เข้าสู่ระบบ“Sapu tanganmu itu cepat disimpan!” desis Ami dekat pintu.
Savita yang panik segera menyembunyikan sapu tangan bernoda darah ke dalam saku gaunnya. Ami pun bergerak untuk menarik sebuah album foto dari rak seolah-olah itu yang mereka cari. Sementara Bastian dengan gerakan cepat kembali ke posisi semula. Gestur wajahnya berubah seolah mengagumi koleksi buku.
Pintu itu terbuka. Mahendra berdir dengan matanya yang tajam memindai situasi. Dia menatap Ami, Bastian, dan Savita.
“Lama banget, Sayang. Aku khawatir,” katanya dengan senyum yang tidak mencapai mata.
Pandangan Mahendra tertuju pada wajah Savita yang lebih pucat dari sebelumnya. Dia melangkah mendekati.
“Kamu pucat banget,” ujarnya lagi dengan suara pelan.
Tangannya perlahan terulur hendak menyentuh dahi Savita. Namun, matanya menangkap hal lain. Noda darah yang tanpa s
Mendengar permintaan itu, Bi Uti menangis di luar jendela dengan kedua tangan memegang celah ventilasi. Permintaan itu baginya seperti wasiat terakhir. Keputusasaan dari suara majikannya membuat hati Bi Uti hancur.“Saya usahakan cari cara supaya bisa kasih tau Bu Ami, Nya. Saya janji,” janji Bi Uti diantara isak tangisnya. “Sekarang Nyonya istirahat dulu. Saya datang lagi nanti.”Setelahnya, tidak terdengar lagi suara Bi Uti yang bergema dari celah ventilasi itu. savita hanya sendirian bersama dengan genangan darahnya.Dengan penuh tekad, Savita mencoba merangkak keluar kamar mandi. Tiap gerakan yang dibuatnya, bagaikan siksaan.Diamenghela napas lega ketika berhasil mencapai kamarnya lalu ambruk di samping tempat tidur. Dia tidak ada tenaga lagi untuk naik ke atas kasur.Dia berbaring di lantai seraya mengatur napasnya. Ditatapnya langit-langit kamar. Demam yang masih menjalari tubuhnya membuat pikirannya mengawang. Dia dapat melihat bayangan Kaivan yang tersenyum padanya. Dia juga
“Aku kenapa?”Savita membekap mulutnya. Isi perutnya hendak keluar lagi. Dia berjalan secepat yang dibisa menuju kamar mandi. Kemudian, dibuka toilet duduknya lalu memuntahkan kembali isinya.Sisa makanan yang dia makan tadi masih ada yang keluar bersama dengan cairan asam dari mulutnya. Seluruh tubuhnya lemas seketika.Savita terduduk di lantai kamar mandi dengan kedua tangan memegang sisi toilet duduk. Kepalanya masih di atas toilet. Khawatir akan ada makanan yang keluar lagi toiletnya.Dan benar saja, isi perutnya keluar lagi. Seolah lambungnya menolak untuk dimasukkan makanan.“Oh ya ampun,” bisiknya. “Lemas. Badanku … kenapa ….”Savita tidak bisa bangkit berdiri. Dia ingin meringkuk di kasurnya. Ingin berselimut saja. Tetapi dia tidak bisa. Seluruh tubuhnya menolak untuk melakukan yang diperintahkan oleh
“Habisin makanannya! Jangan bikin saya susah!”Bentakan Siti terdengar kasar ketika meletakkan nampan berisi makan siang di lantai dengan bunyi berdebam nyaring.Di atas nampan itu hanya ada sepiring nasi yang sudah dingin dan sepotong ikan goreng yang terlihat begitu kering. Siti menatap Savita yang duduk di tepi ranjang dengan jengkel.Semalam, Savita tidur dengan kekacuan kamar. Lalu paginya, dia menguatkan tubuhnya untuk merapikan semua kekacauan yang diperbuat oleh Siti atas suruhan Gita dan Mahendra. Semua yang tidak layak disimpan akhirnya dia buang ke tempat sampah.Savita menghindari membuangnya ke toilet. Selain membuat mampet, dia ingin menunjukkan pada mereka bahwa dirinya kuat dalam menghadapi semuanya.“Nyonya dengar nggak sih? Non Gita bilang, kalau Nyonya nggak mau makan, jatah makannya bakal dipotong jadi sehari sekali!” ancam Siti dengan
Tepat ketika pecahan kaca itu menggores permukaan kulitnya.BZZT… BZZT…Sebuah suara pelan dan ritmis terdengar. Savita membuka matanya karena terganggu. Gerakannya mengiris lengannya terhenti.“Suara apaan itu?” tanyanya pelan.BZZT… BZZT…Suara getaran itu tidak berhenti. Getaran itu seakan-akan merambat dari lantai, naik ke tubuhnya, lalu menyentuh jiwanya yang hampir saja padam. Getaran itu kembali menyadarkannya.Savita menatap pecahan di tangannya, lalu menatap ke arah tempat tidur. Getaran itu masih terdengar di telinganya. Savita melihat pantulan cahaya dari kolong tempat tidurnya. Itu ponsel Kaivan.Di dalam ponsel itu ada semuanya. Rekaman pengakuan Mahendra, foto-foto lukanya, dan juga jurnal penderitaannya.‘Kalau mati sekarang, semuanya bakalan sia-sia,’
“Bagaimana kalau aku nyerah aja?”Pertanyaan itu melayang dalam benak Savita. Bahkan menggodanya layaknya lagu pengantar tidur yang mematikan. Dia tidak menangis ataupun berteriak. Dia memilih berbaring di lantai dingin dengan mata menatap kosong pada langit-langit kamar.Bisikan terakhir Mahendra terus bergema di dalam kepalanya. Bisikan itu menjadi tumpang tindih dengan jerit ketakutan Kaivan.“Buat apa lagi aku bertahan?” gumamnya pada ruangan yang sepi. “Kaivan aja udah lihat aku kayak monster. Duniaku lihat aku begitu.”Rasa sakit di hatinya sudah melampaui batas air mata. Hatinya terasa tidak ada. Kosong. Bukan lagi hancur lebur. Lubang hitam hampa menyedot semua emosinya. Dia telah mengalami breakdown mental. Jiwanya sudah menyerah total.“Dia benci aku,” gumamnya. “Anak aku sendiri benci aku. Nggak suka sama aku.&rdquo
“Ada Bunda, Sayang. Tenang, ya. Ada bunda jagain kamu kok.”Suara Gita yang menenangkan itu terdengar bagaikan melodi surga di telinga Kaivan yang sangat ketakutan. Namun, bagi Savita layaknya racun paling mematikan yang masuk ke telinga. Savita masih terduduk di lantai dingin. Lebih tepatnya di ambang pintu kamarnya yang masih terbuka.Tubuhnya membeku oleh pemandangan yang menghancurkan jiwanya. Savita seolah mati rasa dalam hal apa pun. Dia tidak bisa merasakan tubuhnya yang meronta kesakitan.Dia tidak merasakan tenggorokannya yang kering bagai di gurun sahara. Kini, seluruh panca inderanya terfokus pada satu titik di anak tangga terbawah.‘Kaivan, Nak, kamu kenapa begitu?’Itu hanya bisa keluar dalam pikiran Savita. Tidak ada yang bisa diucapkannya dengan jelas.Kaivan memeluk Gita erat seolah-olah wanita itu merupakan satu-satuny







