Home / Rumah Tangga / William,Aku Ingin Bercerai / Bab. 5 Meninggalkan mansion

Share

Bab. 5 Meninggalkan mansion

last update Last Updated: 2026-01-13 12:11:29

Wiliam terus menatap ke arah Emely hingga istrinya itu menghilang dari pandangannya.

Pria itu tetap saja merasa ragu dengan apa yang di lakukan oleh Emely. Wiliam sangat yakin jika Emely tidak akan pernah melakukan hal itu.

Selama ini Emely berusaha masuk ke perusahaan hanya demi dekat dengannya. Wiliam tidak akan pernah percaya jika Emely akan mengundurkan diri setelah dia berhasil mendapatkan jabatan sebagai sekertarisnya. Tetap saja Wiliam merasa jika Emely sedang kesal saat ini.

Sementara Emely kini berada di dalam mobil miliknya. Dia menatap ke arah gedung yang sudah lima tahun menjadi tempat yang begitu ia senangi.

Setiap kali pagi tiba, dia akan selalu bersemangat. Dia selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

Tidak sampai di situ saja. Melihat suaminya bekerja menjadi hal yang begitu membahagiakan.

Sekarang semua itu telah berubah. Sejak kembalinya Joana, Emely merasa jika dia tidak punya harapan untuk meluluhkan hati Wiliam.

Suaminya telah kembali kepada masa lalunya dan kini dia menyerah. Dia memilih untuk mundur.

Emely menghembuskan nafas berat.

"Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan terbiasa." Lirih Emely melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang kembali ke mansion.

Drt..

Emely menghentikan mobilnya.

Dia membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Wanita itu menatap ponselnya ketika melihat nama suaminya tertera di layar ponselnya.

"Hallo." Emely mengangkatnya setelah beberapa menit kemudian.

"Aku tidak akan kembali selama dua hari. Aku ada perjalanan bisnis." Ucap Wiliam di sebrang telepon.

"Aku tahu."

Panggilan mereka berdua pun berakhir. Emely mematikan teleponnya dan kembali melajukan mobilnya.

Di satu sisi, Wiliam menatap ponselnya sejenak. Lagi-lagi sikap Emely membuatnya penasaran.

Emely tidak bertanya apa pun. Jika itu dulu, dia akan bertanya kapan dia kembali atau mengatakan jika dia akan menunggu meski dia bersikap dingin.

Sikap Emely seperti itu sedikit mengganggunya.

"Ada apa dengannya? Apa dia begitu kesal?" Gumam Wiliam. Dia masih mengira jika istrinya masih kesal karena kedatangan Joana ke mansion kemarin.

Dia tidak tahu jika wanita yang begitu mencintainya dan selalu berusaha meluluhkan hatinya kini memutuskan untuk menyerah.

Drt..

Perhatian Wiliam teralihkan dengan ponselnya yang berdering. Pria itu tersenyum kecil dan segera menggeser tombol hijau.

"Ada apa sayang?"

"Kapan kamu datang?" Suara Joana yang terdengar begitu lembut membangkitkan sesuatu yang lain dari dalam tubuh Wiliam.

"Tunggu aku. Aku segera ke sana."

Wiliam bangkit dari kursi kerjanya.

Dengan langkah cepat, Wiliam menuju ke parkiran. Pria itu masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan penuh. Dari kejauhan Emely menatap kepergian suaminya.

Wanita mengikuti mobil suaminya yang pergi entah kemana. Setelah mengikutinya selama tiga puluh menit lamanya. Kini ia akhirnya sadar.

Suaminya menemui Joana.

"Ini yang kamu maksud? Melakukan perjalanan bisnis."

Emely tersenyum miring menatap suaminya yang baru saja turun dari mobil dan masuk ke dalam apartemen Joana.

Tangannya mencengkram erat stri mobilnya. Dadanya terasa begitu sesak. Dia tetap saja merasakan perih meski dia sudah tahu hubungan mereka. Bahkan dia juga tahu jika Joana hamil.

Lima belas menit berlalu.

Emely meninggalkan tempat itu. Dia melajukan mobilnya dengan perasaan hancur.

Sepanjang perjalanan, Emely terus berusaha menenangkan dirinya. Matanya memerah. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.

Mobil berhenti.

Emely menatap mansion yang sudah ia tempati selama lima tahun lamanya. Tatapannya begitu dalam.

Dia kembali menatap amplop cekelat di sampingnya. Kini dia semakin yakin dengan keputusannya.

Emely turun dari mobil.

Dia melangkah masuk ke dalam dengan membawa amplop cokelat di tangannya.

"Nyonya sudah kembali."

Bibi Elsa tersenyum menyambut kedatangan Emely.

"Bibi sudah menyiapkan makan malam?"

"Iya nyonya."

"Wiliam tidak akan kembali selama dua hari ini. Satu hal lagi tolong berikan ini kepada Wiliam."

Bibi Elsa meraih amplop cokelat tersebut. Pandangan wanita paruh baya itu penuh tanda tanya kepada Emely.

"Tolong jangan di buka bibi. Biarkan Wiliam membukanya sendiri. Satu hal lagi, aku akan meninggalkan mansion ini."

"Apa maksud nyonya? Apa anda akan meninggalkan tuan Wiliam?"

Emely terdiam sejenak.

Beberapa menit kemudian dia tersenyum kecil menatap ke arah bibi Elsa.

"Aku akan membiarkan mereka hidup bersama. Itu yang mereka inginkan bibi Elsa. Hari ini William mengatakan jika dia melakukan perjalanan bisnis tapi dia menemui Joana."

Mata Emely tampak berkaca-kaca menceritakan semuanya kepada bibi Elsa. Dia merasakan hancur di dalam hatinya yang tidak akan di mengerti oleh siapa pun.

Satu jam berlalu.

Emely masuk ke dalam kamar utama. Wanita itu melihat kamar yang tampak gelap gulita. Tidak ada kehidupan di kamar itu. Semuanya terasa begitu dingin.

Emely menatap foto pernikahannya. Dia hanya tersenyum getir.

Selesai menatap foto tersebut. Wanita mengambil koper dan mengambil beberapa lembar pakaiannya.

Setelah itu, Emely mengambil kartu miliknya. Di mana semua itu adalah gajinya selama dia bekerja di perusahaan.

Sebelum meninggalkan kamar tersebut. Emely kembali menoleh dan memandang ke arah tempat tidur.

Dia tersenyum sejenak dan membuka pintu.

Di depan tangga, bibi Elsa tampak gelisah. Wanita paruh baya itu terlihat begitu khawatir.

Tatapannya begitu sendu ketika melihat Emely berjalan menuruni tangga dan membawa sebuah koper. Tangis wanita paruh baya itu akhirnya pecah begitu Emely sudah berada di hadapann nya.

"Semoga nyonya mendapatkan kebahagiaan."

Bibi Elsa memeluk Emely.

Perpisahan mereka berdua begitu mengharukan. Bibi Elsa begitu sedih melihat Emely memilih untuk menyerah dan meninggalkan mansion yang sudah ia tempati selama lima tahun lamanya.

Lima belas menit kemudian, Emely meninggalkan mansion. Wanita memesan taksi online dan menuju ke bandara.

Dalam perjalanan ke bandara, Emely hanya melihat sekeliling. Dia menatap lampu-lampu jalanan di tengah kota.

Begitu tiba di bandara, dia langsung memesan tiket dan menuju ke kota kelahirannya.

Malam itu, Emely melakukan perjalanan menuju ke kota Milan. Kota kelahirannya yang dia tinggalkan lima tahun lalu.

Sekarang dia telah kembali dengan status yang berbeda.

"Semuanya akan baik-baik saja Emely." Lirihnya begitu kakinya menyentuh tangga pesawat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.6 Kecelakaan

    Di apartemen Joana. Dua manusia saling memadu kasih tanpa perasaan bersalah. Wiliam menatap Joana penuh cinta tanpa memikirkan bagaimana perasaan istrinya. "Malam ini apa kamu akan kembali?" Wiliam menarik diri dan mengenakan jubah meninggalkan Joana dengan tubuh polosnya. Wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Netranya menelisik wajah laki-laki yang dia dapatkan dari hasil menyakiti hati wanita lain. Joana tersenyum puas. "Kamu milikku Wiliam."Batinnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Wiliam sendiri sudah berada di dalam kamar mandi. Entah mengapa wajah Emely terbayang-bayang di kepalanya. "Sial. Kenapa harus dia? Aku tidak peduli. Dia melakukan berbagai cara untuk masuk ke dalam keluarga ku." Lirihnya dengan emosi yang tidak stabil. Di mata Wiliam. Emely adalah wanita yang licik yang akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan hanya karena dia menolong ayahnya. Tangan Wiliam mengepal. Dia berusaha untuk menghilangkan wajah ist

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab. 5 Meninggalkan mansion

    Wiliam terus menatap ke arah Emely hingga istrinya itu menghilang dari pandangannya. Pria itu tetap saja merasa ragu dengan apa yang di lakukan oleh Emely. Wiliam sangat yakin jika Emely tidak akan pernah melakukan hal itu. Selama ini Emely berusaha masuk ke perusahaan hanya demi dekat dengannya. Wiliam tidak akan pernah percaya jika Emely akan mengundurkan diri setelah dia berhasil mendapatkan jabatan sebagai sekertarisnya. Tetap saja Wiliam merasa jika Emely sedang kesal saat ini. Sementara Emely kini berada di dalam mobil miliknya. Dia menatap ke arah gedung yang sudah lima tahun menjadi tempat yang begitu ia senangi. Setiap kali pagi tiba, dia akan selalu bersemangat. Dia selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Tidak sampai di situ saja. Melihat suaminya bekerja menjadi hal yang begitu membahagiakan. Sekarang semua itu telah berubah. Sejak kembalinya Joana, Emely merasa jika dia tidak punya harapan untuk meluluhkan hati Wiliam. Suaminya telah kemba

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab. 4 Surat pengunduran diri Emely

    Lima belas menit berlalu. Emely kini duduk di meja kerjanya. Wanita itu menatap amplop cokelat yang baru saja dia letakkan di laci meja kerjanya. Hembusan nafas kasar terdengar dari bibirnya. Senyum di wajahnya terlihat begitu menyedihkan. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya dia akan melepaskan laki-laki yang dia cintai. Emely menutup laci. Emely menoleh kepada Wiliam yang berada di dalam ruang kerjanya. Hanya kaca yang menjadi pembatas di antara mereka berdua. "Semoga kamu bahagia bersama dengan wanita yang kamu cintai. "Lirih Emely tersenyum getir. Emely menyalakan komputer miliknya dan mulai melakukan pekerjaannya. Rasa sakit di hatinya selalu berusaha ia sembuhkan sendiri tapi kini ia menyerah. Dia melepaskan Wiliam. Laki-laki yang dia cintai tapi tidak pernah ia miliki sepenuhnya. Di dalam ruangannya, Wiliam sesekali menoleh kepada Emely. Pria itu mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Emely. Setiap pagi Emely akan menyapa dirinya tapi hari ini dia

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.3 Surat perceraian

    Apartemen.. Wiliam menghentikan mobilnya. Pria itu turun dari mobil miliknya dan melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Pria itu terlihat tergesa-gesa. Langkahnya terhenti ketika ia tiba di depan apartemen milik Joana. Dia membuka pintu tanpa menekan bel. Pintu terbuka. Wiliam masuk dengan cepat. Netranya langsung tertuju kepada Joana yang sedang duduk di sofa memegangi tangannya. "Kamu baik-baik saja sayang?" Wiliam terlihat begitu khawatir. Joana menunjukka tangannnya yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah. Luka itu tidak seberapa tapi wanita itu butuh Wiliam. Dia ingin menunjukka kepada Emely jika Wiliam adalah miliknya. Dia baru saja kembali dari eropa setelah meninggalkan Wiliam lima tahun yang lalu. Kali ini Joana kembali untuk mendapatkan Wiliam kembali. Tujuannya telah berhasil. Wiliam kembali ke sisinya. "Apa yang terjadi sayang?" Wiliam bertanya sambil memasangkan plester di tangan Joana. "Aku lapar dan berniat memasak sesuatu tapi ti

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab. 2 Hamil

    "Wiliam, lihat istri mu! Dia menolak perintah mamah, padahal mamah hanya ingin dia membuat teh." Isabella mengadu kepada putra yang selalu berpihak padanya. Kini wanita paruh baya menunjukkan kesedihannya di depan sang putra. Emely tersenyum miring. Dia sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutanya. Wiliam menoleh kepada istrinya. "Apa kamu harus melakukan hal itu? Segera lakukan perintah mamah." Emely menatap wajah laki-laki yang tidak pernah membelanya. Wanita itu mengepalkan tangannya, dia jelas sedikit kesal dan merasa dirinya begitu menyedihkan. Dia melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Selalu seperti ini. " Gumam Emely melangkah ke dapur. Lima belas menit kemudian. Dia kembali ke ruang tamu dengan membawa baki dengan empat teh yang masih sangat panas. "Lama sekali." Sindir Isabella kepada menantunya. Kata- kata itu kembali terlontar dari mamah mertuanya setiap kali dia melakukan sesuatu. Rasa tidak puas mertuanya terhadap dirinya sudah ada

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.1 Aku ingin Bercerai

    "William, Aku ingin bercerai. " Emely menatap suaminya cukup dalam. Keringat dingin membasahi dahinya. Cintanya selama lima tahun lamanya untuk pria di hadapannya itu tidak pernah terbalaskan. Suka duka dalam rumah tangganya sudah ia rasakan. Kini ia menyerah. Wiliam sedang memainkan ponselnya- berhenti sejenak kemudian menoleh kepada wanita yang sudah bersama dengan dirinya selama lima tahun lamanya. Dia tidak menganggap ucapan itu serius.William kembali menatap ponselnya dan mengabaikan ucapan istrinya. Sesekali senyum terlihat di bibirnya. Emily yang tidak mendapatkan respon dari suaminya tersenyum getir.Dia jelas tahu dengan siapa suaminya bertukar pesan. Tangannya gemetar memegang ujung gaun-nya. Perlahan-lahan dia melangkah keluar. Dia tidak ingin membuat masalah tapi dia sudah mengambil keputusan. Langkahnya begitu pelan. Pikirannya berkecamuk. Dadanya seperti tersayat. Dia semakin yakin dengan keputusannya. "Apa aku sama sekali tidak pernah ada di pi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status