Share

Writting’s On The Wall
Writting’s On The Wall
Author: Odiiwords

1.

Author: Odiiwords
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-06 02:02:32

"Nyonya, ini semua laporan yang Anda minta."

Suara itu memecah keheningan ruang kerja Selena yang didominasi nuansa monokrom. Warna-warna kelabu, hitam, dan putih di ruangan itu seolah mencerminkan isi kepala sang pemilik—dingin, terstruktur, dan tanpa celah.

Sebuah map cokelat tebal diletakkan di atas meja marmer hitam.

"Semua?" tanyanya singkat. Nada suaranya datar, tanpa beban. Dagunya terangkat sedikit, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan elegan, sementara maniknya bahkan tidak beralih sedikit pun kepada pria di hadapannya.

Billy mengangguk mantap. Posturnya tetap tegak sempurna, menunjukkan profesionalisme tinggi dengan kedua tangan bertumpu sopan di depan perut. "Semuanya ada di dalam map itu, Nyonya."

Mendengar jawaban yang pasti dan tanpa keraguan, Selena akhirnya mengembuskan napas perlahan. Tarikan napas yang tenang, seolah ia sedang bersiap menyelam ke dalam air es.

Selena Lawrence, memadamkan layar ponselnya, lalu meraih map tersebut.

"Di mana dia sekarang?"

Suara Selena merendah, meluncur pelan menjadi bisikan tipis yang hampir tenggelam oleh dengung halus AC sentral. Tidak keras, tetapi cukup tajam untuk membuat udara di ruangan itu terasa semakin padat dan berat.

Billy menelan ludah sesaat sebelum menjawab, "Tuan Lawrence baru saja tiba di kediaman."

Sudut bibir Selena terangkat sebelah. Sebuah senyuman kecil, tipis, dan sinis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. Senyuman seorang wanita yang sudah tahu persis babak akhir dari sebuah sandiwara buruk.

Satu minggu lalu, suaminya berdiri tepat di tempat Billy berdiri sekarang. Dengan gestur sok berwibawa, pria itu merapikan kerah jasnya, mencium pipi Selena sekilas, lalu berpamitan untuk melakukan perjalanan dinas ke luar kota.

Namun Selena tahu persis ke mana sebenarnya pria itu pergi.

Dinas?

Omong kosong.

Suaminya tidak sedang bekerja.

Suaminya sedang berlibur. Menikmati waktu luang di bawah sinar matahari bersama seorang gadis muda yang selama tiga tahun terakhir menjadi simpanannya—perempuan yang, entah sejak kapan, telah menyusup masuk dan menjadi bagian dari kebohongan berlapis yang perlahan menggerogoti pernikahan mereka dari dalam.

Jari-jemari Selena yang terawat mulai meraba kancing pengikat map tersebut. Dengan gerakan perlahan, ia membukanya.

Kebenaran yang selama ini sudah lama ia ketahui—yang selama ini hanya berwujud bisikan dan firasat—kini tersusun rapi di atas kertas hitam putih.

Beberapa lembar foto candid beresolusi tinggi.

Dokumen perjalanan atas nama dua orang.

Bukti pembayaran hotel-hotel mewah di pesisir pantai.

Catatan pengeluaran dengan nominal fantastis menggunakan kartu kredit perusahaan atas nama sang suami.

Semuanya tersaji vulgar. Menjadi kepingan-kepingan bukti yang terlalu terang untuk disangkal oleh lidah beracun Cedric sekalipun.

Selena membolak-balik lembar demi lembar tanpa sedikit pun perubahan pada ekspresinya. Jantungnya berdetak normal. Napasnya teratur.

Tidak ada air mata yang mendesak naik. Tidak ada jemari yang gemetar karena amarah. Tidak ada lagi rasa sesak yang menghimpit dada seperti dulu—ingatan masa lalu ketika satu bukti perselingkuhan saja sudah cukup untuk membuat malam-malamnya hancur lebur, dihabiskan dengan tangis bisu yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Perasaan itu sudah lama mati.

Bukan hari ini.

Bukan pula detik ketika Billy menyerahkan laporan tebal ini ke hadapannya. Bahkan bukan saat pertama kali Selena mencium bau parfum asing di kerah jas Cedric tiga tahun lalu.

Semuanya telah terkikis sedikit demi sedikit, tergerus oleh ribuan kekecewaan yang menumpuk tahun demi tahun, sampai akhirnya tidak ada lagi sisa rasa untuk dipertahankan. Hatinya telah berubah menjadi tanah tandus.

Pernikahan mereka tidak sedang berada di ambang kehancuran.

Pernikahan itu sudah hancur sejak lama.

Yang tersisa selama ini hanyalah kerangka semu, puing-puing berdebu yang masih berdiri karena Selena belum pernah mengetukkan palu untuk merobohkannya sampai rata dengan tanah.

Dan hari ini, detik ini juga, ia akan melakukannya.

Selena menutup map cokelat itu dengan gerakan tenang, menciptakan bunyi gesekan kertas yang pelan namun menggema di keheningan ruangan.

"Billy."

"Ya, Nyonya."

"Hubungi pengacara."

Billy terdiam sepersekian detik, menangkap ketegasan mutlak dari udara di sekitarnya. Pria itu menunduk hormat. "Apa Anda akan mengurus perceraian?"

Selena akhirnya mengangkat wajahnya sepenuhnya. Sepasang mata tajam itu menatap lurus ke depan, menatap manik mata Billy dengan ketenangan yang mengerikan.

Tidak ada keraguan, tidak ada sisa-sisa kerinduan.

Hanya ada tekad yang membatu.

"Ya." Satu kata singkat, padat, tanpa intonasi tinggi.

Namun bagi Selena, satu kata itu adalah akumulasi dari enam tahun usia pernikahan yang disia-siakan.

Cukup.

Permainan berpura-pura tidak tahu sudah resmi berakhir. Ia tidak akan lagi mencari-cari alasan untuk menutupi kebohongan busuk yang sudah telanjang di hadapannya.

Dan ia tidak akan pernah lagi mencoba menyelamatkan sebuah kapal busuk yang nakhodanya sendiri dengan sengaja menubrukkan karang.

Kali ini, di atas reruntuhan nama Lawrence yang akan segera ia tinggalkan, Selena hanya akan menyelamatkan satu hal yang paling berharga: dirinya sendiri.

*****

Cklek!

Pintu utama mansion terbuka, disusul langkah kaki Selena yang memasuki rumah dengan ketenangan yang nyaris dingin. Bunyi hak sepatunya menggema tajam di atas lantai marmer, memantul di antara dinding-dinding tinggi dan interior mewah yang selama enam tahun terakhir menjadi saksi kehidupan pernikahannya bersama Cedric Lawrence.

Enam tahun.

Entah mengapa, malam ini rumah itu terasa begitu asing.

Atau mungkin, Selena-lah yang sudah tidak lagi merasa memiliki tempat di dalamnya.

Di tengah ruang utama, seorang pria tinggi berdiri membelakanginya. Kedua tangannya terselip di saku celana, sementara tubuh tegapnya menghadap dinding kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit.

Di balik kaca tembus pandang itu, lampu-lampu taman memantul di permukaan air kolam renang yang teramat tenang—seperti menyimpan badai di dasarnya.

"Kau pulang." Suara bariton itu terdengar begitu akrab di indranya.

Selena berhenti melangkah.

Cedric Lawrence.

Selama hampir satu dekade, lelaki itu adalah poros terbesar dalam hidupnya.

Sepuluh tahun lalu, Cedric adalah sosok yang manis. Lembut. Penuh perhatian. Ia bukan seorang pewaris kaya raya yang datang membawa tumpukan berlian dan mobil sport untuk memikat Selena. Bahkan pada masa itu, Cedric belum memiliki banyak hal untuk ditawarkan.

Namun, ia memberikan waktu. Memberikan perhatian yang tulus. Memberikan rasa aman.

Dan bagi Selena muda, semua itu jauh lebih berharga daripada kilau berlian di jari para pria dari lingkaran sosial elit yang pernah berusaha mendekatinya.

Ia masih menyimpan rapat ingatan tentang bagaimana dirinya memilih Cedric.

Memilih seorang pria yang saat itu tidak memiliki kemewahan apa pun, hanya karena Selena percaya bahwa selama mereka saling mencintai, mereka bisa merajut segalanya dari nol.

Dan mereka memang melakukannya.

Setidaknya, Selena pernah percaya demikian.

Kini, lelaki yang dahulu ia bela-belakan agar bisa berdiri di sisi hidupnya seumur hidup, berada hanya beberapa meter di hadapannya.

Hanya saja, malam ini, tidak ada satu pun inci di dalam dada Selena yang bergetar ketika melihatnya.

Tidak ada sisa rindu. Tidak ada rasa bahagia. Bahkan tidak ada sisa amarah.

Hanya kehampaan yang membeku.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Writting’s On The Wall   8.

    “Bukankah itu sama saja?” Chase tertawa kecil—suara tawa bariton yang terkesan santai dan penuh percaya diri, sama sekali tidak terusik oleh teguran halus dari asisten pribadinya. “Kalau begitu, cari tahu acara publik apa yang akan dia hadiri,” titah Chase, nada suaranya berubah menjadi lebih terukur dan berwibawa. “Pertemuan bisnis, gala, acara keluarga—apa pun yang memang bisa kuhadiri tanpa terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat.” Steve, sang asisten yang sudah hafal luar kepala tabiat majikan mudanya itu, mengangguk pelan seraya membenarkan letak kacamata. “Secara teknis, itu sama saja membuat Anda terlihat seperti orang yang sengaja mengejarnya, Tuan Muda.” Chase mengabaikan sindiran tipis itu dengan enteng. Ia meraih ponsel pintarnya dari atas meja marmer, membuka kunci layarnya sebentar, menatap permukaan terang benda pipih itu selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali di

  • Writting’s On The Wall   7.

    Eleanor kebingungan setengah mati, namun ia sama sekali tidak berani membantah ketegasan nada suara Selena—terutama tatapan mata emerald bibinya yang begitu menekan. Dengan ragu, Eleanor melangkah mendekat dan kembali mencengkeram erat rambut Mia, persis seperti yang dilakukannya di koridor tadi. "Ack!" Mia memekik kesakitan. "Tendang kakinya!" titah Selena mutlak. "Huh?" Eleanor membelalak kaget, cengkeraman tangannya di rambut Mia sampai melonggar seketika karena kaget. "Lakukan!" Tidak berani membantah lebih jauh, Eleanor akhirnya mengayunkan kakinya dan menendang lipatan lutut Mia dari belakang. Tubuh Mia hilang keseimbangan hingga gadis itu tersungkur jatuh—kedua lututnya mencium ubin keras dengan bunyi benturan yang kencang. "Sekarang lepaskan dan minta maaflah," ucap Selena tenang.

  • Writting’s On The Wall   6.

    “Menarik sekali. Jadi, menurutmu, seseorang yang menghampiri orang lain terlebih dahulu, memancing pertengkaran, lalu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di hadapan kamera pengawas adalah korban penindasan?” Wajah Mia seketika memucat. “Saya tidak—” “Jangan terburu-buru membantah.” Selena mengangkat satu tangan, menghentikannya sebelum sempat menyusun kebohongan berikutnya. “Aku belum selesai berbicara.” Suasana ruangan mendadak hening. Selena melirik sekilas ke arah iPad di tangan Rektor Gilbert, kemudian kembali menatap Mia. “Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Eleanor memang menjambak rambutmu. Aku tidak akan menyangkal fakta itu hanya demi membela keponakanku. Tindakannya keliru, dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang benar-benar dilakukannya.” Eleanor menundukkan kepala. Bibirnya mengerucut, tetapi ia tidak menyela. “Namun, rekaman yang sama juga membuktikan bahwa kau menghampirinya terlebih dahulu, mencengkeram tangannya, kemudian menjatuhkan dirimu sen

  • Writting’s On The Wall   5.

    “Nyonya Selena, saya benar-benar tidak menduga Anda sendiri yang akan datang kali ini,” ucap Gilbert, sang Rektor Universitas Rosewood, menyambut dengan raut kaget yang kentara. Selena mengabaikan sejenak pria paruh baya itu. Manik mata emerald-nya beralih sepenuhnya pada sang keponakan yang berdiri tegang di tengah ruangan. Ia meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cedera atau luka fisik pada tubuh Eleanor. Setelah memastikan Eleanor aman, pandangan Selena bergulir sekilas ke arah pemuda tinggi yang bersandar acuh tak acuh di tepi meja—terlihat begitu santai seolah dialah penguasa sesungguhnya di ruangan tersebut. Lalu, Selena kembali menatap Rektor Gilbert lurus-lurus. “Di mana gadis yang ditampar oleh Ele?” “Namanya Mia Bennett. Dia sudah dibawa ke ruang kesehatan lebih dulu untuk mengobati lukanya. Gadis itu juga sudah memaafkan tindakan Eleanor, sehingga pihak kampus tidak akan memperpanjang masalah ini,” jelas Gilbert seraya mengusap tangannya. Mia Be

  • Writting’s On The Wall   4.

    “Begitulah laporan yang saya terima.” “Cari tahu apa yang dilakukannya di sana,” ucap Selena dingin kepada Billy. “Jangan bilang kau masih mengkhawatirkannya?” Brian menatap sang adik dengan sorot mata tak terima, alisnya menukik tajam penuh ketidaksenangan. “Tidak, aku hanya ingin memastikan dia tidak sempat mencari alasan untuk membatalkan perceraian ini,” ujar wanita cantik itu tenang, tanpa ada sedikit pun getaran ragu di nada suaranya. “Kuharap dia benar-benar kecelakaan dan cacat!” kutuk Brian tanpa rasa bersalah. Selena mengerjap pelan. Sepersekian detik kemudian, sebuah kekehan kecil yang elegan lolos dari bibirnya. “Perceraian ini tidak boleh sampai tertunda hanya karena dia kehilangan salah satu fungsi tubuhnya.” “Itulah gunanya aku,” sahut Brian dengan raut angkuh yang khas dari seorang Gray. Billy yang berdiri di depan mereka menatap kakak beradik itu bergantian seraya menelan ludah berulang kali. Sifat dingin, tajam, dan sama-sama tidak memiliki ampun saat terusik

  • Writting’s On The Wall   3.

    Ia menatap Morgan. “Kosongkan ruang tamu utama sekarang juga.”“Baik, Nyonya.”Para pelayan segera menyingkir, sementara Billy bersiap mengikuti Selena menuju ruang tamu.Namun, baru beberapa langkah, Selena berhenti.Cedric berdiri di balik pintu utama dengan setelan jas rapi dan ekspresi tenang, seolah pertengkaran semalam tak pernah terjadi.Bukan suaminya yang membuat Selena terdiam, melainkan gadis yang berdiri di sampingnya.Mia Bennett.Gadis berusia dua puluh tahun itu menggenggam lengan jas Cedric dengan jemari gemetar. Wajahnya tampak polos, tetapi Selena sudah mengenalinya dari foto-foto yang dibawa Billy sehari sebelumnya.Jadi, inilah alasan Cedric pergi pagi-pagi sekali.Ia menjemput perempuan simpanannya, lalu membawanya ke rumah yang masih dihuni istrinya sendiri.“Selena,” panggil Cedric hati-hati.Selena mengabaikannya. Tatapan emerald-nya tertuju pada Mia, sebelum akhirnya kembali kepada suaminya.“Kau membawanya ke sini?”Cedric menelan ludah. “Aku ingin kita bicar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status