LOGINBrooklyn pulled her phone from her designer handbag to take a photo of her marriage certificate, but her husband snatched the marriage certificate from her hand and asked coldly, “What do you think you are doing, Brooklyn?” Brooklyn looked at her new husband with eyes full of love and replied, “I want to share our happiness with people who are important in my life, Preston.” A surge of anger rose in Preston’s heart, and he said, “Listen carefully, Brooklyn. You will never have my heart. You are nothing but my nominal wife. Please ensure that our marriage remains a secret. Should you disclose our marital status to your so-called important people, you will face consequences.” Brooklyn felt that her heart had been squeezed by invisible hands. The pain was so intense that she couldn’t breathe. Brooklyn swiftly regained her composure before meeting her husband’s gaze. She looked at her husband with eyes that were calm but devoid of any warmth and replied, “I understand, Mr James.”
View More"Panggil Diandra, Dik!" Raut wajah Zaid terlihat sangat serius.
Zaid sudah lima menit membaca proposal perencanaan kerja yang dikerjakan oleh Tim Diandra. Zaid tidak habis pikir, Diandra bisa meloloskan proposal itu tiba di meja Zaid."Baik Pak, saya akan memanggil Bu Diandra setelah jam makan siang usai.""Jangan menunggu jam istirahat selesai Dik, panggil Diandra sekarang juga!""Tapi Pak.. Sepertinya Bu Dian tidak ada di ruangannya sekarang.""Cari Dik, cari sampai ketemu dan bawa Diandra ke ruangan saya!""Baik Pak, saya akan mencari Bu Diandra. Saya pergi sekarang Pak.""Hmm.. " Ucap Zaid.Zaid adalah seorang CEO Muda yang sangat perfeksionis dan terkenal sangat menjengkelkan.Setiap karyawan mengeluhkan cara kerja Zaid, tidak ada proposal rencana kerja yang berhasil lolos tanpa pengulangan setelah tiba di meja kerjanya. Bukannya kinerja pegawai Zaid yang buruk, tapi Zaid terlalu pemilih. Jika tidak begitu, mungkin Zaid tidak akan sukses di usianya seperti sekarang. Zaid sangat disiplin dan menilai kinerja seseorang seobjektif mungkin.Setelah keluar dari ruangan Zaid, Dikta sangat bingung harus mencari Diandra kemana. Wanita itu sering keluar pada jam makan siang. Entah itu keluar untuk makan siang maupun melakukan kegiatan lain."Dimana aku harus mencari Bu Diandra? Uhhh.. Aku sangat bingung." Dikta sudah memeriksa ruangan kerja Diandra dan tidak menemukan Diandra disana."Tap.. Tap.. " Terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat ke arah Dikta."Bu Dian.. Syukurlah." Dikta langsung lega. Ia menemukan wanita yang dicarinya."Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu gelisah Dik?" Tanya Diandra.Seperti biasa, Diandra sudah paham dengan mimik wajah yang ditampilkan oleh Dikta, tapi Diandra tidak menyangka akan melihat ekspresi itu pada jam makan siang seperti ini."Gawat Bu, Pak Zaid lagi lagi gak puas sama proposal yang Tim Ibu kerjakan.""Gak puas gimana? Proposal itu sudah dikerjakan sesuai arahan Pak Zaid kok. Hampir semua bagian sudah direvisi. Masih gak sesuai keinginan Pak Zaid juga?" Tanya Diandra."Saya juga tahu kalau Ibu dan Tim sudah merevisi semuanya Bu, tapi Pak Zaid sepertinya tidak suka. Ibu dipanggil Pak Zaid ke ruangannya.""Katakan pada Pak Zaid saya akan segera kesana setelah makan siang," Diandra menujukan bungkusan makanan yang dipegang olehnya."Baik Bu, setelah menyantap makanan Ibu, Ibu harus segera ke ruangan Pak Zaid ya Bu," Pinta Dikta."Baiklah, kamu tidak perlu khawatir. Saya tidak akan lama.""Baiklah Bu, saya tunggu disana.""Iya," Jawab Diandra singkat.Diandra berjalan menuju mejanya, lalu membuka file proposal yang dimaksud oleh Dikta tadi. Layar komputer sudah menampilkan bagian pendanaan.Sampul menyantap Sushi yang sudah dibelinya tadi, Diandra kembali meninjau bagian pendanaan pada proposal itu.Sedangkan Dikta kembali ke ruangan Zaid."Tok.. Tok..""Masuk Dik!" Suara bariton Zaid terdengar dari dalam ruangan.Dikta segera membuka pintu ruangan Zaid dan masuk."Dimana Diandra?" Tanya Zaid."Bu Diandra baru saja kembali dari luar Pak. Bu Diandra mengatakan, dia akan segera ke ruangan Bapak setelah makan siang.""Hahh?? Saya gak salah dengar?" Tanya zaid. Ia merasa tidak seharusnya menunggu Diandra selesai makan siang. Dia seorang Bos, tapi diminta untuk menunggu karyawannya selesai makan siang."Benar Pak. Ini masih 20 menit lagi jam istirahat selesai. Bu Diandra berjanji akan segera kesini.""Kamu.." Zaid benar-benar kesal sekarang."Sekarang Dik, panggil Diandra sekarang juga," Titah Zaid.Sedangkan di luar ruangan, Diandra sedang mendengarkan perintah yang harus segera dilakukan Dimta, yaitu meminta dirinya untuk segera ke ruangan Zaid."Ba.. Ba..ik.. Pak," Dikta terbata-bata."Cekrekk.. " Suara pintu terbuka mengagetkan kedua pria yang ada di dalam ruangan itu."Wah... Sepertinya Bapak tidak sabar sekali," Diandra berjalan mendekat ke meja Zaid."Keluarlhh Dik, nikmati makan siangmu," Bisik Diandra."Terimakasih telah menyelamatkan saya, Bu."Diandra mengangguk."Jangan lupa tutup ruangannya Dik," Pinta Diandra.Dikta segera keluar dan tidak lupa melaksanakan permintaan Diandra untuk menutup pintu.Diandra meletakkan kresek yang berisi Sushi yang sama dengan yang dinikmatinya tadi di atas meja Zaid."Apa ini?" Tanya Zaid. Wajahnya masih begitu ketat."Sushi kesukaan Bapak. Saya tadi pergi keluar untuk makan siang, tapi saya mendapat banyak panggilan masuk dari Bapak. Saya tidak sempat makan disana dan membungkusnya untuk di makan di kantor saja.""Saya juga tahu ini Sushi. Terus kenapa di letakin disini.""Bapak pasti belum makan siang karena memeriksa proposal Tim saya, jadi saya membeli satu lagi untuk Bapak." Wajah Diandra tampak rileks.Semenjak bergabung dengan perusahaan Zaid, tidak ada waktu baginya untuk bersantai. Kehidupan Diandra dipenuhi dengan kerja kerja dan kerja.Ia harus menghadapi perangai Bosnya itu dengan tegar. Sedikit saja Diandra lengah, pasti ia akan langsung dijatuhkan habis habisan oleh Bosnya itu."Lain kali tidak perlu membelikan saya makan siang. Berapa uang kamu yang terpakai untuk ini?" Zaid menujuk kresek yang berisi makanan itu."Saya membelinya agar Bapak bisa makan siang. Tidak perlu mengganti uang untuk membelinya Pak.""Baiklah, bukan saya yang mau free.""Iya.. " Diandra memilih duduk dan membuka kresek itu. Dikeluarkannya Sushi yang ia beli di tempat favorit Zaid."Kamu mau apa?" Zaid menghentikan Diandra.Diandra menatap tangan Zaid yang menggengam lengannya. Buru buru Zaid melepaskan lengan Diandra."Apa Bapak gak lapar? Gimana kalau Bapak makan sambil mendengarkan penjelasan saya. Dikta bilang Bapak tidak suka dengan proposal yang Tim saya kerjakan.""Saya tidak bisa makan sambil bekerja.""Ohh... Kalau begitu, Bapak makan saja dulu. Saya akan menunggu Bapak selesai.""Gak perlu. Buang buang waktu, Saya akan makan sambil mendegarkan kamu.""Baiklah," Diandra menyerahkan sumpit yang sudah dibukanya dari plastik pembungkus kepada Zaid.Zaid menerima sumpit itu, lalu langsung menyantap Sushi yang merupakan makanan favoritnya."Syukurlah, Bu Diandra memang paling handal dalam menangani Pak Zaid," Ungkap Dikta. Dikta belum beranjak dari depan ruangan Zaid. Dikta sedikit khawatir dengan amarah Zaid yang mungkin akan menyebabkan Zaid bertingkah berlebihan pada Diandra.Pintu ruangan Zaid terbuat dari kaca pada bagian tengah ke atas, jadi Dikta bisa melihat apa yang terjadi di dalam ruangan Zaid."Silahkan jelaskan apa yang ingin kamu jelasin," Ucap Zaid sambil mengunyah makanannya."Sebentar, saya ambilkan minum untuk Bapak dulu." Diandra segera bangkit untuk mengambil air minum untuk Zaid."Ini Pak. Makan pelan pelan ya Pak."Diandra kembali duduk di hadapan Zaid. Ia mengatur layar komputer yang ada di meja Zaid dan membuka wa-nya di komputer Zaid. Ia segera mencari file proposal yang membuat Zaid tidak puas dengan kinerjanya."Apa Bapak tidak puas dengan bagian ini?" Diandra berhenti di halaman yang mungkin menyebabkan Zaid marah."Huk... Uhukk..." Zaid tersedak.At Mr Ashford Senior’s private ward, he was surrounded by the people he loved the most. He looked at his son, Victor, then to his daughter-in-law and said, “I miss my wife so much, my children. I am ready to join her in heaven.”Before they could respond, Jason walked into the private ward and said, “Grandpa, please give me two years. You can’t go to heaven without meeting my beautiful wife.”The private ward, which was thick with the heavy silence of a final goodbye, suddenly shifted. Jason’s words hung in the air, a startling contrast to the quiet resignation of his grandfather’s plea.The old man turned his head slowly, his cloudy eyes focusing on Jason. A faint, knowing smile flickered on his lips and asked, his voice barely a whisper, "Two years?"Jason’s parents exchanged a look of stunned hope. They had been preparing for the end, but their son had just handed his grandfather a reason to check the calendar instead of the clock.Jason stepped closer and took his grandfather's fra
When Brooklyn walked out of the James family mansion, her husband tried to follow her, but his mother stopped him.She looked at her son, her eyes flashing with a cold, desperate resolve, and barked, “Don't you dare follow that girl, Preston. I refuse to have a common janitor staining our family tree.Do you want our social circle laughing at us? You must cut her off now, before the scandal becomes permanent. Vivica is the only one who belongs in this house.Forget about the company shares, Son. We will find a way to manage the inheritance until Vivica turns twenty-one, but I will never sit across from that girl for another meal."Ziva looked at his brother with tears brimming in her eyes and said, “Big Brother, please listen to Mom. That girl is nothing but a social climber who has forgotten her place.Please divorce her as soon as possible, Big Brother. We need to erase this mistake before anyone finds out that she is your nominal wife.”Before Preston could respond, Mr James Senior
Brooklyn turned to Ziva and said, her tone laced with quiet disappointment, “Some people have such narrow minds. Tell me, what exactly is the shame in being a janitor? Or does this house only respect people with titles and pedigrees?”Ziva was caught off guard. She had expected a fragile orphan she could break with a few well-placed insults, but Brooklyn’s unflinching composure told a different story. She realized that her new sister-in-law wasn’t a pushover to be bullied.Ziva’s mouth hung open, her words dying in her throat as she struggled to find a comeback. Unable to speak, she glared at Brooklyn, her eyes burning with a raw, unchecked hatred.Across the table, Preston shot his wife a warning glare, his eyes like shards of ice, silently commanding her to submit. However, Brooklyn ignored his cold gaze entirely, which made his authority feel hollow.Her mother-in-law slammed her hand against the dining table and shrieked, her voice vibrating against the walls, “How dare you! A girl
At the James family residence, when Ziva heard the sound of the car, she stepped outside the mansion. She then stood in the driveway, her posture stiff and her hands firmly on her hips.She wasn’t there to offer a warm welcome to her new sister-in-law. Her presence was a silent, cold threat designed to intimidate Brooklyn before a single word was even spoken. She wanted to avenge her best friend, Vavica.Brooklyn got out of her car, then she met Ziva’s glare with a steady, unbreakable gaze. She didn't look like a nervous newcomer. However, she looked like a woman who had already weathered enough chaos to be immune to Ziva's petty power plays.Ziva stepped forward and linked her arm through her brother’s, pulling him toward the mansion as if her brother’s wife didn't exist.Preston allowed himself to be led, his silence a stinging betrayal as they vanished into the living room together. Ziva paused at the door, then she glanced back with a look of pure, cold satisfaction before disappea
Preston opened and closed his mouth, but nothing came forth. He was already planning to use his grandfather as a shield to keep his nominal wife bound to him for two years. His silence was too heavy, his excuses too convenient.Brooklyn realized with a sinking heart that she was being played. Her hu
In the meantime, at Faith Church, Brooklyn was sitting opposite Pastor Gabriel for counseling. She looked at Pastor Gabriel, her eyes shimmering with unshed tears.She whispered, her voice breaking, and said, “Pastor Gabriel, on my birthday, I registered my marriage with a man I thought loved me.U
Hiram was shocked to hear that his baby sister was seen getting into a married man’s car. He looked at his brothers and replied, “When I was at the university, I saw Preston in the parking lot.I made it clear that he must stay away from my sister. I won't stand by while she drags our family’s repu
At the Cartwright family estate, Mr Cartwright Senior looked at his granddaughter coldly and said, “I am so disappointed in you, Vivica. Please read the text message that you have sent to Raymond.”Vivica pulled out her phone from her jeans, then she started reading the text message, “Pick me up at
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.