Masuk
Jantung The Jormungandr berdenyut lambat, denyutan kristal Aether yang menjadi penopang hidup kapal perang terbesar Aethelgard. Mala merasakan getaran itu melalui telapak kakinya, sensasi yang akrab dan menenangkan. Ia bersandar pada dinding ruang mesin utama, sebuah ruang yang seharusnya hanya bisa dimasuki oleh insinyur senior dan, tentu saja, ayahnya.
"Kau tidak seharusnya ada di sini, Mala," suara ayahnya, Laksamana Theron, memecah keheningan yang tebal. Nada suaranya tidak marah, hanya mengandung kelelahan yang sudah lama terpendam.
Mala menarik napas, udara di ruangan itu terasa terlalu kaya akan energi mentah. "Ayah, aku harus memastikan resonansinya stabil. Lihatlah pembacaanmu; itu sedikit miring ke arah frekuensi negatif."
Theron mendengus, menggeser pandangannya dari diagram yang melayang di udara. "Itu hanya gangguan sisa pelayaran. Kau terlalu sensitif, Nak. Kekuatanmu itu anomali, bukan barometer kapal."
Anomali. Kata itu selalu terasa seperti belenggu. Di Aethelgard, Hydro-Resonance adalah sesuatu yang dipelajari dengan keras, alat yang harus ditumpulkan agar sesuai dengan struktur komando yang didominasi pria. Mala bisa merasakan setiap tetes air di radius sepuluh mil, namun ia harus berpura-pura hanya seorang navigator yang berbakat.
"Jika itu hanya gangguan, mengapa para tetua selalu menatapku seperti aku akan menenggelamkan kapal dengan tatapan mata?" balas Mala, suaranya tajam tanpa ia sadari. Ia menarik diri dari dinding kristal, merasakan sedikit rasa sakit saat koneksi energinya terputus paksa.
"Karena kau adalah putriku, dan kau terlalu kuat untuk didikte oleh Dewan Patriarki," ujar Theron lembut. Ia melangkah mendekat, tangannya yang kasar namun hangat menyentuh bahu Mala. "Kekuatanmu adalah anugerah, Mala. Jangan biarkan mereka meracunimu dengan rasa takut."
Saat itulah, kehangatan itu hancur.
Bukan suara tembakan meriam, bukan pula peringatan radio yang memecah ketenangan. Itu adalah suara kegagalan. Sebuah hentakan tumpul yang mengguncang The Jormungandr dari lunas hingga tiang agung. Alarm darurat meraung, nada tunggal yang menandakan bencana.
"Apa itu?!" seru Theron, bergegas menuju panel komunikasi utama.
"Sensitivitasku tidak salah, Ayah. Itu bukan ombak," bisik Mala, matanya memindai energi di sekitarnya. Di kedalaman yang gelap, ia merasakan sesuatu yang salah. Bukan organik, dingin, dan logam yang bernapas dengan api terlarang.
Di layar sonar utama, siluet mengerikan muncul. Bukan sekadar monster laut biasa. Ini adalah Leviathan mekanik, cangkang perunggu yang ditumbuhi gigi-gigi tajam dari besi yang dipanaskan oleh tungku kimia. Salah satu monster dari mitos industrialis yang dipercayai banyak orang hanyalah dongeng pengantar tidur.
"Monster logam! Mereka menembus perimeter luar!" teriak seorang petugas jaga. "Kapten, mereka menuju formasi kita!"
Theron menggeram. "Kapal Naga, siapkan meriam Aether! Kita dorong mereka kembali ke Palung!"
Namun, monster itu bergerak terlalu cepat, terlalu terkoordinasi. Dua dari makhluk itu meluncur ke depan, meninggalkan jejak gelembung beracun, dan menabrak kapal sekutu, The Aegis. Kapal itu langsung terbelah dua, ledakan uap dan logam yang menyakitkan telinga.
Mala tahu. Meriam Aether butuh waktu untuk mengisi daya. Manuver lambat Jormungandr tidak akan mampu menahan serangan bertubi-tubi ini. Dia harus bertindak. Ketakutan akan pengucilan sosial menguap, digantikan oleh kebutuhan yang dingin dan mendesak, selamatkan armada, selamatkan Krael yang sedang memimpin barisan depan.
"Ayah, berikan aku kendali atas inti resonansi!" perintah Mala, suaranya kini memiliki otoritas baja yang belum pernah ia tunjukkan.
Theron menatap putrinya. Dia melihat bukan lagi wanita muda yang mencoba menyenangkan dewan, tetapi seorang kapten yang memegang nasib semua orang di tangannya. "Kau yakin, Nak?"
"Tidak ada waktu untuk berdebat soal tradisi!"
Mala berlari ke konsol utama, meletakkan kedua tangannya di atas kristal jantung kapal. Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan penghalang yang selama ini ia bangun runtuh. Energi Hidro Resonance miliknya, yang biasanya ia batasi sebatas sentuhan halus, kini mengalir deras, membanjiri sirkuit Jormungandr.
Air laut di sekeliling kapal yang gelap itu merespons. Ia tidak hanya merasakan air, tapi ia menjadi air laut itu sendiri.
"Semua awak kapal, pegangan erat!" teriak Mala, tidak lagi melalui pengeras suara, tetapi resonansi yang terasa di tulang iga setiap orang di kapal.
Dia memanggil kekuatan itu. Bukan hanya mengendalikan air, tetapi memanggil bayangan dari air sebuah fenomena yang hanya pernah didengarnya dalam cerita lama. Ghost Drift.
Sebuah selubung biru pudar menyelimuti Jormungandr. Kapal perang kristal itu, yang dikenal lamban dan berat, tiba-tiba meluncur dengan kecepatan yang mustahil, seolah-olah semua hambatan air telah hilang. Kapal itu tidak berlayar di atas air, melainkan ia meluncur di permukaan yang tertekan oleh kekuatan Murni.
Monster mekanik pertama yang hendak menyerang hanya bisa menganga, giginya beradu kencang saat mereka melewati kapal Aethelgard yang kini bagaikan hantu biru. Dalam sekejap mata, Mala memposisikan Jormungandr di antara monster dan kapal sekutu yang lebih kecil.
"Tembak sekarang!" perintahnya.
Artileri Aether meletus, kini bergerak dengan presisi sempurna berkat sinkronisasi Mala. Dua tembakan menghantam titik sambungan utama pada dua monster yang tersisa. Logam mekanik itu meledak, dan cairan beracun yang menjadi darah mereka tumpah ke laut. Armada Aethelgard selamat.
Keheningan kembali, tetapi kali ini diisi dengan keterkejutan.
Mala menarik tangannya dari kristal. Kepalanya berdenyut hebat, dan rasa sakit akibat penggunaan kekuatan berlebihan membuat pandangannya kabur. Namun, tatapan dari para awak kapal, bahkan para tetua yang paling skeptis berubah. Rasa takut digantikan oleh kekaguman yang waspada.
"Kau... kau menyelamatkan kita semua, Mala," kata Theron, suaranya tercekat.
Mala tersenyum tipis, kelelahan membebani setiap otot. "Aku hanya membantu kapal bergerak sesuai tujuannya, Ayah." Konflik internalnya bergejolak. Ia lega telah menggunakan kekuatannya untuk tujuan baik, namun kini seluruh dunia tahu betapa besarnya rahasia yang ia sembunyikan. Dia adalah aset vital, ya, tapi dia juga orang asing di antara bangsanya sendiri.
Beberapa jam berlalu dalam perbaikan mendesak dan pembersihan puing. Malam telah tiba lagi, dan di kabinnya yang kecil, Mala akhirnya menemukan kedamaian singkat. Krael, suaminya, seorang Ksatria Badai yang gagah berani, masuk tanpa mengetuk, membawa dua cangkir teh hangat.
"Kau hebat hari ini," kata Krael, menyandarkan dahinya ke dahi Mala. Aroma kulitnya yang hangat dan garam laut selalu menjadi jangkar bagi Mala.
"Aku hampir mengungkap semua kartu," bisik Mala, meraih tangan Krael. "Mereka melihatnya. Mereka melihat apa yang bisa kulakukan."
Krael mengecup pelipisnya. "Mereka melihat Ratu yang akan lahir, bukan seorang penyihir tersembunyi. Kekuatanmu adalah gelombang pasang, Mala. Dan aku lebih suka tenggelam bersamamu daripada melihatmu hidup dalam bayangan."
Air mata Mala terasa hangat di pipi Krael. Itu adalah janji. Sebuah sumpah yang tidak diucapkan di depan altar.
"Aku mencintaimu, Krael," katanya, rasa damai menyelimuti dirinya untuk sesaat.
"Aku juga, Hydro Resonator ku," jawab Krael, tersenyum lembut.
Namun, ketenangan itu adalah ilusi yang rapuh. Tiba-tiba, suara klakson radar kapal berderit nyaring, suara yang dingin dan mengancam, memotong keintiman mereka. Itu bukan bunyi peringatan bahaya internal. Itu adalah deteksi skala armada.
Krael menegakkan tubuh, ketegasan Ksatria Badai langsung mengambil alih. "Itu bukan pola patroli rutin."
Mala bangkit, hatinya mencelos. Dia menyentuh energi di luar lambung kapal, dan rasa dingin yang mematikan menyeruak.
"Krael," suaranya bergetar. "Itu bukan armada kita."
Di cakrawala yang gelap, di mana seharusnya hanya ada kegelapan samudra, garis-garis api ungu yang menyeramkan mulai menyala. Lord Cornelis de Houtman telah datang.
"Tiga hari," bisik Lyra, suaranya masih menggantung di udara lembab gua karang. Perasaan berat itu kini berubah menjadi ledakan aksi. Armada Wraith-Raiders tidak menyia-nyiakan waktu. Dalam dua minggu berikutnya, samudra utara Aethelgard yang dingin menjadi medan perburuan tanpa henti. Mala telah pergi, memimpin tim kecil yang berani menuju jantung wilayah Houtman. Keputusan itu menusuk Lyra, meninggalkan kekosongan yang dingin di pusat komando. Namun, Mala juga telah meninggalkan sebuah perintah. Ciptakan kekacauan yang akan mengalihkan pandangan Houtman dari misi Mala. Dan Lyra, sebagai Komandan Utama Inong Balee, berniat memenuhi perintah itu dengan kehancuran. Malam itu, dingin dan penuh ancaman. Lyra menunggangi Shadow, Leviathan-nya yang besar, memimpin formasi sepuluh Wraith-Raiders lainnya. Mereka bergerak seperti pisau melalui air, menuju benteng perbatasan utama Houtman yang menjulang seperti gunung es logam yang busuk di lepas pantai utara.
Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman, yang menggema melalui kristal penangkap sinyal, masih melekat di telinga Mala. Ia mencengkeram artefak itu erat-erat sepanjang perjalanan pulang. Setiap sentuhannya memancarkan denyut Void-Fire yang sama, yang mengingatkannya pada penderitaan Krael. Sisterhood kembali ke markas rahasia mereka di dalam gua karang, cahaya biru lembut dari lumut laut memantul di dinding batu yang basah, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati Mala. Para Wraith-Raiders lainnya, meski kelelahan, merasakan aura kemarahan yang berbeda dari Ratu mereka. Mereka tahu sesuatu telah berubah. Mala, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, langsung menuju area perencanaan, tempat peta dan hologram taktis biasa melayang di udara. Lyra mengikutinya, matanya penuh pertanyaan. "Ratu, kita sudah berhasil menenggelamkan Iron Maw," lapor Lyra, suaranya berusaha terdengar seperti laporan kemenangan, namun getaran tawa Houtman masih berdesir di ika
Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman masih membekas di tulang Mala. Setelah penemuan mengerikan itu. Krael yang hidup sebagai baterai, perintahnya tidak lagi datang dari strategi, melainkan dari sebuah kebutuhan fisik untuk menghancurkan. "Kaelia, bawa aku ke arah sumber resonansi terkuat. Lyra, tarik mundur semua unit pengintai, kita lakukan penyerbuan penuh!" perintah Mala, suaranya kini kembali tegas, menekan setiap getaran kepedihan yang mengancam untuk melumpuhkannya. Lyra, yang masih merasakan getaran tawa tiran itu melalui ikatan resonansi mereka, mengangguk kaku. "Mengerti, Ratu. Semua unit, bersiap untuk serangan ke utara. Kita akan menjadi dinding air di hadapan uap hitam mereka!” Keheningan sejenak di antara Sisterhood pecah menjadi pusaran aktivitas yang cepat. Mereka tidak lagi melakukan patroli. Ini adalah perang yang dipercepat, didorong oleh kepastian bahwa Krael masih bernafas di suatu tempat di dalam sarang musuh. Me
Kegelapan dan cahaya biru yang menusuk mata bersaing di puncak Tebing Black Rock. Darah Mala yang menetes di batu seolah menjadi konduktor, memanggil kekuatan yang jauh lebih tua dari kerajaan mana pun. Leviathan-Hatchlings yang menjulang tinggi masih menggeram, energi lapar mereka terpancar seperti panas yang menakutkan, namun mata kuning mereka kini terfokus pada Mala. Mala berdiri tak bergerak. Dia tidak menarik tangannya dari energi yang ia pancarkan. Sebaliknya, dia mendorong lebih keras. Dia tidak lagi memohon, dia memerintah. Rasa sakit fisik dari pengorbanan itu adalah harga kecil untuk dominasi atas makhluk purba ini. "Aku adalah Ratu kalian sekarang," desis Mala, suaranya nyaris tenggelam oleh deburan ombak liar yang dipanggil oleh ritual itu. "Aku telah kehilangan segalanya demi lautan ini. Kalian akan melayani tujuanku. Kalian akan menjadi perisai dan tombakku." Leviathan tertua itu menyentakkan kepalanya maju, hampir menyentuh dahi Mala
Air laut yang dingin terasa seperti jutaan tusukan es pada kulit Mala yang melepuh. Dia terdampar di pantai berbatu yang terpencil, jauh dari Teluk Abyss. Pasir di sini berwarna hitam pekat, hasil dari erosi gunung berapi kuno. Aroma amis darah bercampur dengan bau belerang dan sisa-sisa sihir industri yang mencekik. Tiga minggu. Tiga minggu sejak Aethelgard lenyap, tiga minggu sejak Krael ditarik ke dalam kehampaan ungu. Setiap gerakan menyakitkan. Luka bakar Void Fire di lengan dan punggungnya meninggalkan bekas ungu kehitaman yang terasa seperti kulit mati yang tertarik. Mala mengusap wajahnya, air mata yang mengering bercampur dengan lumpur garam. Di sekelilingnya, puing-puing kapal yang terseret ombak, sisa-sisa para Ksatria Badai yang gugur menjadi saksi bisu kehancurannya. Keputusasaan seharusnya menjadi jurang, namun anehnya, di dalam dirinya tumbuh sesuatu yang keras dan tajam. Kebutuhan untuk menuntut balas. Jika dia kembali ke tradisi Aethelgar
Suara sirene peringatan membelah malam di Teluk Abyss. Bukan lagi dentuman monster laut mekanik dari perbatasan. Ini adalah ratapan panjang, serak, menandakan invasi skala penuh. Malam yang seharusnya menjadi penutup perayaan kemenangan kecil kini berubah menjadi pembantaian. Mala dan Krael berdiri di anjungan The Jormungandr, kapal yang baru saja ia selamatkan dalam keajaiban Ghost Drift. Di bawah mereka, armada Aethelgard yang bangga kini tampak seperti kumpulan anak domba yang dikepung. Di hadapan mereka, bukan sekadar kapal perang, melainkan benteng industri terapung yang dikelilingi oleh awan asap hitam berbau belerang. Itu armada Cornelis de Houtman, Alchemist Legion. "Mereka datang dari dimensi yang berbeda," Krael berbisik, matanya menyipit menatap kilatan energi ungu yang keluar dari haluan kapal Houtman. "Itu bukan sihir biasa, Mala. Itu Void Fire." "Ayahku bilang itu mitos, Krael. Kutukan yang ditinggalkan para industrialis zaman kuno,"







