تسجيل الدخول“Aku masih memandangmu sebagai istriku.”
Tidak ada tamparan yang keras, akan tetapi ucapan yang seolah terdengar menyesal dilontarkan oleh Mahendra. Suami yang sudah menikahinya selama sepuluh tahun.
Savita membuka mata. Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Jantungnya masih berpacu. Ditatapnya Mahendra yang masih berdiri di hadapannya itu dengan terluka. Tangan pria itu kini terkepal di udara. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter saja.
“Terjepit pun kamu masih bisa bohong,” ucap Mahendra. “Sandiwara kamu bagus.”
Suara suaminya itu datar dengan penuh nada cemooh. Kedua tangan Mahendra sekarang bersidekap di depan dada.
“Dia … dia memang sudah di tempat itu, Mahen.”
Savita berusaha mencari alibi lain. Dia tidak ingin kebohongannya terbongkar. Dia tidak ingin rencananya yang sudah mulai berjalan
“Udah, aku aja yang ambil, Sayang. Kamu duduk. Lanjutin makanmu.”Mahendra yang berbicara seperti malas itu merupakan suara malaikat penyelamat bagi Savita. Jantungnya yang sebelumnya serasa berhenti berdetak, sekarang kembali memompa darah dengan kecepatan gila.“Nggak apaapa, Mas. Aku ambilin. Kamu kan lagi makan,” jawab Gita dengan suara manja.“udah, kamu duduk. Lanjutin makan. Nurut sama aku. Nanti makananmu keburu dingin,” balas Mahendra.Lalu terdengar kursi ditarik mundur dan hal itu membuat Savita kembali meletakkan map merah itu pada tempatnya yaitu bersisian dengan tumpukan map. Savita hanya berharap Mahendra tidak memerhatikan map-map itu bergeser dari tempatnya walau hanya satu senti. Setelah itu dia memasukkan ponsel Kaivan ke dalam saku bajunya. Semuanya dilakukannya dalam hitungan detik.“Saatnya pergi,” bisiknya.
“Nggak usah,” jawab Mahendra, suaranya terdengar santai. “Ada satpam di depan. Lagipula siapa yang mau masuk? Si gila di kamar itu?”Savita membeku di depan pintu kamar yang terbuka sedikit. Dia memastikan pendengarannya. Mahendra dengan mulut kasarnya. ‘Aku masih istrinya dan dia bilang aku ‘si gila’? dia yang gila,’ rutuk Savita dalam hati.“Yaudah kalau gitu.”Terdengar kursi ditarik lagi. Savita menghela napas lega. Setidaknya dia aman untuk saat ini. Dibukanya pintu kamar itu sedikit lebih lebar. Kepalanya menyembul keluar. Dia mencoba memastikan bahwa tidak ada Siti beredar di sekitar ruangan itu.Savita mencoba berdiri lebih tegak lagi. Dilepas kedua tangannya pada gagang pintu. Dia berharap dapat berjalan lebih baik lagi. Kakinya maju satu langkah. Tiba-tiba pandangannya berkunang. savita menggeleng pelan demi mengenyahkan rasa pusin
Sejurus kemudian dia ingat sedang dikunci di dalam kamarnya. “Gimana aku keluar dari kamar ini? gimana aku bisa tau apa isi dokumen di map merah itu? aku nggak mungkin juga keluar dari sini,” bisiknya bingung.Tiba-tiba saja terdengar deringan ponsel. Savita tahu itu ponsel Mahendra yang berbunyi. Nada deringnya tidak peernah diganti oleh pria itu selama 10 tahun pernikahan.“Aku kan udah bilang, semuanya pasti aman! Nggak akan ada kebocoran!” Mahenda berjalan mondar mandir di depan meja kopi. Nada suaranya tinggi dan tertekan.Savita kembali fokus pada kameranya. Dia menggerakkan ponselnya perlahan. dilihatnya Mahendra sedang sibuk berdebat di telepon seraya membelakanginya.“Dengerin, aku pegang kendali di sini!” teriaknya pada siapapun seseorang di seberang telepon.Savita menatap tumpukan dokumen itu dari ponselnya. Sebuah ide gila muncul d
Mendengar permintaan itu, Bi Uti menangis di luar jendela dengan kedua tangan memegang celah ventilasi. Permintaan itu baginya seperti wasiat terakhir. Keputusasaan dari suara majikannya membuat hati Bi Uti hancur.“Saya usahakan cari cara supaya bisa kasih tau Bu Ami, Nya. Saya janji,” janji Bi Uti diantara isak tangisnya. “Sekarang Nyonya istirahat dulu. Saya datang lagi nanti.”Setelahnya, tidak terdengar lagi suara Bi Uti yang bergema dari celah ventilasi itu. savita hanya sendirian bersama dengan genangan darahnya.Dengan penuh tekad, Savita mencoba merangkak keluar kamar mandi. Tiap gerakan yang dibuatnya, bagaikan siksaan.Diamenghela napas lega ketika berhasil mencapai kamarnya lalu ambruk di samping tempat tidur. Dia tidak ada tenaga lagi untuk naik ke atas kasur.Dia berbaring di lantai seraya mengatur napasnya. Ditatapnya langit-langit kamar. Demam yang masih menjalari tubuhnya membuat pikirannya mengawang. Dia dapat melihat bayangan Kaivan yang tersenyum padanya. Dia juga
“Aku kenapa?”Savita membekap mulutnya. Isi perutnya hendak keluar lagi. Dia berjalan secepat yang dibisa menuju kamar mandi. Kemudian, dibuka toilet duduknya lalu memuntahkan kembali isinya.Sisa makanan yang dia makan tadi masih ada yang keluar bersama dengan cairan asam dari mulutnya. Seluruh tubuhnya lemas seketika.Savita terduduk di lantai kamar mandi dengan kedua tangan memegang sisi toilet duduk. Kepalanya masih di atas toilet. Khawatir akan ada makanan yang keluar lagi toiletnya.Dan benar saja, isi perutnya keluar lagi. Seolah lambungnya menolak untuk dimasukkan makanan.“Oh ya ampun,” bisiknya. “Lemas. Badanku … kenapa ….”Savita tidak bisa bangkit berdiri. Dia ingin meringkuk di kasurnya. Ingin berselimut saja. Tetapi dia tidak bisa. Seluruh tubuhnya menolak untuk melakukan yang diperintahkan oleh
“Habisin makanannya! Jangan bikin saya susah!”Bentakan Siti terdengar kasar ketika meletakkan nampan berisi makan siang di lantai dengan bunyi berdebam nyaring.Di atas nampan itu hanya ada sepiring nasi yang sudah dingin dan sepotong ikan goreng yang terlihat begitu kering. Siti menatap Savita yang duduk di tepi ranjang dengan jengkel.Semalam, Savita tidur dengan kekacuan kamar. Lalu paginya, dia menguatkan tubuhnya untuk merapikan semua kekacauan yang diperbuat oleh Siti atas suruhan Gita dan Mahendra. Semua yang tidak layak disimpan akhirnya dia buang ke tempat sampah.Savita menghindari membuangnya ke toilet. Selain membuat mampet, dia ingin menunjukkan pada mereka bahwa dirinya kuat dalam menghadapi semuanya.“Nyonya dengar nggak sih? Non Gita bilang, kalau Nyonya nggak mau makan, jatah makannya bakal dipotong jadi sehari sekali!” ancam Siti dengan







