Share

2.

Author: Odiiwords
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-06 03:39:31

"Apa mereka puas dengan kontraknya?" tanya Selena.

Cedric berbalik. Alisnya terangkat sebelah, memperlihatkan ketidaksukaan yang kentara.

"Aku baru saja kembali setelah satu minggu berada di luar kota." Tatapannya menyapu Selena dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan menilai. "Kau bahkan tidak berniat memberiku pelukan?"

"Kita sudah melewati fase itu, Cedric."

Senyum tipis di bibir pria itu langsung memudar, menyisakan garis bibir yang menegang kaku.

"Selena, apa kau serius? Apa yang ada di kepalamu sekarang hanya perusahaan?" Cedric melangkah mendekat dengan gestur frustrasi yang dibuat-buat. "Kau pulang larut malam, bangun pagi-pagi buta, lalu langsung kembali bekerja. Bahkan ketika suamimu baru saja pulang setelah seminggu pergi, hal pertama yang kau tanyakan tetap saja soal pekerjaan."

Selena hampir saja tertawa. Suara tawa dingin yang tertahan di tenggorokannya.

Cedric benar-benar masih berusaha membalikkan keadaan, mencoba melimpahkan kesalahan kepadanya, seolah bukan pria itu sendiri yang telah mengkhianati ikatan pernikahan mereka selama bertahun-tahun.

Tap!

Map cokelat tebal di tangan Selena mendarat dengan bunyi debam yang tegas di atas meja marmer.

"Aku memang memikirkan perusahaan," katanya tenang, tanpa sedikit pun emosi melukai nada suaranya. "Karena sepertinya, hanya aku yang masih peduli menyelamatkan masa depan perusahaan kita, sementara suamiku sibuk menghamburkannya di ranjang wanita lain."

Cedric terpaku seketika. Manik matanya menatap map itu dengan dahi yang berkerut dalam.

"Ini... apa?"

"Buka."

Dengan jemari yang mulai ragu, Cedric membuka kancing pengikat map tersebut. Lembar demi lembar foto candid beresolusi tinggi terpampang nyata—memperlihatkan dirinya bersama seorang perempuan muda.

Ada foto mereka bergandengan tangan menyusuri trotoar, memasuki lobi hotel berbintang, hingga lembaran bukti reservasi kamar dan catatan transaksi kartu kredit dengan nominal fantastis.

Wajah Cedric seketika memuntahkan seluruh warnanya, berubah pucat pasi.

"I-ini..."

"Lanjutkan membacanya," desis Selena dingin.

Cedric mendongak secara perlahan. Kepanikan yang sesungguhnya kini mulai merayap dan terlihat jelas di dasar matanya.

"Kau menyuruh seseorang menguntitku?!"

Selena mengerjap pelan, menatap suaminya dengan tatapan takjub yang penuh keheranan. Dari sekian banyak hal krusial yang seharusnya dipertanyakan oleh seorang suami yang tertangkap basah berselingkuh... Cedric justru memilih untuk mempermasalahkan privasinya sendiri yang terlanggar.

"Aku sudah menghubungi pengacara."

Tubuh Cedric menegang kaku. Kalimat itu menghantam telinganya bagai petir.

"Apa?"

"Kita lanjutkan pembicaraan ini besok."

Selena berbalik, berniat melanjutkan langkahnya menuju tangga, tetapi Cedric bergerak lebih cepat. Pria itu segera menerjang dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat.

"Selena, tunggu."

"Aku lelah, Cedric."

"Semua ini salah paham."

Selena menatapnya datar, alisnya terangkat sebelah. "Oh?"

"Mia sebenarnya adalah anak dari saudara jauhku! Dia sedang berada di kota ini untuk keperluan study tour kampusnya. Kami tidak sengaja bertemu di sana, jadi aku hanya berbaik hati menemaninya makan siang—"

"Dengan berpegangan tangan?" potong Selena tanpa ampun.

"Itu—"

"Dan saling menyentuh pipi?"

Cedric tersendat, lidahnya mendadak kelu.

"Kami berasal dari lingkaran keluarga yang sama!" elaknya dengan suara bergetar gugup. "Kami menginap di hotel yang sama secara kebetulan karena kamar di tempat lain sudah penuh!"

"Dan menyewa private pool bersama tengah malam?"

Cedric terdiam total. Udara di sekitar mereka seolah tersedot habis.

"Selena, kumohon. Dengarkan penjelasanku. Ini benar-benar tidak seperti yang kau pikirkan."

"Memangnya, apa yang sedang aku pikirkan, Cedric?"

Pria itu mulai mandi keringat, dahinya basah oleh bulir-bulir peluh dingin.

Namun, Selena sudah terlalu kenyang dan muak mendengar alasan-alasan basi yang terus berputar itu.

"Mulai malam ini, tidurlah di kamar tamu."

Mata Cedric melebar horor. Ia menahan pergelangan tangan sang istri.

"Selena—"

"Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki ke kamarku."

Selena menarik pergelangan tangannya dengan enteng dari cengkeraman Cedric, lalu memutar tubuhnya dan mulai menaiki anak tangga tanpa menoleh ke belakang lagi.

Cedric hanya bisa berdiri terpaku sendirian di tengah ruangan yang mendadak terasa hampa, menatap punggung perempuan yang selama enam tahun ini telah sah menjadi istrinya.

Selena tidak menangis. Tidak berteriak melampiaskan amarah. Tidak pula menuntut penjelasan lebih lanjut.

Ia hanya pergi.

•••••

Matahari pagi menembus dinding kaca mansion, memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer. Para pelayan sibuk menjalankan tugas masing-masing, mulai dari merapikan bunga hingga menyiapkan sarapan.

Suara langkah kaki terdengar dari tangga melingkar.

Selena turun dengan anggun, mengenakan pakaian rumah berbahan sutra krem. Rambut hitam panjangnya tergerai, sementara wajahnya tampak tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.

“Selamat pagi, Nyonya!”

Para pelayan membungkuk serempak.

“Selamat pagi,” balas Selena singkat.

Tak lama kemudian, Morgan menyusulnya.

“Selamat pagi, Nyonya.”

Senyum tipis muncul di bibir Selena. “Morgan.”

Pria paruh baya itu telah mengenalnya hampir seumur hidup. Selena sengaja membawanya dari kediaman keluarga Gray setelah menikah karena Morgan memahami kebiasaan dan preferensinya tanpa perlu penjelasan panjang.

“Nyonya, apakah Anda tidur nyenyak semalam?” tanyanya saat mereka berjalan menuju ruang makan.

“Berkat teh mawar buatanmu, aku tidur cukup nyenyak.”

“Syukurlah.”

Percakapan mereka terdengar biasa, tetapi Selena tahu malam sebelumnya telah meninggalkan sesuatu yang sulit disembunyikan. Pertengkarannya dengan Cedric mungkin sudah terdengar oleh para pelayan, dan kabar keretakan rumah tangganya pasti segera sampai ke keluarga Gray.

Namun, Selena tak berniat mengkhawatirkannya.

Setibanya di ruang makan, pandangannya tertuju pada kursi kosong di seberangnya.

“Dia belum turun?”

“Tuan sudah pergi sejak pagi, Nyonya. Katanya ada urusan yang harus diselesaikan.”

Selena hanya mengangguk, lalu duduk dan mulai sarapan tanpa menunjukkan kekecewaan sedikit pun.

Morgan mengenalnya cukup lama untuk menyadari bahwa ketenangan itu bukan pertanda baik.

Namun, ia memilih diam.

Tak lama kemudian, Billy muncul membawa sebuah tablet dan map tipis berwarna gelap.

“Selamat pagi, Nyonya.”

“Kau sudah membawanya?”

Billy mengangguk dan meletakkan map itu di sisi piring Selena. “Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu tanda tangan Anda dan Tuan Lawrence.”

“Kerja bagus, Billy.”

Selena tak perlu membuka map tersebut untuk mengetahui isinya. Di dalamnya terdapat dokumen perceraian final, termasuk kesepakatan pembagian harta dan aset SC Group.

Enam tahun pernikahan mereka akan segera berakhir hanya dengan beberapa lembar dokumen.

Ironisnya, Selena pernah mengira meninggalkan pernikahan akan menjadi hal tersulit dalam hidupnya. Kini ia tahu, yang jauh lebih menyakitkan adalah bertahan dalam hubungan yang telah membusuk.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Brian Gray.

Kakak sulungnya.

Selena menatap layar sejenak. Belum lama dokumen perceraian itu tiba, Brian sudah mengetahui situasinya. Sebagai pengacara litigasi ternama dari keluarga Gray, pria itu memiliki jaringan luas dan naluri tajam dalam membaca persoalan hukum maupun bisnis.

Ponselnya terus berdering.

“Nyonya, apakah Anda tidak ingin mengangkatnya?” tanya Morgan.

“Biarkan dulu.”

Selena menyesap tehnya, lalu hendak berdiri. Namun, langkah kaki tegas dari arah foyer membuatnya berhenti.

Morgan ikut menoleh, alisnya berkerut.

Selena menatap ke arah pintu masuk. Entah mengapa, kedatangan tamu itu menimbulkan firasat bahwa sesuatu yang penting akan segera terjadi.

Ia mengalihkan pandangan kepada Morgan.

“Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Writting’s On The Wall   8.

    “Bukankah itu sama saja?” Chase tertawa kecil—suara tawa bariton yang terkesan santai dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terusik oleh teguran halus dari asisten pribadinya. “Kalau begitu, cari tahu acara publik apa yang akan dia hadiri,” titah Chase, nada suaranya berubah menjadi lebih terukur dan berwibawa. “Pertemuan bisnis, gala, acara keluarga—apa pun yang memang bisa kuhadiri tanpa terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.” Steve, sang asisten yang sudah hafal luar kepala tabiat majikan mudanya itu, mengangguk pelan seraya membenarkan letak kacamata. “Secara teknis, itu sama saja membuat Anda terlihat seperti orang yang sengaja mengejarnya, Tuan Muda.” Chase mengabaikan sindiran tipis itu dengan enteng. Ia meraih ponsel pintarnya dari atas meja marmer, membuka kunci layarnya sebentar, menatap permukaan terang benda pipih itu selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali di

  • Writting’s On The Wall   7.

    Eleanor kebingungan setengah mati, namun ia sama sekali tidak berani membantah ketegasan nada suara Selena—terutama tatapan mata emerald bibinya yang begitu menekan. Dengan ragu, Eleanor melangkah mendekat dan kembali mencengkeram erat rambut Mia, persis seperti yang dilakukannya di koridor tadi. "Ack!" Mia memekik kesakitan. "Tendang kakinya!" titah Selena mutlak. "Huh?" Eleanor membelalak kaget, cengkeraman tangannya di rambut Mia sampai melonggar seketika karena kaget. "Lakukan!" Tidak berani membantah lebih jauh, Eleanor akhirnya mengayunkan kakinya dan menendang lipatan lutut Mia dari belakang. Tubuh Mia hilang keseimbangan hingga gadis itu tersungkur jatuh—kedua lututnya mencium ubin keras dengan bunyi benturan yang kencang. "Sekarang lepaskan dan minta maaflah," ucap Selena tenang.

  • Writting’s On The Wall   6.

    “Menarik sekali. Jadi, menurutmu, seseorang yang menghampiri orang lain terlebih dahulu, memancing pertengkaran, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan kamera pengawas adalah korban penindasan?” Wajah Mia seketika memucat. “Saya tidak—” “Jangan terburu-buru membantah.” Selena mengangkat satu tangan, menghentikannya sebelum sempat menyusun kebohongan berikutnya. “Aku belum selesai berbicara.” Suasana ruangan mendadak hening. Selena melirik sekilas ke arah iPad di tangan Rektor Gilbert, kemudian kembali menatap Mia. “Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Eleanor memang menjambak rambutmu. Aku tidak akan menyangkal fakta itu hanya demi membela keponakanku. Tindakannya keliru, dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang benar-benar dilakukannya.” Eleanor menundukkan kepala. Bibirnya mengerucut, tetapi ia tidak menyela. “Namun, rekaman yang sama juga membuktikan bahwa kau menghampirinya terlebih dahulu, mencengkeram tangannya, kemudian menjatuhkan dirimu sen

  • Writting’s On The Wall   5.

    “Nyonya Selena, saya benar-benar tidak menduga Anda sendiri yang akan datang kali ini,” ucap Gilbert, sang Rektor Universitas Rosewood, menyambut dengan raut kaget yang kentara. Selena mengabaikan sejenak pria paruh baya itu. Manik mata emerald-nya beralih sepenuhnya pada sang keponakan yang berdiri tegang di tengah ruangan. Ia meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cedera atau luka fisik pada tubuh Eleanor. Setelah memastikan Eleanor aman, pandangan Selena bergulir sekilas ke arah pemuda tinggi yang bersandar acuh tak acuh di tepi meja—terlihat begitu santai seolah dialah penguasa sesungguhnya di ruangan tersebut. Lalu, Selena kembali menatap Rektor Gilbert lurus-lurus. “Di mana gadis yang ditampar oleh Ele?” “Namanya Mia Bennett. Dia sudah dibawa ke ruang kesehatan lebih dulu untuk mengobati lukanya. Gadis itu juga sudah memaafkan tindakan Eleanor, sehingga pihak kampus tidak akan memperpanjang masalah ini,” jelas Gilbert seraya mengusap tangannya. Mia Be

  • Writting’s On The Wall   4.

    “Begitulah laporan yang saya terima.” “Cari tahu apa yang dilakukannya di sana,” ucap Selena dingin kepada Billy. “Jangan bilang kau masih mengkhawatirkannya?” Brian menatap sang adik dengan sorot mata tak terima, alisnya menukik tajam penuh ketidaksenangan. “Tidak, aku hanya ingin memastikan dia tidak sempat mencari alasan untuk membatalkan perceraian ini,” ujar wanita cantik itu tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di nada suaranya. “Kuharap dia benar-benar kecelakaan dan cacat!” kutuk Brian tanpa rasa bersalah. Selena mengerjap pelan. Sepersekian detik kemudian, sebuah kekehan kecil yang elegan lolos dari bibirnya. “Perceraian ini tidak boleh sampai tertunda hanya karena dia kehilangan salah satu fungsi tubuhnya.” “Itulah gunanya aku,” sahut Brian dengan raut angkuh yang khas dari seorang Gray. Billy yang berdiri di depan mereka menatap kakak beradik itu bergantian seraya menelan ludah berulang kali. Sifat dingin, tajam, dan sama-sama tidak memiliki ampun saat terusik

  • Writting’s On The Wall   3.

    Ia menatap Morgan. “Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”“Baik, Nyonya.”Para pelayan segera menyingkir, sementara Billy bersiap mengikuti Selena menuju ruang tamu.Namun, baru beberapa langkah, Selena berhenti.Cedric berdiri di balik pintu utama dengan setelan jas rapi dan ekspresi tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.Bukan suaminya yang membuat Selena terdiam, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya.Mia Bennett.Gadis berusia dua puluh tahun itu menggenggam lengan jas Cedric dengan jemari gemetar. Wajahnya tampak polos, tetapi Selena sudah mengenalinya dari foto-foto yang dibawa Billy sehari sebelumnya.Jadi, inilah alasan Cedric pergi pagi-pagi sekali.Ia menjemput perempuan simpanannya, lalu membawanya ke rumah yang masih dihuni istrinya sendiri.“Selena,” panggil Cedric hati-hati.Selena mengabaikannya. Tatapan emerald-nya tertuju pada Mia, sebelum akhirnya kembali kepada suaminya.“Kau membawanya ke sini?”Cedric menelan ludah. “Aku ingin kita bicar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status