Home / Romansa / Wanita Sewaan Pak Elian / Awal Mula Permainan #5

Share

Awal Mula Permainan #5

Author: Gummy_Smile
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-25 02:26:51

Keesokan harinya, atmosfer di kantor terasa mencekik bagi Vior. Setiap langkah di koridor lantai lima terasa seperti berjalan di atas hamparan kaca yang retak. Bisik-bisik mengenai status baru "pacar bos" terus menyelinap di antara dering telepon dan denting keyboard. Rekan-rekannya yang biasanya menyapa hangat kini melirik dengan tatapan selidik—campuran antara iri dan prasangka. Sementara itu, Elian tampak kebal. Ia bersikap seperti biasa; dingin, profesional, dan berwibawa. Vior merasa seperti sedang berakting sendirian di panggung sandiwara yang megah namun dingin.

Tepat saat jam makan siang, ponsel Vior bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul dari aplikasi internal perusahaan.

“Temui aku di kafe seberang kantor, lima menit lagi.”

Vior menghela napas, merapikan blusnya, lalu melangkah keluar. Kafe itu adalah tempat eksklusif yang jarang dikunjungi staf admin biasa. Di sudut yang paling tenang, Elian sudah menunggu. Pria itu tampak sempurna dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan nadi yang tegas. Tanpa basa-basi, Elian menyodorkan dokumen terlipat di samping cangkir kopinya.

"Minggu depan, di hari pernikahan Rio dan Enzy," Elian menjeda, membiarkan nama itu mengambang di antara mereka, "kita akan datang sebagai pasangan. Kamu harus datang dengan kepala tegak, Vior. Aku akan memastikan tidak ada satu pun orang di sana yang berani memandangmu rendah."

Vior menahan napas. Ulu hatinya mencelos membayangkan tawa Rio. "Saya takut risikonya, Pak. Kalau mereka tahu kita berpura-pura—"

"Mereka tidak akan tahu," potong Elian dingin. "Dan setelah resepsi itu, malamnya kita langsung berangkat ke rumah orang tuaku. Saat itu, aku ingin kamu mengubah total sikapmu."

"Mengubah sikap?"

"Bersikaplah setidak sopan mungkin," ujar Elian datar. "Kenakan pakaian yang terbuka dan berani. Jangan gunakan gaya bicaramu yang santun. Jika Ibu bertanya tentang pekerjaan, acuhkan atau jawab dengan sinis. Tunjukkan bahwa citra admin yang kompeten hanyalah topeng."

Vior terperangah. "Bapak ingin aku merusak reputasiku sendiri? Kenapa tidak bersikap baik saja agar mereka menyukaiku?"

Elian menatapnya tajam. "Justru itulah bahayanya. Jika kamu datang sebagai dirimu yang asli, Ibu pasti akan langsung jatuh hati dan memaksaku menikahimu. Itu akan membuat masalah menjadi rumit. Kita harus membuat Ibu membencimu agar aku punya alasan untuk menunda perjodohan ini."

Vior terdiam. Logika gila ini terasa seperti lubang yang ia gali sendiri. Namun, saat ia memejamkan mata, wajah angkuh Rio yang meninggalkannya setelah tujuh tahun muncul di benak. Sebuah dorongan gelap haus akan pembuktian membakar hatinya.

"Baiklah," ucap Vior mantap. "Kalau Bapak ingin aku menjadi wanita yang tidak sopan, aku akan melakukannya. Jangan salahkan saya jika nanti Ibu Bapak benar-benar mengusir kita."

Elian menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia. "Bagus. Aku sudah menyiapkan pakaian yang sesuai untukmu. Kita akan melakukan pertunjukan terbaik di rumah keluarga Elian."

Satu minggu berlalu dengan cepat. Hari itu tiba. Vior berdiri di depan cermin besar di sebuah butik mewah, menatap pantulan dirinya dalam balutan gaun merah maroon dengan tali kecil yang hampir tidak terlihat, memperlihatkan bahu dan punggungnya dengan berani. Lipstik merah menyala menghiasi bibirnya, memberikan kesan wanita yang dingin dan tak tersentuh.

Ia mematut diri—ini bukan Vior yang dulu. Pintu ruang ganti terbuka, dan Elian berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Sudah siap menghancurkan reputasimu?" tanya Elian sambil mengulurkan tersenyum tipis.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Mencari Titik Lemah

    Dukungan yang mengalir melalui media sosial ternyata membawa dampak yang jauh lebih besar daripada dugaan Elian. Selama dua hari berikutnya, jumlah pesanan justru meningkat. Banyak pelanggan lama sengaja mengunggah foto tanaman yang mereka beli dari Surya Flora Nusantara disertai cerita tentang kualitas bibit dan pelayanan yang mereka terima. Beberapa bahkan menulis bahwa mereka akan tetap membeli dari pembibitan itu apa pun yang terjadi. Melihat semua itu, semangat para pegawai kembali bangkit. Mereka bekerja sambil tersenyum, seolah ingin membuktikan bahwa tempat kecil itu tidak akan mudah dikalahkan.Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sore hari.Rio yang baru kembali dari mengantar pesanan masuk ke ruang administrasi dengan wajah kusut. Kemejanya basah oleh keringat, sementara tangannya masih menggenggam surat jalan."Pak Elian, tadi ada masalah."Elian yang sedang memeriksa laporan penjualan langsung mengangkat kepala. "Ada apa?""Jalan utama menuju pembibitan mulai ditutu

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Melawan Badai

    "Kalau kita memang harus menghadapi badai, kita akan menghadapinya bersama."Kalimat Elian masih terngiang di benak Vior ketika keesokan harinya seluruh pegawai berkumpul di halaman depan pembibitan. Biasanya pertemuan pagi hanya berlangsung beberapa menit untuk membagi tugas, tetapi kali ini suasananya berbeda. Semua orang dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang penting akan disampaikan.Elian berdiri di depan mereka tanpa mengenakan pakaian formal. Ia hanya memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya tetap tenang, meski semalaman ia hampir tidak bisa tidur memikirkan langkah berikutnya."Ada satu hal yang harus kalian ketahui," ucapnya sambil memandang satu per satu wajah para pegawai. "Beberapa hari terakhir ada perusahaan properti yang berusaha membeli Surya Flora Nusantara. Kalian mungkin akan melihat aktivitas pembangunan di sekitar pembibitan ini. Aku tidak ingin kalian mendengar kabar itu dari orang lain, jadi lebih baik aku yang menjelaskannya langsung."

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Bukan Sekedar Aset

    "Aku tidak akan menyerahkan tempat ini begitu saja."Ucapan Elian membuat suasana di ruang kantor menjadi hening. Vior menatap suaminya dengan sorot mata penuh keyakinan. Ia tahu, pria yang berdiri di hadapannya bukan lagi Elian yang dulu mudah terbakar emosi ketika menghadapi lawan bisnis. Setelah kehilangan segalanya, Elian berubah menjadi jauh lebih tenang. Justru ketenangan itulah yang membuatnya terlihat lebih berbahaya.Pak Hadi meletakkan secangkir kopi di hadapan Elian sebelum duduk perlahan. "Saya sudah bekerja di sini hampir tiga puluh tahun. Selama itu pula saya melihat banyak orang datang menawarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli tempat ini. Almarhum Pak Surya selalu menjawab dengan kalimat yang sama, 'Selama tanah ini masih bisa ditanami, saya tidak akan menjualnya.'"Elian tersenyum tipis. "Sepertinya aku mulai mengerti alasan Kakek.""Beliau pernah berkata bahwa tanah ini bukan sekadar aset. Tempat ini memberi makan puluhan keluarga."Belum sempat percakapan mere

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Amplop Misterius

    "Mas, coba lihat ini."Suara Vior membuat Elian mengalihkan perhatiannya dari tumpukan bibit yang sedang ia rapikan. Wanita itu berjalan tergesa-gesa dari ruang administrasi sambil membawa sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim. Wajahnya tidak sepenuhnya panik, tetapi jelas menyimpan kebingungan."Ada apa?""Kurir tadi mengantar surat ini. Katanya harus diberikan langsung kepadamu."Elian menerima amplop tersebut. Tidak ada logo perusahaan maupun nama pengirim. Hanya tertulis namanya dengan huruf cetak yang rapi. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak enak.Ia membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya ada selembar surat dan beberapa lembar foto.Senyum di wajah Elian perlahan menghilang."Ada apa, Mas?" tanya Vior yang mulai ikut cemas.Elian tidak langsung menjawab. Ia justru menyerahkan salah satu foto kepada istrinya.Vior membelalak.Foto itu memperlihatkan beberapa pria berpakaian formal sedang berdiri di atas sebuah bukit yang berbatasan langsung dengan Surya Flo

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Salah Hitung

    Pagi itu Surya Flora Nusantara diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Matahari baru saja muncul di balik perbukitan ketika para pegawai mulai berdatangan. Sebagian langsung menuju rumah kaca untuk memeriksa bibit yang baru disemai, sementara yang lain sibuk menyiapkan pesanan yang harus dikirim sebelum siang. Suasana pembibitan kini jauh berbeda dibandingkan beberapa minggu lalu. Tidak hanya semakin ramai karena jumlah pesanan yang meningkat, tetapi juga terasa lebih hangat karena hampir setiap hari terdengar tawa para pegawai.Elian berjalan menyusuri area pembibitan sambil membawa buku catatan kecil. Ia sesekali berhenti untuk memperhatikan pertumbuhan tanaman, bertanya kepada Pak Hadi mengenai proses perawatan, lalu mencatat hal-hal baru yang belum diketahuinya. Meski secara hukum ia sudah menjadi pemilik perusahaan, Elian tetap bersikeras mempelajari semuanya dari dasar. Sikap itu membuat para pegawai semakin menghormatinya. Mereka tidak lagi melihat Elian sebagai mantan CEO peru

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Bukan Lagi CEO

    Pagi berikutnya, Vior sudah terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia melirik ke samping, mendapati Elian masih tertidur lelap dengan satu tangan masih melingkar di pinggangnya. Selama beberapa detik, Vior hanya memandang wajah suaminya. Dulu, pria itu selalu tidur dengan dahi berkerut, seolah bahkan saat terlelap pun masih memikirkan rapat dan laporan perusahaan. Kini, meski tubuhnya lebih lelah karena bekerja langsung di lapangan, wajahnya justru terlihat jauh lebih damai.Vior mengusap pelan rambut Elian yang mulai sedikit berantakan. "Selamat pagi, Pak Direktur Pembibitan," bisiknya sambil tersenyum.Elian mengerutkan hidung, lalu perlahan membuka mata. Begitu melihat Vior sudah tersenyum di hadapannya, ia ikut tersenyum tanpa sadar."Jam berapa?""Baru setengah enam.""Kok sudah bangun?""Karena hari ini kita punya banyak pekerjaan."Elian menghela napas panjang, lalu kembali merebahkan kepalanya di bantal."Lima menit lagi."Vior terkekeh pelan."Dulu waktu masih

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Ketenangan dari Elian #13

    Kantor yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi arena gladiator yang mencekam. Rio, yang saat itu sedang memamerkan video saat ia menampar Vior pada rekan kerjanya—tentu dengan bumbu kebohongan tentang Vior—sama sekali tidak menyadari badai yang sedang datang. Pintu ruangannya terbuka dengan de

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Video yang Viral #12

    Rasa panas yang menjalar di pipi Vior setelah tamparan keras Rio mendarat seolah membakar sisa-sisa kewarasannya. Ia tidak menyangka Rio akan bertindak sebrutal itu di depan umum. Setelah tamparan balasan itu, Vior tidak berteriak, ia tidak memaki; ia hanya terpaku sejenak, membiarkan rasa perih me

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Keributan di Kafe #11

    Vior duduk terdiam di dalam mobil Elian, menatap kosong ke arah lampu jalan yang berbayang di balik kaca. Rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda. Setelah kejadian di mansion tadi, ia merasa telah melewati garis batas kewarasannya. Ia bukan lagi sekadar karyawan yang membantu bosnya melakukan aksi

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Ingin Childfree #10

    Vior duduk di atas sofa beludru yang harganya mungkin setara dengan seluruh isi kamar kosnya. Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk tampil provokatif atau berani seperti malam sebelumnya. Tetapi otaknya tetap memikirkan cara untuk melakukan hal unik yang mungkin akan di benci oleh wanita paruh bay

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status