Home / Romansa / Wanita ketiga Duda Kaya / Bab 3 Ibu Susu untuk Erlangga

Share

Bab 3 Ibu Susu untuk Erlangga

Author: Zizizaq
last update Petsa ng paglalathala: 2025-08-25 11:17:27

Bu Dewi menelepon Dania untuk datang ke kamar bayi. Beberapa saat kemudian Dania muncul. Ia merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarga besar yang kaya raya itu. Ia menjadi sangat canggung saat Rain menatapnya dari atas ke bawah.

"Bukankah dia pelayan khusus, Nenek?" tanya Rain.

"Iya memang, tapi Nenek sudah menganggapnya seperti keluarga Nenek sendiri. Kurang lebih dua bulan lalu dia kehilangan bayinya, dan ASI-nya belum berhenti sampai sekarang," jelas Bu Dewi. Dania yang mendengar merasa terharu di beberapa kata yang diucapkan Bu Dewi. 'Ternyata Bu Dewi menganggapku seperti keluarga.'

"Semoga saja Erlangga mau dan cocok. Kalau dia masih saja menolak sebaiknya kita bawa Er ke rumah sakit." timpal Bu Nena, setuju.

"Apakah Bu Dewi butuh bantuan?" Dania bertanya dengan sopan. Ia belum tahu kenapa ia dipanggil untuk bergabung.

"Bukan aku tapi cicitku. Daripada kamu membuang-buang ASI-mu sebaiknya berikan saja ke Erlangga, bagaimana?" Bu Dewi tetap harus meminta persetujuan Dania.

"Boleh, tapi bagaimana dengan statusnya? Setelah aku memberinya ASI aku akan menjadi ibu susunya, apa itu tidak apa-apa?"

"Tidak masalah, yang penting kami mengenalmu dan kamu mengenal kami." Dijawab oleh Bu Nena dan Bu Dewi juga mengangguk.

"Baiklah, biar saya memompa ASI-nya terlebih dahulu. Di mana alat pompa ASI-nya?" Dania belum mengerti kalau ia diminta untuk mengASIhi secara langsung.

"Tidak perlu. Dia akan menolak lagi kalau diminumkan pakai botol susu," ucap Nena.

Dania sedikit kaget, ia berpikir sebentar sebelum setuju. Ia melihat ke arah Erlangga yang masih menangis. Karena rasa iba, ia pun mau melakukannya.

"Baiklah." Mendengar itu, Bu Dewi langsung menyerahkan Erlangga kepada Dania. Setelah Dania menerimanya dia tidak langsung bergerak karena menunggu semua orang keluar. Karena saking antusiasnya ingin melihat Erlangga mau menerima ASI-nya atau tidak, mereka jadi lupa untuk memberi ruang kepadanya.

"Mohon maaf, bisakah memberi kami ruang dulu sebentar?" Dania bertanya dengan hati-hati.

"Oh iya, jadi lupa." ucap Bu Dewi. Ia pun keluar diikuti yang lainnya.

Erlangga masih saja menangis. Dania mencoba menenangkan sambil menyiapkan diri untuk memberi ASI. Saat ia mulai melakukannya, ia merasa sedang memberi ASI kepada anaknya sendiri. Air matanya menitik tapi ia bisa segera menguasai diri. Untungnya Erlangga juga tidak menolak, ia terlihat bersemangat menyedot ASI-nya sampai suara terengah-engah keluar dari mulutnya, mungkin karena sudah terlalu lapar.

Di luar kamar, semua orang sudah menduga pasti Erlangga menerimanya karena tidak terdengar suara menangis lagi.

"Di mana ibu menemukan perempuan ini?" tanya Nena. Rain ikut menyimak. Ia tertarik karena wanita itu berhasil menenangkan putranya.

"Dia salah satu pelamar yang menemukan brosur yang aku sebarkan. Dia terlihat baik jadi aku menerimanya. Tidak kusangka ternyata dia sedang hamil. Mungkin ini rencana Tuhan mempertemukan aku dengannya."

"Di mana suaminya?" Kali ini Rain yang bertanya.

"Dia tidak punya suami,"

"Perempuan seperti itu dinilai baiknya dari mana? Apa karena hijabnya?" Rain merasa tidak terima anaknya disusui wanita yang tidak benar.

"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Bisa dibilang, dia adalah korban pemerkosaan," Bu Dewi menjelaskan persis seperti yang dijelaskan Dania padanya. Untungnya semua orang bisa mengerti.

Beberapa saat kemudian, Dania keluar dari kamar. Semua orang menyambutnya kecuali Rain. Laki-laki itu langsung masuk melihat putranya.

"Dia tertidur setelah merasa kenyang," ucap Dania.

"Syukurlah dia tidak menolak. Terima kasih, Dania." Nena tampak lega dan berterima kasih dengan tulus.

"Kamu tinggal di sini saja. Mulai sekarang kamu milik Erlangga. Nanti barang-barangmu akan diantar sopir," ucap Bu Dewi.

"Betul," timpal Nena

"Bagaimana dengan Bu Dewi?" Sebenarnya Dania tidak siap untuk tinggal di rumah itu, tapi tidak punya alasan untuk menolak. Terutama ia tidak mau berurusan dengan ayah si bayi.

"Kamu tahu sendiri, aku punya banyak pelayan di rumah,"

"Tapi Bu," Dania ingin sekali menolak tapi tidak enak hati. Ia hanya bisa berkata dengan asal,

"Bagaimana kalau kita bawa Erlangga saja ke rumah Bu Dewi?"

"Tidak bisa," tegas Rain membuat Dania menoleh.

"Aku akan membayarmu lebih dari yang nenekku bayarkan," Rain memberi penawaran.

"Bukan masalah uangnya, Pak." Dania masih belum menyerah. Ia hanya asal memanggil 'pak' karena merasa Rain mungkin jauh lebih tua darinya.

"Apa karena aku? Tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa padamu dan ada suster yang akan membantumu. Kamu cukup menyusui Erlangga saja." selidik Rain sembari menjelaskan. Mana mungkin Dania jujur, ia hanya bisa menggeleng dan menerima penjelasan Rain.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
madchan
Alamat jadi ibu susu anak orang kaya nih
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 100 Harta Paling Berharga (End)

    Satu bulan berlalu. Dania tengah bersantai di rumah keluarga ketika mendapat telepon dari Liya, "Assalamualaikum, Mbak!" Suara Liya terdengar bersemangat. "Waalaikumussalam, Liya. Bagaimana keadaan toko? Ada masalah?" Dania menerka. Liya biasanya menelepon untuk urusan toko dan dia selalu santai saat menelepon. Kali ini ia membuat Dania penasaran. "Mbak. Aku mau bicara tapi bukan masalah toko." "Lalu apa?" "Mas Jeri, Mbak." "Kenapa, Jeri?" "Dia bilang mau melamarku." Suara Liya terdengar serak karena menangis. Pasti sangat terharu. Akhirnya orang yang ia kagumi akhir-akhir ini akan melamarnya. "Liya. Aku turut senang mendengarnya." "Mbak. Aku harus bagaimana?" "Terima, Liya. Dia baik dan sholeh. Kamu tahu sendiri aku mengenalnya." "Iya, Mbak. Kalau begitu aku sampaikan dulu ke keluargaku," "Iya. Itu yang terpenting." "Iya, Mbak. Kalau begitu aku tutup ya, Mbak. Nanti kalau ada info, aku akan mengabarimu lagi." "Liya kamu harus yakin pada dirimu sendiri dan percaya padany

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 99 Aku Selalu Cemburu

    Dania kembali menginjakkan kaki di kantor Milano setelah sekian tahun. Ada banyak perubahan di tempat itu. Bangunannya semakin cantik dan indah dipandang. Ia mendekati petugas resepsionis dan berkata, "Saya ingin mengantarkan ini untuk Pak Rain. Tadi dia lupa membawanya." Ia mengangkat paperbag di tangannya untuk diperlihatkan kepada petugas itu. "Silahkan, Bu. Nanti bisa dititip ke meja asisten di depan kantornya." Petugas resepsionis belum tahu siapa Dania. Dan mereka malas mengurus titipan itu agar bisa sampai ke kantor direktur. Karena itu ia biarkan Dania sendiri yang mengantarnya. "Baik. Terima kasih," ucap Dania. Ia tersenyum membayangkan ekspresi Rain saat melihat kehadirannya. Dania tiba di depan ruangan Rain. Ia sengaja membuka pintu tanpa mengetuk. Ia belum sempat bereaksi saat ia melihat Monika ternyata berada di ruangan itu. Posisinya sedang berdiri sangat dekat di depan Rain. "Siapa?" Rain mengintip dari balik tubuh Monika. Ia kaget melihat Dania. Hanya dengan meliha

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 98 Bayangan Jadi Kenyataan

    Keesokan harinya Rain bersiap berangkat kerja sedang Dania beraktifitas seperti saat ia masih menjadi istri Rain dulu. Hanya saja kali ini lebih terasa hangat dan damai. Rain sedang menuruni tangga dengan gagah. Wajahnya lebih fresh dan berseri-seri. Dania juga menyambutnya dengan senyum hangat. "Senang deh lihat mama sama papa tidak kayak robot di pagi hari. Coba mereka seperti ini dari dulu. Aku pasti terlihat awet muda karena senyum-senyum terus," celetuk Rena yang sudah selesai menyuapi Erlangga. Sedang Erlangga hanya mengangguk. Entah ia mengerti apa yang dimaksud Rena atau tidak. Setelah sarapan Rena akan mengantar Erlangga sekolah. "Kami jalan dulu, Bu, Pak." Rena pamit sedang Erlangga menghampiri mama dan papanya. "Belajar yang benar ya, Sayang," sambut Dania saat Erlangga menghampirinya untuk menyalami tangannya. "Baik-baik di sekolah," ucap Rain saat Erlangga beralih padanya. Setelah itu ia dan Rena berangkat diantar oleh sopir. Setelah keduanya pergi, Dania fokus pada

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 97 Kado Yang Tertunda

    Dania dan Rain kembali ke ibu kota bersama. Tadinya Dania meminta izin agar Rain saja yang ke ibu kota sedang dirinya kembali mengelola toko kue. Tapi Rain merasa berat untuk berjauhan. Apalagi mereka baru saja bersatu setelah beberapa tahun. Saat Dania kembali ke rumah Rain, Erlangga langsung menyambutnya. Rena juga terlihat sangat senang. "Mama nggak akan pergi lagi kan?" Erlangga memastikan setelah menyalami dan mencium mamanya. Dania juga mengecup keningnya lalu berucap, "Nggak akan, Sayang." "Senangnya. Mama akhirnya kembali lagi." Erlangga tampak berseri-seri. "Sudah tiga tahun rumah ini kehilangan pemiliknya. Selamat datang kembali, Bu Dania!" sambut Rena. "Biasa saja lah, Mbak Ren. Kita kan pernah menjadi pekerja di rumah ini," "Nggak bisa begitu. Sekarang aku harus memposisikanmu sebagai istri Pak Rainer Milano." "Itu benar," ucap Rain tiba-tiba bergabung. Dania menoleh pada suaminya dengan senyuman hangat. Rain bahagia berkali lipat melihatnya. Ia mendekati Dania dan

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 96 Kamu adalah obat

    Dania dan Rain melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Setelah itu mereka berdoa. Setelah berdoa, Dania menyalami tangan Rain kemudian lanjut Rain yang mengecup keningnya cukup lama. "Biar aku bantu lepas mukenanya," ucap Rain. Dania sudah memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Pasti bukan hanya mukenanya yang akan terlepas. "Iya, Mas." Tapi ia tetap patuh. Rain menatapnya dengan intens. Rain ternyata tidak membantu melepas mukenanya. Ia malah mendekatkan wajah dan mengecup bibir istrinya dengan lembut. "Beneran boleh malam ini?" tanya Rain tanpa melepas tatapannya. "Boleh, Mas." Dania menjawab dengan malu-malu. "Aku dengar kamu ada trauma. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Rain perlu memastikannya. "Aku rasa kamu adalah obatnya, Mas." Dania ternyata bisa blak-blakan juga. Memang hanya perlu dihalalkan saja. Rain tersenyum mendengarnya dan berkata, "Kalau begitu biar aku mengobatimu malam ini." Ia sebenarnya sangat gugup tapi kesempatan sudah di depan mata. Jadi harus bi

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 95 Malam Pertama yang Kalem

    Rain menoleh pada istrinya dan bingung harus melakukan apa saking gugupnya, "Anda bisa membacakan doa di ubun-ubun istri anda. Setelah itu terserah mau melakukan apa," ucap Bapak Penghulu. Rain menjadi panik karena tidak sempat menghafal doanya. Tapi ia tetap bersikap tenang dan menyentuh ubun-ubun istrinya. Dania mengerti segalanya dan berucap dengan lirih. "Aku akan membantumu, Mas." "Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaih," bisik Dania lalu diikuti oleh Rain yang sedikit kehilangan harga diri sebagai suami. Bisa-bisanya berdoa dituntun oleh istrinya. "wa a'udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi," lanjutnya dan kembali diikuti oleh Rain. Setelah selesai doa, Dania mencium tangan suaminya. Setelah itu giliran Rain yang mengecup keningnya. Ia tidak bisa tahan untuk tidak memeluk. Ia tumpahkan rasa rindu yang sudah tertahan selama beberapa tahun. "Terima kasih, Dania. Terima kasih sudah menerimaku kembali," ucap Rain. Dania belum sempat menjaw

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 6

    Rain dan Monika menikmati angin malam di roof top, tempat kesukaan mereka dari masa remaja hingga berakhirnya hubungan mereka disebabkan Rain menikahi Marina yang dijodohkan Bu Dewi. Semua kembali mengalir diingatan mereka. "Jadi bagaimana rencana ke depannya, Rain?" Monika bermaksud merajut kemb

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 5

    Di sore hari, Rain kembali dari kantornya, ia meminta Rena membawa Erlangga turun untuk diperlihatkan kepada seorang wanita cantik dan berpenampilan modis. "Akhirnya kamu punya anak juga Rain?" ucap wanita itu dengan tatapan sendu sambil mengambil Erlangga dari gendongan Rena. "Iya." Rain menja

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 4

    Dania terbangun di pagi buta untuk melaksanakan sholat subuh, setelah sholat ia memeriksa keadaan Erlangga. Bayi mungil itu masih tertidur pulas di crib bed. Rain yang mengatur agar Erlangga tidur dengannya supaya lebih mudah saat putranya itu merasa lapar. Ia turun ke dapur untuk mengambil air

  • Wanita ketiga Duda Kaya   Bab 7

    Akhirnya pagi datang, entah bagaimana Erlangga akhirnya bisa tenang, Dania dan Rain bekerja sama semalaman untuk menenangkannya. Mereka sendiri tidak tau kapan Erlangga akhirnya bisa tertidur karena mereka sendiri sudah tidak bisa menahan rasa kantuk. "Apa yang kalian lakukan?" Suara Bu Dewi memb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status