MasukHIRE A WIFE BUT DON'T FALL IN LOVE! Ang isang tambay na kagaya ni Kassidy ay walang matino na pinag-aralan. Nakatira sila sa isang skwater kasama ang nanay niya na sugarol. Kadalasan ay nasa kalsada siya at nakikilaro sa mga ka-tambay niya na naging kaibigan niya na rin. Unlike the other girls, she dressed like a man. Malaki ang shirt, malaki ang short at may sombrero palagi. Mahilig siya kumain ng lollipop at masayahin siyang Babae kahit sa kabila ng pamumuhay nila. Parati siyang ipinapahamak ng ina niya sa iba't-ibang trabaho na ikinakainis niya, subalit gano'n man ang ina niya ay mahal niya ito at parating pinagbibigyan. Takot na baka magkautang na naman sila. Ngunit, papaano kaya kung ipasok siya ng nanay niya sa isang corporation na hindi niya alam? At isang araw ay may isang lalake na gusto siyang e-hire bilang asawa nito at wala siyang kaalam-alam sa klase ng trabaho na tatahakin niya? Mapapahiyaw nalang siguro siya sa inis lalo na kung malalaman niyang guwapo at appealing ang makakasama niya at magiging asawa pa niya talaga for 3 months! Kaya kaya nitong tunawin ang boyish niyang puso, at mapa-ibig sa ka-guwapohang charms nito?
Lihat lebih banyakHappy reading dan jangan lupa kritik juga saran nya ya
Tidak ada yang pernah benar-benar siap menghadapi hari pertama kerja apalagi kalau pekerjaan itu menempatkanmu tepat di samping pria yang reputasinya lebih tajam dari pisau bedah: Arkana Rivard.
Gedung Aude’C Group menjulang tinggi di kawasan bisnis Sudirman. Dinding kacanya memantulkan langit Jakarta yang muram pagi ini. Orang-orang bersetelan formal bergerak cepat keluar-masuk lobi, seolah tidak ada ruang untuk kesalahan atau keterlambatan.
Dan di sanalah Narine Aldira berdiri, menggenggam map biru tua berisi dokumen onboarding dan kontrak kerjanya pekerjaan baru yang ia dapat hanya tiga hari setelah keluar dari perusahaan lamanya karena fitnah yang menjatuhkan namanya dalam semalam.
Brakk
"De cepetan dong katanya mau mandiri masa jam 7 belum siap-siap juga, kan ini hari pertama lo kerja" Pagi ku disambut dengan omelan 'Rajan' ya dia kakak ku satu satunya.
Dengan berjalan didepan ku dia masih terus mengomel tanpa henti "Lagian kenapa gak di perusahaan gue sih de, kan lebih praktis tu tinggal masuk terus ngintilin gue kemana pun"
"Justru itu yang gue gak mau, ogah banget ngintilin lu" jawabku ketus
“Nama?” tanya resepsionis formal di front desk tanpa senyum.
“Narine Aldira. Hari ini mulai bekerja,” jawabnya.
Resepsionis itu mengetik cepat, lalu mengangguk. “Divisi Sekretariat Eksekutif. Lantai 39. Pakai lift kanan.”
Ucapan ‘selamat datang’ tampaknya tidak tersedia di gedung ini. Bagus, pikir Narine. Profesional. Tanpa basa-basi. Cocok.
Begitu lift terbuka, suasana berubah drastis. Interior lantai 39 didominasi kayu walnut dan kaca gelap, dengan suasana sunyi tegang seperti ruang pengadilan. Karyawan berjalan cepat sambil menenteng iPad atau dokumen, nyaris tidak ada yang bicara.
Di dekat pintu masuk lantai, seorang wanita berponi pendek menyapanya cepat. “Kamu Narine? Saya Helena, sekretaris senior. Ikut saya.”
Tanpa menunggu jawaban, wanita itu memutar badan dan melangkah cepat. Narine mengikutinya.
“Saya akan kasih kamu briefing singkat,” kata Helena dengan nada efisien, seperti seseorang yang tidak punya waktu untuk berbasa-basi. “Kamu sekretaris pribadi Pak Arkana. Harus selalu siap dipanggil kapan pun. Termasuk kalau dia butuh kamu di luar jam kantor.”
Narine mengangguk. “Baik.”
“Nomor ponselmu harus aktif 24 jam.”
“Baik.”
“Jangan tanya dua kali kalau dia sudah menjawab sekali. Jangan ulangi kesalahan. Jangan pernah buat asumsi.”
Narine kembali mengangguk, tapi dalam hati bertanya apakah dia melamar sebagai sekretaris atau robot personal?
'Gue jadi sekretaris apa jadi babysitter nih masa 24 jam anjir'
Helena melanjutkan dengan suara lebih pelan, seakan kalimat berikutnya rahasia kantor yang tidak boleh terdengar oleh dinding. “Satu lagi. Ada tiga aturan utama bekerja dengan Mr. Arkana Rivard.”
Narine menatapnya.
“Pertama, jangan pernah telat kamu harus tepat waktu. Kedua, jangan pernah menunda instruksi. Ketiga-” Helena menatap langsung, “usahakan jangan pernah salah.”
Nada itu membuat Narine sedikit mengeraskan rahangnya. “Saya bisa mengikuti standar kerja tinggi. Itu bukan masalah, kak.”
Helena tersenyum tipis. “Bukan standar kerja yang jadi masalah. Orangnya.”
Maksudnya apa?
Tapi sebelum Narine sempat bertanya, pintu ruang eksekutif terbuka. Seorang pria keluar dengan wajah memucat, memegang dokumen yang tampaknya baru saja dikoreksi. Kemeja birunya basah oleh keringat meski lantai ini ber-AC dingin.
Dia membisik pada Helena sebelum pergi, “Dia kenapa kayak bukan manusia.”
Helena hanya menepuk bahunya. “Dia masih hidup, ada-ada aja kamu”
Narine hampir tertawa sampai seseorang lewat di hadapannya.
Langkah panjang, jas hitam slim fit, aura tenang yang berbahaya. Sorot mata tajam. Rahang keras. Rambut hitam rapi sedikit berantakan seolah disentuh angin pagi. Arkana Rivard. Bahkan tanpa diperkenalkan pun semua orang akan tahu: dialah pusat gravitasi lantai ini.
Udaranya berubah saat pria itu lewat. Beberapa staf langsung menunduk. Ada yang pura-pura sibuk. Ada yang menahan napas. Sementara Narine berdiri diam.
Arkana nyaris melewatinya, tapi kemudian berhenti. Menoleh. Menatap Narine sebentar dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Bukan tatapan menggoda. Bukan juga tatapan ramah. Lebih mirip evaluasi instan dan dingin.
“Orang baru,” katanya datar pada Helena.
“Ya, ini Narine Aldira, sekretaris-”
“Follow me,” potong Arkana.
Begitu saja. Tanpa kata perkenalan, tanpa salam. Ia berbalik dan berjalan. Narine refleks mengikuti. Helena memberi isyarat halus, cepet ikutin.
Ruang kerja Arkana berada di sisi paling ujung. Pintu kacanya tertutup, dan saat terbuka otomatis, Narine langsung merasa masuk ke tempat dengan tekanan oksigen lebih rendah.
Tidak ada foto pribadi. Tidak ada dekorasi. Hanya kesempurnaan dingin rak buku hitam, meja kerja walnut besar, dan pemandangan Jakarta dari dinding kaca.
“Sit,” katanya pendek, tanpa melihat ke arah Narine yang masih berdiri. Ia membuka iPad dan file digital.
Narine duduk. Diam. Menunggu.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tidak ada suara selain suara notifikasi e-mail yang sesekali terdengar dari perangkat Arkana. Narine ingin bicara tapi tak punya alasan.
Akhirnya, pria itu angkat wajah.
“Saya tidak akan bicara dua kali,” ucapnya tiba-tiba.
Narine menatapnya heran. “Maaf?”
“Saya tidak ulangi instruksi,” ulangnya, datar.
“Sa-saya belum menerima—”
“Kamu sekretaris. Artinya kamu harus cepat tanggap. Mengerti?”
Narine menahan napas. Wow. Ini baru tiga menit bertemu, dan pria ini sudah membuatnya ingin melempar binder.
“Baik,” jawabnya singkat.
“Bagus.” Arkana menggeser iPad-nya. “Jadwal saya hari ini.”
Agenda itu muncul di layar yang diarahkan padanya penuh rapat, penuh negosiasi, penuh panggilan bisnis.
“Tugas pertama,” kata Arkana. “Siapkan dokumen kontrak dan proyeksi final untuk meeting jam sepuluh. Pastikan setiap lembar rapi, highlight poin negosiasi, dan tanda tangan direktur legal sudah ada sebelum pukul sembilan empat puluh.”
Narine mengecek jam tangannya. 08.52.
Sisa 48 menit?
“Dokumennya ada di server. Cari folder ‘Confidential’, subfolder ‘Aurum Merger’,” lanjut Arkana.
Narine mencatat cepat. “Passwordnya?”
Arkana menatapnya lama lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak ramah. Lebih mirip tantangan.
“Cari tau. Kalau kamu pantas duduk di ruangan ini, kamu harus bisa menemukan semuanya.”
Mendengar itu Narine hanya bisa tersenyum lebar dan bergumam dalam hati
'Akhhhhhh! gila ni orang yang punya password kan dia, gitu aja suruh gue yang mikir'
MIATwo years has already passed by... Today, my twins will turn to two years old. Everyone is busy preparing for our mini celebration, which is exclusive only for us family relatives. My mom, and my dad are here with us. Bumyahe pa talaga sila mula Sicily para maka-attend. Actually, galing kami doon last month. But we decided to go home this month dahil nga birthday ng mga anak namin. Isa pa, I'm 7 months pregnant with our third baby. And we will be naming this cute baby girl, Czaria Mixus. As I am watching Catherine and Monique busy on the decorations, I'm caressing my bulky stomach. "How about this set-up, ate?" Tawag sa'kin ni Catherine. Kaka-baba lang niya sa maiksi na hagdan na kaniyang pinatungan para magsabit ng series balloons. She looks tired but her smile said she's not. "Maganda, Cath. Gusto ko ang naisip mong decoration." komplimento ko sa kaniya. Patakbo naman siyang lumapit sa'kin. "Talaga? Magaling ako?" Cath has changed so much. She was once a hard-headed wom
"E-Ethel? B-Bakit... P-Papaanong buhay ka?" Nangangatal na tanong ni Harron nang siya'y magkamalay. Nakaupo si Ethel sa isang magarang couch sa magarang silid ng kaniyang secret base. Nasa likod niya naman si Hermes, nakatayo at matiim na nakatingin sa nakakatanda niyang kapatid na si Harron. "It's been a long time, brother." Kalmado ngunit may kaakibat na disgusto sa boses ni Hermes. "Hermes," naging madilim ang mukha ni Harron nang makita ang kapatid. "You fvcking bastard!" Pagmura niya agad dito, nang sunod-sunod na pumasok sa kaniyang isipan ang mga bagay na inagaw nito na dapate sa kaniya. "You are the reason why I am miserable! You ruined everything I worked on. You despicable ugly sh't! Untie me!" Tumayo si Ethel at nilapitan si Harron. She graced the path like a queen. Which Harron should fear. Huminto siya sa harapan nito at malakas itong pinatawan ng mag kambal na sampal sa mukha. "You're fussing like a fvcking dog. Do you know that?" Diretsyahan niyang sabi dito, ang ba
SA kalagitnaan ng madaling araw, nagising si Mia nang siya'y makaramdam ng pagkasakit sa puson. Naiihi siya. Ayaw nga niya sanang bumangon, sapagkat gusto pa niyang matulog, lalo pa't pagod na pagod ang kaniyang katawan. Animo'y binugbog ng dos por dos, mula ulo hanggang paa. Nanlalagkit ang mga mata na siya'y napabangon, pero siya'y napadilat na lamang nang maramdaman ang isang matigas na bagay ang nakapirming nakapulupot sa kaniyang tiyan. Nagtaka pa siya nang makita kung kaninong braso ito, pero nang matagpuan ang may-ari ng brasong 'yun, ay napapangiti na lamang siya. She brought her hand up to his head and caressed his hair lightly. Brushing it with the use of her fingers. "Hmmm..." He moved when he felt her touch, eventually embracing her tightly. She noticed that she's already dressed and not naked, most especially, nasa kama na sila at mukhang binuhat siya nito papunta sa penthouse nito. Matapos kasi ng nangyari sa kanila, hindi niya pansin na nakatulog na pala siya. P
(Warning: Explicit Scenes Ahead)Mia pushed her head back as she could feel the tingling sensation of her husband's tongue down to her chin, jaw and her neck. Licking every single inch.She can't help closing her eyes while biting her lips together. Naramdaman niya rin 'yung kakaibang daloy ng kuryente sa buong sistema niya. Nanginig siya dahilw sa init na pinatamasa sa kaniya ng asawa."Love..." She moaned in a deep and breathless tone. "Ohh..."Alexus l'cked her neck accountable to his desire before nibbling her skin like a vampire that svcks out blood from humans. It left love marks which mostly surrounding her neck. "I missed doing this to you, love..." He said while he's busy svck'ng, l'cking and n'bbling up to his heart content. "Ahh!" Mia gasp in shock, when Alexus destroyed her tops nefariously. Impatience can be read in his face, as his eyes that screamed burning desire for her were too hot which can no longer accept rejection. The veins from his arm up to his neck are prot
MIA Nakakapanghinayang talaga at hindi kami natuloy sa arcade. Kung hindi lang sana ako napagod, baka nakakalaro na kami. Ang arcade kasi ang pinaka-paborito kong subject sa mall. Pero no'ng nag date kami ng asawa ko sa sinehan at sa iilang restaurants, more on fast foods na hindi pa namin natikman,
Pangiti-ngiti si Mia nang sila'y papasok na sa sinehan. Paano ba kasi ay napaka-possessive ng Mister niya sa kaniya, at magpahanggang ngayon ay nakapulupot pa rin ang braso nito sa kaniyang bewang. Feeling niya talaga ay ang ganda niya ngayong araw, lalo pa't napakaraming babae ang napapabaling sa k
"Ma, tawagan mo ako kapag nagka problema sa hospital at sa mga kapatid ko, okay?" Yakap-yakap ni Alexus ang kaniyang ina habang sinserong nagpapaalam. Nasa NAIA airport sila ngayon, dahil ngayong araw ang balik ng mga ito sa South Korea. Dapat nitong huling dalawang linggo pa, pero dahil sa naging k
The moment Mia came back and caused greater commotion of the wedding, Thomas tried to escape the picture, because he knew that this event would drag him down and reveal the truth of his own show. Ace did also appear, as well as the entire clan of Alexus's chess pieces. But the most surprising part w






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ulasan-ulasanLebih banyak