MasukSatu minggu berlalu, orang tua Dania berkunjung ke tempat tinggal Dania. Alasannya karena rindu putrinya, alasan lainnya karena ingin membahas tentang Fahri lagi, lebih tepatnya pembahasan tentang Fahri adalah keinginan ibunya. Entah kenapa ibunya begitu bersemangat dan sangat berharap pada Fahri. "Nia, apa yang membuatmu ragu, sampai menundu-nunda ittikad baik Nak Fahri, Nak?" tanya ibunya dengan nada lembut, setelah Dania terlihat tampak lebih santai sejak ia tiba di rumah itu. "Nggak ada, Bu. Nia hanya belum siap saja." Dania pun bingung kenapa hatinya tidak bisa terbuka untuk Fahri, padahal ia sudah berusaha memancing. Semakin ia memaksa diri semakin tidak bersemangat dirinya untuk menentukan keputusannya, dan bayangan masa lalu masih sering mengendurkan keinginannya. Fakta bahwa Fahri yang merenggut kesuciannya lima tahun lalu membuatnya kadang tidak berminat dan orangtuanya belum tahu itu, ia punya prinsip, aib yang sudah tersembunyi tidak perlu diumbar jika tidak diperluka
Hari berikutnya, Dania, Bu Tari dan kakaknya pulang ke desa, ia hanya mengirim pesan pada Rain untuk berpamitan dan Rain juga memahaminya, untuk pertama kalinya ia mengirim pesan lagi setelah sekian lama. Ada pun Erlangga, Rain dan Rena pasti punya banyak cara untuk memberinya penegertian. Tentang toko kuenya, ia mempercayakan semuanya pada Liya. Saat ia tiba di desa, Fahri sepertinya tidak ingin membuang-buang waktu, ia mengajak Dania bertemu. Dania pun menyetujui karena ingin memperjelas semuanya. "Sebenarnya aku melihat Pak Rain waktu itu, setelah memikirkannya berkali-kali, aku memutuskan untuk melangkah lebih jauh," ucap Fahri setelah mereka saling menyapa. Pertemuan mereka di lakukan di cafe yang ramai pengunjung. "Aku tidak pernah berpikir kamu akan melakukan hal selicik ini, Fahri." "Mau sampai kapan, Dania? Mau sampai kapan kamu menutup diri seperti ini, memang benar semuanya kacau karena aku, tapi ini sudah lima tahun berlalu, dan sudah tiga tahun kamu dan Pak Ra
"Apa yang kamu lakukan?" suara itu membuat Rain menoleh dengan cepat, ia bermaksud menegur karena takut mengganggu tidur Dania dan putranya. Tapi ia menjadi beku saat melihat pemilik suara itu. "Ibu!?" serunya. "Kamu pikir kamu siapa?" Bu Tari menerobos masuk dengan emosi yang ditahan, Rain segera menghampirinya. "Maaf, Bu. Mereka baru saja tertidur, kita bicara di luar saja," ucap Rain, untungnya Bu Tari menurutinya. Ternyata di luar ada Andre juga, untung dia tidak ikut masuk, mengingat emosinya yang selalu meledak-ledak, pasti ia sudah memberi Rain pelajaran seperti saat pertama kali melihatnya dulu. "Kenapa kamu melakukan itu?" Bu Tari kembali bertanya dengan tatapan yang tajam. "Ada apa ini, Bu? Bukannya ibu buru-buru datang ke sini untuk melihat Erlangga dan menjemput Dania?" tanya Andre dengan bingung. Ia melihat Rain dan ibunya secara bergantian. Ibunya terlihat kesal sebuah Rain tampak pasrah. "Ada apa sih?" Andre sangat bingung. Tapi akhirnya memilih diam da
"Ehem, karena Erlangga sudah sadar, Aku dan ibumu pulang duluan, lagipula kata dokter tinggal menunggu hasil observasi pasca sadar," ucap Pak Fernando sambil melirik Bu Nena seperti memberi kode, untungnya Bu Nena cepat tanggap. "Mah, sebaiknya mamah pulang juga untuk istirahat," Bu Nena mengatakan itu sambil memegangi pundak Bu Dewi, berpura-pura khawatir akan kesehatannya. "Eh," gumam Bu Dewi. "Ayo, kami antar." Pak Fernando malah ikut-ikutan. Mambuat Bu Dewi ikut dengan terpaksa. Wanita tua yang selalu tampak elegan dan otoriter akhirnya kalah juga. "Mbak Rena jangan ke mana-mana ya!" ucap Dania. "Saya sudah ada pekerjaan, pakaian Erlangga harus segera dicuci, kalau dibiarkan, nanti nodanya susah hilang, jadi aku juga harus pulang," jawab Rena, tentu ia harus mengikuti permainan Pak Fernando. "Kalau begitu, aku ikut saja denganmu, Mbak." Dania merasa tidak nyaman berduaan terus dengan Rain. "Mama sama papa tidak boleh kemana-mana," ucap Erlangga sambil memegangi
Dania kembali bergabung dengan keluarga Rain. Keluarga Marina sudah tidak terlihat begitu juga Maria. "Bagaimana keadaan Erlangga?" tanyanya. "Belum sadar, sepertinya butuh beberapa menit lagi," jawab Bu Nena. "Dimana Rain?" tanya Pak Fernando. "Masih ada urusan, Pak. Sebentar lagi menyusul," jawab Dania, terdengar begitu formal dan sopan. "Kamu kaku sekali, santai saja, walaupun kalian sudah berpisah, 'kan tidak ada yang namanya mantan mertua, bukankah begitu dalam agama?" ucap Bu Nena. "Iya, Bu." Dania segera sadar untuk terdengar lebih akrab sebelum Bu Nena menceramahinya lagi. "Jadi sekarang apa rencana kalian?" tanya Bu Dewi. to the point. "Kami benar-benar baru bertemu jadi belum membahas apa-apa, Nek," jawab Dania dengan kikuk. "Segera dibicarakan, kalau tidak, aku akan menjodohkan Rain dengan Maria," ucap Bu Dewi, sikap otoriternya ternyata tidak berubah. "Mah!" seru Bu Nena. Tidak setuju dengan ucapan ibunya. "Biarkan Rain memilih sendiri, Mah.
Setelah membeli baju, Dania dan Rain membeli perlengkapan sehari-hari kemudian, Rain mengajak Dania makan lalu mencari penginapan di sekitar rumah sakit. Meski tidak ada obrolan yang berarti, Rain sudah sangat senang, ia juga menahan diri agar tidak membahas hal sensitif agar Dania merasa nyaman. "Itu untuk apa, Pak?" tanya Dania karena Rain ikut turun dan membawa beberapa totebag lagi saat menemukan penginapan yang cocok, sedang Dania mau menyimpan barang-barangnya sebelum ke rumah sakit lagi. "Tadi saat mencari barang untuk Erlangga, aku melihat barang bagus yang mungkin cocok denganmu, karena itu aku membelinya juga." "Nggak, Pak. Maaf aku tidak bisa menerimanya." "Ini hanya pakaian ganti," balas Rain. "Punyaku sudah cukup, Pak." "Kalau kamu tidak mau, buat temanmu saja, sayang sudah kebeli, keluargaku tidak ada yang memakai model seperti ini," "Baik, Pak." Dania mengiyakan dengan terpaksa. Ia mengambil barang yang dibawa Rain, ia tidak mau Rain ikut masuk ke kama







