LOGINLima belas menit berlalu.
Emely kini duduk di meja kerjanya. Wanita itu menatap amplop cokelat yang baru saja dia letakkan di laci meja kerjanya. Hembusan nafas kasar terdengar dari bibirnya. Senyum di wajahnya terlihat begitu menyedihkan. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya dia akan melepaskan laki-laki yang dia cintai. Emely menutup laci. Emely menoleh kepada Wiliam yang berada di dalam ruang kerjanya. Hanya kaca yang menjadi pembatas di antara mereka berdua. "Semoga kamu bahagia bersama dengan wanita yang kamu cintai. "Lirih Emely tersenyum getir. Emely menyalakan komputer miliknya dan mulai melakukan pekerjaannya. Rasa sakit di hatinya selalu berusaha ia sembuhkan sendiri tapi kini ia menyerah. Dia melepaskan Wiliam. Laki-laki yang dia cintai tapi tidak pernah ia miliki sepenuhnya. Di dalam ruangannya, Wiliam sesekali menoleh kepada Emely. Pria itu mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Emely. Setiap pagi Emely akan menyapa dirinya tapi hari ini dia tidak melakukan hal itu. "Apa dia marah karena kedatangan Joana?" Gumam Wiliam dengan pandangan yang masih tertuju kepada Emely yang terlihat fokus pada layar komputernya. Tok..tok.. "Apa aku mengganggu?" Wiliam menoleh dan melihat kehadiran wanita yang sedang berdiri dan tersenyum kepadanya. Kini Wiliam mengalihkan pandangannya kepada Emely ketika melihat kehadiran Joana. " Apa dia tidak melihat Joana masuk?" Batin Wiliam begitu melihat Emely tampak tenang. Biasanya Emely akan gelisah ketika melihat kedatangan Joana ke kantor. Tidak sampai di situ saja bahkan Emely selalu berusaha untuk mengganggu mereka berdua tapi kali ini wanita itu tidak melakukan itu lagi. " Ada apa?" Joana mendekat dan langsung duduk di pangkuan Wiliam. Hal itu spontan membuat Wiliam menoleh kepada Emely. Emely sama sekali tidak bereaksi. Bahkan dia tidak pernah menoleh sekali pun. Sikapnya itu membuat Wiliam terganggu. Wiliam terus menatap ke arah Emely tapi selama lima menit Joana duduk di pangkuan nya, Emely sama sekali tidak pernah menoleh kepada dirinya. "Ada apa sayang? Kamu takut jika istrimu marah karena melihat kita?" Joana menelisik ekspresi Wiliam yang tidak tampak seperti biasanya. Wiliam tersenyum kecil. "Kamu terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tidak penting." Jawab Wiliam dan kembali menatap layar komputernya. Joana mengerutkan keningnya. Ini pertama kalinya sejak dia kembali ke sisi Wiliam, Pria itu mengabaikan dirinya dan fokus pada pekerjaannya. "Wiliam, apa aku menganggumu?" Joana pura-pura bertanya untuk mengalihkan perhatian Wiliam. Wiliam menoleh. "Tentu saja saja tidak. Aku hanya membalas email dari rekan bisnis ku. " Wiliam tersenyum kecil dan beranjak dari tempat duduknya. Kali ini pria itu mendekat dan menutup ruangannya agar tidak terlihat dari luar. Joana yang melihat hal itu tersenyum kecil. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Di satu sisi, Emely menghentikan pekerjaannya. Wanita itu menatap ruangan yang kini tidak bisa ia lihat. Sorot matanya menunjukka luka yang begitu dalam. Tangannnya menggenggam pulpen dengan sangat kuat hingga tanpa sadad pulpen itu patah di tangannya. Emely terkejut. Dia menatap pulpen yang patah menjadi dua bagian. Detik berikutnya wanita itu tertawa kecil. Dia menertawakan kebodohannya sendiri. "Kenapa kamu begitu bodoh Emely? Kamu jelas tahu apa yang terjadi tapi kamu masih berada di sini?" Emely bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan pergi entah kemana. Dia hanya ingin segera menjauh dari ruangan itu. Dia jelas sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya di dalam ruangan itu. Emely terus melangkahkan kakinya hingga tanpa sadar dia berada di atap. Emely kembali tersenyum. Bibirnya tersenyum tapi raut wajahnya begitu terluka. Kesedihan di matanya terlihat begitu jelas. " Bodoh." Gumamnya terkekeh kecil. Selama tiga puluh menit lamanya, Emely berada di atap. Begitu melihat jam di tangannya, Dia memutuskan untuk kembali. "Dari mana?" Emely menoleh ketika dia baru saja hendak duduk di meja kerjanya. Dia melihat ke arah Wiliam. Wanita itu menelisik penampilan atasanny sekaligus suaminya. Emely tersenyum kecil ketika melihat penampilan Wiliam sedikit berantakan. Kini dia semakin yakin jika suaminya telah melakukan sesuatu dengan Joana di dalam ruangannya. "Apa kamu tidak mendengarnya? Aku bertanya kamu dari mana?" Wiliam sedikit meninggikan suaranya. Emely terdiam dan menatap wajah laki-laki yang begitu ia cintai tapi tidak pernah ia dapatkan. Nada bicara Wiliam sama sekali tidak membuatnya takut. Dia sudah terbiasa dengan hal itu. Wiliam tidak pernah menghargainya. Kini dia sudah terbiasa dengan hal itu. Jika itu dulu, dia akan berusaha mengambil hati suaminya dan selalu minta maaf meski dia tidak salah. Tapi kali ini dia tidak ingin melakukan hal itu lagi. "Aku mencari udara segar pak Wiliam." Emely kembali ke meja kerjanya setelah mengatakan hal itu. Dia menyadari tatapan kesal Wiliam tapi dia tidak peduli. Beberapa menit kemudian. Wiliam meninggalkan Emely dan kembali ke dalam ruangannya. Melihat kepegian Wiliam. Emely menyalakan komputer miliknya. Kali ini wanita itu mengurus surat pengunduran dirinya. Dia akan memberikannya kepada Wiliam secara bersamaan. Beberapa jam berlalu. Kini sudah saatnya jam pulang kantor. Emely menatap ke arah ruangan Wiliam. Pria itu masih terlihat begitu serius menatap layar komputernya. Emely membuka laci. Wanita itu meraih surat perceraian nya dan juga surat pengunduran dirinya. Dia memasukkan surat perceraianya ke dalam tas miliknya. Sementara surat pengunduran dirinya dia meraihnya dan membawanya masuk ke dalam ruangan Wiliam. Wiliam menoleh ketika mendengar pintu ruangannya terbuka. Dia mengalihkan pandangannya kembali ketika melihat kehadiran Emely. Pria itu kembali menatap layar komputernya. Emely tersenyum getir melihat Wiliam mengabaikan dirinya. Dia mendekat dan meletakkan surat pengunduran dirinya tepat di hadapan Wiliam. Wiliam terdiam. Pria itu kemudian menatap tidak percaya kepada Emely. Detik berikutnya Wiliam menggelengkan kepalanya. Dia masih mengira jika Emely sedang kesal dan surat pengunduran dirinya tidak sungguh-sungguh. " Aku ingin mengundurkan diri pak."Ucap Emely ketika melihat Wiliam diam. "Apa kamu kesal karena kedatangan Joana? Kamu tahu dengan jelas. Masuk ke dalam perusahaan ku tidak mudah tapi kamu mau mengundurkan diri setelah usaha yang kamu lakukan." Emely tersenyum miring. "Saya tahu pak tapi aku sudah memutuskannya." Wiliam menatap Emely. Pria itu masih mengira jika Emely melakuka hal itu karena kesal. "Apa kamu tidak akan menyesal?" Wiliam kembali bertanya. "Tidak. Aku sudah memikirkannya dengan matang." "Baiklah. Aku menerima surat pengunduran dirimu." "Terimah kasih pak." Emely pamit dan meninggakan ruangan Wiliam. Wiliam yang sedikit terkejut dengan Emely yang tiba-tiba mengundurkan diri menatap ke arah Emely. Sikap wanita itu sedikit berbeda di matanya. "Aku yakin jika kamu akan menyesalinya." Gumam Wiliam.Di apartemen Joana. Dua manusia saling memadu kasih tanpa perasaan bersalah. Wiliam menatap Joana penuh cinta tanpa memikirkan bagaimana perasaan istrinya. "Malam ini apa kamu akan kembali?" Wiliam menarik diri dan mengenakan jubah meninggalkan Joana dengan tubuh polosnya. Wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Netranya menelisik wajah laki-laki yang dia dapatkan dari hasil menyakiti hati wanita lain. Joana tersenyum puas. "Kamu milikku Wiliam."Batinnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Wiliam sendiri sudah berada di dalam kamar mandi. Entah mengapa wajah Emely terbayang-bayang di kepalanya. "Sial. Kenapa harus dia? Aku tidak peduli. Dia melakukan berbagai cara untuk masuk ke dalam keluarga ku." Lirihnya dengan emosi yang tidak stabil. Di mata Wiliam. Emely adalah wanita yang licik yang akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan hanya karena dia menolong ayahnya. Tangan Wiliam mengepal. Dia berusaha untuk menghilangkan wajah ist
Wiliam terus menatap ke arah Emely hingga istrinya itu menghilang dari pandangannya. Pria itu tetap saja merasa ragu dengan apa yang di lakukan oleh Emely. Wiliam sangat yakin jika Emely tidak akan pernah melakukan hal itu. Selama ini Emely berusaha masuk ke perusahaan hanya demi dekat dengannya. Wiliam tidak akan pernah percaya jika Emely akan mengundurkan diri setelah dia berhasil mendapatkan jabatan sebagai sekertarisnya. Tetap saja Wiliam merasa jika Emely sedang kesal saat ini. Sementara Emely kini berada di dalam mobil miliknya. Dia menatap ke arah gedung yang sudah lima tahun menjadi tempat yang begitu ia senangi. Setiap kali pagi tiba, dia akan selalu bersemangat. Dia selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Tidak sampai di situ saja. Melihat suaminya bekerja menjadi hal yang begitu membahagiakan. Sekarang semua itu telah berubah. Sejak kembalinya Joana, Emely merasa jika dia tidak punya harapan untuk meluluhkan hati Wiliam. Suaminya telah kemba
Lima belas menit berlalu. Emely kini duduk di meja kerjanya. Wanita itu menatap amplop cokelat yang baru saja dia letakkan di laci meja kerjanya. Hembusan nafas kasar terdengar dari bibirnya. Senyum di wajahnya terlihat begitu menyedihkan. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya dia akan melepaskan laki-laki yang dia cintai. Emely menutup laci. Emely menoleh kepada Wiliam yang berada di dalam ruang kerjanya. Hanya kaca yang menjadi pembatas di antara mereka berdua. "Semoga kamu bahagia bersama dengan wanita yang kamu cintai. "Lirih Emely tersenyum getir. Emely menyalakan komputer miliknya dan mulai melakukan pekerjaannya. Rasa sakit di hatinya selalu berusaha ia sembuhkan sendiri tapi kini ia menyerah. Dia melepaskan Wiliam. Laki-laki yang dia cintai tapi tidak pernah ia miliki sepenuhnya. Di dalam ruangannya, Wiliam sesekali menoleh kepada Emely. Pria itu mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Emely. Setiap pagi Emely akan menyapa dirinya tapi hari ini dia
Apartemen.. Wiliam menghentikan mobilnya. Pria itu turun dari mobil miliknya dan melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Pria itu terlihat tergesa-gesa. Langkahnya terhenti ketika ia tiba di depan apartemen milik Joana. Dia membuka pintu tanpa menekan bel. Pintu terbuka. Wiliam masuk dengan cepat. Netranya langsung tertuju kepada Joana yang sedang duduk di sofa memegangi tangannya. "Kamu baik-baik saja sayang?" Wiliam terlihat begitu khawatir. Joana menunjukka tangannnya yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah. Luka itu tidak seberapa tapi wanita itu butuh Wiliam. Dia ingin menunjukka kepada Emely jika Wiliam adalah miliknya. Dia baru saja kembali dari eropa setelah meninggalkan Wiliam lima tahun yang lalu. Kali ini Joana kembali untuk mendapatkan Wiliam kembali. Tujuannya telah berhasil. Wiliam kembali ke sisinya. "Apa yang terjadi sayang?" Wiliam bertanya sambil memasangkan plester di tangan Joana. "Aku lapar dan berniat memasak sesuatu tapi ti
"Wiliam, lihat istri mu! Dia menolak perintah mamah, padahal mamah hanya ingin dia membuat teh." Isabella mengadu kepada putra yang selalu berpihak padanya. Kini wanita paruh baya menunjukkan kesedihannya di depan sang putra. Emely tersenyum miring. Dia sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutanya. Wiliam menoleh kepada istrinya. "Apa kamu harus melakukan hal itu? Segera lakukan perintah mamah." Emely menatap wajah laki-laki yang tidak pernah membelanya. Wanita itu mengepalkan tangannya, dia jelas sedikit kesal dan merasa dirinya begitu menyedihkan. Dia melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Selalu seperti ini. " Gumam Emely melangkah ke dapur. Lima belas menit kemudian. Dia kembali ke ruang tamu dengan membawa baki dengan empat teh yang masih sangat panas. "Lama sekali." Sindir Isabella kepada menantunya. Kata- kata itu kembali terlontar dari mamah mertuanya setiap kali dia melakukan sesuatu. Rasa tidak puas mertuanya terhadap dirinya sudah ada
"William, Aku ingin bercerai. " Emely menatap suaminya cukup dalam. Keringat dingin membasahi dahinya. Cintanya selama lima tahun lamanya untuk pria di hadapannya itu tidak pernah terbalaskan. Suka duka dalam rumah tangganya sudah ia rasakan. Kini ia menyerah. Wiliam sedang memainkan ponselnya- berhenti sejenak kemudian menoleh kepada wanita yang sudah bersama dengan dirinya selama lima tahun lamanya. Dia tidak menganggap ucapan itu serius.William kembali menatap ponselnya dan mengabaikan ucapan istrinya. Sesekali senyum terlihat di bibirnya. Emily yang tidak mendapatkan respon dari suaminya tersenyum getir.Dia jelas tahu dengan siapa suaminya bertukar pesan. Tangannya gemetar memegang ujung gaun-nya. Perlahan-lahan dia melangkah keluar. Dia tidak ingin membuat masalah tapi dia sudah mengambil keputusan. Langkahnya begitu pelan. Pikirannya berkecamuk. Dadanya seperti tersayat. Dia semakin yakin dengan keputusannya. "Apa aku sama sekali tidak pernah ada di pi







