LOGIN
Dania tidak pernah menyangka akan bertemu hari yang akan membuat hidupnya hancur, bahagianya hilang dan harapannya untuk tetap terjaga hingga bertemu pasangan hidupnya terasa sia-sia.
"Siapa ayahnya, Nia?" Bu Tari terdengar sangat putus asa setelah mendengar pengakuan putrinya. "Nia tidak tau, Bu." Dania menangis tersedu-sedu di hadapan orang tua dan kakaknya. "Bagaimana bisa begitu?" tanya Bu Tari lagi. "Setelah sholat magrib... aku dan teman-teman makan malam... Setelah itu... Aku tidak ingat apa-apa lagi Bu... Tau-tau sudah pagi dan aku sendirian di kamar vila, ada bercak darah di seprei, tapi Nia pikir mungkin itu milik teman yang sedang datang bulan." Dania menjelaskan di tengah isak tangisnya. "Sudah jelas itu jebakan, kenapa kamu begitu bodoh, makanya kakak tidak setuju kamu merayakan apapun setelah wisuda waktu itu," sahut Indra, Kakak Nia. "Maafkan, Nia Kak." Dania begitu menyesal. "Nasi sudah menjadi bubur, Nia." ucap Andre dengan kecewa. Ia tidak ingin melihat adiknya lagi, ia pun pergi ke kamarnya. "Dania, sebagai hukuman dari Ayah, pergi dari rumah, tinggalkan kampung ini." Tidak ada yang menyangka Fadli Gunawan yang dari tadi hanya diam mengatakan hal itu. Meski nadanya datar, tapi pandangannya terhadap Dania begitu membara. Ia merasa begitu dikhianati oleh putrinya sendiri. "Ayah..!" Bentak Bu Tari. "Mau bagaimana lagi, kamu akan mencoreng nama baik keluarga kita, pergi sejauh mungkin dan bawa aib yang telah kamu lakukan itu," lanjut Pak Fadli lagi. "Ayah..." Dania tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya, ia hanya bisa menangis. "Pastikan aku tidak melihatmu lagi malam ini," Pak Fadli berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan itu. Bu Tari memeluk Dania yang begitu putus asa, hancur dan kecewa. "Maafkan ibu karena tidak bisa membelamu, kamu tahu siapa ayahmu dia seorang tokoh masyarakat dan kakakmu adalah penceramah, kalau masyarakat tau kamu hamil di luar nikah, ayahmu dan keluarga kita bisa hancur," "Ibu..." Dania kembali tidak bisa bicara, ia hanya melanjutkan dengan Isak tangis. Bu Tari memperbaiki jilbab putrinya lalu berkata, "Pergilah ke kota, Nak. Ibu akan memberimu alamat teman dekat ibu, kamu ke sana saja untuk sementara sampai amarah ayahmu mereda." Dania menunduk pasrah. Bu Tari mengambil handphone untuk mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya kepada temannya. Beberapa saat kemudian ia menerima balasan dan meneruskannya kepada Dania. Isinya adalah alamat rumah temannya itu. Bu Tari membantu Dania mengepak barang dan juga mengantar Dania ke depan rumah, Pak Fadli sama sekali tidak keluar. "Dania mau ke mana, Bu?" Seorang tetangga yang lewat bertanya. "Mau kerja di kota, Bu," balas Bu Tari berbohong. Setelah melihat interaksi ibunya dengan tetangga barusan membuatnya berpikir sepertinya pergi memang keputusan yang benar. Jika orang-orang tahu keadaannya bagaimana ibunya menyapa mereka. *** Saat tiba di kota, Dania tidak pergi ke tempat teman ibunya, saat ia sedang beristirahat di sebuah kursi panjang, ia iseng membuka sosial media dan menemukan brosur yang sedikit nyeleneh. Tapi ia tetap mencoba menghubungi nomor yang tertera. Entah ia mendapat keberuntungan atau bagaimana, orang yang diteleponnya langsung menerimanya dan menyuruhnya datang ke alamat yang tertera di brosur. Ternyata brosur itu bukan hoax, akhirnya ia mendapat pekerjaan di hari itu juga. Ia bekerja sebagai pelayan di rumah orang kaya, walaupun hanya pelayan ia sudah sangat bersyukur, setidaknya ia memiliki tempat tinggal, majikannya juga sangat baik dan tugasnya hanya satu, yaitu mengurus wanita tua bernama Dewi Anggraeni. Pekerjaannya tidak banyak, hanya memastikan Bu Dewi makan tepat waktu dan mengingatkan minum obat tepat waktu karena itu upah yang didapatkan juga tidak banyak. Semua sudah tertulis di brosur yang tidak sengaja ia lihat di beranda sosial media waktu itu, makanya brosur itu terkesan nyeleneh dan ia mau mengambil pekerjaan itu karena merasa cocok dengan kondisinya saat ini yang sedang tidak bisa melakukan pekerjaan berat karena sedang hamil. Sebelum mulai bekerja ia sudah menjelaskan semua kondisinya kepada calon majikannya, berikut alasan kenapa ia harus mendapatkan pekerjaan itu, syukurnya Bu Dewi setuju bahkan memperlakukannya dengan baik dan mengizinkannya tetap tinggal di rumahnya saat melahirkan dan sampai anaknya kelak sudah bisa diajak kemana-mana. Saat hari persalinan tiba, bayi yang dikandung Dania tidak selamat karena terjadi solusio plasenta menjelang kelahiran. Tentu Dania sedih dan terpukul walaupun awalnya ia tidak menginginkan janin itu berada di rahimnya. "Tidak apa-apa, mungkin ini jalan terbaik dari tuhan agar kamu bisa menata kembali kehidupanmu kedepannya." Nasehat Bu Dewi saat mengunjungi Dania yang tampak kehilangan harapan. "Terimakasih Bu Dewi," ucap Dania dengan suara lirih, berkat Bu Dewi, ia tidak sendirian saat melahirkan. Bu Dewi meminta dua orang pelayannya untuk menemaninya selama melahirkan. karena itu ia bertekad akan tetap bekerja melayani Bu Dewi tanpa memikirkan takdir kedepannya akan seperti apa.Semua persoalan mengenai kecelakaan selesai dengan cepat berkat bantuan Rain. Rain merasa bersyukur, Liya merasa lega, sementara Dania merasa tidak enak hati telah melibatkan mantan suaminya, terutama setelah pertemuan beberapa saat yang lalu. "Mobilnya bisa normal dalam waktu dua hari, setelah selesai aku akan mengantarkannya ke alamatmu," ucap Rain saat mereka menuju ke halte. Dania dan Liya akan pulang menggunakan bus, Rain sudah menawarkan diri untuk mengantar tapi Dania menolak dengan tegas. "Iya, Pak. Terimakasih banyak atas bantuannya dan aku juga minta maaf," balas Dania. "Untuk apa minta maaf?" tanya Rain. "Karena sudah merepotkan dan untuk hal yang lainnya," "Tidak masalah. Aku senang bisa membantu," ucap Rain sembari melirik Dania dari kaca spion dalam mobil. Mereka terus mengobrol hingga tiba di halte bus terdekat. Lebih tepatnya Liya yang lebih banyak bicara sedang Dania hanya menyimak. Rain hendak menunggu hingga bus datang tapi Dania mencegahnya dan menyuru
Tidak berselang lama, sebuah mobil menepi di belakang mobil Dania, Jeri dan Rain keluar dari dalam mobil itu, Dania langsung melihat ke arah Liya. "Maaf, Mbak. Menurutku yang bisa membantu kita lebih cepat adalah Mas Jeri, kami tadi saling bertukar nomor kontak, jadi dipikiranku cuma dia, aku tidak tau kalau dia mengajak Pak Rain juga," ucap Liya sedang Dania tidak bisa protes lagi karena keadaan masih kacau dan hanya bisa menerimanya saja. "Kalian baik-baik saja?" tanya Rain. "Alhamdulillah, kami tidak apa-apa, tapi pemilik motor itu nggak tau bagaimana keadaannya." jawab Liya. "Lalu kemana perginya?" tanya Rain sambil melihat keadaan mobil. "Sudah dibawa warga ke rumah sakit terdekat," jawab Liya. "Syukurlah. Mobilnya biar aku yang urus," kata Rain. "Jer, cari bengkel terdekat," ucapnya pada Jeri. "Baik, Pak," balas Jeri, ia mengeluarkan ponsel lalu menelpon seseorang. Sedang Rain melihat ke arah Dania yang tampak pucat sambil berkata, "Jadi mau bagaima
Dania terkejut, ingin rasanya membalas Rain dengan makian, tapi ia menahan diri dan berkata dengan tenang namun menusuk, "Apakah bagi Pak Rain aku terlihat begitu mudah? Dinikahi saat dibutuhkan, dicerai saat tidak berguna. Sekarang apa lagi alasannya?" Rain tidak langsung membalas, karena tujuannya memang ingin melihat respon Dania dan sebesar apa penolakannya. Tapi di lain sisi ia benar-benar serius mengatakan itu. "Untuk pernikahan sebelumnya kita sama-sama tahu, memang terjadi karena butuh, tapi perceraian bukan karena kamu tidak berguna, bukan juga karena wanita lain, ada hal yang tidak bisa aku jelaskan." Rain berhenti karena belum saatnya mengatakan alasannya, ia takut Dania berpikir lebih buruk lagi. "Alasan apa yang tidak bisa dijelaskan, Pak? Kalau aku setuju dengan permintaanmu untuk kembali ke sisimu sekarang, kemungkinan akan ada alasan lain yang tidak bisa dijelaskan lagi bukan?" Dania masih bisa menahan emosinya. "Karena aku merasa aku mungkin memiliki pera
"Sedang apa, Jer?" Suara laki-laki lainnya membuat Dania menoleh, itu adalah Rain, Dania hanya melihatnya sebentar lalu mengalihkan pandangan. "Sedang menyapa mantan istri bos." Jeri memperjelas di bagian kata mantan untuk memanas-manasi Rain dan dengan sedikit nada menggoda. "Sedang apa di sini?" tanya Rain pada Dania, seolah tidak mengetahui kedatangan Dania. Membuat Jeri memutar bola matanya sambil tersenyum dikulum. "Sedang mengantar pesanan, Pak. Kebetulan ya bisa bertemu di sini," jawab Dania, nadanya sedikit menyindir. "Ah iya, betul juga. Aku juga baru sampai ini, makanya bisa ketemu di lobi secara kebetulan." "Iya, Pak. Bu Maria mana?" tanya Dania, ada banyak maksud dari pertanyaannya. "Nggak ikut, dia sedang menjaga Erlangga di rumah." "Oh." Dania menunduk sebentar untuk menyembunyikan dugaan dan perasaan yang muncul, jawaban Rain selalu membuatnya terus menyimpulkan hubungan mereka. Jeri sempat menangkap ekspresi Dania dan ingin menjelaskan tapi Liya dat
Pemeriksaan terakhir menunjukkan, Rain sudah sepenuhnya pulih dan benar-benar sehat, semua orang yang mengetahui penykitnya dari awal merayakannya penuh suka cita, tapi Rain kurang menikmatinya, ia merasakan kekosongan di hatinya. Rasanya tidak sabar lagi, ingin membawa Dania kembali ke sisinya, tapi setelah melihat Dania beberapa hari yang lalu membuatnya kurang percaya diri, apalagi Dania bukanlah wanita yang mudah didekati, entah kenapa sejak mengenal Dania, ia juga jadi menghargai wanita, dulu ia dan Monika benar-benar tidak ada batas, bahkan setelah menikah dengan Marina mereka masih sering melewati batas. Tapi saat bersama Dania, ia berubah sepenuhnya. Di kala ia memikirkan Dania, Jeri masuk ke ruangannya. Asistennya itu membawa jurnal berisi jadwal Rain. Ia mulai membacakannya secara rinci "... terkahir, besok ada rapat di cabang perusahaan. Itu saja, Pak," ucapnya di antara penjelasan panjangnya. Sudah lama sekali, Rain tidak mengunjungi cabang perusahaannya, ia han
Tempat tinggal Dania hanya di seberang taman, kalau bukan karena Barang-barang ia pasti memilih berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, Ia tidak bisa tidak memikirkan hubungan Rain dan Maria, untungnya ia cepat tiba di toko kue sekaligus tempat tinggalnya sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan semuanya. Ternyata waktu tiga tahun tidak bisa mengubur kenangan yang pernah ada. Dania masih berdoa untuk menyembuhkan rasa sesak yang masih menggumpal di dadanya. Bukan hanya disebabkan oleh perkataan Rain yang tiba-tiba mengatakan perpisahan, saat surat cerai diantarkan ke rumahnya juga sangat membuatnya terluka lebih dalam. Tapi ia sabar untuk menerima semuanya sehingga tidak perlu dendam pada Rain. Tapi semua kembali terasa nyata saat melihat Rain hari ini, ia sungguh tidak sebaik kelihatannya, janji dan ingkar serta surat cerai waktu itu kembali memenuhi pelupuk matanya. Ia tetap santai karena sabarnya yang begitu luas. Ditambah lagi urusan dengan orang tua dan keluarganya, ia tidak







