Home / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 156. ASAL-USUL ALVARO

Share

156. ASAL-USUL ALVARO

Author: vitafajar
last update publish date: 2026-03-23 23:20:38

Tak lama kemudian, Arini menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang terasa sangat dingin, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang menyedihkan. "Selain itu, aku juga nggak mau jadi penghalang besar di antara kamu dan keluargamu sendiri, Kak," ucapnya sembari terisak pelan.

"Kamu itu anggota keluarga Wijaya. Masa depanmu ada di sana—"

“Masa depanku nggak ditentukan oleh keluarga Wijaya. Aku sendiri yang menentukannya. Lagipula, Wijaya sudah memiliki pangerannya sendiri. Aku hanya a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   160. SELANGKAH MENUJU KEHIDUPAN IMPIAN

    Alvaro menutup map cokelat berisi dokumen masa lalu Arini dengan gerakan yang sangat mantap. Pandangannya tidak beralih sedikit pun dari manik mata Arini, seolah sedang mengunci janji yang baru saja terucap di antara mereka."Rin, kalau kamu sudah yakin, aku nggak mau menunda ini lebih lama lagi," ujar Alvaro dengan nada bariton yang rendah namun sarat akan otoritas.Ia merogoh saku jasnya yang sedari tadi tergeletak di sandaran sofa, lalu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berbahan beludru biru tua. Alvaro meletakkannya di atas meja jati, tepat di samping dokumen perceraian Arini yang kini terasa tidak berarti lagi."Apa ini, Kak?" tanya Arini dengan suara yang sedikit bergetar, jantungnya mendadak berdegup kencang melihat benda itu.Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata, ia perlahan membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin polos yang terbuat dari emas putih. Arini tertegun, ia melihat pantulan cahaya lampu kristal apartemen pada permukaan cincin yang berkilau sempu

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   159. LEMBARAN BARU

    Alvaro yang sedang mengusap punggung tangan Arini seketika menghentikan gerakannya. Ia memiringkan posisi duduknya, memberikan atensi penuh seolah seluruh dunianya kini hanya berpusat pada bibir Arini yang baru saja mengeluarkan suara.Sorot mata Alvaro yang tadinya tajam memikirkan strategi hukum, mendadak melunak, berganti dengan rasa penasaran yang dalam. "Apa itu, Rin? Katakan saja. Nggak ada lagi rahasia yang boleh berdiri di antara kita malam ini," sahut Alvaro dengan nada bariton yang sangat lembut.Arini menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih kencang dari biasanya. Ia menatap lekat ke dalam manik mata cokelat gelap milik Alvaro, mencari kepastian terakhir di sana sebelum ia mengucapkan kalimat yang akan mengubah seluruh hidupnya."Kak, selama ini aku selalu takut. Takut karena statusku, takut karena masa laluku yang gagal, dan takut kalau aku cuma bakal jadi noda di hidupmu," mulai Arini dengan suara yang sedikit bergetar namu

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   158. IKRAR DI RUANG TENGAH

    Keheningan yang dingin itu akhirnya ditinggalkan di belakang saat langkah mereka bergema pelan memasuki area privat. Alvaro perlahan menuntun Arini berjalan menuju sofa di ruang tengah, menjauh dari pintu apartemen yang nyaris menjadi saksi perpisahan pahit mereka.Arini duduk di sana dengan gerakan yang masih sedikit kaku, namun sorot matanya tidak lagi kosong dan hampa seperti sebelumnya. Ia menunduk sejenak, memperhatikan jemarinya sendiri yang mulai kembali terasa hangat setelah sebelumnya sedingin es akibat ketakutan yang mencekam."Tunggu di sini sebentar ya, Rin. Jangan melamun lagi," ujar Alvaro lembut sembari mengusap bahu Arini sekilas guna memberikan ketenangan.Alvaro beranjak menuju dapur dengan langkah yang tegap dan berwibawa, meninggalkan aroma maskulinnya yang masih tertinggal di indra penciuman Arini. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa segelas air putih hangat yang uap tipisnya masih mengepul lembut di udara."Minum ini dulu, pelan-pelan aja biar tenggoroka

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   157. PELABUHAN DI BALIK RAHASIA

    Keheningan apartemen itu seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya dinding rahasia yang selama puluhan tahun membentengi relung hati Alvaro. Alvaro masih melingkarkan lengannya di bahu Arini dengan sangat erat, seolah ia sedang mendekap satu-satunya harta berharga yang tersisa di hidupnya.Ia seolah merasa sangat takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, wanita di hadapannya ini akan kembali meraih koper di sudut ruangan dan menghilang. Ketakutan itu nyata, terpancar dari bagaimana jemarinya yang kokoh sedikit gemetar saat menyentuh helaian rambut Arini yang halus.Arini menyandarkan dahinya di dada bidang Alvaro yang masih terasa hangat, meskipun kemeja mahal pria itu kini sudah tidak serapi biasanya akibat ketegangan tadi. Ia memejamkan mata, mendengarkan detak jantung Alvaro yang perlahan mulai melambat dan menjadi jauh lebih teratur di telinganya.Irama detak jantung itu mendadak menjadi sebuah melodi paling menenangkan bagi jiwa Arini yang sempat koyak akibat intimidasi

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   156. ASAL-USUL ALVARO

    Tak lama kemudian, Arini menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang terasa sangat dingin, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang menyedihkan. "Selain itu, aku juga nggak mau jadi penghalang besar di antara kamu dan keluargamu sendiri, Kak," ucapnya sembari terisak pelan."Kamu itu anggota keluarga Wijaya. Masa depanmu ada di sana—"“Masa depanku nggak ditentukan oleh keluarga Wijaya. Aku sendiri yang menentukannya. Lagipula, Wijaya sudah memiliki pangerannya sendiri. Aku hanya anak kedua dari seorang wanita yang merebut suami orang. Aku sama sekali nggak layak!" potong Alvaro dengan sangat cepat.Suasana di koridor apartemen itu mendadak membeku seiring dengan kata-kata Alvaro yang menggantung di udara malam yang sunyi. Arini tertegun mematung, tangannya yang tadi melingkar erat di pinggang kokoh Alvaro perlahan-lahan mulai melemas karena syok yang menghantam kesadarannya.Ia menatap lekat wajah Alvaro yang kini tampak sangat kelam, di mana rahang pria itu mengeras den

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   155. MENGULANG KESALAHAN

    Pintu apartemen yang setengah terbuka itu seolah menjadi gerbang menuju sebuah perpisahan yang sangat dingin dan menyakitkan bagi mereka berdua. Namun, dekapan Alvaro di pinggang Arini justru terasa begitu panas, seolah pria itu sedang menyalurkan seluruh sisa hidupnya agar wanita itu tidak melangkah keluar.Alvaro memutar tubuh Arini secara perlahan namun pasti, memaksanya untuk saling berhadapan di dalam ruang tamu yang kini terasa remang-remang dan mencekam. Ia menatap sebuah koper kecil yang berdiri di samping kaki Arini dengan tatapan benci, seolah benda mati itu adalah musuh nyata yang ingin merenggut dunianya."Rin, aku mohon banget sama kamu. Letakkan kopermu sekarang juga," bujuk Alvaro dengan suara bariton yang terdengar sangat serak dan bergetar."Kita bicara baik-baik dulu, ya? Jangan langsung ambil keputusan kayak gini," lanjutnya lagi sembari menatap dalam ke arah netra Arini yang nampak sembap akibat tangis.Arini menggelengkan kepalanya dengan lemah, ia mencoba melepas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status