MasukAndrina Anastasya, gadis berusia dua puluh satu tahun dengan segenap permasalahan peliknya. Demi uang, dia rela mengubah seluruh jati dirinya menjadi wanita penggoda yang di tugaskan seorang wanita kaya untuk menggoda putranya. Awalnya, Andrina tidak menyangka, bagaimana seorang ibu meminta wanita yang tidak dikenal untuk menggoda putranya sendiri. Akan tetapi, segepok uang yang disuguhkan membuat Andrina menyetujui misi itu tanpa berpikir panjang. Lantas, apakah Andrina akan melanjutkan misinya setelah mengetahui sebuah kenyataan jika targetnya adalah seorang pria penyuka sesama jenis?
Lihat lebih banyakGemerlap malam dihiasi oleh lampu disko yang berwarna-warni dan dengan dentuman musik yang mengiringinya, tak membuat seorang perempuan yang sedari tadi membenamkan wajahnya setelah menenggak habis segelas whiski kembali bergerak.
Perempuan itu adalah Zeta Primrose Cydney. Ini merupakan kali pertamanya menginjakkan kaki di sebuah club malam karena ajakan sahabatnya, Sena.
Sialnya, Zeta tak tahu apa yang baru saja ia minum sehingga tubuhnya bereaksi aneh. Ada sesuatu yang menjalari tubuhnya. Rasanya panas dan hasrat birahinya bergejolak. Tangannya menekan bagian intinya yang sudah berdenyut-denyut, ingin dimasuki. Zeta tak berhenti memberikan sapuan ke tubuhnya yang mulai bergetar.
"Ah... Ah..." Zeta belum puas jika hanya menekannya. Ia perlu seseorang. Bertepatan dengan itu, tangan Zeta tak sengaja mengibas lengan seorang pria yang melewatinya.
Zeta tak mau menyia-nyiakan hal ini. Ia harus segera bertindak agar terbebas dari siksaan ini. Walau, artinya ia juga harus merelakan keperawanannya diambil oleh seseorang yang tak ia kenal.
Seorang pria jangkung dan gagah. Matanya biru gelap seperti indahnya pemandangan laut di malam hari itu membalas tatapan memelas Zeta. Mata indah itu, Zeta ingin memasukinya lebih dalam lagi. Namun, sang pria tak mengizinkannya.
Pria itu menepis tangan Zeta dengan sekali hentakan. Tatapannya tak acuh pada Zeta, seakan sudah muak melihat perempuan yang menggodanya seharian ini. Tapi, Zeta terlihat berbeda. Wajah polos Zeta seolah menghipnosis, badan Jack ikut merespon apalagi juniornya.
"Apa maumu, Sayang?" tanya pria itu akhirnya. Suaranya serak, dalam, dan sangat sensual. Zeta merasakan bagian bawahnya itu berdenyut kembali. Bahkan ketika kulit lembutnya bersentuhan dengan kulit pria asing itu, rasanya bulu kuduknya berdiri semua, ia jadi ingin lebih, tidak sekadar sentuhan kulit saja.
"Tolong aku. Aku mohon, Tuan," pinta Zeta dengan mata yang berkaca-kaca serta tubuhnya bergetar hebat. Peluh mulai menghiasi wajahnya yang cantik.
Si pria menelan ludahnya dengan susah payah. Mungkin, kalau ia tidak sedang kelelahan dan tidak tergesa-gesa, pasti ia sudah menyerang perempuan itu di sini sekarang juga.
"Tolong aku," pinta Zeta kembali. Ia meraih tangan si pria dan menangis. Ia sudah tidak kuat, ia kesakitan.
Si pria mengernyit, ia mengamati Zeta dari atas sampai bawah dengan penuh kritik. Ada yang tak beres dari perempuan itu. Ah... Ia baru sadar, kalau perempuan di depannya berada di bawah pengaruh obat perangsang. Sial!
Si pria menoleh ke kanan dan kirinya, sedang memastikan sesuatu. Ia lalu kembali menatap Zeta yang sekarang bergerak gelisah di kursi yang diduduki.
"Jadi, apa yang bisa kubantu, Sayang?" tanya si pria dengan nada yang semakin menggoda, membuat urat Zeta semakin menegang.
Zeta tersenyum. "Bantu aku lepas dari rasa sakit ini. Tiduri aku, Tuan," rintihnya seraya menunjuk ke arah bagian bawahnya. Ia memakai dress mini sehingga di saat ia menunjuk ke bagian sensitifnya, si pria bisa melihat kalau bagian sana sudah basah.
"Baiklah. Aku akan memuaskanmu malam ini." Si pria mengangguk paham. "Kau akan menikmati permainanku."
"Terimakasih, Tuan."
Pria itu segera memberikan isyarat kepada pria lain yang sedari tadi berdiam diri di belakangnya, menyuruh untuk segera menyiapkan mobil.
Jack Olivander Jeffrod menatap perempuan itu sekali lagi, seketika juniornya mengeras.
"Ckk... Sial," runtuk Jack sembari membawa Zeta ke dalam gendongannya.
Dalam beberapa menit saja, mobil yang ditumpangi Jack sudah sampai di sebuah gedung besar dan mewah. Tak perlu lama untuk Jack mencapai pentahouse miliknya yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari club yang ia datangi tadi.
Jack merenggut tubuh Zeta ke dalam pelukannya sambil berdesis, "Mari kita lihat sampai mana jalang ini bisa bertahan." Jack menghiasi wajah tampannya dengan seringaian yang serupa senyum iblis.
Pria yang memegang kendali setir hanya bisa melihat Jack memeluk dan mencium perempuan di jok belakamg dari kaca yang menempel di atasnya.
"Ehemm..." Sang pria berdehem, mengingatkan Jack untuk segera bergegas. Selama bertahun-tahun ia bekerja di bawah naungan perusahaan Baron yang dipimpin oleh Jack sendiri, ia hafal betul kalau tuannya itu sudah tak bisa menahan diri untuk segera mencicipi tubuh perempuan itu. Bahkan, lima perempuan tak membuat Jack terpuaskan. Pria itu selalu ingin lagi dan lagi.
Jack mengerti arti deheman Aiden, pengawal pribadi sekaligus orang kepercayaannya itu.
Jack melesat menuju ke pentahouse mewah miliknya yang terdapat di lantai teratas gedung Jequlin. Gedung berarsitektur seni yang tinggi, bahkan untuk setiap inci hiasan yang terukir di batu dinding itu didatangkan langsung dari Roma. Bisa dibayangkan betapa indah dan megahnya gedung ini.
Jack telah sampai ke pintu pentahousenya setelah melewati beberapa lantai dengan lift. Bahu kekarnya mendorong pintu sampai terbuka lebar. Tangannya yang kokoh membawa tubuh Zeta ke atas kasur dengan kasar.
"Arghhh..." Zeta mengaduh kesakitan saat punggungnya terhempas di atas kasur, meskipun kasur tersebut sangat empuk, tapi tetap saja membuatnya terkejut setelah tadi Zeta sempat tertidur sebentar.
"Kau cantik juga, Sayang." Jack menyambar bibir Zeta dengan rakus.
Sementara itu Zeta yang masih terpengaruh obat perangsang yang sangat kuat tak segan-segan membalas ciuman Jack yang semakin membuatnya menggelinjang liar. Ia ingin lebih.
"Masuklah, Tuan." Zeta melebarkan kedua kakinya, memperlihatkan bagian sensitifnya tepat di depan wajah Jack.
"Ah, bukannya kita perlu pemanasan dulu, Sayang." Jack membelai wajah Zeta lembut, dan menariknya mendekat. Jack mulai mempermainkan tubuh Zeta, sampai keduanya bersatu di bawah gelapnya malam yang hanya berhiaskan lampu yang menyala remang-remang.
"Shit! Kau masih virgin, dan lihatlah milikku bisa berdiri tegak!" pekik Jack terus menghujam Zeta tanpa ampun, melepaskan semua cairan kenikmatan di luar, karena Jack tak mau terikat oleh perempuan mana pun hanya karena perempuan tersebut mengandung anaknya.
-To Be Continued-
Setelah mendatangi apartemen yang kini menjadi hak milik Andrina, Erick melajukan mobilnya menuju ke kediaman mewah Mutia. Bukan hal sulit baginya untuk masuk ke sana. Karena sebelum hubungan terlarangnya bersama Gavin terbongkar, dia sering bertandang ke kediaman mewah itu."Gavin! Gavin! Keluar kamu!" Suara bass Erick menggema di ruang utama.Pria itu terus berteriak memanggil nama Gavin, berharap pria itu segera menunjukkan batang hidungnya."Gavin, keluar! Aku tau kamu di dalam!""Keluarlah! Aku ingin bicara.""Gavin!"Teriakan itu berhasil mengusik ketenangan Mutia yang tengah bersantai di gazebo samping rumah. Wanita paruh baya itu berdecak kesal sembari meletakkan kasar majalah yang sejak tadi menjadi temannya."Anak ini kalau dibiarkan akan semakin menjadi."Mutia segera beranjak untuk menghampiri sumber keributan yang ada di rumahnya."Heh, apa kamu gak pernah diajari sopan santun!" hardik Mutia, "masuk rumah orang bukannya salam malah teriak-teriak macam orang gila, ini ruma
"Tuan ... Tolong dengarkan saya dulu!" Andrina terus mengekor kemanapun Gavin melangkah. Dia berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya mengenai peristiwa malam itu."Jangan seperti ini! Saya minta waktu Anda semenit saja.""Saya mohon, Tuan."Akan tetapi, Gavin seakan menulikan telinga. Pria itu justru sibuk berkemas memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper daripada menanggapi ucapan wanita itu."Tuan, tolong jangan pergi! Dengarkan saya dulu.""Tuan, malam itu—"Andrina meneguk ludah kasar saat mendapat tatapan tajam dari Gavin. Nyalinya mendadak ciut saat merasakan aura mencekam di hadapannya. Namun, wanita itu tak ingin menyerah begitu saja tekadnya sudah kuat untuk memberitahu kejadian yang sebenarnya."Malam itu ... saya—""Diam, Andrina! Atau ‘ku robek mulutmu," gertak Gavin.Dia benar-benar tidak ingin diingatkan dengan peristiwa malam sialan itu. Akibat kejadian itu, dia telah mengkhianati Eric
"Tuan, sadar! Tolong, jangan seperti ini! Ini tidak benar." Andrina berteriak berusaha menjauhkan tangan Gavin yang membelit erat tubuhnya.Gadis itu berusaha menjauhkan wajahnya dari serangan bibir atasannya. Gavin seperti orang kesetanan yang ingin melahap habis dirinya."Tuan Gavin, sadar! Tolong lepaskan saya!" "Tubuhmu wangi, Andrina. Aku suka," ucapnya lirih mirip seperti suara desahan."Anda kenapa? Kenapa jadi seperti ini? Aku mohon, lepaskan aku! Hiks ... Hiks...."Wanita itu meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri dari kungkungan atasannya. Air mata mulai mengenang di kedua matanya.Namun, semakin dia berusaha keras memberontak semakin membuat naluri Gavin tertantang. Pria itu justru membenturkan tubuh mungil sang sekretaris ke sebuah dinding, lalu menyerangnya dengan brutal, bahkan tidak mengindahkan permohonan Andrina yang meminta dilepaskan."Tuan, hentikan!" seru Andrina yang mulai kewalahan menghadapi serangan atasannya.Air mata lolos begitu saja ketika Gavin mula
"Ingat! Selalu didekatku, jangan jauh-jauh!" bisik Gavin ketika mereka hendak memasuki lobby hotel bintang lima.Andrina mengangguk tanda paham."Usir setiap wanita yang mendekatiku! Terserah bagaimanapun caranya, aku tidak peduli.""Baik, Tuan."Keduanya terus berjalan hingga memasuki sebuah ruangan luas tempat acara diadakan. Suasana ballroom sangat meriah, alunan musik mengalun merdu menyapa pendengaran sepasang bos dan sekretaris itu. Si empu acara tampak menyapa satu per satu tamunya didampingi pasangannya, termasuk menyapa Gavin dan Andrina. Senyum ramah tak pernah pudar dari keduanya."Selamat datang, Gavin! Lama aku tidak melihatmu. Kau sudah sebesar dan setampan ini," seru Tuan Rendra seraya menepuk pelan kedua lengan pria itu.Gavin tersenyum tipis menanggapi. "Bagaimana kabar Mutia? Aku juga lama tak jumpa dengan mommy-mu." Giliran istri Tuan Rendra yang bertanya.Semua itu hanya basa-basi belaka. Sesungguhnya, wanita itu juga sudah mengetahui rencana istri almarhum sahaba
"Apa kau pikir aku jatuh hati padamu?"Wanita itu semakin merapatkan tubuhnya pada pintu ketika melihat Gavin bergerak pelan mendekatinya. Sungguh hatinya merasa ketar-ketir saat ini."Katakan, Andrina!" bisik Gavin yang sudah menghimpit tubuhnya, bahkan gadis itu harus menahan nafas karena sapuan han
"Heh, Gavin ada, gak?"Suara gebrakan di mejanya berhasil mengejutkan Andrina yang semula fokus dengan pekerjaannya. Seketika wanita itu melayangkan tatapan maut pada pria yang berdiri angkuh di hadapannya. "Apa kamu gak pernah diajarin sopan santun, Tuan Erick?""Bera
''Itu karena...." Gavin masih ragu untuk mengungkapkan karena takut menyinggung perasaan sang ibu.''Karena apa, Gavin? Katakanlah! Mommy butuh alasanmu," desak Mutia."Karena aku aku takut bosan, Mom. Lalu berakhir selingkuh dan saling menyakiti satu sama lain.""Aku ... Aku tidak ingin seperti mommy
''Kenapa Anda masih mempertahankan gadis itu, Nyonya?" tanya Freddy setelah panggilan atasannya berakhir.Mutia menghembuskan nafas kasar. "Apa kau tau alasanku, kenapa aku begitu pemilih dengan wanita yang bersedia menjalankan misi dariku, Freddy? Padahal bisa saja aku mengambil salah satu wanita ma












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.