Share

8.

Author: Odiiwords
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-23 20:00:00

“Bukankah itu sama saja?”

Chase tertawa kecil—suara tawa bariton yang terkesan santai dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terusik oleh teguran halus dari asisten pribadinya.

“Kalau begitu, cari tahu acara publik apa yang akan dia hadiri,” titah Chase, nada suaranya berubah menjadi lebih terukur dan berwibawa. “Pertemuan bisnis, gala, acara keluarga—apa pun yang memang bisa kuhadiri tanpa terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.”

Steve, sang asisten yang sudah hafal luar kepala tabiat majikan mudanya itu, mengangguk pelan seraya membenarkan letak kacamata. “Secara teknis, itu sama saja membuat Anda terlihat seperti orang yang sengaja mengejarnya, Tuan Muda.”

Chase mengabaikan sindiran tipis itu dengan enteng. Ia meraih ponsel pintarnya dari atas meja marmer, membuka kunci layarnya sebentar, menatap permukaan terang benda pipih itu selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali di posisi semula tanpa melakukan apa pun.

Pikirannya sudah melayang jauh—tertambat penuh pada sepasang mata emerald yang tajam dan raut wajah pualam yang tetap tenang, dingin, nan tak tersentuh, bahkan ketika berada tepat di tengah kekacauan dramatis yang melibatkan keponakannya di kampus tadi.

Selena Lawrence...

Chase membatin nama itu sejenak, lalu mendengus pelan dengan senyum tipis di bibirnya. Tidak, Selena Gray terdengar jauh lebih pantas dan sempurna untuknya.

Perempuan itu memiliki sesuatu yang langka. Ia tidak berusaha membuat siapa pun terkesan. Ia tidak mencari perhatian murah, tidak menunjukkan keramahan yang dibuat-buat demi disukai, dan sama sekali tidak tampak peduli pada prasangka atau pendapat orang-orang di sekitarnya.

Justru keanggunan yang natural, kematangan aura, dan kemandirian dingin itulah yang membakar rasa penasaran di dada Chase—membuatnya ingin melangkah lebih jauh untuk menembus benteng wanita itu.

Selama ini, Chase selalu beranggapan bahwa perempuan yang tepat baginya adalah seseorang yang mampu memahami cara berpikirnya, seseorang yang tidak mudah tersinggung oleh sikap acuh tak acuhnya, serta memiliki kedewasaan cukup untuk berdiri sejajar di sampingnya tanpa harus terus-menerus bergantung padanya.

Namun, baru kali ini ia bertemu dengan sosok yang sanggup memikat perhatiannya sedemikian hebat—seseorang yang membuatnya terobsesi ingin membongkar dan mengenal begitu banyak hal hanya dari satu pertemuan singkat.

“Steve.”

“Ya, Tuan Muda?”

“Jangan terlalu lama mencari informasinya.”

Steve menatap Chase dengan raut datar tanpa ekspresi. “Saya akan berusaha mengumpulkan data dan jadwal yang memang bisa diperoleh secara wajar dan elegan.”

“Bagus.”

Chase menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan tekat kuat. Ia menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kerja berbalut kulit, lalu mengistirahatkan kepalanya dengan tatapan mata yang menerawang penuh antisipasi.

*****

“Aunty, dengar… Mia Bennett itu benar-benar sangat licik!” seru Eleanor seraya setengah berlari mengejar langkah tenang Selena menuju area parkir.

Mereka baru saja melangkah keluar dari sebuah kafe bernuansa estetis di sekitar area Universitas Rosewood.

Selena sengaja membawa keponakannya ke sana lebih dulu untuk menikmati satu cup minuman segar—karena ia tahu betul kejadian menegangkan di ruang rektorat tadi pasti sempat membuat Eleanor kaget dan emosional.

“Apa kalian berada di jurusan yang sama?” tanya Selena santai, menyesap minuman dingin di tangannya seraya melangkah anggun.

“Tidak, kami beda jurusan. Tapi dia sengaja mengambil kelas yang sama dengan Chase!” jawab Eleanor berapi-api, bibirnya mengerucut sebal.

“Ele, pemuda bernama Chase itu—”

“Bagaimana, Aunty? Dia sangat tampan, kan?!” sela Eleanor antusias, sepasang matanya berbinar-binar penuh binar kekaguman.

Selena melirik keponakannya dari sudut mata, mengebuskan napas pelan. “Dia memang tampan, tapi tetap tidak cukup beralasan untuk membuatmu sampai tergila-gila dan kehilangan kendali seperti tadi.”

“Tapi aku sudah menyukainya sejak tahun pertama kuliah, Aunty!” kukuh Eleanor, membela perasaan sepihaknya.

“Bukankah dia seniormu?”

Eleanor mengerjap. “Bagaimana Aunty bisa tahu?”

“Dia terlihat sedikit lebih tua darimu,” gumam Selena datar.

“Dia baru dua puluh tiga tahun!”

“Bagi gadis dua puluh tahun sepertimu, itu sama saja,” Selena merotasikan bola matanya pelan, menganggap kepolosan keponakannya itu sangat khas anak muda.

Langkah mereka berhenti tepat di samping mobil sedan hitam yang terparkir rapi. Billy, yang sudah siaga sejak tadi, membungkuk sopan dan membukakan pintu penumpang belakang untuk Selena.

Namun, tepat sebelum Selena mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam kendaraan—

“Selena…”

Sebuah panggilan berlarut dengan nada berat dan familiar tiba-tiba memecah udara parkiran dari arah belakang mereka.

Langkah Selena terhenti seketika. Jemarinya yang memegang tepian pintu mobil mendadak kaku, sementara riak tenang di wajahnya mendadak surut digantikan ketegangan yang dingin.

“Uncle?”

Eleanor memiringkan wajahnya sedikit, kaget melihat keberadaan pria yang berstatus sebagai suami bibinya itu berdiri tak jauh dari mereka.

“Apa Uncle datang ke sini sengaja untuk menjemput kami?” tanya Eleanor polos, sama sekali belum menyadari keretakan dingin di antara pasangan tersebut.

Cedric tampak terpaku bingung sejenak, manik matanya sempat bergulir panik sebelum ia mati-matian berusaha menguasai diri dan bersikap seolah semuanya normal.

“Ah… aku baru saja kembali dari perjalanan kantor, lalu tak sengaja melihat mobil Selena terparkir di sini. Jadi aku berhenti sebentar untuk memeriksanya sendiri,” jawab Cedric beralasan, mengukir senyum kaku.

“Oh! Aunty ke sini untuk menjemputku,” ujar Eleanor antusias, memamerkan keberadaan sang bibi.

“Aku datang ke sini untuk menyelesaikan masalahmu,” tukas Selena datar, melirik keponakannya dari sudut mata.

“Bukankah itu sama saja?” Eleanor memandangnya dengan raut lugu tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Selena…” panggil Cedric pelan, mengabaikan Eleanor dan sepenuhnya memusatkan perhatian pada sang istri.

Selena hanya menatapnya dingin, tanpa ada sedikit pun pendar kehangatan di sepasang mata emerald-nya.

“Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Cedric dengan nada memohon yang tertahan.

“Tidak sekarang. Aku harus mengantar Eleanor pulang lebih dulu,” jawab Selena singkat, mutlak, dan penuh penolakan.

Eleanor mengernyitkan alisnya bingung mengamati interaksi kaku di hadapannya. Tidak ada sisa kehangatan atau interaksi manis seperti yang biasa ia lihat dari pasangan yang telah menikah enam tahun itu.

Suasana di antara mereka terasa teramat asing dan membeku.

“Aku—”

“Cedric!”

Sebuah suara nyaring bergelombang tiba-tiba memecah keheningan parkiran dari kejauhan.

Bahu Cedric menegang kaku seketika. Seluruh darah di wajahnya seolah tersedot habis. Pria itu menoleh patah-patah dan mendapati Mia Bennett tengah berjalan tergesa menghampirinya dengan raut wajah berantakan.

Manik mata Eleanor membelalak lebar, memandang bergantian antara Mia dan Cedric dengan raut tak percaya.

“Mia Bennett?! Kenapa dia memanggil nama Uncle seakrab itu?!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Writting’s On The Wall   8.

    “Bukankah itu sama saja?” Chase tertawa kecil—suara tawa bariton yang terkesan santai dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terusik oleh teguran halus dari asisten pribadinya. “Kalau begitu, cari tahu acara publik apa yang akan dia hadiri,” titah Chase, nada suaranya berubah menjadi lebih terukur dan berwibawa. “Pertemuan bisnis, gala, acara keluarga—apa pun yang memang bisa kuhadiri tanpa terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.” Steve, sang asisten yang sudah hafal luar kepala tabiat majikan mudanya itu, mengangguk pelan seraya membenarkan letak kacamata. “Secara teknis, itu sama saja membuat Anda terlihat seperti orang yang sengaja mengejarnya, Tuan Muda.” Chase mengabaikan sindiran tipis itu dengan enteng. Ia meraih ponsel pintarnya dari atas meja marmer, membuka kunci layarnya sebentar, menatap permukaan terang benda pipih itu selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali di

  • Writting’s On The Wall   7.

    Eleanor kebingungan setengah mati, namun ia sama sekali tidak berani membantah ketegasan nada suara Selena—terutama tatapan mata emerald bibinya yang begitu menekan. Dengan ragu, Eleanor melangkah mendekat dan kembali mencengkeram erat rambut Mia, persis seperti yang dilakukannya di koridor tadi. "Ack!" Mia memekik kesakitan. "Tendang kakinya!" titah Selena mutlak. "Huh?" Eleanor membelalak kaget, cengkeraman tangannya di rambut Mia sampai melonggar seketika karena kaget. "Lakukan!" Tidak berani membantah lebih jauh, Eleanor akhirnya mengayunkan kakinya dan menendang lipatan lutut Mia dari belakang. Tubuh Mia hilang keseimbangan hingga gadis itu tersungkur jatuh—kedua lututnya mencium ubin keras dengan bunyi benturan yang kencang. "Sekarang lepaskan dan minta maaflah," ucap Selena tenang.

  • Writting’s On The Wall   6.

    “Menarik sekali. Jadi, menurutmu, seseorang yang menghampiri orang lain terlebih dahulu, memancing pertengkaran, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan kamera pengawas adalah korban penindasan?” Wajah Mia seketika memucat. “Saya tidak—” “Jangan terburu-buru membantah.” Selena mengangkat satu tangan, menghentikannya sebelum sempat menyusun kebohongan berikutnya. “Aku belum selesai berbicara.” Suasana ruangan mendadak hening. Selena melirik sekilas ke arah iPad di tangan Rektor Gilbert, kemudian kembali menatap Mia. “Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Eleanor memang menjambak rambutmu. Aku tidak akan menyangkal fakta itu hanya demi membela keponakanku. Tindakannya keliru, dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang benar-benar dilakukannya.” Eleanor menundukkan kepala. Bibirnya mengerucut, tetapi ia tidak menyela. “Namun, rekaman yang sama juga membuktikan bahwa kau menghampirinya terlebih dahulu, mencengkeram tangannya, kemudian menjatuhkan dirimu sen

  • Writting’s On The Wall   5.

    “Nyonya Selena, saya benar-benar tidak menduga Anda sendiri yang akan datang kali ini,” ucap Gilbert, sang Rektor Universitas Rosewood, menyambut dengan raut kaget yang kentara. Selena mengabaikan sejenak pria paruh baya itu. Manik mata emerald-nya beralih sepenuhnya pada sang keponakan yang berdiri tegang di tengah ruangan. Ia meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cedera atau luka fisik pada tubuh Eleanor. Setelah memastikan Eleanor aman, pandangan Selena bergulir sekilas ke arah pemuda tinggi yang bersandar acuh tak acuh di tepi meja—terlihat begitu santai seolah dialah penguasa sesungguhnya di ruangan tersebut. Lalu, Selena kembali menatap Rektor Gilbert lurus-lurus. “Di mana gadis yang ditampar oleh Ele?” “Namanya Mia Bennett. Dia sudah dibawa ke ruang kesehatan lebih dulu untuk mengobati lukanya. Gadis itu juga sudah memaafkan tindakan Eleanor, sehingga pihak kampus tidak akan memperpanjang masalah ini,” jelas Gilbert seraya mengusap tangannya. Mia Be

  • Writting’s On The Wall   4.

    “Begitulah laporan yang saya terima.” “Cari tahu apa yang dilakukannya di sana,” ucap Selena dingin kepada Billy. “Jangan bilang kau masih mengkhawatirkannya?” Brian menatap sang adik dengan sorot mata tak terima, alisnya menukik tajam penuh ketidaksenangan. “Tidak, aku hanya ingin memastikan dia tidak sempat mencari alasan untuk membatalkan perceraian ini,” ujar wanita cantik itu tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di nada suaranya. “Kuharap dia benar-benar kecelakaan dan cacat!” kutuk Brian tanpa rasa bersalah. Selena mengerjap pelan. Sepersekian detik kemudian, sebuah kekehan kecil yang elegan lolos dari bibirnya. “Perceraian ini tidak boleh sampai tertunda hanya karena dia kehilangan salah satu fungsi tubuhnya.” “Itulah gunanya aku,” sahut Brian dengan raut angkuh yang khas dari seorang Gray. Billy yang berdiri di depan mereka menatap kakak beradik itu bergantian seraya menelan ludah berulang kali. Sifat dingin, tajam, dan sama-sama tidak memiliki ampun saat terusik

  • Writting’s On The Wall   3.

    Ia menatap Morgan. “Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”“Baik, Nyonya.”Para pelayan segera menyingkir, sementara Billy bersiap mengikuti Selena menuju ruang tamu.Namun, baru beberapa langkah, Selena berhenti.Cedric berdiri di balik pintu utama dengan setelan jas rapi dan ekspresi tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.Bukan suaminya yang membuat Selena terdiam, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya.Mia Bennett.Gadis berusia dua puluh tahun itu menggenggam lengan jas Cedric dengan jemari gemetar. Wajahnya tampak polos, tetapi Selena sudah mengenalinya dari foto-foto yang dibawa Billy sehari sebelumnya.Jadi, inilah alasan Cedric pergi pagi-pagi sekali.Ia menjemput perempuan simpanannya, lalu membawanya ke rumah yang masih dihuni istrinya sendiri.“Selena,” panggil Cedric hati-hati.Selena mengabaikannya. Tatapan emerald-nya tertuju pada Mia, sebelum akhirnya kembali kepada suaminya.“Kau membawanya ke sini?”Cedric menelan ludah. “Aku ingin kita bicar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status