Home / Rumah Tangga / William, Aku Ingin Bercerai / Bab.45 Rencana Licik Isabella

Share

Bab.45 Rencana Licik Isabella

last update publish date: 2026-04-03 17:26:58

Tuan Carter lagi-lagi hanya diam menatap kepergian istrinya. Pria paruh baya itu juga tidak berniat menyusul ataupun membujuk istrinya.

"Kamu akan menyesal sayang. Emely jauh lebih baik dari Joana."Gumam tuan Carter.

Di sisi lain, Isabella sudah tiba di dalam kamarnya. Wanita paruh baya itu terus memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menyingkirkan menantunya agar Joana bisa kembali kepada putranya.

"Hanya Joana satu-satunya menantuku."Batin Isabella.

Beberapa menit kemudian.

Wanita
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.147 Rahasia kembali terungkap(end)

    Di balik jeruji besi. Joana menangis sesenggukan. Para tahanan memandang Joana dengan aneh. Sementara itu sang ibu sudah berada di dalam mobil bersiap untuk kembali. "Hari ini begitu banyak masalah. Bisakah kamu mengantar bibi ke suatu tempat?" Ana menoleh kepada Grace. "Tentu saja bibi." Satu jam berlalu. Emely dan Grace saling memandang satu sama lain. Emely mrmundurkan langkahnya. Tubuhnya membeku. Dia menatap ibu Joana yang sedang menangis di depan sebuah makam. "Bibi mengenalnya?" Emely bertanya dengan rasa penasaran di dalam hatinya. "Dia makam wanita yang bibi hancurkan." Emely terhuyung ke belakang. Semua orang memandangnya. "Apa yang terjadi?" "Dia ibuku." Ana merasakan detak jantungnya berhenti. Netranya tidak lepas dari Emely. Sebuah kebenaran yang terungkap. "Jadi kamu adalah anak itu." Ana menangis histeris sambil memukul dadanya yang terasa begitu menyesakkan. "Maafkan bibi." Emely tidak mengatakan apa-apa. Dia berjalan masuk ke dalam mobi

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.146 Sidang

    Aska tiba di rumah sakit. Dokter tampan itu langsung menuju ke ruangannya. Baru saja tiba, sudah ada beberapa pasien yang sudah menunggu. Di apartemennya, Max baru saja beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan ke kamar mandi. Hal pertama yang dia lakukan adalah membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dia berjalan ke dapur. Di sisi lain. Emely baru saja membuka matanya. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah lagi ke kantor. Wiliam melarangnya untuk pergi sementara waktu. Kini dia hanya menghabiskan waktunya berada di atas tempat tidur. Tok...tok.. "Emely, ini aku Grace. Boleh aku masuk?" Begitu mendengar nama Grace. Emely langsung bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan membuka pintu. Dia langsung menyambut kedatangan sahabatnya dengan pelukan hangat. "Selamat datang Grace." Grace melerai pelukannya. "Kamu baru bangun?" Emely tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. "Kamu tidak ingin datang ke sidang Joana?" "Sidang Joana?" "Iya. Hari ini hakim

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.145 Berakhir menghabiskan malam bersama

    Tiga puluh menit berlalu. "Mari kita akhiri dansa ini."Ujar Emely melepaskan tangannya. "Kamu benar. Ini sangat seru tapi perutku sudah meminta jatahnya." Perayaan itu di akhiri dengan jamuan makan. Mereka terlihat begitu menikmati jamuan makan itu. Sesekali tawa terdengar di meja makan. Grace dan Emely duduk berdekatan. Kedua wanita itu sibuk mengobrol dan mengabaikan ke empat laki-laki yang bersama dengan mereka. "Kalian lanjutkan saja. Kami ada sedikit urusan." Emely menarik tangan Grace setelah mengatakan hal itu. "Sejak kapan mereka sedekat itu Jon?" Wiliam menoleh kepada Jon. Sementara pria yang di tatap hanya mengedipkan bahunya. Wiliam menoleh kepada Aska dan Sam. "Apa rencana kalian? Apa ibu mu tahu tentang kalian?" Aska hanya menggelengkan kepalanya. "Apa yang akan kalian lakukan jika ibu kalian tidak merestui kalian?"Kali ini Jon yang bertanya. Dia menatap Aska dan Sam secara bergantian. Ucapan Aska jelas punya alasan. Mereka sudah berteman

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.144 Pesta perayaan

    Satu minggu berlalu. Semua kehidupan mereka mulai damai. Luka di kaki Grace juga perlahan-lahan mulai sembuh. Pagi ini semua orang di sibukkan dengan persiapan pesta perayaan kebahagiaan mereka semua. "Pagi semua." Sapa seseorang. Emely dan bibi Elsa serta beberapa pelayan menoleh. Netra mereka langsung tertuju kepada Grace yang baru saja masuk. "Grace." Emely segera menghampiri sahabatnya. Wajahnya sumringah menyambut sang sahabat yang sedang berjalan ke arahnya. "Kamu turun sendiri melakukan pekerjaan ini?" Grace melihat sekeliling yang mulai di khiasi bunga-bunga yang indah. Sejenak wanita itu terpaku melihat sekeliling. "Aku tidak melakukan apa-apa. Sejak kejadian itu, Wiliam hanya menyuruhku beristirahat di rumah. Dia melarang ku kemana-mana. Bahkan ke kantor pun dia melarang ku." Emely sedikit cemberut. Grace tersenyum kecil. "Itu artinya dia mengkhawatirkan mu Emely. Bukankah kamu mengatakan jika di kehidupan sebelumnya dia tidak perhatian kepada ku? Dia b

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.143 Berakhir Di Penjara

    Lima belas menit kemudian. Selama lima belas menit lamanya. Suasana terasa hening. Tidak ada suara ataupun percakapan di tempat itu. Ayah Grace menghela nafas kasar. Dia beranjak dari kursinya dan menghampiri Joana. "Katakan padaku,apa kamu memilikinya atau tidak?" Pistol di tangan ayah Grace mengarah tepat di kepala Joana. Tangan Joana gemetar. Wajahnya sedikit pucat. Dia menatap ayah Grace dengan tubuh yanga gemetar. "Katakan selagi aku masih bersikap baik. Jangan membuang-buang waktuku Joana. Aku tanya sekali lagi, apa kamu punya barang itu atau tidak?" Ayah Grace kembali bertanya. Tangannya menekan ujung pistol miliknya di kepala Joana. "Aku..aku..." Joana tidak bisa melanjutkannya. Di benar-benar takut mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi jika dia terus berbohong kemungkinan kecil dia tidak akan selamat dan bisa saja kebohongannya akan dengan cepat terungkap. "Katakan sialan. Kamu membuat ku muak." Pria paruh baya itu menarik pelatuknya. Hal itu semakin me

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.142 Saling mengadu domba

    "Bagaimana sekarang?" Wiliam mengusap kasar wajahnya. "Tunggu dulu. Tampaknya aku tahu seseorang yang bisa membantu kita." "Siapa?" "Sam. Aku pernah dengar dari Aska jika Sam memiliki pekerjaan yang tidak biasa." "Lakukan dengan cepat. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Emely." "Aku mengerti. Aku juga sedang mengusahakannya." Satu jam berlalu. Emely dan Grace sudah terikat pada sebuah tiang. Kedua tangan mereka terikat. Mulutnya di lakban. Sementara ayah Grace dan Joana sedikit berdebat karena sesuatu. Emely dan Grace memanfaatkan momen ini. "Grace, bagaimana ini? Sepertinya kita tidak akan bisa selamat. Alat itu sudah di hancurkan oleh mereka."Bisik Emely. "Lalu bagaimana sekarang? Orang itu bukan ayah kandungku. Dia sangat kejam." Emely menghembuskan nafas kasar. Kedua lakban di mulut mereka sudah di buka. Bahkan mereka berdua tidak tahu di mana mereka berada sekarang. "Jadi, apa yang akan kita lakukan untuk mu Emely. Tangan ku sudah gatal ingin menghan

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.82 Salah Paham

    Wiliam spontan mendorong tubuh Joana. Dia menoleh ke arah pintu. Emely berdiri di sana. Netranya tampak berkaca-kaca. Wiliam melangkahkan kakinya. Jantungnya berdetak tidak karuan melihat tatapan sang istri. Tatapan itu membuat Wiliam ketakutan. Di kehidupan sebelumnya. Dia sering melihat

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.81 Jebakan Joana

    Mansion Wiliam. Emely sudah tiba di depan mansion. Wanita itu tidak langsung turun dari mobil. Dia melihat sekeliling mansion yang terlihat begitu mewah. Tatapannya sendu, seolah-olah mansion itu telah memberinya luka yang begitu dalam. Beberapa menit kemudian. Emely turun dari mobil. Dia m

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.80 Bermuka Dua

    Tok.. Joana melangkah masuk ke dalam ruangan atasannya begitu ia membuka pintu. Netranya tertuju kepada sang atasan yang sedang tersenyum ke arahnya. Bahkan atasannya itu beranjak dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan Joana. "Silahkan duduk nona Joana." Pria paruh baya itu tersenyum

  • William, Aku Ingin Bercerai   Bab.79 Memastikan kebenarannya

    Satu Jam Berlalu. Wiliam dan Emely sudah berada di dalam kamar. Keduanya masih mengenakan jubah mandi. Wajah Emely bak tomat ketika suaminya menatapnya dan tersenyum kecil. "Kenapa harus malu sayang?"Bisik Wiliam mendekati sang istri. Emely berdecak kesal. Ketika suaminya menyadai apa yang sed

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status