Share

Bab. 2 Hamil

last update Last Updated: 2026-01-13 11:55:25

"Wiliam, lihat istri mu! Dia menolak perintah mamah, padahal mamah hanya ingin dia membuat teh."

Isabella mengadu kepada putra yang selalu berpihak padanya. Kini wanita paruh baya menunjukkan kesedihannya di depan sang putra.

Emely tersenyum miring. Dia sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutanya.

Wiliam menoleh kepada istrinya. "Apa kamu harus melakukan hal itu? Segera lakukan perintah mamah."

Emely menatap wajah laki-laki yang tidak pernah membelanya.

Wanita itu mengepalkan tangannya, dia jelas sedikit kesal dan merasa dirinya begitu menyedihkan. Dia melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Selalu seperti ini. " Gumam Emely melangkah ke dapur.

Lima belas menit kemudian.

Dia kembali ke ruang tamu dengan membawa baki dengan empat teh yang masih sangat panas.

"Lama sekali." Sindir Isabella kepada menantunya.

Kata- kata itu kembali terlontar dari mamah mertuanya setiap kali dia melakukan sesuatu. Rasa tidak puas mertuanya terhadap dirinya sudah ada sejak di awal menikah.

Emely meletakkan teh dia atas meja.

Dia mengedarkan pandangannya. Tidak ada suaminya dan Joana.

Emely mulai gelisah.

"Kemana mereka?" Batinnya dengan perasaan gugup.

"Beristirahatlah nak. Kamu terlihat pucat." Carter menyadari kegelisahan menantunya.

"Apa tidak apa-apa jika aku tinggal?" Emely merasa tidak enak meninggalkan mertuanya.

"Tidak masalah nak. Pergilah." Carter menyadari kegelisahan menantunya.

Kali ini Isabella tidak protes. Dia membiarkan menantu yang dia benci pergi. Tentu saja ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya.

Emely melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.

Pikirannya langsung tertuju kepada kamar utama yaitu kamarnya dan Wiliam.

Dengan langkah buru-buru, Emly menuju ke kamarnya. Tangannya gemetar- dadanya naik turun. Rasa gugup kini dia rasakan.

Tangannya mulai menyentuh gagang pintu.

Ceklek.

Ruangan itu kosong. Tidak ada suaminya maupun Joana.

Emely mulai berpikir kembali. Entah kemana suaminya pergi tapi kini dia mulai memikirkan satu tempat.

Dengan langkah buru-buru, dia menuju ke ruangan itu. Berkali-kali dia menghembuskan nafas kasar.

Kini dia sudah berdiri di depan ruangan suaminya. Dia mulai memegang gagang pintu dengan perasaan gugup.

"Aku hamil sayang."

"Itu berita bagus sayang."

Deg..

Bagaika petir di siang bolong menyambar. Emely merasakan guncangan hebat yang menguncang jiwanya.

Dia melangkah pergi.

Obrolan singkat itu semakin menghancurkan dunianya. Tekadnya semakin besar.

Wanita itu hanya bisa kembali ke kamarnya. Rasanya dia ingin meninggalkan tempat yang bagaikan neraka ini tapi dia tidak punya tujuan.

Dia hanya bisa berbaring.

Air matanya kini membasahi pelupuk matanya. Dia sudah memutuskan untuk bercerai tapi tetap saja dia merasakan sakit yang luar biasa.

Satu jam berlalu..

Wiliam dan Joana kembali ke ruang tamu.

Tatapan kesal Carter tertuju kepada putranya dan wanita tidak tahu malu itu.

"Apa kamu tidak bisa menjaga perasaan istrimu?"Carter tampak kesal melihat sikap putranya.

Wiliam tidak berekspresi. Dia tidak menanggapi ucapan ayahnya.

Baginya dia tidak melakukan kesalahan. Pernikahan itu terjadi karena ayahnya yang memaksa dirinya.

"Wiliam, apa kamu tidak bisa menjaga perasaan istrimu? Kamu juga Joana. Kamu tahu jika Wiliam sudah menikah tapi kamu tetap saja menanggapinya."

Joana mengepalkan tangannya tapi bibirnya tetap tersenyum kapada ayah laki-laki yang dia cintainya.

Wiliam menoleh kepada ayahnya. Pria itu tidak terima ucapan ayahnya tapi dia tidak membela Joana.

Isabella menyadari situasi mulai tidak baik-baik saja. Wanita paruh baya itu segera menarik tangan Joana keluar dari mansion.

"Ada apa bibi?"

Joana menarik tangannya dan menatap Isabella dengan penuh tanda tanya. Dia tidak mengerti alasan Isabella yang tiba-tiba menarik tangannya meninggalkan ruang tamu.

Isabella tersenyum kecil mengusap perut rata Joana.

"Bibi tidak ingin kamu mendengar perdebatan mereka dan membuat mu kepikiran. Hal itu bisa mengganggu kesehatan kalian berdua."

Joana tersenyum kecil dan memeluka Isabella.

"Terimah kasih bibi karena sudah berpihak kepada ku." Joana kembali tersenyum kecil.

Wanita itu tersenyum penuh kebahagiaan ketika mendapatkan dukungan dari Wiliam dan mamahnya. Dia tahu dengan jelas jika Emely tidak akan pernah mendapatkan tempat di mansion dan juga di hati Wiliam.

Kedua wanita itu melangkah keluar menuju ke taman. Isabella dan Joana saling berpegangan tangan.

Dari atas balkon, Emely melihat semua itu.

Wanita itu tersenyum kecil. Dadanya terasa begitu perih. Selama lima tahun lamanya dia berusaha meluluhkan hati mertuanya tapi dia tidak pernah berhasil.

Tapi Joana berbeda.

Wanita itu tidak melakukan usaha yang banyak tapi dia berhasil meluluhkan hati mertuanya dan Wiliam. Hal itu yang tidak pernah ia bisa dapatkan.

Emely terus menatap mereka.

"Kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau. Wiliam! Pria itu aku memberikannya kepadamu. Semoga kamu bahagia."

Mata Emely tampak berkaca-kaca mengatakan hal itu. Dia merasakan dadanya terasa perih tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Lima tahun sudah cukup baginya. Emely berbalik.

Tubuhnya membeku. Kedua netranya memandang lurus kepada Wiliam yang saat ini berdiri di hadapannya.

Wiliam memandang dirinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.

"Kenapa kamu di sini?"

Wiliam mengalihkan pandangannya dari istrinya. Pria itu berjalan ke arah sofa.

"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu di sini?"

Emely menatap suaminya. Sepasang mata itu mengamati ekspresi wajah suaminya yang tampak begitu tenang.

Sekali lagi, Emely menertawakan dirinya sendiri di dalam hatinya. Dia begitu bodoh selama ini. Dia tahu semuanya tapi dia memilih untuk bertahan.

"Sekarang, kalian bisa hidup bahagia. Aku akan melepaskan mu Wiliam." Batin Emely kembali menatap ke arah luar.

Wiliam tidak menjawab pertanyaan istrinya. Pria itu duduk di sofa dan kembali memainkan ponselnya.

Emely menoleh.

Wanita itu terdiam.

Beberapa menit kemudian.

Wiliam bangkit dari tempat duduknya tanpa sepatah kata pun. Emely yang melihat kepergian suaminya yang entah ke mana hanya tersenyum getir.

Pemandangan itu sudah biasa terjadi.

Emely berjalan masuk ke dalam tempat kamarnya. Wanita itu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Apa kamu yakin dengan keputusan mu?"

Emely terdiam.

"Nyonya, apa anda yakin dengan keputusan anda? Anda tidak akan mendaptkan apa pun jika anda yang menggunggat. Anda tahu artinya bukan?"Ucap seseorang di sebrang telepon.

Emely menghembuskan nafas kasar.

"Lakukan saja. Semua itu tidak masalah bagi ku."

Keputusan itu begitu berat tapi dia sudah memutuskan akan melepaskan Wiliam.

Emely mematikan teleponnya.

Dia kembali meletakkan ponselnya pada meja.

Wanita itu menoleh.

Dia menatap foto pernikahannya dengan Wiliam yang tertempel pada dinding kamar mereka.

Ekspresi yang sama. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan yang terlihat di mata suaminya.

Emely tersenyum getir.

"Tidak lama lagi kalian akan hidup bahagia."

Emely memejamkan matanya. Dia merasakan sesak pada dadanya.

"Ini begitu berat." Batinnya dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknyan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.6 Kecelakaan

    Di apartemen Joana. Dua manusia saling memadu kasih tanpa perasaan bersalah. Wiliam menatap Joana penuh cinta tanpa memikirkan bagaimana perasaan istrinya. "Malam ini apa kamu akan kembali?" Wiliam menarik diri dan mengenakan jubah meninggalkan Joana dengan tubuh polosnya. Wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Netranya menelisik wajah laki-laki yang dia dapatkan dari hasil menyakiti hati wanita lain. Joana tersenyum puas. "Kamu milikku Wiliam."Batinnya dengan ekspresi penuh kemenangan. Wiliam sendiri sudah berada di dalam kamar mandi. Entah mengapa wajah Emely terbayang-bayang di kepalanya. "Sial. Kenapa harus dia? Aku tidak peduli. Dia melakukan berbagai cara untuk masuk ke dalam keluarga ku." Lirihnya dengan emosi yang tidak stabil. Di mata Wiliam. Emely adalah wanita yang licik yang akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang di inginkan hanya karena dia menolong ayahnya. Tangan Wiliam mengepal. Dia berusaha untuk menghilangkan wajah ist

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab. 5 Meninggalkan mansion

    Wiliam terus menatap ke arah Emely hingga istrinya itu menghilang dari pandangannya. Pria itu tetap saja merasa ragu dengan apa yang di lakukan oleh Emely. Wiliam sangat yakin jika Emely tidak akan pernah melakukan hal itu. Selama ini Emely berusaha masuk ke perusahaan hanya demi dekat dengannya. Wiliam tidak akan pernah percaya jika Emely akan mengundurkan diri setelah dia berhasil mendapatkan jabatan sebagai sekertarisnya. Tetap saja Wiliam merasa jika Emely sedang kesal saat ini. Sementara Emely kini berada di dalam mobil miliknya. Dia menatap ke arah gedung yang sudah lima tahun menjadi tempat yang begitu ia senangi. Setiap kali pagi tiba, dia akan selalu bersemangat. Dia selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Tidak sampai di situ saja. Melihat suaminya bekerja menjadi hal yang begitu membahagiakan. Sekarang semua itu telah berubah. Sejak kembalinya Joana, Emely merasa jika dia tidak punya harapan untuk meluluhkan hati Wiliam. Suaminya telah kemba

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab. 4 Surat pengunduran diri Emely

    Lima belas menit berlalu. Emely kini duduk di meja kerjanya. Wanita itu menatap amplop cokelat yang baru saja dia letakkan di laci meja kerjanya. Hembusan nafas kasar terdengar dari bibirnya. Senyum di wajahnya terlihat begitu menyedihkan. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya dia akan melepaskan laki-laki yang dia cintai. Emely menutup laci. Emely menoleh kepada Wiliam yang berada di dalam ruang kerjanya. Hanya kaca yang menjadi pembatas di antara mereka berdua. "Semoga kamu bahagia bersama dengan wanita yang kamu cintai. "Lirih Emely tersenyum getir. Emely menyalakan komputer miliknya dan mulai melakukan pekerjaannya. Rasa sakit di hatinya selalu berusaha ia sembuhkan sendiri tapi kini ia menyerah. Dia melepaskan Wiliam. Laki-laki yang dia cintai tapi tidak pernah ia miliki sepenuhnya. Di dalam ruangannya, Wiliam sesekali menoleh kepada Emely. Pria itu mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Emely. Setiap pagi Emely akan menyapa dirinya tapi hari ini dia

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.3 Surat perceraian

    Apartemen.. Wiliam menghentikan mobilnya. Pria itu turun dari mobil miliknya dan melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut. Pria itu terlihat tergesa-gesa. Langkahnya terhenti ketika ia tiba di depan apartemen milik Joana. Dia membuka pintu tanpa menekan bel. Pintu terbuka. Wiliam masuk dengan cepat. Netranya langsung tertuju kepada Joana yang sedang duduk di sofa memegangi tangannya. "Kamu baik-baik saja sayang?" Wiliam terlihat begitu khawatir. Joana menunjukka tangannnya yang sedikit tergores dan mengeluarkan darah. Luka itu tidak seberapa tapi wanita itu butuh Wiliam. Dia ingin menunjukka kepada Emely jika Wiliam adalah miliknya. Dia baru saja kembali dari eropa setelah meninggalkan Wiliam lima tahun yang lalu. Kali ini Joana kembali untuk mendapatkan Wiliam kembali. Tujuannya telah berhasil. Wiliam kembali ke sisinya. "Apa yang terjadi sayang?" Wiliam bertanya sambil memasangkan plester di tangan Joana. "Aku lapar dan berniat memasak sesuatu tapi ti

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab. 2 Hamil

    "Wiliam, lihat istri mu! Dia menolak perintah mamah, padahal mamah hanya ingin dia membuat teh." Isabella mengadu kepada putra yang selalu berpihak padanya. Kini wanita paruh baya menunjukkan kesedihannya di depan sang putra. Emely tersenyum miring. Dia sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutanya. Wiliam menoleh kepada istrinya. "Apa kamu harus melakukan hal itu? Segera lakukan perintah mamah." Emely menatap wajah laki-laki yang tidak pernah membelanya. Wanita itu mengepalkan tangannya, dia jelas sedikit kesal dan merasa dirinya begitu menyedihkan. Dia melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Selalu seperti ini. " Gumam Emely melangkah ke dapur. Lima belas menit kemudian. Dia kembali ke ruang tamu dengan membawa baki dengan empat teh yang masih sangat panas. "Lama sekali." Sindir Isabella kepada menantunya. Kata- kata itu kembali terlontar dari mamah mertuanya setiap kali dia melakukan sesuatu. Rasa tidak puas mertuanya terhadap dirinya sudah ada

  • William,Aku Ingin Bercerai   Bab.1 Aku ingin Bercerai

    "William, Aku ingin bercerai. " Emely menatap suaminya cukup dalam. Keringat dingin membasahi dahinya. Cintanya selama lima tahun lamanya untuk pria di hadapannya itu tidak pernah terbalaskan. Suka duka dalam rumah tangganya sudah ia rasakan. Kini ia menyerah. Wiliam sedang memainkan ponselnya- berhenti sejenak kemudian menoleh kepada wanita yang sudah bersama dengan dirinya selama lima tahun lamanya. Dia tidak menganggap ucapan itu serius.William kembali menatap ponselnya dan mengabaikan ucapan istrinya. Sesekali senyum terlihat di bibirnya. Emily yang tidak mendapatkan respon dari suaminya tersenyum getir.Dia jelas tahu dengan siapa suaminya bertukar pesan. Tangannya gemetar memegang ujung gaun-nya. Perlahan-lahan dia melangkah keluar. Dia tidak ingin membuat masalah tapi dia sudah mengambil keputusan. Langkahnya begitu pelan. Pikirannya berkecamuk. Dadanya seperti tersayat. Dia semakin yakin dengan keputusannya. "Apa aku sama sekali tidak pernah ada di pi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status