dia langsung masuk ke ruang kerja dan membiarkan pintunya sedikit terbuka. Tak lama kemudian, terdengar suara gumamannya yang pelan dari dalam ruang kerja. Sepertinya, dia sedang menelepon Frendy Kurniawan, teman masa kecilnya.

"Arden, apa kamu sudah gila? Bisa-bisanya kamu bawa gadis itu ke restoran privat hari ini! Apa kamu nggak takut ketemu kenalan kalian yang mungkin akan bocorkan hal itu ke Layla?"

Suara Frendy terdengar dari speaker. "Kamu biasanya begitu menjaga reputasi. Kenapa kamu tiba-tiba begitu perhatian pada seorang mahasiswi? Sekalipun cuma sandiwara juga seharusnya ada batasnya!"

Seluruh tubuhku menegang. Aku menggigit punggung tanganku kuat-kuat sambil menahan napas dalam kegelapan.

Ruang kerja hening sejenak, lalu terdengar bunyi pemantik. Suara Arden berubah dingin saat berkata, "Dia bukan cuma mahasiswi biasa. Dia itu Trisha Syahman."

Frendy terdiam, lalu tiba-tiba tersentak. "Trisha Syahman? Tunggu, jangan bilang dia itu gadis yatim piatu dari desa terpencil yang kamu sponsori selama sepuluh tahun terakhir?"

"Benar."

Suara Arden merendah. "Aku melihatnya tumbuh dari gadis kecil yang kurus kering dan kelaparan menjadi seseorang yang berjuang mati-matian untuk masuk ke universitas ternama tempat aku berada. Frendy, kamu nggak tahu gimana tatapannya saat memandangku. Begitu membara, tapi juga malu-malu."

Dalam kegelapan, aku menancapkan kuku-kukuku ke telapak tangan hingga berdarah. Namun, aku sama sekali tidak merasakan sakit.

"Kamu ... kamu lagi main api!" Suara Frendy terdengar gelisah. "Sekalipun kamu peduli padanya, membiayai pendidikannya saja sudah cukup! Apa kamu benar-benar mau ceraikan Layla, lalu nikahi dia cuma untuk puaskan naluri melindungimu yang nggak berguna itu?"

"Cerai? Mana mungkin aku ceraikan Layla?" Arden menjawab tanpa keraguan sedikit pun, "Layla itu istri yang kupilih dengan baik. Dia punya emosi stabil, mandiri, tegar, bisa urus rumah tangga kami dengan baik. Dia itu sosok istri paling sempurna untuk mendampingiku. Nggak perlu ada yang diubah dalam pernikahanku."

"Lalu, gimana dengan Trisha?"

Arden mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan pelan. "Layla dan Trisha berbeda. Layla tegar dan mandiri, bagaikan sebuah pohon. Bahkan tanpa aku, dia mampu hadapi semuanya sendiri di stasiun radio dan jalani kehidupan yang luar biasa."

"Tapi, Trisha nggak bisa. Dia terlalu rapuh dan nggak punya siapa-siapa selain aku. Kalau aku nggak menjaganya, dunia ini akan melahapnya bulat-bulat."

Suara Arden melembut. "Layla mampu hadapi badai, sedangkan Trisha hanya bisa tumbuh di dalam rumah kaca. Aku akan berikan perlindungan yang dibutuhkan Trisha, tapi posisi istriku akan jadi milik Layla selamanya."

Selama ini, aku mengira dia enggan mengajakku ke acara-acara sosial karena sifatnya memang dingin dan lebih menyukai ketenangan. Ternyata, semua pengecualian dan sikap terang-terangan menunjukkan perhatian, justru dia berikan untuk gadis lain yang tidak pernah merasa aman.

Air mataku mengalir tanpa suara, jatuh dari dagu dan menetes ke mantelku. Aku menunduk dan menyentuh perutku yang masih rata. Perasaan mual yang hebat segera melandaku. Sungguh menyedihkan.

Perlahan, aku bangkit dari sofa dan menyeka air mata di sudut mataku. Hasil tes kehamilan di saku ini seharusnya menjadi hadiah ulang tahun pernikahan ketujuh kami malam ini.

Aku duduk dalam kegelapan hingga fajar menyingsing. Aku tidak mengonfrontasi Arden, tidak membuat keributan atau menangis histeris. Seperti kata Arden, aku memang tegar. Begitu tegar hingga kehancuran batinku pun terjadi dalam diam.

Begitu langit terang, aku menyalakan laptop dan melakukan hal pertama, yaitu menyusun surat kesepakatan cerai. Kemudian, aku melakukan hal kedua, yaitu mengirim pesan kepada seorang direktur stasiun radio di luar negeri.

[ Saya sudah memikirkan tawaran Anda sebelumnya. Saya bersedia pergi ke luar negeri untuk menerima program pelatihan lanjutan. ]

Akhirnya, aku melakukan hal ketiga, yaitu membuat janji temu untuk prosedur aborsi. Di dalam aplikasi, aku melewati menu perawatan kehamilan dan membuka bagian keluarga berencana.

Setelah halaman aplikasi diperbarui, aku memesan prosedur aborsi tanpa rasa sakit. Saat melihat pesan hijau bertuliskan "Janji Temu Dikonfirmasi" di layar, air mataku akhirnya jatuh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 17

    Tujuh tahun.Selama tujuh tahun ini, aku telah memiliki pengaruh besar di dunia media internasional. Pernikahanku dengan Dennis juga bahagia, bahkan aku telah dikaruniai seorang putri yang menggemaskan.Nama Arden sudah lama tidak ada di dalam hidupku lagi. Sementara itu, Arden, seperti belatung yang hidup di selokan, bertahan hidup dengan susah payah selama tujuh tahun di vila yang telah diputus aliran air dan listrik.Tujuh tahun kemudian, pada malam Hari Raya.Ibu kota dilanda badai salju dahsyat yang belum pernah terjadi selama seratus tahun.Di luar jendela, terlihat gemerlap lampu dari rumah-rumah, sementara kembang api yang meriah menerangi separuh langit malam.Suara petasan dan suara tawa menembus angin serta salju. Namun, kamar bayi di vila itu justru sedingin ruang bawah tanah yang paling dalam.Dalam suhu minus 20 derajat, bahkan embusan napas yang keluar dari mulut seketika berubah menjadi uap dingin.Arden mengenakan kemeja usang, meringkuk di samping ranjang bayi tua ya

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 16

    Setelah itu, aku mendengar kelanjutan cerita Arden dari kepala bagian hukumku.Selama berada di ruang ICU, Arden bertahan hidup selama sebulan penuh dengan bantuan selang pernapasan dan mesin sirkulasi darah.Entah berapa kali jantungnya berhenti berdetak, dan entah berapa kali dokter mengeluarkan surat pemberitahuan kondisi kritis. Bahkan dokter utama menghela napas kagum. Katanya, Arden benar-benar berhasil merebut kembali nyawanya dari tangan maut.Arden berhasil bertahan hidup, tetapi juga benar-benar telah kehilangan segalanya. Hari ketika dia dipindahkan ke kamar rawat biasa kebetulan bertepatan dengan hari resepsi pernikahanku.Belakangan, Frendy dengan mata memerah menggambarkan kepada asistenku betapa mengenaskannya keadaan pada hari itu.Sore hari itu, di sebuah kastel kuno yang telah berdiri selama ratusan tahun, aku mengenakan gaun pengantin haute couture yang dihiasi taburan berlian kecil. Aku menggandeng lengan Dennis sambil berjalan perlahan menuju ujung karpet merah yan

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 15

    Dorongan kuat itu langsung membuat luka tusukan di paru-paru dan punggung Arden kembali tertarik! Rasa sakit yang luar biasa seketika menyayat seluruh sarafnya. Tubuhnya yang besar terdorong hingga terguling ke samping.Aku bangkit dari lantai dengan sangat tenang. Aku sama sekali tidak memedulikan Arden yang terbaring di lantai dengan tubuhnya mengejang kesakitan.Aku tidak panik dan segera menjerit untuk memanggil ambulans. Aku juga tidak menerjang maju untuk menutupi lukanya.Aku menepuk-nepuk debu yang menodai mantelku, bahkan frekuensi napasku sama sekali tidak berubah."Apa Anda terluka?" Pengawal dan asistenku bergegas menghampiriku dengan wajah penuh ketakutan.Aku sedikit mengangkat tangan, mengisyaratkan mereka untuk mundur. Aku berbalik, lalu menatap Arden yang terbaring di genangan darah sambil terus menatapku."Arden." Suaraku tidak keras, tetapi terdengar sangat jelas di tengah kekacauan yang terjadi di dalam gedung. Setiap kata yang kuucapkan terasa seperti pisau es, men

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 14

    Jika menyakiti diri sendiri di tengah badai salju sebelumnya hanya menghancurkan harga diri Arden, kejadian tak terduga selanjutnya benar-benar menjatuhkannya ke dalam neraka dan tidak bisa kembali lagi.Satu bulan kemudian, di Pusat Konvensi dan Pameran Internasional Ibu Kota.Aku baru saja menerbitkan buku psikologi perdanaku. Hari ini akan diadakan acara penandatanganan buku yang sangat besar di tempat ini.Luka tusukan pisau di perut Arden bahkan belum sepenuhnya sembuh. Perutnya masih dibalut kain kasa medis yang tebal.Namun, Arden tetap seperti hantu yang tidak berani menampakkan diri. Dia menyogok petugas kebersihan gedung, mengganti pakaiannya dengan seragam kerja yang sederhana, lalu bersembunyi di sudut paling gelap dari sisi belakang meja tempat acara penandatanganan.Arden tidak berani menampakkan diri di hadapanku. Dia takut aku akan kembali meminta satpam untuk mengusirnya. Jadi, dia terpaksa bersembunyi dalam kegelapan.Acara penandatanganan buku sedang berlangsung. Sua

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 13

    Arden gemetar sambil mengulurkan tangan yang berlumuran darah, lalu membukanya dengan lemah ke arahku, seolah-olah sedang menunjukkan ketulusannya dalam menebus kesalahannya."Semua darah yang ada di dalam perutku ... sudah kukembalikan kepadamu …. Layla ... apa amarahmu sudah sedikit mereda?"Arden menatapku dengan penuh harapan. Di matanya berkilauan sorot mata membara yang hanya dimiliki seseorang yang sedang berada di ambang kematian. "Aku sudah membayar dengan setengah nyawaku … Maafkan aku dan pulang bersamaku … ya?"Arden mengira dia sudah berhasil melakukannya.Arden, seorang profesor hukum terhormat, telah melepaskan seluruh harga dirinya, menyakiti dirinya sendiri di tengah jalan, bahkan menusuk perutnya sendiri di hadapanku. Dia bahkan rela menanggung penderitaan fisik paling brutal demi aku. Jadi, meskipun aku adalah bongkahan es yang telah membeku selama ribuan tahun, seharusnya aku sudah luluh oleh darah panas yang mengalir dari tubuhnya, ‘kan? Bukankah meskipun aku me

  • Vonis Terakhir untuk Cinta Kita   Bab 12

    Bulan November di ibu kota menyambut salju pertama pada tahun ini.Tujuh tahun lalu, saat salju pertama turun, Arden memberiku selembar tisu di luar gedung stasiun radio. Itulah awal mula dari hubungan buruk kami.Pada hari ini, tujuh tahun kemudian, salju pertama ini hanya akan menjadi makam yang mengubur sisa harga dirinya yang terakhir.Tepat pukul delapan malam, aku selesai mengikuti rapat video lintas negara. Ketika sepatu hak tinggiku hendak menginjak anak tangga terakhir, terdengar suara seseorang."Layla!"Sesosok bayangan hitam tiba-tiba berlari keluar dengan langkah sempoyongan dari sudut gelap di balik area pepohonan di sebelah kanan gerbang utama. Orang itu tak lain adalah Arden.Dia sudah tidak memiliki sikap dingin, tenang, dan selalu merasa di posisi lebih tinggi sebagai seorang profesor termuda di universitas hukum dan politik waktu itu. Saat ini, dia mengenakan mantel tipis yang sudah kusut. Pipinya tampak cekung akibat tubuhnya yang sangat kurus dalam waktu lama serta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status