登入"Orang yang berani menyia-nyiakan wanita dari Keluarga Hanafi ... mati sepuluh ribu kali pun nggak akan cukup untuk menebus dosanya." Yolanda mengucapkannya dengan wajah serius.Ujung bibir Isyana langsung berkedut. Dia sama sekali tidak tahu apakah Yolanda sedang serius atau bercanda.Dulu, dia selalu menganggap Yolanda sebagai seorang pertapa sakti yang hidup mengasingkan diri dan selalu bersikap angkuh. Namun, setelah sering berinteraksi, dia baru sadar ... wanita ini agak nyentrik.Bukan hanya tajam mulutnya, tingkahnya juga sulit ditebak.Kali ini, Yolanda bersikeras mengatakan pengalaman Isyana di dunia persilatan masih terlalu minim, sehingga ingin mengajaknya menghadiri Konferensi Pil untuk menambah wawasan.Namun, baru tiba di Cangga, sebelum sempat melihat apa pun, mereka sudah mendengar kabar bahwa Arlo telah membunuh grandmaster Keluarga Gaharu dan menyerbu Keluarga Candra seorang diri.Setelah Isyana memohon beberapa kali, Yolanda akhirnya bersedia datang. Semula Isyana me
Pada tingkat seperti dirinya, harta, ketenaran, maupun kekuasaan sudah tak lagi mampu mengusik hatinya.Hanya ranah yang lebih tinggi dan kekuatan yang lebih besar yang mampu membuat batinnya terguncang dan dipenuhi rasa takjub."Aku ... Wiraga ... mengaku kalah!"Wiraga telah kehilangan seluruh wibawa seorang grandmaster. Dia berlutut di tanah, seluruh tubuhnya gemetar.Seluruh anggota Keluarga Candra ikut berlutut dan menunduk.Semua orang yang menyaksikan begitu terguncang hingga tanpa sadar ikut berlutut. Dengan keperkasaan seperti ini, sekalipun ada yang mengatakan Arlo adalah dewa, mereka pun akan memercayainya.Saat ini, api emas telah merambat melalui celah-celah tanah hingga mencapai fondasi formasi besar di bawah rumah Keluarga Candra dan membakarnya.Suara ledakan terus-menerus bergema. Setelah formasi besar hancur, seluruh kabut beracun pun lenyap sepenuhnya. Angin perlahan berembus, meniup sisa-sisa racun yang masih tertinggal di udara hingga menghilang.Para praktisi bela
"Jadi ... ini jurus andalanmu yang sebenarnya?" Wajah Wiraga dipenuhi ketidakpercayaan saat menatap pemandangan di hadapannya.Dalam pandangannya, tebasan Membelah Air dengan Pedang tadi sudah merupakan batas kemampuan Arlo dalam mengendalikan kekuatan langit dan bumi.Namun, saat ini kobaran api di mata Arlo makin besar. Pada akhirnya, api itu berubah menjadi seberkas cahaya keemasan yang memelesat lurus ke langit, menembus udara dan menghantam tornado yang terbentuk dari kabut beracun.Sss .... Krek! Terdengar suara kabut beracun yang terbakar oleh kobaran api.Saat api emas itu bersentuhan dengan kabut beracun, kobarannya langsung membesar dan menyatu dengan kabut itu, membentuk pusaran api raksasa.Detik berikutnya, pusaran api raksasa itu meledak di udara, berubah menjadi naga api emas sepanjang puluhan meter yang membubung melawan angin.Tempurung kepala kera yang telah retak di tangan Wiraga masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan kabut beracun.Pada saat itu juga, api e
Salah satu titik inti formasi di halaman Keluarga Candra terkena aura pedang Arlo. Aliran kekuatan di formasi besar itu pun terganggu.Dalam sekejap, pusaran angin kehilangan kendali dan justru berbalik menyapu ke arah anggota Keluarga Candra.Melihat itu, Wiraga langsung pucat pasi. Dia buru-buru mengeluarkan setetes darah esensinya untuk melancarkan sebuah teknik. Namun, dia tetap tidak mampu mengendalikan pusaran angin itu lagi.Pusaran angin berputar liar di udara, berubah menjadi tornado yang sangat mengerikan.Yang membuat anggota Keluarga Candra putus asa adalah tornado itu tidak membedakan kawan maupun lawan. Racunnya pun sangat mematikan.Dalam sekejap, kabut beracun di dalam tornado mulai menyebar terlebih dulu ke seluruh area di atas Keluarga Candra.Tak terhitung anggota Keluarga Candra yang kultivasinya rendah langsung keracunan.Ando beserta beberapa petinggi keluarga hanya bisa terpaku. Bahkan leluhur mereka sendiri tidak mampu mengendalikan tornado itu, apalagi mereka?
Arlo mengangkat pedang, lalu menusukkannya ke udara. Dia tertawa sinis. Hari ini dia akan membiarkan para manusia biasa ini menyaksikan seperti apa Teknik Surgawi Abadi!Pedang itu melayang di udara. Arlo menggunakan darahnya sebagai media, lalu menggambar tak terhitung banyaknya jimat di angkasa.Tak lama kemudian, semua jimat bercahaya emas itu berkumpul menuju pedang. Dalam sekejap, cahaya keemasan di sekeliling pedang meledak hebat, sementara aura pedangnya memanjang hingga 10 meter.Arlo membuka mulutnya dan mengembuskan segumpal Energi Kekacauan berwarna abu-abu yang memelesat seperti pita panjang.Pedang yang bersinar keemasan itu seolah dilapisi tepian berwarna perak. Pada saat yang sama, api alkimia tingkat inti semu menempel pada bilah pedang, membentuk garis merah membara di tengah tubuh pedang bagaikan urat darah.Pedang raksasa sepanjang 10 meter itu bersinar cemerlang. Bilah peraknya memancarkan hawa dingin, sementara garis merahnya seolah mampu merenggut jiwa.Pedang itu
Jika dia maju, ada Formasi Kabut Beracun yang menghalangi jalan. Grandmaster lainnya juga akan segera tiba.Jika mundur, wanita yang ingin diselamatkan belum berhasil diselamatkan, permusuhan sudah terlanjur terjadi, bahkan sesumbar akan meratakan Keluarga Candra pun sudah diucapkan. Bukankah itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri?Namun, jika dipikir-pikir lagi, Arlo seorang diri berhasil mendesak Keluarga Candra hingga mereka terpaksa mengaktifkan formasi pelindung. Itu sendiri sudah merupakan pencapaian yang luar biasa.Kalau sekarang dia memilih mundur, para praktisi bela diri pun tak akan menyebutnya pengecut.Toh kehilangan martabat masih jauh lebih baik daripada kehilangan nyawa.Delfi juga memiliki pemikiran yang sama. Sambil menahan rasa takut, dia berkata dengan suara gemetar, "Arlo, kalau sekarang kamu melepaskanku dan Jahara, kamu masih bisa bernegosiasi dengan leluhur Keluarga Candra agar Sheila nggak ikut terseret.""Jangan lupa, tujuanmu kemari adalah menyelamat
Rayanza tertawa lepas. "Berapa nilainya nyawaku dan anakku ini? Setelah pernah berjalan di ambang kematian, sia-sia saja hidupku kalau masih nggak bisa bedakan mana yang lebih penting!"Fellis merasa terkejut dengan keputusan ayahnya, tetapi tidak menunjukkannya.Arlo tersenyum dan berkata, "Pak Ray
"Ada urusan apa, Pak Dandy? Menurut aturan, Andre sekarang nggak bisa menerima tamu!" kata Jarwa.Dandy tidak berkata apa-apa, sementara Zaem juga menundukkan kepala. Jarwa mengerutkan kening.Saat itu, pemuda yang berdiri di tengah berkata, "Nggak ada hubungannya dengan mereka. Aku yang ingin datan
Kolam dingin yang telah dimurnikan oleh guntur itu tetap dipenuhi hawa dingin yang menusuk tulang.Arlo menduga di dasar kolam ini kemungkinan tersembunyi sesuatu yang lain. Tanpa ragu, dia langsung menyelam masuk, membuat Mohit dan Jivano terkejut.Tak lama kemudian, Mohit seperti teringat sesuatu
Namun, sebenarnya Arlo sejak awal juga tidak berniat menyembunyikannya.Sekarang dia langsung mengerti, sebagian besar dari orang-orang ini datang karena dirinya, lebih tepatnya karena Air Suci.Bahkan orang-orang dari Keluarga Kushanto di Kota Aramaya pun tertarik pada Air Suci. Dari situ sudah ter






