Share

Bab.3 Surat perceraian

last update Last Updated: 2026-01-13 11:55:29

Apartemen..

Wiliam menghentikan mobilnya.

Pria itu turun dari mobil miliknya dan melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Pria itu terlihat tergesa-gesa.

Langkahnya terhenti ketika ia tiba di depan apartemen milik Joana. Dia membuka pintu tanpa menekan bel.

Pintu terbuka.

Wiliam masuk dengan cepat. Netranya langsung tertuju kepada Joana yang sedang duduk di sofa memegangi tangannya.

"Kamu baik-baik saja sayang?" Wiliam terlihat begitu khawatir.

Joana menunjukka tangannnya yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah. Luka itu tidak seberapa tapi wanita itu butuh Wiliam.

Dia ingin menunjukka kepada Emely jika Wiliam adalah miliknya. Dia baru saja kembali dari eropa setelah meninggalkan Wiliam lima tahun yang lalu.

Kali ini Joana kembali untuk mendapatkan Wiliam kembali. Tujuannya telah berhasil. Wiliam kembali ke sisinya.

"Apa yang terjadi sayang?" Wiliam bertanya sambil memasangkan plester di tangan Joana.

"Aku lapar dan berniat memasak sesuatu tapi tiba- tiba tangan ku terluka. Apa aku menganggumu Wiliam?" Joana tampak bersalah. Tapi semua itu hanya sandiwara.

Wiliam menggelengkan kepalanya.

Pria itu tersenyum kecil melihat Joana tersenyum. Tapi senyuman itu perlahan menghilang ketika mengingat tatapan Emely kepadanya.

Entah mengapa tapi tatapannya Emely sedikit mengganggunya. Tadi saat ia pergi, wanita itu tidak bertanya untuk pertama kalinya.

Jika itu dulu, Emely akan bertanya. Hal sekecil apa pun Emely selalu ingin tahu tapi kali ini wanita itu sedikit berbeda di mata Wiliam. Dia tidak bertanya, dia lebih banyak diam.

Hal itu sedikit mengganggu Wiliam tapi hal itu tidak berlangsung lama ketika Joana tiba-tiba memeluk dirinya dan mendaratkan kecupan singkat di bibirnya.

Lamunan Wiliam terhenti sampai di situ. Pria itu membalas ciuman singkat Joana hingga ciuman itu semakin dalam.

Dia insan manusia itu seakan-akan lupa siapa mereka yang sebenarnya. Mereka melupakan jika perbuatan mereka itu telah membuat seorang wanita begitu terluka.

Ruangan itu di penuhi suara- suara kebahagiaan dua insan manusia yang sedang berbuat dosa.

Di satu sisi, Emely masih berdiri di balkon kamarnya. Wanita itu melihat jam di tangannya yang sudah menunjukka pukul 2 siang. Itu artinya suaminya sudah meninggalkan mansion selama satu jam lamanya.

"Apa kamu menemui wanita itu lagi?"Batinnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

Emely berusaha menenangkan hatinya dan berusaha tegar. Tapi semua itu percuma saja. Dia tahu jika suaminya menemui cinta masa lalunya.

Beberapa menit kemudian, pada akhirnya pertahanannya kembali runtuh. Buliran bening kembali membasahi wajah cantiknya.

Emely menangis seorang diri di balkon kamarnya. Di tengah kesunyian, seorang diri dan tidak ada yang tahu. Hal itu sudah menjadi hal biasa baginya tapi dia memilih tetap untuk bertahan. Hal yang terbodoh yang ia lakukan selama ini tapi dia memilih untuk diam dan membiarkan luka itu semakin menyakiti dirinya.

Satu jam berlalu.

Emely membuka matanya. Wanita itu tertawa.

Bukan tawa kebahagiaan tapi tawa kesedihan. Dia tertidur di sana setelah lelah menangis.

Dia bangkit.

Dia berjalan ke dalam kamarnya. Dia kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran king zize itu. Ranjang yang tidak pernah hangat.

Hanya kesunyian dan hawa dingin yang terasa di tempat itu. Emely memelul lututnya, meringkuk di atas tempat tidur. Air matanya kembali terjatuh.

Hidupnya berubah hanya karena menolong seseorang. Dia jatuh kepada seseorang yang tidak seharusnya.

KE ESOKAN PAGINYA.

Emely membuka matanya.

Pandangannya langsung tertuju di sampingnya. Wanita itu tersenyum getir.

"Dia tidak kembali."Lirihnya dengan perasaan yang hancur.

Beberapa menit kemudian.

Emely bangkit dari tempat tidur. Dia melangkah ke kamar mandi.

Tiga puluh menit kemudian.

Emely kini sudab berada di meja makan. Wanita itu tidak bersemangat menatap makanan yang tersaji di depan matanya.

Senyum bibi Elsa yang selalu menyapa dirinya setiap pagi.

Emely membalas senyuman wanita itu dengan senyuman terbaiknya.

Tidak ada obrolan, tidak suara yang keluar dari mulut Emely. Hanya senyuman yang di perlihatkan oleh wanita itu.

Selesai sarapan.

Emely berangkat ke kantor. Wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

Tidak butuh waktu lama. Kini ia tiba di depan gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Sejenak wanita itu menatap lurus ke depan gedung tersebut.

Enam tahun lalu.

Emely berusaha keras agar bisa masuk ke dalam perusahaan tersebut. Bukan satu kali atau dua kali dia di tolak karena sebuah alasan yang tidak ia ketahui. Tapi dia percaya jika itu belum keberuntungannya.

Satu bulan kemudian dia kembali melamar pekerjaan. Kali ini sebagai sekertaris Wiliam dan untuk pertama kalinya dia di terima. Saat itu dia begitu bahagia. Hari pertama ia bekerja, dia bertemu dengan Wiliam.

Emely jatuh cinta.

Emely jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Wiliam yang merupakan atasannya. Dia mulai menarik perhatian Wiliam tapi semua itu percuma saja.

Hingga dia tidak sengaja menolong seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah Wiliam. Saat itu dia berpikir jika semua itu keburuntungan tapi sekarang pandangannya kini berbeda.

Lamunan Emely terhenti ketika melihat mobil suaminya. Wanita itu tersenyum getir.

"Kamu tidak kembali tapi pakaian mu terganti."

Helaan nafas berat terdengar dari bibir wanita itu. Senyuman pahit di wajahnya tidak menghilangkan kecantikannya. Dia hanya kurus tapi bukan berarti wajahnya tidak menarik.

Emely masih terlihat cantik.

Wanita itu turun dari mobilnya dan berharap jika dia bisa menyusul suaminya.

Dia berhasil.

Pintu Lift belum tertutup.

Emely tersenyum tapi tidak dengan Wiliam. Pria itu tidak menunjukkan ekspresi.

Wiliam menutup pintu lift padahal dia tahu jika Emely juga ingin masuk ke dalam.

Emely tersenyum getir dan membiarkan hal itu. Dia masuk ke dalam lift setelah kepergian Wiliam.

"Tampan sekali tuan Wiliam."

"Aku dengar jika dia kembali kepada nona Joana."

"Mantan kekasihnya yang meninggalkannya?"

"Itu benar sekali."

"Nona Joana memang cantik dan tuan Wiliam begitu mencintainya."

Para karyawan yang berada di belakang Emely mulai membicarakan Wiliam. Tidak ada yang tahu tentang pernikahan mereka.

Hanya orang-orang tertentu yang tahu. Semua itu juga karena permintaan Wiliam. Saat itu Emely tidak keberatan karena ia yakin jika suatu saat nanti Wiliam akan mencinya tapi nyatanya tidak.

Drt...

Ponsel Emely berbunyi.

Wanita itu menjauh.

Emely menjawab teleponnya dan melangkah keluar kantor. Wanita itu menghembuskan nafas kasar sebelum ia masuk ke dalam cafe.

"Apa nyonya yakin dengan keputusan anda?"

Kini Emely berhadapan dengan seorang pria paruh baya. Pria itu berusaha membujuk Emely agar wanita itu tidak melepaska gelarny.

Emely tersenyum kecil.

"Aku sudah yakin. aku ingin bebas."Emely kembali tersenyum.

Pria paruh baya itu tersenyum dan menyerahkan surat perceraian Emely dan Wiliam.

Tanpa berpikir panjang, Emely langsung menandatangani perceraian tersebut.

"Terimah kasih. Biarkan aku memberikan ini secara langsung kepada Wiliam."

Emely menjabat tangan pria paruh baya itu dan meninggalkan cafe.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.6 Kecelakaan

    Di apartemen Joana. Dua manusia saling memadu kasih tanpa perasaan bersalah. Wiliam menatap Joana penuh cinta tanpa memikirkan bagaimana perasaan istrinya. "Malam ini apa kamu akan kembali?" Wiliam menarik diri dan mengenakan jubah meninggalkan Joana dengan tubuh polosnya. Wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Netranya menelisik wajah laki-laki yang dia dapatkan dari hasil menyakiti hati wanita lain. Joana tersenyum puas. "Kamu milikku Wiliam."Batinnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Wiliam sendiri sudah berada di dalam kamar mandi. Entah mengapa wajah Emely terbayang-bayang di kepalanya. "Sial. Kenapa harus dia? Aku tidak peduli. Dia melakukan berbagai cara untuk masuk ke dalam keluarga ku." Lirihnya dengan emosi yang tidak stabil. Di mata Wiliam. Emely adalah wanita yang licik yang akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan hanya karena dia menolong ayahnya. Tangan Wiliam mengepal. Dia berusaha untuk menghilangkan wajah ist

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab. 5 Meninggalkan mansion

    Wiliam terus menatap ke arah Emely hingga istrinya itu menghilang dari pandangannya. Pria itu tetap saja merasa ragu dengan apa yang di lakukan oleh Emely. Wiliam sangat yakin jika Emely tidak akan pernah melakukan hal itu. Selama ini Emely berusaha masuk ke perusahaan hanya demi dekat dengannya. Wiliam tidak akan pernah percaya jika Emely akan mengundurkan diri setelah dia berhasil mendapatkan jabatan sebagai sekertarisnya. Tetap saja Wiliam merasa jika Emely sedang kesal saat ini. Sementara Emely kini berada di dalam mobil miliknya. Dia menatap ke arah gedung yang sudah lima tahun menjadi tempat yang begitu ia senangi. Setiap kali pagi tiba, dia akan selalu bersemangat. Dia selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Tidak sampai di situ saja. Melihat suaminya bekerja menjadi hal yang begitu membahagiakan. Sekarang semua itu telah berubah. Sejak kembalinya Joana, Emely merasa jika dia tidak punya harapan untuk meluluhkan hati Wiliam. Suaminya telah kemba

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab. 4 Surat pengunduran diri Emely

    Lima belas menit berlalu. Emely kini duduk di meja kerjanya. Wanita itu menatap amplop cokelat yang baru saja dia letakkan di laci meja kerjanya. Hembusan nafas kasar terdengar dari bibirnya. Senyum di wajahnya terlihat begitu menyedihkan. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya dia akan melepaskan laki-laki yang dia cintai. Emely menutup laci. Emely menoleh kepada Wiliam yang berada di dalam ruang kerjanya. Hanya kaca yang menjadi pembatas di antara mereka berdua. "Semoga kamu bahagia bersama dengan wanita yang kamu cintai. "Lirih Emely tersenyum getir. Emely menyalakan komputer miliknya dan mulai melakukan pekerjaannya. Rasa sakit di hatinya selalu berusaha ia sembuhkan sendiri tapi kini ia menyerah. Dia melepaskan Wiliam. Laki-laki yang dia cintai tapi tidak pernah ia miliki sepenuhnya. Di dalam ruangannya, Wiliam sesekali menoleh kepada Emely. Pria itu mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Emely. Setiap pagi Emely akan menyapa dirinya tapi hari ini dia

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.3 Surat perceraian

    Apartemen.. Wiliam menghentikan mobilnya. Pria itu turun dari mobil miliknya dan melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Pria itu terlihat tergesa-gesa. Langkahnya terhenti ketika ia tiba di depan apartemen milik Joana. Dia membuka pintu tanpa menekan bel. Pintu terbuka. Wiliam masuk dengan cepat. Netranya langsung tertuju kepada Joana yang sedang duduk di sofa memegangi tangannya. "Kamu baik-baik saja sayang?" Wiliam terlihat begitu khawatir. Joana menunjukka tangannnya yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah. Luka itu tidak seberapa tapi wanita itu butuh Wiliam. Dia ingin menunjukka kepada Emely jika Wiliam adalah miliknya. Dia baru saja kembali dari eropa setelah meninggalkan Wiliam lima tahun yang lalu. Kali ini Joana kembali untuk mendapatkan Wiliam kembali. Tujuannya telah berhasil. Wiliam kembali ke sisinya. "Apa yang terjadi sayang?" Wiliam bertanya sambil memasangkan plester di tangan Joana. "Aku lapar dan berniat memasak sesuatu tapi ti

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab. 2 Hamil

    "Wiliam, lihat istri mu! Dia menolak perintah mamah, padahal mamah hanya ingin dia membuat teh." Isabella mengadu kepada putra yang selalu berpihak padanya. Kini wanita paruh baya menunjukkan kesedihannya di depan sang putra. Emely tersenyum miring. Dia sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutanya. Wiliam menoleh kepada istrinya. "Apa kamu harus melakukan hal itu? Segera lakukan perintah mamah." Emely menatap wajah laki-laki yang tidak pernah membelanya. Wanita itu mengepalkan tangannya, dia jelas sedikit kesal dan merasa dirinya begitu menyedihkan. Dia melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Selalu seperti ini. " Gumam Emely melangkah ke dapur. Lima belas menit kemudian. Dia kembali ke ruang tamu dengan membawa baki dengan empat teh yang masih sangat panas. "Lama sekali." Sindir Isabella kepada menantunya. Kata- kata itu kembali terlontar dari mamah mertuanya setiap kali dia melakukan sesuatu. Rasa tidak puas mertuanya terhadap dirinya sudah ada

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.1 Aku ingin Bercerai

    "William, Aku ingin bercerai. " Emely menatap suaminya cukup dalam. Keringat dingin membasahi dahinya. Cintanya selama lima tahun lamanya untuk pria di hadapannya itu tidak pernah terbalaskan. Suka duka dalam rumah tangganya sudah ia rasakan. Kini ia menyerah. Wiliam sedang memainkan ponselnya- berhenti sejenak kemudian menoleh kepada wanita yang sudah bersama dengan dirinya selama lima tahun lamanya. Dia tidak menganggap ucapan itu serius.William kembali menatap ponselnya dan mengabaikan ucapan istrinya. Sesekali senyum terlihat di bibirnya. Emily yang tidak mendapatkan respon dari suaminya tersenyum getir.Dia jelas tahu dengan siapa suaminya bertukar pesan. Tangannya gemetar memegang ujung gaun-nya. Perlahan-lahan dia melangkah keluar. Dia tidak ingin membuat masalah tapi dia sudah mengambil keputusan. Langkahnya begitu pelan. Pikirannya berkecamuk. Dadanya seperti tersayat. Dia semakin yakin dengan keputusannya. "Apa aku sama sekali tidak pernah ada di pi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status